Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.
Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.
Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.
Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.
Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.
Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."
Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.
Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.
Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.
Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:
"Aku mau pergi utuh."
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: BIMA DIBAWA PERGI, AKU DITINGGAL
Pagi keberangkatan. Matahari belum sepenuhnya terbit. Tapi sudah terang. Sudah waktunya. Sudah pergi.
Mahesa sudah bangun sejak subuh. Tidak tidur. Tidak bisa. Hanya berbaring di tikar, mendengar suara dari kamar ibu. Suara koper dibuka. Suara pakaian dilipat. Suara Bima bertanya, "Aku pakai baju baru, Bu?"
Suara ibu menjawab, "Iya, sayang. Pakai yang biru. Yang dari Pak Darmo."
Baju baru. Biru. Bersih. Tidak ada tambalan. Tidak ada jahitan tangan ibu yang kasar. Dari Pak Darmo. Dari ayah baru. Dari yang bisa memberi.
Mahesa melihat baju sendiri. Lusuh. Sobek di siku. Ditambal dengan kain bekas. Tapi tidak apa. Sudah biasa.
Ia bangun. Duduk di tikar. Memandangi cincin besi di jari manis—cincin ayah. Satu-satunya yang tersisa. Satu-satunya yang tidak pergi.
Kakek Surya sudah di beranda. Di kursi goyang. Menghadap ke jalan. Menunggu. Atau hanya duduk. Mahesa tidak tahu.
Pukul tujuh. Mobil datang. Toyota tua warna biru pudar. Pak Darmo di dalam. Tersenyum. Melambai ke ibu.
Ibu keluar. Dengan koper. Dengan Bima. Bima pakai baju baru biru. Sepatu baru hitam mengilap. Yang tidak pernah dimiliki Mahesa. Yang tidak akan pernah dimiliki Mahesa. Karena kaki kanan terlalu besar. Terlalu bengkak. Terlalu salah untuk sepatu.
Bima berlari ke halaman. Melompat-lompat. Menunjukkan sepatunya. "Lihat, Mahesa! Sepatu baru! Bisa nyala kalau kena lampu!"
Mahesa tersenyum. Senyum tipis. Senyum yang dipelajari. "Bagus, Mi."
Ibu meletakkan koper di bagasi. Menutupnya. Berdiri. Menatap rumah. Menatap beranda. Menatap Mahesa.
Lalu berjalan mendekat. Perlahan. Berhenti di tangga beranda.
"Ibu akan datang bulan depan," kata ibu. Cepat. Terlalu cepat. Seolah ingin segera selesai. Seolah ingin segera pergi. "Bawa uang buat kamu. Sama kakek."
Mahesa mengangguk. Tidak berkata apa-apa. Tidak bertanya kapan tepatnya. Tidak bertanya apakah janji ini akan ditepati. Hanya mengangguk.
Ibu menatapnya. Lama. Seperti ingin berkata sesuatu. Tapi tidak keluar. Hanya tatapan. Lalu berbalik.
"Bu." Suara Mahesa keluar. Tanpa direncanakan.
Ibu berhenti. Tidak berbalik.
"Ibu... ibu sayang aku?"
Diam. Panjang. Terlalu panjang.
Lalu ibu berkata, tanpa menoleh, "Ibu... ibu harus pergi sekarang."
Bukan jawaban. Tapi itu jawaban. Jawaban yang paling jelas.
Ibu berjalan ke mobil. Masuk ke kursi depan. Di samping Pak Darmo.
Bima sudah di kursi belakang. Melambai-lambai dari jendela. Wajahnya ceria. Bersemangat.
"Dadah, Mahesa!" teriak Bima. "Nanti aku kirim boneka!"
Mobil mulai bergerak. Perlahan. Keluar halaman. Ke jalan.
Dan dari jendela, Bima berteriak sekali lagi. Teriakan yang akan terus terngiang di kepala Mahesa seumur hidup.
"Dadah, kaki gajah!"
Tawa Bima. Tawa kecil yang gembira. Tawa yang tidak bersalah. Tawa yang menusuk.
Mobil menjauh. Menjadi kecil. Menghilang di tikungan.
Mahesa berdiri di beranda. Batu. Tidak bergerak. Tidak bernapas. Hanya menatap ke arah mobil pergi.
Kaki gajah. Panggilan terakhir dari adiknya. Bukan "kakak". Bukan "Mahesa". Tapi "kaki gajah".
Air mata tidak keluar. Tidak bisa. Terlalu kering. Terlalu kosong. Atau mungkin sudah tidak ada lagi yang bisa keluar.
---
Kakek Surya di sampingnya. Diam. Tidak berkata apa-apa. Hanya meletakkan tangan keriput di bahu Mahesa.
Mereka berdiri. Berdua. Di beranda. Di pagi yang sunyi. Di rumah yang tiba-tiba terasa besar. Terlalu besar. Terlalu kosong.
Masuk. Rumah yang sama. Tapi berbeda. Tanpa suara Bima. Tanpa ibu di dapur. Hanya mereka berdua.
Mahesa ke kamar. Ke pojok. Ke tikarnya. Duduk. Memeluk lutut. Menatap dinding.
Kata-kata Bima berputar di kepala. Kaki gajah. Kaki gajah. Kaki gajah.
Adiknya sendiri. Yang memanggilnya begitu. Dengan gembira. Dengan senyum. Dengan... kebencian yang tidak disadari.
Mahesa ingat. Ingat semua. Bima lahir. Ibu mulai menjauh. Bima tumbuh. Ibu semakin jauh. Bima dapat semua. Mahesa dapat sisa.
Tapi tidak pernah benci. Tidak pernah. Bima adiknya. Bima tidak tahu apa-apa. Bima hanya anak kecil.
Tapi hari ini, Bima pergi dengan senyum. Dengan panggilan itu. Dengan kebahagiaan meninggalkannya.
Dan Mahesa di sini. Sendiri. Dengan kaki besar. Dengan luka yang belum sembuh. Dengan cincin ayah di jari.
---
Kakek masuk. Perlahan. Dengan tongkat. Duduk di lantai di samping Mahesa. Susah payah. Tapi tidak mengeluh.
"Kamu tidak salah," kata kakek. Seperti biasa. Seperti selalu.
Mahesa tidak menjawab. Hanya diam.
"Bima masih kecil. Dia tidak mengerti." Kakek melanjutkan. "Dia pikir ini semua... biasa. Pergi dengan ibu. Dapat baju baru. Senang. Dia tidak tahu kamu... ditinggal."
"Dia tahu, Kek." Suara Mahesa keluar. Serak. "Dia tahu. Dia panggil aku... kaki gajah."
Kakek diam. Menarik napas panjang. Lalu berkata, "Itu karena dia dengar dari orang lain. Dari Rudi. Dari teman-teman. Dari... yang jahat."
Mahesa menatap kakek. "Tapi dia adikku, Kek. Seharusnya dia..."
Tidak bisa melanjutkan. Seharusnya dia apa? Membela? Mencintai? Tidak menjauh?
Tapi kenyataannya, Bima seperti yang lain. Bima ikut-ikutan. Bima menjadi bagian dari mereka yang menertawakan.
Kakek meraih tangannya. Tangan keriput itu hangat.
"Dengar, Nak." Suara kakek serius. "Kamu punya aku. Mungkin aku tua. Mungkin aku tidak bisa lama. Tapi selama aku ada, kamu tidak sendiri."
Mahesa menatap kakek. Mata tua itu berkaca. Tapi tegas.
"Ayahmu titip kamu ke aku. Aku jaga. Aku rawat. Sampai... sampai waktu aku habis."
Mahesa menangis. Akhirnya. Tangis yang pecah. Tangis untuk ayah. Untuk ibu. Untuk Bima. Untuk semua.
Kakek memeluknya. Perlahan. Tubuh tua itu bergetar menahan beban. Tapi tetap memeluk.
Mereka berdua. Menangis bersama. Di lantai. Di rumah kosong. Di pagi yang kehilangan.
---
Sore. Mereka duduk di beranda. Melihat matahari turun. Langit jingga. Indah. Tapi Mahesa tidak melihat keindahan. Hanya melihat warna yang akan berganti gelap.
"Kek," panggil Mahesa.
"Ya, Nak?"
"Ayah... ayah tahu aku akan begini? Sendirian?"
Kakek diam. Berpikir. Lalu berkata, "Ayahmu pernah bilang. Waktu itu, sebelum dia kerja tambang malam. Dia bilang, 'Kek, kalau aku mati, jaga Mahesa. Dia kuat. Tapi dia butuh seseorang yang percaya dia kuat'."
Mahesa menelan ludah. Tenggorokan kering.
"Dia tahu," kakek melanjutkan. "Dia tahu kamu mungkin akan sendirian. Tapi dia juga tahu kamu bisa. Kamu anaknya. Kamu kuat."
Kuat. Kata yang selalu ayah ucapkan. Yang dulu tidak dimengerti. Yang sekarang mulai terasa.
Kuat bukan berarti tidak sakit. Kuat bukan berarti tidak menangis. Kuat adalah tetap bertahan meski sakit. Tetap hidup meski menangis. Tetap ada meski ditinggal.
---
Malam. Mereka makan bersama. Nasi dengan sayur daun singkong—lagi. Tapi kali ini Mahesa membantu memasak. Memotong. Mencuci. Hal-hal sederhana yang tidak pernah ia lakukan.
Kakek mengajari. Dengan sabar. Dengan telaten.
"Ini nanti kamu bisa masak sendiri," kata kakek. "Kalau kakek sudah tidak ada."
Mahesa berhenti memotong. Menatap kakek.
"Kek, jangan ngomong gitu."
Kakek tersenyum. Tipis. "Semua akan pergi, Nak. Itu hidup. Tapi yang penting, kamu bisa jaga diri sendiri."
Mereka makan. Diam. Tapi diam yang berbeda. Diam yang penuh makna.
Setelah makan, kakek mengeluarkan sesuatu. Buku tulis. Tua. Sobek di sana-sini.
"Ini punya kakek. Catatan tentang obat-obat tradisional. Nenekmu yang buat. Dia dulu pintar meracik."
Mahesa menerima. Membuka. Tulisan tangan nenek. Rapi. Detail. Tentang daun-daun. Tentang akar. Tentang ramuan.
"Untuk kaki kamu," kata kakek. "Mungkin tidak sembuh. Tapi bisa redakan. Bisa cegah infeksi. Nanti kakek ajarin."
Mahesa memeluk buku itu. Seperti memeluk harapan. Kecil. Tapi harapan.
---
Malam semakin larut. Mahesa tidur di kamar—bukan di dapur. Kakek sudah menyiapkan tikar di sebelah ranjangnya.
"Biar dekat," kata kakek. "Kalau takut, tinggal panggil."
Mahesa berbaring. Menatap langit-langit. Memikirkan hari ini. Ibu pergi. Bima pergi. Tapi kakek ada.
Ia memegang cincin ayah. Membaca surat ayah sekali lagi—sudah hafal di luar kepala. Meraba buku resep nenek di samping bantal.
Dari kamar sebelah, suara kakek terdengar. Napas berat. Kadang batuk-batuk. Tapi suara itu menenangkan. Suara yang mengatakan, "Aku di sini. Kamu tidak sendiri."
Mahesa memejamkan mata.
Hari ini berat. Sangat berat. Kehilangan ibu. Kehilangan Bima. Mendengar panggilan terakhir yang menyakitkan.
Tapi hari ini juga ia dapat sesuatu. Kakek yang tetap ada. Buku resep nenek. Janji bahwa ia tidak sendiri.
Mungkin besok akan lebih baik. Mungkin tidak. Tapi malam ini, dengan kakek di kamar sebelah, dengan cincin ayah di jari, dengan buku nenek di samping bantal, ia merasa... cukup.
Tidak bahagia. Tidak. Tapi cukup. Untuk bertahan. Untuk besok. Untuk hidup.
Malam ini, itu cukup.
---