Wu Xuan mahasiswa elite jurusan bisnis, hukum dan manajemen tanpa sadar memasuki dunia novel kultivasi yang baru saja dibacanya, bukan sebagai mc, bukan juga villain, tapi menjadi karakter pendukung yang akan mati pada arc awal. Dengan bantuan sistem, Wu Xuan berusaha mengubah cerita.
Ia masuk ke tubuh patriark tua, namun karena sistem membantunya menerobos, tubuh tuanya berubah menjadi muda dan tampan.
Dia melamar wanita (Villain) yang harusnya menjadi menantunya, karena pembatalan pertunangan sepihak yang dilakukan oleh anaknya.
Demi menghindari masalah di masa depan, ini adalah jalan yang harus di ambil oleh Wu Xuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan di Takhta Utara 3
Begitu pintu ruang kerja berdebum tertutup rapat, mengisolasi mereka dari dunia luar yang sedang berada di ambang perang saudara, Wu Xuan menarik pinggang Xu Mei, merengkuh tubuh Nyonya Utama Utara itu kembali ke dalam pelukannya yang hangat dan protektif.
Aroma bunga teratai es yang menguar dari rambut Xu Mei bercampur dengan wangi cendana dari tubuh Wu Xuan, menciptakan sebuah atmosfer intim yang secara kontras menentang hawa dingin Istana Utara. Di luar sana, ribuan prajurit faksi Bei Ming sedang berbaris menuntut takhta, namun di dalam ruangan ini, waktu seolah berjalan dengan ritme yang dikendalikan sepenuhnya oleh sang Archduke dari Selatan.
Xu Mei menyandarkan kepalanya di dada bidang Wu Xuan. Tangannya yang lentik meremas pelan jubah hitam sutra pria itu. Rasa aman yang baru saja ia dapatkan dari intimidasi Wu Xuan terhadap kedua jenderalnya membuatnya merasa seperti seorang gadis yang baru saja diselamatkan dari badai.
"Apa rencana Kakak Xuan?" tanya Xu Mei, suaranya terdengar jauh lebih lembut dan manja dari sebelumnya, mengalirkan sebuah ketergantungan yang dalam. Memanggilnya 'Kakak' dengan nada manja, membuang seluruh gelar kebangsawanan yang selama ini membatasi mereka.
Wu Xuan menatap rambut hitam kecoklatan wanita di pelukannya. Tangannya dengan perlahan mengelus punggung Xu Mei, memberikan usapan yang menenangkan namun penuh dengan dominasi yang tak terbantahkan.
"Kau bertanya tentang rencanaku?" Wu Xuan terkekeh pelan. Suara baritonnya bergetar di dadanya, terdengar seperti sebuah rahasia mematikan yang akan ia bisikkan. Ia menunduk, bibirnya nyaris menyentuh telinga Xu Mei. "Aku sudah menemukan Bei Han."
Satu kalimat pendek itu menghantam Xu Mei layaknya sambaran petir surgawi di siang bolong.
Tubuh Xu Mei menegang seketika. Matanya membelalak lebar. Jantungnya, yang sedari tadi berdetak dengan ritme gairah dan rasa aman, mendadak berhenti berdetak selama sedetik penuh. Duke Bei Han... suaminya yang sah, tiran gila perang dari Utara yang pergi tanpa kabar dan tidak peduli pada serangan wipe Beast di wilayahnya, telah ditemukan?
"B-Bei Han...?" suara Xu Mei bergetar. "Dia... di mana dia? Apakah dia akan kembali kemari?"
Wu Xuan tidak langsung menjawab. Ia justru melepaskan pelukannya sedikit, menatap lurus ke dalam mata biru Xu Mei dengan pandangan yang sedingin esensi es abadi, namun memancarkan daya pikat Tubuh Pesona Surgawi yang luar biasa pekat. Ia sedang memberikan sebuah ujian psikologis terakhir.
"Itu tidak penting di mana dia sekarang," ucap Wu Xuan dengan nada datar dan sangat kalkulatif. Jari-jarinya dengan lembut menelusuri garis rahang Xu Mei. "Yang penting adalah... siapa yang kau pilih antara aku dan dia?"
Xu Mei menelan ludah. Lidahnya terasa kelu.
"Jika kau memilihnya, karena dia adalah suamimu yang sah dan darah asli dari klan yang kau pimpin..." Wu Xuan melanjutkan, kalimatnya diucapkan dengan kelembutan yang menyayat hati, "...maka kita lupakan saja hubungan kita ini. Aku akan menyerahkan kembali Utara ke tangannya, dan aku akan pulang ke Selatan. Kau bisa kembali menjadi istri dari Duke Bei Han."
Pernyataan itu adalah sebuah ultimatum absolut. Di dalam kepalanya, Sifat asli Wu Xuan itu sedang tersenyum sinis.
'Pilihan ganda dengan satu jawaban yang benar,' monolog batin Wu Xuan. 'Di duniaku, teknik ini disebut "Ilusi Pilihan". Aku memberinya jalan keluar yang terdengar rasional, padahal jalan itu dipenuhi oleh trauma dan pengkhianatan. Otak manusianya secara otomatis akan menolak kembali ke perasaan yang telah hilang, dan akan memeluk sumber kenyamanannya saat ini. Ini adalah Teknik Psikologi paling dasar.'
Dan benar saja. Mendengar ancaman bahwa Wu Xuan akan meninggalkannya dan ia harus kembali pada Bei Han, sebuah pilihan yang mencengkeram hati Xu Mei.
Perasaan asing namun memabukkan yang merayap di hatinya sejak kedatangan Wu Xuan, dominasi pria ini yang melindunginya, kehangatan yang diberikan pria ini sangat berbeda dari apa yang diberikan Bei Han si maniak perang padanya... semua itu telah membangun sebuah benteng baru di hatinya. Ruang yang dulu ditempati oleh Bei Han telah hancur dan tergantikan sepenuhnya oleh kehadiran Archduke Xuan dari Selatan. Ia tidak ingin Bei Han kembali dan merusak hari dimana dia bersama Wu Xuan.
"Tentu saja aku memilih Kakak Xuan," jawab Xu Mei tanpa ragu sedikit pun.
Ia melangkah maju, kembali memeluk Wu Xuan dengan sangat erat. Kali ini, pelukannya bukan sekadar pelukan mencari perlindungan, melainkan sebuah penyerahan diri secara total.
Xu Mei dengan sengaja mendekapkan aset dadanya yang penuh dan menggoda ke dada bidang Wu Xuan, membiarkan kelembutan tubuhnya menjadi argumen yang paling nyata dari kesetiaannya.
"Jangan pernah berpikir kau bisa meninggalkanku," bisik Xu Mei dengan mata berkaca-kaca, mendongak menatap wajah Wu Xuan. "Dan Dia sudah mati di hatiku. Sekarang, aku hanyalah kau yang ada dihatiku ini."
Mendengar ikrar penaklukan yang manis itu, senyum tiran di bibir Wu Xuan akhirnya mengembang sempurna. Ia tidak membuang waktu untuk berbicara lagi. Tangannya merengkuh pinggang ramping Xu Mei, menariknya hingga tidak ada jarak sehelai benang pun di antara mereka, dan langsung melumat bibir lembut nan merah milik Duchess Utara tersebut.
Ciuman itu luar biasa intens. Wu Xuan mengklaim bibir itu layaknya seorang penakluk yang menancapkan benderanya di wilayah baru. Ia memaksa bibir Xu Mei terbuka, membiarkan lidahnya menari dan mengeksplorasi rasa manis yang memabukkan dari dalam mulut wanita itu.
Xu Mei mendesah tertahan di dalam ciuman tersebut. Ia membalas dengan gairah yang sama liarnya, tangannya meremas rambut di belakang leher Wu Xuan, tenggelam dalam pusaran ekstase dan pesona surgawi yang memancar dari tubuh sang Archduke. Kakinya terasa lemas, nyaris tidak mampu menopang berat badannya sendiri jika bukan karena tangan kuat Wu Xuan yang menahan pinggangnya.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti keabadian, Xu Mei akhirnya melepaskan ciuman itu dengan sangat lembut karena kehabisan napas spiritualnya.
Sebuah benang liur tipis berwarna keperakan yang berkilau di bawah cahaya mutiara ruangan sempat terbentuk di antara bibir mereka sebelum akhirnya terputus, menyisakan pemandangan yang luar biasa erotis. Wajah Xu Mei memerah sempurna, napasnya memburu, matanya memancarkan kabut nafsu yang sangat pekat.
Namun, sisa-sisa kewarasan sebagai seorang penguasa wilayah masih berkedip lemah di otaknya.
Dengan gerakan yang sangat anggun dan gemulai, Xu Mei mengangkat tangannya. Ia mengalirkan secercah energi spiritual elemen es ke ujung jarinya, lalu dengan lembut memperbaiki bagian lipstiknya yang luntur di sekitar bibirnya, mengembalikan penampilannya menjadi sempurna meski napasnya masih tersengal.
"Kakak Xuan..." ucap Xu Mei dengan suara yang begitu lembut, merdu, dan penuh godaan tanpa ia sadari. "Pemberontakan sedang terjadi di luar pintu gerbang dalam istanaku. Pasukan Bei Ming bersiap untuk meruntuhkan tembok ini. Bukankah kita... sebaiknya menghentikan mereka terlebih dahulu? Aku takut kita akan lupa waktu jika kita melanjutkan ini."
"Hahaha..." Wu Xuan tertawa bariton. Tawanya terdengar seperti alunan melodi dari dasar samudra yang dalam. Ia menatap mata biru Xu Mei dengan pandangan yang seolah bisa menguliti pikiran wanita itu.
"Jika aku bilang ini adalah bagian dari rencana utamaku? Apa kau akan menolaknya, Sayang?" tanya Wu Xuan dengan nada rendah yang menggetarkan tulang rusuk.
Xu Mei menggigit bibir bawahnya, menatap wajah tampan nan mematikan di depannya. Tidak, ia tidak akan bisa menolaknya. Bahkan jika langit runtuh saat ini juga, ia lebih memilih berada di pelukan pria ini daripada memegang pedang.
Tanpa menunggu jawaban yang sudah pasti itu, Wu Xuan tiba-tiba membungkuk dan menyusupkan satu tangannya di bawah lutut Xu Mei, mengangkat wanita dewasa itu kembali ke dalam gendongannya.
"K-Kakak Xuan?!" Xu Mei terkesiap, secara refleks mengalungkan lengannya di leher Wu Xuan.
Wu Xuan tidak menjawab. Ia melangkah melewati meja kerja giok tersebut, menuju ke bagian dalam ruang pribadi Nyonya Duchess yang disekat oleh tirai sutra tebal berwarna ungu. Di balik tirai itu, terdapat sebuah ranjang giok es raksasa berlapiskan bulu rubah salju kelas atas, tempat istirahat pribadi.
"Setelah kita mulai, kau tidak akan bisa kembali," bisik Wu Xuan, matanya berkilat di bawah cahaya lampion ruangan. "Apa kau siap menjadi milikku seutuhnya?"
Wu Xuan melepaskan gendongannya, menjatuhkan tubuh sintal wanita yang luar biasa menggoda itu ke atas ranjang giok yang empuk. Xu Mei terhempas pelan di atas tumpukan bulu rubah, rambut hitamnya menyebar indah bagaikan kelopak bunga yang mekar di atas salju. Gaun ungunya sedikit tersingkap, memperlihatkan betis jenjangnya yang seputih pualam.
Melihat pemandangan yang begitu memabukkan itu, jiwa asli pemuda Bumi di dalam tubuh Wu Xuan nyaris memberontak dan lepas kendali. Darahnya mendidih, hormon lelakinya berteriak menuntut pelepasan yang instan.
Namun, sebelum kewarasannya terenggut oleh nafsu primitif, Akar Spiritual Samudra Terdalam di dalam dantiannya berputar pelan, mengalirkan hawa dingin nan menenangkan layaknya dasar palung laut yang tak tersentuh cahaya. Di saat yang bersamaan, Akar Spiritual Kayu Surgawi menstabilkan esensi kehidupannya, menjaga fokusnya agar tetap setajam pedang.
'Pikiran yang jernih adalah kunci dari kultivasi ganda yang sempurna,' monolog Wu Xuan mengingatkan dirinya sendiri. 'Aku bukan binatang buas. Aku adalah konduktor dari orkestra kenikmatan dan rasa sakit ini.'
Wu Xuan melangkah maju, melepaskan jubah sutra hitamnya yang berat dan membiarkannya jatuh ke lantai es.
Adegan yang menyusul kemudian adalah sebuah badai penyatuan yang melampaui batas kewarasan manusia fana.
Wu Xuan tidak bertindak terburu-buru. Ia menyingkirkan gaun ungu Xu Mei dengan keahlian yang membuat helaian kain itu seolah meleleh dari tubuh wanita tersebut. Ketika tubuh menggoda Xu Mei yang matang, sintal, dan tanpa cacat sedikit pun terekspos di bawah cahaya redup, Wu Xuan memandangnya layaknya seorang seniman yang mengagumi mahakarya agung dewa pencipta.
"Kau luar biasa indah, Sayang," puji Wu Xuan dengan suara serak, sebelum akhirnya menyusupkan dirinya dan menyatu dengan wanita itu dalam satu dorongan yang presisi dan penuh dominasi.
"AAHHH...!"
Jeritan kenikmatan Xu Mei pecah, memantul di dinding ruang rahasia itu. Punggungnya melengkung ke atas, kuku-kukunya mencengkeram sprei bulu rubah salju hingga tangannya memutih. Sensasi penyatuan dengan seorang kultivator Ranah Primordial Suci Puncak—yang memiliki Tubuh Pesona Surgawi dan Akar Spiritual mutasi ganda—berada di dimensi kenikmatan yang sama sekali berbeda dengan apa yang pernah ia rasakan bersama Bei Han.
Setiap ritme gerakan Wu Xuan terasa seperti ombak samudra yang menghantam karang, membawa Xu Mei terombang-ambing dalam badai gairah yang meluluhlantakkan logikanya. Erangannya semakin keras, semakin tidak terkendali. Keringat mulai membasahi dahi mereka, menetes dan menyatu di atas ranjang giok es.
Di tengah kekacauan nikmat tersebut, Wu Xuan menatap wajah Xu Mei yang mabuk kepayang.
"Keluarkan tetesan Esensi Darah Daratan yang kuberikan padamu waktu itu, Mei," titah Wu Xuan di sela-sela napas mereka yang memburu.
Xu Mei, yang akal sehatnya sudah berada di ujung tanduk, hanya bisa merespons dengan patuh. Ia mengibaskan tangannya dengan susah payah, memanggil botol giok kecil dari cincin spasialnya.
Wu Xuan mengambil botol itu. Di dalamnya terdapat dua tetes cairan merah keemasan yang memancarkan aura elemen darah daratan purba yang luar biasa brutal. Sebelumnya, Wu Xuan mengatakan esensi ini harus dimurnikan oleh alkemis tingkat tinggi agar tidak merusak meridian.
Namun sekarang? Wu Xuan telah mencapai puncak absolut Primordial Suci. Dan dengan pasif dari Tubuh Domain Kuno miliknya membuat tubuhnya menjadi tungku penyulingan tingkat primordial yang paling murni.
Wu Xuan membuka botol itu dan menelan kedua tetes Darah Daratan tersebut ke dalam mulutnya sekaligus.
Esensi liar itu mencoba meledak di dalam mulutnya, namun ditekan seketika oleh aura Primordial Puncak miliknya. Wu Xuan menggunakan tekanan internalnya untuk menghancurkan racun elemen purba di dalam darah tersebut secara instan, mengubahnya menjadi energi murni yang lembut.
Lalu, ia menunduk dan mencium bibir Xu Mei.
Melalui penyatuan bibir dan titik pertemuan tubuh bawah mereka yang paling intim, Wu Xuan menyalurkan energi Darah Daratan yang telah difilter dengan luar biasa lembut itu ke dalam meridian Xu Mei.
"Teguk energi ini, Sayangku. Ini akan berguna untuk mempersiapkan panggungmu," bisik Wu Xuan di bibir wanita itu, memacu ritme gerakannya menjadi jauh lebih brutal dan intens, memadukan ledakan kenikmatan fisik dengan lonjakan energi kultivasi yang masif.
Xu Mei menjerit tertahan saat energi murni itu membanjiri dantiannya yang selama ini kekurangan energi. Tubuhnya melingkuk, jari-jari kakinya menegang ekstrem. Kenikmatan yang tidak pernah terbayangkan oleh akal menghantamnya gelombang demi gelombang, sementara kultivasinya merangkak naik dengan kecepatan yang menakutkan.
Namun... di balik dinding penyatuan yang indah dan erotis ini, terdapat sebuah realitas gelap yang luar biasa kejam, sebuah mahakarya penyiksaan mental yang dirancang oleh otak psikopat sang Archduke.
Wu Xuan tidak sedang bercinta dengan Xu Mei dalam privasi yang absolut.
Tepat di sudut ruangan tersebut, hanya berjarak beberapa meter dari ranjang giok tempat mereka berkultivasi ganda, terdapat sebuah ruang dimensi satu arah yang sengaja dibuat transparan hanya dari satu sisi. Di dalam dimensi buatan yang tersegel dan kedap suara itu, terdapat sebuah ruang isolasi seukuran sel penjara.
Dan di dalam sel spasial itu... mantan penguasa Utara, Duke Bei Han, sedang terikat oleh rantai kutukan emas.
Atau lebih tepatnya, apa yang tersisa dari Bei Han.
Akibat racun Domain Hantu yang ditelan Bei Han dari tangan Yan Melin, tubuh pria itu telah hancur. Tubuh raksasanya mengerut, ototnya meleleh, dan kulitnya mengelupas membusuk, menyisakan seonggok daging berbentuk manusia yang sangat cacat dan menjijikkan. Ia lumpuh, pita suaranya hancur, namun matanya masih terbuka lebar, dipaksa terjaga oleh sihir Teknik Kutukan Pengunci milik Wu Xuan.
Saat ini, mata busuk Bei Han menatap nanar dari balik dinding dimensi transparan.
Namun, apa yang dilihat oleh Bei Han bukanlah Wu Xuan.
Menggunakan manipulasi ilusi uap air mikroskopis di udara dari Akar Spiritual Samudra Terdalam, Wu Xuan menciptakan lapisan filter ilusi holografik yang menutupi dirinya sendiri khusus dari sudut pandang dimensi spasial tersebut. Sebuah ilusi mematikan yang dirancang secara spesifik untuk menghancurkan kewarasan terakhir sang mantan Duke.
Di mata Bei Han, pria yang sedang menindih istrinya, yang sedang membuat Xu Mei menjerit dalam ekstase surgawi, yang sedang menyalurkan energi hingga membuat Nyonya Utama itu menangis memohon lebih... bukanlah Wu Xuan.
Wu Xuan membuat dirinya terlihat seperti Bei Ming dalam ilusi itu. Adik Bei Han sendiri.
Deg!
Jantung di dalam onggokan daging busuk Bei Han serasa meledak. Matanya yang merah menyala akibat pembuluh darah yang pecah melotot hingga nyaris keluar dari rongganya.
Adiknya?! Adiknya yang selama ini selalu ia ajarkan tentang kekuatan, adiknya yang selalu ia berikan hak memimpin pasukan... kini berada di atas ranjangnya, menyetubuhi istri yang dicintainya?! Dan yang paling menghancurkan adalah melihat ekspresi Xu Mei. Wajah istrinya yang selama ini selalu bersikap dingin dan angkuh padanya, kini melengkungkan tubuhnya seperti wanita jalang yang haus, memeluk punggung 'Bei Ming' dengan penuh gairah dan kepasrahan absolut.
‘TIDAK! JALANG! BEI MING, KAU KEPARAT!’ jerit jiwa Bei Han dalam keheningan yang menyiksa. Mulutnya yang hancur hanya bisa mengeluarkan buih darah hitam. Ia meronta dalam rantai kutukan, namun tubuhnya yang cacat tak bisa digerakkan satu milimeter pun.
Ini adalah eksekusi psikologis tingkat dewa. Sebuah Netorare yang dirancang bukan untuk kepuasan fisik semata, melainkan untuk membakar habis Dao Heart (Hati Dao) sang mantan penguasa Utara dengan pengkhianatan ganda: dari istrinya, dan dari saudaranya sendiri.
'Nikmati pertunjukannya, Bei Han, dan Wu Xuan pemilik tubuh ini,aku telah membalaskan dendammu padanya,' monolog Wu Xuan di dalam hatinya. Senyum iblis terukir di bibirnya saat ia melirik sekilas ke arah dimensi buatan tersebut dengan sudut matanya, sambil memperdalam dorongannya pada Xu Mei. 'Jika kau melihatku, kau hanya akan merasa kalah oleh orang yang lebih kuat. Tapi melihat adikmu sendiri merampas takhtamu dan wanitamu? Itu akan menghancurkan fondasi logikamu. Siksalah dirimu dalam ilusi ini hingga jiwamu membusuk.'
'Jatuhlah dalam penyimpangan Qi'
Di atas ranjang, kultivasi ganda itu mencapai fase baru.
Wu Xuan sengaja mengendurkan pegangannya, membiarkan Xu Mei mendominasi. Wanita itu membalikkan posisi, kini berada di atasnya.
"Ambil kendali, Sayangku," goda Wu Xuan, menatap keindahan Xu Mei yang sedang menungganginya dengan napas memburu.
Merasa diberikan kekuasaan, Xu Mei yang dikuasai oleh kabut gairah dan lonjakan energi baru, mengambil inisiatif. Keringat mengalir di celah payudaranya, wajahnya mendongak menatap langit-langit dengan mata terpejam, mendesahkan rentetan lenguhan yang tak terkendali.
Di balik dinding dimensi, Bei Han yang seolah melihat 'Bei Ming' sedang mengelus pinggul istrinya sambil tertawa merendahkan.
"Sayang... tolong... aku... aku akan meledak!" rintih Xu Mei di dunia nyata, namun ilusi akustik yang diatur Wu Xuan membuat Bei Han mendengar istrinya mendesahkan nama adiknya: "Bei Ming Sayang... tolong...!"
"Terima ini, Sayangku," geram Wu Xuan, memberikan satu dorongan terakhir ke atas yang luar biasa kuat, mengalirkan seluruh sisa Esensi Darah Daratan yang telah dimurnikan dalam satu hentakan mutlak.
"AAAAAHHHH!"
Jeritan klimaks Xu Mei menggelegar menembus ruang rahasia. Puncak kenikmatan fisik yang menghancurkan logika bersatu dengan ledakan energi murni di dalam dantiannya.
BOOOOOOOOMM!
Aura es abadi meledak dari tubuh Xu Mei. Energi elemen tanah murni menstabilkan meridiannya yang rentan. Batas kultivasi yang menyumbat dantiannya selama puluhan tahun hancur berkeping-keping layaknya kaca yang dipukul palu godam dewa.
Ranah Kuno tahap awal... tembus!
Kultivasi Xu Mei melesat naik, didorong oleh sirkulasi Yin-Yang sempurna dan esensi bumi murni, hingga akhirnya stabil dengan kokoh di Ranah Kuno tahap menengah! Xu Mei ambruk, jatuh terkulai di atas dada Wu Xuan dengan napas yang putus-putus. Ia telah terlahir kembali, secara fisik dan kultivasi, melalui tangan sang Archduke.
Sementara itu, di balik retakan spasial yang tak terlihat...
Melihat istrinya mencapai puncak ekstase surgawi di bawah pelukan 'adiknya' dan bahkan menerobos ke ranah yang selama ini tidak bisa ia berikan, kewarasan Bei Han akhirnya terputus total dalam penyimpangan Qi.
Emosi mengerikan yang terdiri dari cemburu buta, kebencian absolut, rasa tak berdaya, dan kehancuran harga diri meledak di dalam sisa-sisa otaknya. Dantiannya yang sudah hancur tak mampu menahan kontradiksi emosional tersebut.
CRAT!
Darah hitam menyembur dari mata, telinga, hidung, dan mulut gumpalan daging Bei Han. Qi Deviation (Penyimpangan Qi) tingkat fatal melanda seluruh sistem saraf spiritualnya yang tersisa. Mantan tiran Utara itu kejang-kejang hebat untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya ambruk ke lantai dimensi spasial. Ia kejang dengan mata melotot, otaknya terasa hancur berkeping-keping oleh rasa sakit akibat pengkhianatan ilusi yang dirancang sempurna.
Di atas ranjang, Wu Xuan yang merasakan rusaknya ikatan jiwa dari tubuh Bei Han, hanya tersenyum tipis. Ia mengelus punggung istrinya yang basah oleh keringat dengan penuh kasih sayang.
"Saat nya memulai rencana. Dan kambing hitam untuk menguasai wilayah utara telah tersedia," batin Wu Xuan dengan kepuasan absolut. Rencananya untuk menjadikan Bei Ming sebagai target kemarahan publik atas 'hilangnya' Bei Han kini memiliki fondasi ilusi yang tak terbantahkan.
Wu Xuan membiarkan Xu Mei tertidur di atas dadanya selama beberapa saat. Ia menggunakan sisa energi kayu surgawi untuk membersihkan sisa-sisa kelelahan dari tubuh wanita tersebut.
Tak lama kemudian, Xu Mei tersentak bangun dengan kesadaran yang luar biasa jernih. Mata birunya membelalak saat ia merasakan pusaran energi raksasa di dalam perutnya. Ia mengangkat tangannya, melihat aura es kebiruan yang jauh lebih padat dari sebelumnya.
"A-Aku... mencapai ranah Kuno tahap menengah?! Ini... ini keajaiban!" seru Xu Mei, memeluk Wu Xuan dengan fanatisme pemujaan yang nyata.
Wu Xuan membalas pelukannya sebentar, lalu dengan lembut menyingkirkan lengan wanita itu. Ia duduk di tepi ranjang.
Satu jentikan jari dari Wu Xuan, dan sebuah pil pemulih stamina tingkat tinggi berwarna hijau zamrud bermanifestasi di udara. Ia memasukkan pil itu ke mulut Xu Mei, yang langsung menelannya tanpa ragu sedikit pun.
"Persiapkan dirimu, Sayang," titah Wu Xuan, suaranya kembali berubah dari kekasih ranjang menjadi tiran penakluk. "Bangkit, mandi, dan kenakan Zirah Tempur terbaik yang kau miliki di istana ini."
Xu Mei menatap punggung lebar Wu Xuan yang sedang mengenakan kembali jubah sutra hitamnya. "Apa yang akan kita lakukan, Sayang? Pasukan Bei Ming pasti sudah berada di ambang pintu Aula Utama sekarang."
Wu Xuan berdiri. Ia membalikkan badannya, mengambil Jubah Kebesaran Patriark Selatan dari dalam cincin spasialnya. Sebuah jubah kebesaran berwarna hitam legam dengan sulaman naga emas yang luar biasa agung. Ia mengenakan jubah kebesaran itu, memancarkan wibawa absolut dari seorang Penguasa Wilayah Selatan yang sesungguhnya.
"Apa yang akan kita lakukan?" ulang Wu Xuan, tersenyum dengan aura pembunuh yang membekukan darah. "Tentu saja kau akan tampil di orkestra keagungan paling menakjubkan. Malam ini, sebuah panggung besar telah aku siapkan untukmu. Malam ini, kau akan keluar dari ruangan ini, dan kau akan menjadi pahlawan dengan tanganmu sendiri di hadapan seluruh rakyat dan para pemberontak diluar."
Wu Xuan mengangkat tangannya, merobek ruang di dalam kamar tersebut. Sebuah retakan spasial yang mengarah langsung ke sebuah dimensi buatan miliknya.
"Cepatlah bersiap. Aku akan memanaskan panggungnya untukmu," ucap Wu Xuan, sebelum melangkah santai ke dalam retakan dimensi tersebut, menghilang dan meninggalkan Xu Mei yang kini dipenuhi oleh determinasi dan kekuatan baru yang mendidih di pembuluh darahnya.
Kudeta ini akan berakhir dalam pertumpahan darah yang tidak disangkah-sangkah.
Bersambung...