Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Rahasia
Matahari Jakarta terasa seperti bara api yang ditekan ke kulit tengkuk Helen Kusuma. Di bawah langit yang kelabu karena polusi, ia berjalan menyusuri gang-gang sempit di pinggiran Jakarta Timur, memanggul tas kain besar berisi pakaian kotor yang baru saja ia ambil dari seorang pelanggan.
Siapa yang akan menyangka bahwa wanita dengan daster lusuh, caping bambu yang menutupi separuh wajahnya, dan tangan yang kasar karena deterjen murahan ini adalah pewaris tunggal kerajaan tekstil terbesar di Indonesia? Helen telah menanggalkan identitasnya. Baginya, setiap tetes keringat yang jatuh ke aspal adalah harga yang harus ia bayar untuk sebuah kebenaran yang terkubur.
Selama dua minggu terakhir, Helen menjalani hidup sebagai buruh cuci panggilan. Dari pintu ke pintu, ia mencuci, menyikat, dan menjemur pakaian orang asing. Namun, pekerjaannya hanyalah kedok. Di balik obrolan basa-basi dengan para asisten rumah tangga dan warga sekitar, telinga Helen terbuka lebar. Ia mencari satu nama: Pak Haris, sopir setia ayahnya yang raib bak ditelan bumi setelah kecelakaan maut itu.
"Cuci gosok, Bu? Neng?" suara Helen serak, sengaja diubah agar tak dikenali.
"Oh, iya. Masuk, Mbak. Itu di belakang sudah numpuk," sahut seorang ibu pemilik warung di daerah perumahan lama yang sudah mulai kumuh.
Sambil menyikat pakaian, Helen mendengarkan gosip para ibu-ibu di dekat sumur. Matanya tetap tertuju pada busa sabun, namun jantungnya berdegup kencang saat nama "Pak Haris" sayup-sayup terdengar.
"Kasihan ya Pak Haris itu. Sejak kecelakaan bosnya dulu, hidupnya jadi luntang-lantung. Katanya sekarang sakit-sakitan di rumah petakannya di belakang pasar," bisik salah seorang warga.
Tangan Helen berhenti menyikat. Inilah dia. Benang merah yang ia cari.
****
Malam harinya, Helen kembali ke kontrakan dengan kaki yang membengkak. Di tangannya, ada beberapa lembar uang sepuluh ribuan—hasil memeras keringat seharian. Di atas meja kayu yang goyang, Ario Diangga sedang menatap layar ponsel rahasianya dengan serius.
"Kau menemukannya?" tanya Ario tanpa menoleh, namun nada suaranya penuh ketegangan.
Helen meletakkan uangnya di atas meja. Ia duduk di lantai semen, memijat kakinya yang lecet. "Aku tahu di mana dia, Ario. Di belakang Pasar Induk. Mereka bilang dia sakit-sakitan. Aku harus menemuinya besok."
Ario berbalik, menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kekaguman sekaligus rasa sakit melihat Helen yang dulu begitu rapuh kini menjadi sekeras karang. "Hati-hati, Helen. Orang-orang Beatrix pasti juga mencarinya. Jika mereka tahu Haris masih hidup dan menyimpan rahasia, mereka tidak akan ragu untuk membungkamnya selamanya."
"Aku tahu," desis Helen. "Tapi Haris adalah satu-satunya saksi mata di malam itu. Dia yang memegang kemudi. Dia yang tahu apakah rem itu benar-benar blong atau sengaja diputus."
****
Keesokan harinya, saat fajar bahkan belum sempat menyapa Jakarta, Helen sudah berada di kawasan padat di belakang pasar. Bau sayuran busuk dan amis daging menyengat, namun ia tak peduli. Ia menyusuri barisan rumah petak yang berhimpitan, mencari pintu hijau kusam yang diceritakan warga.
Di ujung gang buntu, ia menemukannya. Sebuah pintu kayu yang nyaris lepas dari engselnya.
Helen mengetuk perlahan. "Pak Haris? Pak?"
Tidak ada jawaban. Helen mendorong pintu yang ternyata tidak dikunci. Di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh lampu bohlam lima watt, ia melihat sesosok pria tua kurus kering terbaring di atas kasur lantai yang tipis. Pria itu terbatuk-batuk, suaranya terdengar seperti gesekan kertas amplas.
"Siapa...?" tanya pria itu dengan suara gemetar.
Helen melepas capingnya. Ia mendekat dan berlutut di samping kasur. "Pak Haris... ini saya. Helen. Putri Pak Aditya."
Mata pria tua itu membelalak. Ia mencoba bangun dengan sisa tenaganya, air mata seketika mengalir di pipinya yang cekung. "Non... Non Helen? Benarkah ini Non Helen?"
"Iya, Pak. Ini saya," Helen menggenggam tangan Haris yang dingin dan gemetar. "Apa yang terjadi sebenarnya, Pak? Tolong katakan pada saya."
****
Haris terisak, sebuah tangisan yang penuh dengan rasa bersalah yang telah ia pendam selama berbulan-bulan. "Maafkan saya, Non... Saya pengecut. Saya diancam. Jika saya bicara, mereka bilang mereka akan membakar rumah anak cucu saya..."
"Siapa, Pak? Siapa yang mengancam?" tuntut Helen, suaranya bergetar karena emosi yang meluap.
Haris menatap langit-langit kamarnya, seolah-olah bayangan malam itu kembali hadir. "Malam itu... sebelum Bapak berangkat ke Bandung, saya melihat Bambang masuk ke garasi. Saya pikir dia hanya mengecek mobil atas perintah Nyonya Beatrix. Tapi di tengah jalan... rem itu tidak berfungsi. Bapak mencoba membelokkan setir, tapi setirnya kaku... seperti dikunci."
Helen menutup mulutnya dengan tangan. Air mata jatuh deras membasahi pipinya. "Papa... Papa tahu?"
"Bapak sempat berteriak, Non. Beliau bilang, 'Beatrix, kau sungguh melakukannya?'. Beliau tahu, Non. Bapak tahu istrinya ingin menghabisinya karena Bapak berencana mengubah wasiat untuk memberikan seluruh saham kepada Non Helen," Haris terbatuk hebat, mengeluarkan noda darah di sapu tangannya.
"Non... ada satu hal lagi. Bapak memberikan saya sebuah flashdisk kecil sebelum kami berangkat. Beliau bilang, kalau terjadi sesuatu, saya harus memberikannya kepada Non. Saya menyembunyikannya di dalam bingkai foto keluarga di bawah kasur ini..."
Helen dengan cepat merogoh ke bawah kasur. Di balik debu dan kotoran, ia menemukan sebuah bingkai foto tua yang sudah retak. Di dalamnya, ada foto ayahnya yang sedang menggendongnya saat ia masih kecil. Dan di sela-sela karton penutup bingkai, terselip sebuah flashdisk hitam kecil.
"Ini dia..." bisik Helen. "Bukti konspirasi itu."
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar di depan pintu gang. Suara HT (Handy Talky) berderit pelan—suara yang sangat dikenal Helen. Orang-orang suruhan Beatrix.
"Non... lari!" bisik Haris dengan panik. "Jangan biarkan mereka mengambil itu! Pergi lewat jendela belakang!"
"Tapi Bapak—"
"Tinggalkan saya, Non! Tugas saya sudah selesai. Selamatkan nama Bapak!"
Helen mencium tangan pria tua itu untuk terakhir kalinya. Dengan jantung yang berdegup kencang, ia melompat keluar melalui jendela kecil yang menghadap ke selokan besar di belakang pasar. Tepat saat ia mendarat di tanah yang becek, ia mendengar suara pintu depan didobrak kasar.
****
Di puncak menara V.A. Nordic, Beatrix van Amgard sedang memandangi kota dari balkonnya. Tiba-tiba ponselnya berdering.
"Nyonya, kami terlambat. Haris sudah ditemukan seseorang, dan sepertinya dia sudah memberikan sesuatu," suara Bambang terdengar panik dari seberang telepon.
Gelas kristal di tangan Beatrix pecah berkeping-keping saat ia meremasnya dengan kemarahan yang meluap. "Siapa? Siapa yang menemukannya?!"
"Kami tidak tahu pasti, Nyonya. Tapi warga bilang ada seorang buruh cuci perempuan yang sering terlihat di sekitar sini..."
Beatrix mematikan telepon. Wajahnya yang cantik berubah menjadi topeng kebencian yang mengerikan. "Helen..." geramnya. "Kau pikir dengan sepotong bukti kau bisa meruntuhkan kerajaanku? Kau hanya memancing kematianmu untuk datang lebih cepat."