Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 — Perintah dalam Sunyi
Malam menyelimuti istana kerajaan dengan kesunyian yang tidak wajar.
Langit gelap tanpa bintang, seolah bahkan cahaya pun enggan menyentuh tempat itu.
Lorong-lorong panjang yang biasanya dipenuhi pelayan kini kosong.
Langkah kaki pun nyaris tidak terdengar.
Namun jauh di dalam istana di balik pintu besar berukir emas
terdapat satu ruangan yang tidak semua orang boleh masuki.
Kamar pribadi sang Ratu.
Ruangan itu luas, namun terasa sempit.
Tirai tebal menutup seluruh jendela, hanya menyisakan cahaya lilin yang bergetar pelan di sudut-sudut ruangan.
Aroma harum memenuhi udara.
Namun di balik wangi itu… tersembunyi sesuatu yang menyesakkan.
Di tengah ruangan, sang Ratu duduk dengan anggun.
Jubah malamnya menjuntai halus, rambutnya terurai rapi di bahu.
Wajahnya tenang.
Terlalu tenang.
Namun matanya
tidak.
Di dalamnya, ada sesuatu yang bergerak.
Perhitungan.
Kewaspadaan.
Dan… ketakutan yang ia sembunyikan dengan sempurna.
Pintu terbuka perlahan.
Tidak ada suara.
Seseorang masuk.
Atau lebih tepatnya
sesuatu.
Bayangan itu bergerak di lantai, lalu membentuk sosok manusia yang langsung berlutut tanpa ragu.
Prajurit bayangan.
“Hamba kembali, Yang Mulia.”
Ratu tidak langsung menjawab.
Ia tetap menatap lilin di depannya.
Api kecil itu bergetar.
Seolah takut.
“Lapor.”
Suaranya pelan.
Namun cukup untuk membuat udara di ruangan itu terasa lebih berat.
Prajurit itu menunduk lebih dalam.
“Anak itu… Sakura… masih hidup.”
Sunyi.
Untuk beberapa detik
tidak ada suara.
Namun suasana berubah.
Jari sang Ratu yang semula santai… berhenti bergerak.
Api lilin di depannya bergetar lebih keras.
“Dia tidak hanya bertahan…” lanjut prajurit itu pelan,
“...dia mulai mengendalikan racun dalam tubuhnya.”
Kali ini
Ratu mengangkat kepalanya.
Perlahan.
Tatapannya tajam.
Lebih tajam dari pedang mana pun.
“Apa kau sadar…” suaranya turun lebih dalam,
“apa yang baru saja kau katakan?”
Prajurit itu tidak berani mengangkat kepala.
“Seorang anak dengan meridian yang rusak…” lanjut Ratu,
“...yang seharusnya mati perlahan…”
Tatapannya mengeras.
“...mengendalikan racun?”
Nada suaranya tidak naik.
Namun tekanan di dalamnya cukup untuk membuat siapa pun gemetar.
“Hamba melihatnya sendiri, Yang Mulia.”
Hening kembali jatuh.
Namun kali ini
CRACK!!
Cangkir di tangan Ratu hancur seketika.
Pecahan keramik jatuh ke lantai, suara pecahnya menggema pelan.
Tangannya tetap terangkat.
Tanpa luka.
Namun bergetar.
Bukan karena lemah.
Tapi karena sesuatu yang jauh lebih berbahaya
amarah yang ia tahan.
“Tidak mungkin…”
Suaranya sangat pelan.
Hampir seperti bisikan.
Namun justru itu yang membuatnya lebih mengerikan.
“Anak itu… seharusnya mati sejak lama…”
Ia berdiri perlahan.
Aura dingin memenuhi ruangan.
Lilin-lilin di sekitarnya meredup, seolah tertekan oleh kehadirannya.
“Kalau dia masih hidup…” lanjutnya,
“...maka dia adalah ancaman.”
Ia berhenti.
Matanya menyipit.
“Bukan hanya untukku.”
Sunyi.
“...tapi untuk Claudia.”
Nama itu diucapkan dengan tekanan yang berbeda.
Lebih dalam.
Lebih berarti.
“Claudia akan menjadi Ratu.”
“Dan tidak boleh ada satu pun yang menghalangi jalannya.”
Untuk pertama kalinya
ada sesuatu yang retak di balik ketenangan sang Ratu.
Bukan keraguan.
Tapi kekhawatiran.
Tipis.
Namun nyata.
“Jika anak itu terus berkembang…”
“...maka sesuatu yang tidak seharusnya bisa terjadi.”
Ia menatap prajurit bayangan di depannya.
Tatapannya kini tidak lagi hanya dingin.
Melainkan penuh keputusan.
“Cukup.”
Langkahnya mendekat.
Perlahan.
“Pergi.”
“Bunuh dia.”
“Dalam tidurnya.”
“Tanpa suara.”
“Tanpa jejak.”
Prajurit bayangan itu langsung menunduk dalam.
“Perintah diterima, Yang Mulia.”
Dan dalam satu hembusan napas
ia menghilang.
Seolah tidak pernah ada.
Malam di Akademi Kerajaan Averion.
Berbeda dengan istana, tempat ini tampak damai.
Angin berhembus pelan di antara bangunan batu.
Lampu-lampu redup menerangi lorong panjang.
Semua murid tertidur.
Termasuk Sakura.
Di dalam kamar kecilnya, ia terbaring di atas ranjang sederhana.
Wajahnya tenang.
Napasnya teratur.
Seolah semua rasa sakit yang ia alami… tidak pernah ada.
Namun di bawah ketenangan itunsesuatu bergerak.
Sangat pelan.
Sangat dalam.
Di luar akademi, sebuah bayangan melesat cepat di antara pepohonan.
Tidak ada suara.
Tidak ada jejak.
Prajurit bayangan itu bergerak seperti angin yang tidak terlihat.
Dinding akademi tidak menjadi penghalang.
Dalam satu gerakan ia sudah berada di dalam.
Matanya menyapu sekeliling.
Menghitung.
Menilai.
Menentukan jalur.
“Target… asrama barat…”
Tubuhnya menghilang kembali.
Berpindah dari satu bayangan ke bayangan lain.
Tanpa kesalahan.
Tanpa ragu.
Di dalam kamar Sakura jendela terbuka perlahan.
KREEKK…
Hampir tanpa suara.
Bayangan itu masuk.
Udara di dalam ruangan berubah.
Lebih dingin.
Lebih berat.
Namun Sakura tetap tertidur.
Prajurit itu berdiri di sana.
Diam.
Mengamati.
Untuk pertama kalinya ia tidak langsung bergerak.
Ada sesuatu.
Tidak terlihat.
Namun terasa.
Seperti… ruang di sekitar gadis itu tidak sepenuhnya normal.
“...aneh.”
Ia melangkah satu langkah mendekat.
Udara terasa sedikit bergetar.
Langkah kedua.
Tekanan tipis muncul.
Langkah ketiga
Ia berhenti.
Matanya menyipit.
Instingnya berteriak.
Bahaya.
Namunbperintah tetap perintah.
Ia mengangkat pedangnya perlahan.
Tidak ada suara.
Tidak ada niat ragu.
“Berakhir di sini.”
Pedang itu turun.
Cepat.
Tepat.
Mematikan.
CLANG!!!
Suara benturan keras meledak di ruangan kecil itu.
Mata prajurit itu melebar.
Pedangnya
tertahan.
Di udara.
Tidak menyentuh tubuh Sakura.
Seolah menabrak sesuatu yang tidak terlihat.
“Apa—?!”
Sebelum ia sempat bereaksi
BRAKK!!
Gelombang kekuatan tak kasat mata meledak dari tubuh Sakura.
Tubuh prajurit itu terpental keras.
Menghantam dinding dengan brutal.
“UGHH!!”
Darah menyembur dari mulutnya.
Namun yang lebih mengerikan
tekanan itu belum berhenti.
Udara di ruangan berubah.
Lebih berat.
Lebih pekat.
Seolah ruang itu sendiri… menolak keberadaannya.
“Ini… bukan sihir…”
Ia mencoba bangkit.
Gagal.
Tubuhnya gemetar.
Seolah sesuatu merayap masuk ke dalam dirinya.
Perlahan.
Diam-diam.
Mematikan.
Ia menatap Sakura.
Gadis itu masih tertidur.
Tenang.
Tanpa luka.
Tanpa kesadaran.
Namun di sekelilingnya udara bergetar pelan.
Sangat halus.
Namun cukup untuk membuat naluri bertahan hidupnya berteriak.
“...monster…”
Ia mundur.
Dengan sisa kekuatan yang ada
ia melompat keluar jendela.
Menghilang ke dalam malam.
Di tengah hutan.
Jauh dari akademi.
Langkahnya goyah.
Napasnya berat.
Darah terus menetes dari bibirnya.
“Apa… sebenarnya dia…”
Tiba-tiba
dadanya terasa terbakar.
“?!”
Ia jatuh berlutut.
Pembuluh darahnya menghitam.
Menyebar cepat di bawah kulit.
“Ra… cun…”
Namun ini bukan racun biasa.
Lebih pekat.
Lebih hidup.
Seolah sesuatu yang ia sentuh tadi… membalasnya.
Ia mencoba bergerak.
Tidak bisa.
Tubuhnya tidak lagi menurut.
Penglihatannya mulai gelap.
“Yang… Mulia…”
Suaranya hilang.
Tubuhnya jatuh.
Diam.
Tidak bergerak lagi.
Kembali ke kamar kecil itu.
Sakura masih tertidur.
Tenang.
Damai.
Namun di sekelilingnya
aura gelap keunguan berdenyut pelan.
Seperti napas.
Hidup.
Menjaga.
Di dalam istana
sang Ratu membuka matanya perlahan.
Ia berdiri di tempat yang sama.
Namun kini ekspresinya berbeda.
“...Gagal.”
Suaranya sangat pelan.
Namun dingin.
Tatapannya menyipit.
Untuk pertama kalinya amarah dan kecemasan muncul bersamaan.
“Anak itu…”
Ia menutup matanya sejenak.
Lalu membukanya kembali.
Lebih tajam.
Lebih gelap.
“...tidak boleh dibiarkan hidup.”
Dan untuk pertama kalinya
ia mulai menyadari sesuatu yang tidak ingin ia akui.
Bahwa apa yang sedang tumbuh di dalam diri Sakura…
bukan sesuatu yang bisa ia kendalikan.
---------
Hai semua
mimin mau bilang maaf dulu jika cerita kurang menarik atau ceritanya hampir sama dengan novel mimin sebelumnya yang masih tentang balas dendam.
Jangan terlalu berharap ya
Mimin baru mencoba kembali setelah beberapa lama..
terima kasih🥰🥰🥰