NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Cantika

Suami Dadakan Untuk Cantika

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Perjodohan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga sebuah kepercayaan

Arka terpaku. Pria yang biasanya menghadapi negosiasi alot dengan para investor kelas kakap atau memaki manajer yang tidak becus bekerja, kini mendadak mati kutu di depan seorang gadis kurus yang menangis tersedu-sedu. Suara isakan Cantika tidak kencang, tetapi entah mengapa terasa seperti jarum yang menusuk-nusuk gendang telinganya.

"Hei, sudah saya bilang, kan? Saya ganti. Berapa? Lima juta? Sepuluh juta? Sebut saja angkanya, jangan menangis seperti ini," ucap Arka ketus, mencoba menutupi rasa canggungnya.

Ia meraba saku jasnya, mencari dompet kulit tebal yang selalu ia bawa.

Cantika tidak menjawab. Ia justru menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut yang ditekuk. Bahunya berguncang hebat. Bagi Cantika, tawaran uang sepuluh juta dari pria asing itu terdengar seperti ejekan. Pria ini tidak tahu bagaimana ia bangun pukul tiga pagi untuk mengupas singkong, bagaimana matanya perih terkena asap kayu bakar, dan bagaimana ia harus menghemat setiap butir garam agar modalnya cukup untuk esok hari.

"Bukan ... bukan itu, Tuan," sahut Cantika di sela isakannya. Suaranya kecil dan bergetar. "Itu keripik pesanan orang ... saya sudah janji mengantarnya sore ini. Kalau tidak ada, saya kehilangan kepercayaan pelanggan. Saya tidak punya modal lagi untuk beli singkong besok ...."

Arka menghela napas panjang sambil mengacak rambutnya yang sudah berantakan. "Ya Tuhan, hanya karena singkong kamu menangis seolah dunia kiamat? Dengar ya, Nona ... siapa namamu?"

"Cantika," jawabnya singkat tanpa mengangkat wajah.

"Oke, Cantika. Dengar, saya Arka. Saya punya banyak uang. Kepercayaan pelanggan bisa dibeli kembali, modal bisa saya beri. Sekarang, berhenti menangis. Kamu membuat saya terlihat seperti penjahat yang sedang menindas rakyat kecil di gubuk ini."

Arka berjongkok di depan Cantika. Bau tanah dan keringat gadis itu bercampur dengan aroma parfum sandalwood miliknya yang mahal. Kontras yang luar biasa. Arka yang biasanya alergi dengan segala sesuatu yang tidak higienis, entah mengapa tidak merasa jijik. Ia justru merasa ada dorongan aneh untuk mengusap punggung gadis itu, meski logikanya melarang keras.

"Sudahlah," ujar Arka sambil mengulurkan sapu tangan sutra berwarna biru tua. "Pakai ini. Hapus air matamu. Wajahmu sudah mirip kucing tercebur got."

Cantika mendongak. Matanya yang sembab menatap sapu tangan itu dengan ragu. "Ini ... kelihatannya mahal sekali. Nanti kotor."

"Ambil saja atau saya buang ke tanah," ancam Arka dengan nada dingin andalannya, meski matanya menunjukkan kilat kekhawatiran.

Cantika menerimanya dengan tangan gemetar. Ia menghapus air matanya pelan-pelan. Kelembutan kain itu terasa asing di kulitnya yang kasar. Setelah sedikit tenang, ia menatap Arka dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kenapa Tuan masih di sini? Tuan bilang tadi ada pertemuan penting yang batal gara-gara saya. Kenapa Tuan tidak pergi saja?" tanya Cantika polos.

Pertanyaan itu menohok Arka tepat di ulu hati. ("Iya ya, kenapa gue masih di sini?")batinnya. Harusnya ia sudah berada di dalam mobilnya yang nyaman, melaju kembali ke kota, dan memikirkan strategi untuk membujuk Mr. Bastian besok. Namun, kakinya seolah tertanam di tanah gubuk ini.

"Saya tidak mungkin meninggalkan orang yang hampir mati di depan mobil saya," kilah Arka cepat. "Nanti kalau kamu mati benar-benar, saya yang repot berurusan dengan polisi. Saya orang sibuk, tidak punya waktu untuk masuk penjara."

Cantika menunduk lagi. "Maafkan saya. Saya tadi memang merasa pusing sekali karena belum sempat makan siang ... saya mengejar waktu supaya bisa antar keripik tepat waktu."

Arka memutar bola matanya. "Hebat sekali. Pahlawan keripik yang lupa makan sampai pingsan. Jenius."

Meski kalimatnya sarkastik, Arka berdiri dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari gubuk. Ia membuka pintu belakang, mengambil sebuah kantong kertas dari restoran kelas atas yang tadi sempat ia beli, tetapi belum sempat ia makan karena terburu-buru menuju lokasi meeting.

Ia kembali ke gubuk dan menyodorkan kantong itu ke depan wajah Cantika. "Makan. Ini bukan keripik, tapi setidaknya ini bisa membuatmu tidak pingsan lagi di depan mobil orang lain."

Cantika menatap kantong itu, lalu menatap Arka. "Tuan ... ini untuk saya?"

"Bukan, untuk hantu penunggu gubuk ini. Ya, untuk kamulah! Cepat makan sebelum saya berubah pikiran."

Cantika membukanya perlahan. Aroma daging panggang dan nasi rempah yang harum langsung menusuk hidungnya. Perutnya berbunyi nyaring, membuatnya tersipu malu. Arka hanya mendengus, tetapi ia duduk kembali di lantai tanah, menjaga jarak sekitar satu meter dari Cantika.

Sambil melihat Cantika makan dengan lahap namun tetap sopan, pikiran Arka melayang. Ia melihat tangan Cantika yang memerah dan sedikit kapalan. Ia teringat cerita ayahnya tentang masa-masa sulit dulu. Ayahnya juga pernah bercerita betapa berharganya satu porsi makanan saat perut sedang kosong melilit.

Selama ini, Arka hidup di puncak menara gading. Ia menganggap uang adalah segalanya dan efisiensi adalah tuhan. Namun, sore ini, di gubuk pengap ini, ia melihat sesuatu yang berbeda. Ia melihat perjuangan hidup yang telanjang.

"Pelan-pelan makannya, tidak akan ada yang merebutnya darimu," ujar Arka, nadanya sedikit melunak.

Cantika berhenti sejenak. "Terima kasih, Tuan Arka. Ini ... ini makanan paling enak yang pernah saya makan seumur hidup."

Arka tertegun. Itu hanya nasi kotak dari restoran langganannya yang biasa ia anggap "standar". Tetapi bagi gadis ini, itu adalah kemewahan luar biasa. Ada rasa sesak yang aneh di dada Arka. Rasa iba yang selama ini ia kunci rapat-rapat mendadak bocor.

Setelah selesai makan, Cantika menatap tumpukan keripik yang hancur di jalanan dengan mata sedih. Air matanya kembali menggenang, meski ia berusaha menahannya. Bahunya kembali berguncang pelan. Keripik itu bukan sekadar barang dagangan; itu harapan untuk adik-adiknya besok pagi.

Arka memperhatikan itu semua. "Tunggu di sini," perintahnya tegas.

Ia berjalan ke mobil, mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompetnya, lalu meletakkannya di tangan Cantika. "Ini untuk keripik yang hancur. Jangan protes. Ini bukan sedekah, ini ganti rugi karena saya sudah membuatmu kaget sampai pingsan."

"Tapi ini terlalu banyak, Tuan ..."

"Simpan atau saya buang ke sungai!" bentak Arka yang sebenarnya hanya gertakan agar Cantika tidak menolak.

Cantika terpaksa menyimpannya. "Terima kasih banyak, Tuan Arka. Semoga Tuhan membalas kebaikan Tuan."

Arka menghela napas lagi. "Setelah ini, saya antar kamu pulang."

Cantika tersedak kecil. "Eh? Tidak usah, Tuan. Saya bisa jalan kaki. Rumah saya tidak terlalu jauh, masuk ke dalam gang-gang kecil di sana. Mobil Tuan yang besar dan bagus tidak akan bisa masuk."

"Jangan membantah. Saya tidak suka diinterupsi," potong Arka tegas. "Kalau mobil tidak bisa masuk, saya jalan kaki mengantarmu sampai depan pintu. Saya harus memastikan kamu sampai dengan selamat agar beban moral saya hilang. Paham?"

Cantika hanya bisa mengangguk pasrah. Pria di depannya ini sangat dominan dan tidak menerima penolakan.

Arka membantu Cantika berdiri. Gadis itu masih sedikit limbung, dan secara refleks, Arka memegang lengannya untuk menyeimbangkan tubuhnya. Sentuhan itu membuat Arka tertegun sejenak lengan Cantika sangat kecil, seolah hanya tulang yang dibalut kulit tipis.

"Kamu ini makan apa saja sih setiap hari? Kenapa seperti kurang gizi begini?" omel Arka sambil menuntunnya keluar gubuk.

"Saya makan apa yang ada saja, Tuan. Yang penting adik-adik saya kenyang," jawab Cantika lirih.

Arka terdiam. (Adik-adik?) Jadi dia tulang punggung keluarga? Hatinya semakin sesak. Selama ini ia sibuk mengejar angka di laporan keuangan, sementara di pinggiran kota ini ada orang yang rela menahan lapar demi keluarga.

Sore itu matahari mulai condong ke barat, mewarnai langit dengan jingga keemasan. Udara masih panas, tetapi angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah setelah hujan siang tadi,Arka tidak tega melihat Cantika pulang sendiri apalagi hari mulai gelap ,sangat bahaya seorang perempuan sendirian.

"Kenapa Tuan begitu baik?" tanyanya pelan.

Arka tersenyum tipis, senyum pertama yang tulus sore itu. "Karena hari ini kamu mengingatkan saya bahwa uang tidak selalu bisa membeli segalanya. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang mau mendengar."

1
Bu Dewi
lanjut kak
MayAyunda: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!