NovelToon NovelToon
MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romantis / Aksi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama Ayah yang Tidak Pernah Kukenal

📖 BAB 23: Nama Ayah yang Tidak Pernah Kukenal

Debu memenuhi koridor belakang.

Lampu darurat berkedip merah, membuat dinding marmer tampak seperti disiram darah. Suara ledakan masih berdengung di telinga Qingyan saat ia berusaha bangkit dari lantai.

Lututnya nyeri.

Telapak tangannya lecet.

Namun rasa sakit itu kalah jauh dari kalimat yang baru saja ia dengar.

Kalau kau masih ingin tahu siapa ayah kandungmu.

Qingyan membeku.

Di depan lorong yang remang, seseorang berdiri dalam bayangan.

Tubuh tinggi.

Mantel gelap.

Wajah tertutup separuh topeng hitam.

Suara laki-laki.

Tenang.

Terlalu tenang.

“Siapa kau?” tanya Qingyan tajam.

Pria itu tak menjawab.

Ia hanya mengangkat satu tangan.

“Kalau kau berteriak, orang-orangnya akan datang.”

“Kalau aku mendekat, mungkin aku patahkan lehermu.”

Pria itu tertawa kecil.

“Bagus. Aku mulai paham kenapa mereka takut padamu.”

---

Langkah kaki terdengar dari kejauhan.

Suara Beichen memanggil namanya.

“QINGYAN!”

Pria bertopeng menoleh sekilas ke arah suara itu.

“Dia cepat.”

“Dan jauh lebih berbahaya darimu.”

“Aku tak meragukannya.”

Pria itu mengeluarkan sebuah amplop kecil dari saku mantel dan melemparkannya ke lantai dekat Qingyan.

“Kalau ingin jawaban, datang sendiri besok malam.”

“Aku lelah dengan permainan teka-teki.”

“Kalau begitu jangan datang.”

Ia mundur satu langkah ke bayangan.

Qingyan bergerak maju, tapi suara logam terkunci terdengar dari samping.

Dua titik laser merah muncul di dinding dekat kepalanya.

Sniper.

Pria itu berkata pelan,

“Jangan paksa aku memilih cara kasar.”

Lalu ia menghilang ke lorong servis samping.

---

Beichen muncul beberapa detik kemudian bersama Han dan dua pengawal.

Ia langsung berlutut di depan Qingyan.

“Luka?”

“Aku hidup.”

“Jawaban buruk. Mana yang sakit?”

“Ego.”

Ia menatap wajahnya beberapa detik, memastikan tak ada darah serius.

Lalu baru berdiri.

“Siapa tadi.”

“Pria bertopeng.”

“Deskripsi yang luar biasa.”

“Kalau aku punya waktu lebih lama, mungkin kutanya skincare-nya.”

Han memungut amplop di lantai.

“Romantis. Musuh kalian suka meninggalkan surat.”

Beichen mengambil amplop itu dari tangan Han.

Tatapannya berubah dingin saat melihat isinya.

Qingyan merebutnya.

Di dalam hanya ada satu kartu hitam bertuliskan alamat.

Pelabuhan Timur – Gudang 19

Datang sendiri.

Di bawahnya, tulisan tangan kecil:

Tanyakan tentang Adrian Vale.

---

“Siapa Adrian Vale?” tanya Qingyan.

Tak ada yang menjawab.

Ia menoleh.

Han terlihat bingung.

Beichen justru terlalu diam.

Qingyan menyipitkan mata.

“Kau tahu nama itu.”

“Sedikit.”

“Berapa sedikit?”

“Cukup untuk bilang kau tidak pergi.”

“Aku tanya siapa dia.”

Beichen memalingkan wajah sejenak.

Tanda paling jelas bahwa ia sedang memilih kebohongan.

“Itu nama lama.”

“Nama siapa?”

Sunyi beberapa detik.

Lalu Beichen berkata,

“Nama pria yang diduga ayah biologismu.”

Jantung Qingyan seolah berhenti.

---

Mereka kembali ke penthouse Gu Group menjelang dini hari.

Konferensi pers Qin berubah menjadi bencana nasional.

Video eksperimen sudah menyebar.

Saham Qin anjlok.

Media memburu semua pihak.

Namun Qingyan tak peduli pada satu pun headline.

Ia berdiri di depan jendela kota, masih memegang kartu hitam itu.

Adrian Vale.

Nama asing.

Nama yang mungkin milik pria yang tak pernah ia kenal.

Nama yang entah kenapa membuat semua orang gugup.

Pintu terbuka.

Beichen masuk membawa dua cangkir kopi.

Ia meletakkan satu di meja.

“Aku tak minum.”

“Minumlah.”

“Aku sedang marah.”

“Itu sebabnya.”

Qingyan menoleh.

“Kenapa kau tahu nama itu dan tak pernah bilang?”

“Karena tak ada bukti.”

“Jadi kau menyelidikiku?”

“Ya.”

Ia menjawab terlalu cepat.

Qingyan menatapnya.

“Kau benar-benar tak punya rasa bersalah.”

“Punya. Sedikit.”

---

“Aku muak semua orang tahu hidupku lebih dulu dariku.”

Suara Qingyan pecah oleh lelah.

“Keluarga Qin, Mira, pria bertopeng, bahkan kau.”

Beichen berdiri beberapa langkah darinya.

“Kalau aku bisa memilih, aku ingin kau tak perlu tahu semua ini.”

“Aku tidak butuh penjaga.”

“Aku tahu.”

“Berhenti bilang tahu.”

“Aku tahu kau benci dikendalikan.”

Ia hampir melempar cangkir.

“Beichen.”

Pria itu menatapnya lurus.

“Tapi kau juga benci ditinggalkan sendiri.”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari bentakan.

Qingyan membeku.

Ia membenci karena itu benar.

---

“Siapa Adrian Vale?” tanyanya pelan.

Beichen menghela napas panjang.

“Nama itu muncul di dokumen ayahku.”

“Lanjut.”

“Dia ilmuwan genetika dari Eropa Timur. Direkrut diam-diam untuk proyek Qin.”

“Dan?”

“Lalu menghilang sebelum kebakaran.”

“Kenapa kau pikir dia ayahku?”

“Ada catatan donor inti genetik.”

Qingyan menegang.

“Kau bicara seperti aku barang laboratorium.”

Wajah Beichen mengeras.

“Bukan itu maksudku.”

“Tapi itu kenyataannya.”

Ia memalingkan wajah.

“Jadi mungkin aku bahkan tak punya ayah dalam arti biasa.”

Beichen melangkah mendekat.

“Kau punya.”

“Apa?”

“Orang yang menciptakanmu bukan selalu orang yang menentukan siapa dirimu.”

Qingyan menatapnya.

Kadang pria ini bicara seperti mesin.

Kadang... seperti seseorang yang memahami luka terlalu baik.

---

Ponsel Han berbunyi dari luar.

Lalu ia masuk tanpa mengetuk.

“Saya membawa kabar buruk, jadi sopan santun saya titip dulu.”

“Bicara,” kata Beichen.

Han menaruh tablet di meja.

Layar menampilkan berita baru.

QIN TAISHAN HILANG SETELAH INSIDEN KONFERENSI

POLISI MENYELIDIKI SABOTASE GEDUNG

“Dan itu belum bagian buruknya,” kata Han.

Ia menggeser layar.

Foto satelit sebuah gudang di pelabuhan.

Banyak kendaraan hitam terparkir.

“Gudang 19 sudah diisi orang sejak satu jam lalu.”

“Jebakan,” kata Qingyan.

“Jelas,” jawab Han.

“Berapa banyak?”

“Sekitar tiga puluh bersenjata.”

Han menatap Qingyan.

“Mereka benar-benar ingin kau datang sendiri.”

---

“Kalau begitu aku datang.”

“Tidak,” kata Beichen dan Han bersamaan.

Qingyan menatap tajam.

“Aku tidak minta izin.”

Beichen maju satu langkah.

“Aku bilang tidak.”

“Kau bukan pemilikku.”

“Benar.”

“Bagus.”

“Aku hanya orang yang akan mengikatmu ke kursi kalau perlu.”

Han mengangguk.

“Metode keras, tapi efektif.”

Qingyan menatap keduanya tak percaya.

“Kalian gila.”

“Sering dibilang begitu,” kata Han.

---

Ia berjalan menuju pintu.

Beichen menangkap pergelangan tangannya.

Sentuhan itu kuat, hangat, dan terlalu familiar.

“Dengar aku.”

“Lepas.”

“Tidak.”

“Aku serius.”

“Aku juga.”

Mereka saling menatap dekat sekali.

Kota malam bersinar di belakang mereka.

Sunyi beberapa detik.

Lalu Beichen berkata rendah,

“Kalau ada kemungkinan sedikit pun kau tak kembali... aku tak akan membiarkanmu pergi sendiri.”

Jantung Qingyan berdebar keras.

Bukan karena ancaman.

Karena cara ia mengucapkannya.

Han memalingkan wajah ke jendela.

“Saya tiba-tiba menghormati privasi.”

---

Qingyan menarik tangannya perlahan.

“Kau tak bisa terus menyelamatkanku.”

Beichen menjawab tanpa ragu.

“Aku bisa mencoba seumur hidup.”

Ruangan hening.

Bahkan Han terdiam.

Wajah Qingyan memanas.

Ia membenci waktu yang dipilih jantungnya untuk kacau.

Sebelum ia sempat menjawab, alarm keamanan gedung berbunyi nyaring.

Lampu berubah merah.

Han langsung menatap tablet.

“Sial.”

“Apa sekarang?” tanya Beichen.

Han mengangkat layar.

CCTV parkiran bawah tanah menampilkan satu mobil van putih.

Pintu belakangnya terbuka.

Di dalamnya...

Madam Qin terikat di kursi, mulut disumpal.

Dan di dinding van tertulis dengan cat merah:

Bawa Qingyan ke Gudang 19.

Atau nenekmu mati berikutnya.

Qingyan menatap layar.

“Dia bukan nenekku.”

Han menelan ludah.

“Orang itu jelas bingung soal struktur keluarga.”

Beichen mengambil pistol dari meja.

“Siapkan mobil.”

Qingyan menoleh padanya.

“Kau bilang aku tidak pergi.”

Beichen memasang magasin dengan tenang.

“Aku berubah pikiran.”

“Kenapa?”

Tatapannya dingin seperti badai.

“Karena sekarang... aku ingin bertemu pria yang cukup bodoh menyentuh orang di sekelilingmu.”

BERSAMBUNG

1
Karo Karo
terus Madan gu itu siapa Thor ahhhhhhh pusing pala Barbie 🫨
Karo Karo
kamu asisten di mna2 Han 🤣
Karo Karo
lah aku kira dah mati
Karo Karo
🤣 kurang romantis Han
Karo Karo
🤣🤣🤣 antrian kemana alam baka 🤭
Karo Karo
kau membuat pembaca seperti ku mumet thor belum selesai Maslah 1 muncul lagi untung di selingi tawa 😭 serah lu lah Thor 🫰🏻
Karo Karo
sabar Han 🤣
Karo Karo
aku kira benci dulu nanti cinta 🤣🤣🤭
Karo Karo
aku juga baiming 🤣🤣🤣🤣
Karo Karo
mantap aku suka gayamu 🤭🤣
Karo Karo
🤣 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!