AKU ADALAH KEY.
AKU HIDUP BERSAMA TUKANG KAYU DARI PENJAG KUIL
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DAN DM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
POHON BANDEL DAN SIE JENIUS
Matahari mulai bergeser sedikit ke barat, membuat bayangan-bayangan di halaman kuil menjadi lebih panjang dan dramatis. Angin sore berhembus lebih sering, membawa kesejukan yang sangat dinanti setelah panasnya siang tadi. Namun, kesejukan itu sepertinya tidak cukup mendinginkan emosi Kakek Genpo yang mulai memuncak.
Wukk! Blam!
Kapak di tangan Kakek Genpo kembali menghantam batang pohon. Suaranya berat, pekat, dan terasa memantul di dinding-dinding batu. Namun, hasilnya? Hanya goresan kecil yang bahkan tidak sedalam kuku jari. Kayu pohon itu benar-benar keras, seolah-olah terbuat dari baja padat.
"Aduh, sialan! Ini pohon apa-apaan sih?!" gerutu Genpo keras-keras. Ia meletakkan gagang kapak ke tanah, lalu memijat kedua lengannya yang terasa pegal luar biasa. "Sudah diasah sampai sehalus cermin, sudah dipukul sampai tangan kakek gemetar, eh malah kapaknya yang mau tumpul duluan! Pohon bandel! Minta ampun kelakuannya!"
Deon yang tadi masih sibuk memandangi batu ukiran Beringin di tanah, kini menoleh. Ia melihat kakeknya yang sudah berkeringat deras, wajah memerah menahan kesal, tapi postur tubuhnya yang 88 tahun itu masih tegap berdiri menghadapi si "pohon raksasa".
Melihat ekspresi kesal Kakek Genpo yang terlihat lucu, Deon tidak bisa menahan tawanya.
"Hahahahaha! Hahaha!" Deon tertawa lepas, sampai ia harus memegangi perutnya. "Kakek ngomel terus dari tadi. Kayak anak kecil yang nggak dapat mainan aja."
"Eh, dasar Deon! Kamu itu!" Genpo menoleh tajam, menatap cucunya dengan mata melotot bercampur gemas. "Tanya, tanya, dan tanya! Mulutmu itu nggak ada hentinya ya dari tadi? Nama kuil apa, sejarah siapa, simbol apa... Kamu sebenarnya mau ngapain sih, Deon? Mau jadi ahli sejarah atau mau jadi wartawan iseng?"
Deon menghentikan tawanya sedikit, tapi senyumnya masih mengembang. "Ya... karena penasaran dong Kek. Tempat ini kan rumah kita. Wajar dong kalau aku mau tahu sejarah tanah tempat kita injak ini."
"Penasaran boleh, tapi lihat keadaan dong!" Genpo mengibaskan tangannya ke arah pohon yang setengah tebang itu. "Nggak lihat apa? Kakek ini lagi berperang melawan pohon setan ini! Kayunya keras minta ampun, mau dijadikan tiang gubuk biar nggak ambruk malah kakeknya yang mau ambruk duluan!"
Genpo melipat kedua tangannya di dada, menatap Deon dengan tatapan menantang.
"Kamu kan Deon Key. Kamu kan pinter. Kamu kan jenius segala bidang kata orang? Kamu kan lebih paham dari profesor universitas sekalipun?" suara Genpo sedikit meninggi tapi masih bernada menggoda. "Daripada cuma bisa duduk manis tanya ini tanya itu, bantu kakek sini! Coba otak jeniusmu dipakai buat masalah nyata dong! Gimana caranya biar pohon bandel ini bisa tumbang?"
Deon terkekeh pelan. Ia suka sekali saat Kakek Genpo mulai memancingnya begini. Suasana di reruntuhan kuil itu selalu hidup karena candaan mereka.
"Iya, iya... Jangan marah dong Kek, nanti cepat tua lho," jawab Deon santai sambil berjalan mendekat. Ia mengelilingi pohon itu sekali putaran, matanya menyapu batang pohon dengan pandangan analitis yang tajam.
"Kakek ini mah, ototnya memang kuat, tapi logikanya kurang," celetuk Deon.
"Heh! Berani sekali kamu menghina kakekmu!"
"Bukan menghina Kek, tapi mengingatkan," Deon tersenyum lebar. "Pohon jenis Diamond-Bark ini memang punya serat kayu yang paling padat di dunia. Kalau dipukul sembarangan kayak nyamber nyamuk, ya nggak bakal tembus. Energinya terpantul balik lagi ke kapak. Itu sebabnya tangan Kakek jadi sakit."
"Terus harus gimana? Pake bom?" sahut Genpo ketus.
"Hahaha nggak perlu kekerasan segitu," Deon tertawa. "Kuncinya bukan di seberapa kuat pukulannya, tapi di mana titik pukulannya. Kayu sekeras ini punya celah serat alami. Cuma orang yang paham struktur yang bisa lihat."
Deon menunjuk satu titik di batang pohon, sedikit ke bawah dan agak miring.
"Pukul di sini. Tepat di garis hitam tipis yang kelihatan itu. Itu adalah garis lemah seratnya. Angin selalu membelah batu karang bukan karena anginnya kuat, tapi karena dia tahu celahnya."
Genpo memicingkan matanya, melihat titik yang ditunjuk Deon. "Yakinkan? Kalau nanti masih nggak tembus, kakek taruh kupingmu lho!"
"Percaya sama aku Kek. Aku sudah hitung strukturnya dalam hati. 100% berhasil," jawab Deon penuh percaya diri.
Dengan ragu-ragu tapi penasaran, Genpo mengangkat kapaknya lagi. Ia mengatur napas, membidik tepat titik yang ditunjuk Deon.
WUSH! DORRR!
Satu ayunan keras. Kali ini tidak ada suara bantalan yang keras. Suaranya tajam dan bersih. Dan... Sreeekk! Kapak itu menancap sangat dalam hingga hampir setengah bilah kapaknya hilang masuk ke dalam kayu!
"Wah!" Genpo terbelalak. Ia mencoba mengayunkan lagi. Krak!
Dahan besar yang tadi bandel minta ampun itu akhirnya retak besar dan mulai miring. Dengan satu dorongan kecil dari bahu Genpo, dahan itu pun tumbang ke tanah dengan suara gemuruh yang memuaskan.
GEDUBARAK!
Hening sejenak, lalu disusul dengan sorak sorai batin.
"Lihaaaat! Gitu dong!" Deon bertepuk tangan heboh, tertawa puas. "Apa kata Kakek? Jenius kan?"
Genpo mencabut kapaknya yang ternyata masih sangat tajam. Ia menatap pohon yang sudah tumbang, lalu menatap Deon dengan wajah takjub bercampur bangga.
"Dasar... anak ajaib," gumam Genpo sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia tersenyum lebar, menepuk punggung Deon dengan kuat. "Benar-benar nggak main-main otakmu ini, Deon. Kakek pukul beratus-ratus kali nggak mempan, kamu tunjuk satu titik langsung ambrol."
"Kan sudah kubilang," Deon menyeringai bangga. "Ilmu itu bukan cuma buat dipajang di dinding universitas atau ditulis di ijazah Kek. Ilmu itu buat memudahkan hidup. Nah, sekarang kan lebih ringan?"
"Hahaha iya, iya! Kamu menang hari ini!" Genpo tertawa renyah, suaranya bergema di antara reruntuhan itu. Angin berhembus menerbangkan helai rambut putihnya, seolah ikut bergembira melihat kerjasama kakek dan cucu ini.
"Tapi ingat ya Deon," Genpo berhenti tertawa, wajahnya menjadi sedikit lebih serius tapi tetap hangat. "Kecerdasan itu seperti kapak ini. Tajam memang, tapi kalau salah pakai atau salah arah, malah bisa nyakiti diri sendiri. Dan yang paling penting... jangan sombong."
"Siap, Komandan Kakek!" Deon memberi hormat ala tentara dengan gaya konyol, membuat Genpo kembali tertawa.
"Sudah sana, bantu kakek potong-potong kayunya. Jangan mikir yang berat-berat dulu, mikir bagaimana perut kita kenyang sore ini!"
"Siap! Tapi Kek..."
"Apa lagi?"
"Nanti selesai kerja, boleh kan kita cari buku tua yang hilang itu lagi? Aku yakin ada hubungannya sama simbol Beringin tadi."
Genpo menghela napas panjang, tapi senyumnya tak pernah hilang. "Iya, iya... mulutmu memang nggak ada hentinya. Ayoo kerja dulu!"
Dan di bawah langit sore yang mulai keemasan itu, di antara puing-puing sejarah dan pepohonan raksasa, terdengar lagi suara tawa dan obrolan hangat yang menyatu dengan desiran angin.