NovelToon NovelToon
Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Idola sekolah / Diam-Diam Cinta
Popularitas:923
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Provokasi Petang dan Ujian Kesabaran

Lonceng panjang bergaung ke seluruh penjuru SMA Bangsa, menjadi penanda mutlak berakhirnya rutinitas akademis hari itu. Para siswa berhamburan keluar dari kelas masing-masing, memenuhi lorong-lorong dengan derap langkah tergesa dan gelak tawa yang menggema. Di tengah arus manusia berseragam putih abu-abu tersebut, Jenawa berjalan dengan langkah santai, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, sementara pikirannya masih tertinggal di ruang perpustakaan.

Belum sampai ia menjejakkan kaki di pelataran parkir, sebuah tepukan keras mendarat di bahunya. Seno berdiri di sana dengan dahi berkerut dan sebatang rokok yang belum dinyalakan terselip di balik telinganya.

"Kau berutang penjelasan padaku, Panglima," selidik Seno dengan nada curiga. "Kudengar dari anak kelas sepuluh, kau menghabiskan seluruh jam istirahat siang di perpustakaan. Dunia sepertinya sudah terbalik. Sejak kapan seorang Jenawa Adraw lebih memilih mencium aroma kertas usang ketimbang menyeruput kopi hitam di kedai Pak Dirman?"

Jenawa menyunggingkan senyum miring, tak sedikit pun merasa terintimidasi oleh interogasi kawan karibnya. "Sesekali, otak kita perlu diisi dengan aksara, Seno. Bukan hanya diisi dengan siasat tawuran dan asap rokok."

"Jangan membual," dengus Seno, melipat kedua lengannya di depan dada. "Ini pasti ada kaitannya dengan siswi baru itu, bukan? Sinaca Tina. Anak-anak mulai berbisik, Wa. Mereka melihatmu membawakan buku-bukunya kemarin, dan sekarang kau menemaninya di perpustakaan. Kau membuat barisan kita kebingungan."

Raut wajah Jenawa perlahan mengeras. Tatapannya menajam, menembus manik mata Seno dengan wibawa seorang pemimpin yang tak sudi dibantah. "Biarkan mereka berbisik, Seno. Urusanku dengan Sinaca bukanlah urusan jalanan, dan aku tidak berkewajiban memberikan laporan kepada siapa pun perihal dengan siapa aku menghabiskan waktuku."

Seno terdiam. Ia mengenal Jenawa terlampau baik untuk tahu kapan harus mundur. Pemuda itu menghela napas pasrah. "Terserah kau sajalah. Namun ingat, Agam tidak akan tinggal diam setelah kekalahannya kemarin. Jangan sampai urusan hatimu membuat pertahanan kita lengah."

"Aku tak pernah lengah," balas Jenawa singkat. "Bawa anak-anak berkumpul di kedai seperti biasa. Aku akan menyusul setelah urusanku selesai."

Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, Jenawa melangkah menjauhi area parkir dan mengarahkan tujuannya ke gerbang utama sekolah. Di sanalah ia menemukan Sinaca Tina, berdiri dengan anggun di bawah bayangan pohon beringin tua, menanti dengan sabar. Gadis itu menoleh kala mendengar derap langkah sepatu yang ia kenali.

"Kukira kau tertahan oleh interogasi kawan-kawanmu," sapa Sinaca saat Jenawa tiba di sisinya. Nada suaranya terdengar jauh lebih rileks dibandingkan hari-hari sebelumnya.

"Sebuah interogasi kecil tak akan mampu menahanku untuk menepati janji mengantarmu pulang, Sinaca," jawab Jenawa lembut, mempersilakan gadis itu untuk berjalan lebih dulu.

Mereka menyusuri trotoar jalan utama yang mulai ramai oleh kendaraan berlalu-lalang. Matahari sore menyiramkan cahaya keemasan, menciptakan siluet dwiwarna pada wajah keduanya. Langkah mereka seirama, diiringi oleh obrolan ringan mengenai roman sejarah yang dibaca Sinaca di perpustakaan tadi siang.

Namun, ketenangan itu mendadak terkoyak.

Dari arah berlawanan, dua buah sepeda motor yang ditunggangi oleh empat siswa berseragam sengaja dimodifikasi melaju dengan kecepatan tinggi. Knalpot bising mereka memekakkan telinga. Jenawa dengan sigap mengenali lambang di lengan seragam mereka—SMA Pelita.

Mereka adalah sisa-sisa komplotan Agam. Melihat Jenawa berjalan berdua tanpa pengawalan kawan-kawannya, salah satu dari mereka sengaja membelokkan setir mendekati trotoar.

"Lihat siapa ini! Sang Panglima sedang sibuk menjadi pengasuh anak rupanya!" teriak salah satu dari mereka dengan nada mencemooh yang melengking. Motor mereka melaju kencang, nyaris menyerempet trotoar tempat Sinaca berpijak.

Refleks Jenawa bekerja seketika. Ia menarik bahu Sinaca mendekat ke arahnya, melindungi gadis itu dari hempasan debu dan bahaya terserempet.

Napas Jenawa memburu. Rahangnya mengeras sekeras baja, dan urat-urat di lehernya menegang. Insting jalanannya berteriak untuk segera berlari, mengejar motor tersebut, dan memberikan pelajaran yang tak akan pernah mereka lupakan. Tangannya yang masih memegangi bahu Sinaca mulai mengepal kuat. Emosi yang telah ia coba redam demi gadis ini kembali mendidih.

Namun, sebelum Jenawa sempat mengambil langkah pertama untuk mengejar, sebuah sentuhan lembut mendarat di punggung tangannya yang mengepal.

Jenawa menunduk, mendapati jemari lentik Sinaca menyentuh kepalan tangannya. Gadis itu menatapnya dengan sepasang mata kecokelatan yang memancarkan ketenangan mutlak, seolah menjadi jangkar bagi badai amarah di dada pemuda tersebut.

"Biarkan saja," ucap Sinaca dengan suara yang teramat tenang, namun mengandung permohonan yang kuat. "Merespons provokasi murahan mereka hanya akan merendahkan derajatmu, Jenawa. Kau sudah berjanji untuk tidak memantik api jika tidak diperlukan."

Jenawa menatap lurus ke dalam manik mata Sinaca. Di sana, ia tak melihat ketakutan. Ia justru melihat sebuah kepercayaan—kepercayaan bahwa Jenawa mampu mengendalikan dirinya sendiri.

Perlahan, embusan napas kasar meluncur dari belahan bibir Jenawa. Kepalan tangannya mengendur. Ia mengurungkan niatnya untuk mengejar, memilih untuk menelan egonya mentah-mentah demi menepati janjinya pada gadis itu.

"Kau berutang padaku untuk ini, Sinaca," gumam Jenawa dengan suara parau, menahan sisa-sisa adrenalin. "Jika kau tidak ada di sini, aku pastikan mereka sudah mencium aspal."

Sinaca menyunggingkan senyum tipis—senyum yang penuh dengan kebanggaan. Ia melepaskan sentuhannya dari tangan Jenawa, lalu kembali merapikan buku di dekapannya.

"Dan untuk itulah aku bersyukur aku berada di sini," balas Sinaca lugas. "Kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa keras kau memukul, Jenawa. Melainkan tentang seberapa kuat kau menahan dirimu saat kau memiliki kemampuan untuk menghancurkan."

Kalimat baku nan syahdu itu mengalun menenangkan hati Jenawa. Di bawah terik senja yang perlahan meredup, Jenawa menyadari satu hal: menaklukkan SMA Pelita mungkin akan memberinya gelar penguasa jalanan, namun menaklukkan amarahnya sendiri di hadapan Sinaca, telah menjadikannya seorang pria yang utuh.

1
Nita
pertama...
semangat Thor nulisnya...💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!