NovelToon NovelToon
Aku Terlempar Ke Zaman Kuno Jadi Ibu Jahat

Aku Terlempar Ke Zaman Kuno Jadi Ibu Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.

​Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.

Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.

Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 - Pria Tanpa Bayangan

​Aruna berdiri mematung di tengah lobi rumah sakit yang bising. Aroma antiseptik yang tajam menusuk hidungnya, beradu dengan wangi mawar dari buket yang kini ada di dekapannya. Perawat yang tadi mengantarnya sudah pergi, meninggalkan Aruna bersama pria dan anak laki-laki yang mengaku sebagai keluarganya.

​"Ayo, Aruna. Mobilnya sudah menunggu di depan," pria itu berkata lembut. Suaranya tenang, sangat menenangkan, tapi entah kenapa terasa seperti melodi yang diputar terlalu sempurna.

​Aruna menunduk, matanya terpaku pada lantai ubin putih yang mengkilap. Sinar matahari sore masuk melalui jendela kaca besar, memantulkan bayangan panjang dari pot tanaman dan kursi tunggu. Namun, di bawah kaki pria itu, lantai tetap putih bersih. Kosong. Tidak ada bayangan yang seharusnya memanjang mengikuti arah cahaya.

​Jantung Aruna berdegup kencang. Ia mencengkeram buket bunga itu hingga duri mawarnya sedikit menusuk telapak tangannya. Rasa perih itu nyata. Ia tidak sedang bermimpi.

​"Kamu... kamu siapa sebenarnya?" bisik Aruna. Ia mundur satu langkah, membuat anak laki-laki di samping pria itu menatapnya dengan wajah sedih.

​"Ibu? Ibu masih sakit ya?" tanya anak itu. Suaranya sangat mirip dengan Arel, tapi ada nada datar yang membuat bulu kuduk Aruna berdiri.

​Pria itu mendekat, mencoba menyentuh bahu Aruna. "Jangan bicara sembarangan di sini, Aruna. Orang-orang melihat kita. Kamu baru saja sembuh dari koma panjang. Wajar kalau ingatanmu sedikit kacau."

​Aruna menepis tangan pria itu. Ia melihat ke sekeliling. Orang-orang berlalu-lalang... dokter, pasien, keluarga yang menjenguk, dan mereka semua tampak biasa saja. Tidak ada langit hijau, tidak ada raksasa berkepala lampu. Tapi justru itulah yang menakutkan. Semuanya terlalu normal, kecuali pria di depannya.

​"Kamu bilang namamu bukan Arvand. Lalu siapa? Nama di draf awal?" Aruna mencoba menggali ingatannya yang terasa seperti perpustakaan yang habis terbakar. Hanya ada abu dan sisa-sisa kata yang sulit dibaca.

​Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Panggil aku Adrian. Dan anak ini... panggil dia Alif. Bukankah itu nama yang kau tulis di buku catatan lamamu sebelum kau terobsesi dengan dunia sihir dan kerajaan itu?"

​Aruna tersentak. Nama Adrian dan Alif memang pernah ia tulis di buku draf pertamanya, bertahun-tahun lalu, sebelum ia mengenal NovelToon. Itu adalah naskah drama keluarga yang sangat kelam, yang akhirnya ia buang karena dianggap terlalu menyedihkan.

​"Kalian seharusnya tidak ada. Aku sudah menghapus naskah itu!" seru Aruna.

​"Penulis tidak pernah benar-benar menghapus, Aruna. Kau hanya menumpuknya dengan naskah baru," Adrian melangkah maju, memaksa Aruna untuk terus mundur hingga punggungnya menabrak meja resepsionis. "Dan sekarang, karena kau menghancurkan mesin Arsitek Semesta, semua naskahmu yang gagal mulai mencari jalan keluar. Aku adalah wujud dari penyesalanmu."

​Adrian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah ponsel. Layarnya menyala, menampilkan aplikasi NovelToon yang terbuka. Di sana, profil Aruna sedang memuat sebuah pengumuman otomatis: "KARYA INI TELAH DIAMBIL ALIH OLEH SISTEM UNTUK REVISI TOTAL."

​"Ayo ikut kami, atau kau akan terjebak di lobi ini selamanya sebagai karakter yang terlupakan," ancam Adrian, suaranya kini berubah menjadi lebih berat, mirip dengan suara Editor raksasa.

​Tiba-tiba, dari arah pintu masuk rumah sakit, terdengar suara keributan. Seorang pria dengan jaket kulit hitam dan helm full-face berlari masuk, menabrak beberapa orang di jalannya. Ia berhenti tepat di depan Aruna dan Adrian.

​"Lepaskan dia!" pria berhelm itu berteriak.

​Adrian mendesis. "Lagi-lagi kamu. Kamu seharusnya sudah terhapus bersama naskah kerajaan itu!"

​Pria berhelm itu tidak menjawab. Ia langsung melayangkan sebuah pukulan keras ke arah wajah Adrian. Aruna terkejut saat melihat tinju pria itu menembus wajah Adrian seolah-olah pria bersetelan jas itu terbuat dari asap. Adrian tidak terluka, tapi tubuhnya bergetar hebat, berubah menjadi butiran debu hitam sejenak sebelum kembali utuh.

​"Lari ke parkiran, Aruna! Sekarang!" pria berhelm itu menarik tangan Aruna.

​Aruna tidak punya pilihan. Ia mengikuti pria misterius itu, berlari keluar menuju area parkir yang luas. Mereka berhenti di depan sebuah motor besar yang mesinnya masih menyala.

​Pria itu membuka kaca helmnya. Aruna nyaris menjerit. Wajah pria itu hancur sebagian, seperti kertas yang terbakar, tapi matanya... mata itu adalah mata Arvand. Tajam, penuh pelindung, dan sangat familiar.

​"Arvand? Ini benar kamu?" Aruna menyentuh wajah pria itu dengan gemetar.

​"Aku bukan Arvand seutuhnya, Ratri," jawabnya parau. "Aku adalah sisa-sisa memorimu yang berhasil selamat dari proses penghapusan. Aku tidak punya bentuk yang sempurna di dunia nyata ini, itu sebabnya aku tampak seperti ini."

​"Lalu siapa pria tadi? Adrian?"

​"Dia adalah 'Editor Bayangan'. Dia menggunakan sisa naskah gagalmu untuk menjebakmu kembali ke dalam siklus," pria itu membantu Aruna naik ke atas motor. "Kita harus pergi ke tempat di mana naskahmu pertama kali lahir. Bukan kantor penerbitan, tapi rumah lamamu. Di sana ada draf fisik yang belum tersentuh sistem."

​Motor itu melesat membelah jalanan Jakarta yang macet. Aruna memeluk erat pinggang pria yang menyerupai Arvand itu. Ia merasa dunianya terbelah dua. Di satu sisi, gedung-gedung Jakarta tampak nyata dengan papan iklan digital yang terang. Di sisi lain, setiap kali ia melihat ke cermin spion, ia melihat bayangan istana Kerajaan Utara yang samar-samar menyatu dengan awan.

​"Dunia ini mulai tumpang tindih!" Aruna berteriak di tengah deru angin.

​"Editor sedang mencoba memaksakan realitas baru!" Arvand memacu motornya lebih kencang, berkelok-kelok di antara mobil. "Jika mereka berhasil membawamu pulang ke 'rumah' yang mereka buat, kau akan terjebak dalam cerita drama keluarga yang membosankan selamanya, dan kami... Arel dan aku akan benar-benar hilang!"

​Mereka sampai di sebuah perumahan tua di pinggiran kota. Rumah itu tampak kecil dan sedikit tidak terawat. Aruna mengenalinya. Ini adalah rumah tempat ia tinggal sendirian saat pertama kali mencoba menjadi penulis profesional.

​Mereka masuk ke dalam. Suasananya sunyi dan berdebu. Di atas meja kerja Aruna, masih ada laptop tua dan tumpukan kertas naskah yang menguning.

​"Cari buku catatan bersampul merah itu, Aruna!" Arvand berjaga di depan pintu, tangannya memegang sebuah besi panjang yang ia temukan di teras.

​Aruna menggeledah laci mejanya dengan panik. Ia menemukan buku itu. Di dalamnya ada coretan tangan tentang awal mula dunia Kerajaan Utara, jauh sebelum ia mengunggahnya ke internet. Di halaman terakhir, ada satu paragraf yang ia tulis saat ia sedang menangis, merindukan sosok pahlawan dalam hidupnya.

​“Suatu hari, pahlawan itu akan datang dari dunia kata-kata dan membawaku keluar dari kesepian ini.”

​Tiba-tiba, pintu rumah itu meledak. Adrian masuk, kali ini bersama puluhan sosok tanpa wajah yang mengenakan seragam rumah sakit. Anak laki-laki yang tadi bersamanya, Alif berdiri di depannya dengan mata yang kini sepenuhnya merah.

​"Berikan bukunya, Aruna," Adrian melangkah maju. Ruangan itu mulai berguncang. Tembok-tembok rumah mulai retak, menyingkapkan kegelapan hampa di baliknya. "Kau tidak bisa lari dari takdirmu sebagai penulis yang gagal. Kembalilah ke rumah sakit, tidurlah kembali, dan biarkan kami yang menulis sisa hidupmu."

​"Tidak akan!" Aruna memeluk buku itu. "Hidupku bukan untuk kalian revisi!"

​Arvand menerjang Adrian, mencoba menahan mereka. Namun, karena Arvand hanya berupa memori yang tidak sempurna, ia berkali-kali terpental. Sosok-sosok tanpa wajah itu mulai mengerumuni Arvand, mencoba merobek sisa-sisa eksistensinya.

​"Arvand!" Aruna hendak menolong, tapi Alif menghalanginya.

​"Ibu, ayo kita main," Alif mengeluarkan sebuah gunting besar yang terbuat dari tinta hitam. "Aku akan memotong semua halaman di buku itu supaya Ibu tidak bisa pergi lagi."

​Aruna menatap buku di tangannya, lalu menatap laptopnya yang tiba-tiba menyala sendiri. Di layar laptop, sebuah dokumen baru terbuka. Judulnya: BAB 34: TITIK BALIK.

​Aruna menyadari sesuatu. Ia tidak bisa lagi menulis dengan kekuatan sihir, tapi ia masih bisa menulis sebagai manusia. Ia duduk di kursi kerjanya, jemarinya gemetar di atas keyboard.

​"Apa yang kau lakukan? Kau sudah tidak punya otoritas!" teriak Adrian panik.

​"Aku punya otoritas sebagai pencipta asli naskah ini!" Aruna mulai mengetik dengan kecepatan gila.

​“Arvand tidak lagi membutuhkan memori Aruna untuk ada. Dia ada karena cinta yang ia miliki sendiri. Dan kekuatan itu jauh lebih besar daripada tinta mana pun.”

​Seketika, tubuh Arvand yang tadi hancur mulai bersinar terang. Luka bakar di wajahnya menghilang, digantikan oleh wajah Jenderal Arvand yang agung. Zirah bajunya kembali muncul, menutupi jaket kulitnya. Dengan satu teriakan perang, ia menghantamkan pedang cahayanya ke lantai, menciptakan gelombang energi yang mementalkan sosok-sosok tanpa wajah itu.

​"Ini belum berakhir, Aruna!" Adrian menjerit saat tubuhnya mulai tersedot masuk ke dalam laptop. "Editor pusat akan mengirimkan 'Pembatal Naskah' yang lebih kuat! Kau tidak akan pernah bisa benar-benar tamat!"

​Rumah itu kembali sunyi. Sosok Adrian dan Alif menghilang, menyisakan Aruna yang terengah-engah dan Arvand yang kini berdiri tegak di tengah ruangan.

​Arvand mendekati Aruna, berlutut di samping kursinya. "Kau berhasil, Ratri. Kau menuliskan kembali eksistensiku di dunia ini."

​Aruna tersenyum lega, tapi senyum itu langsung hilang saat ia melihat layar laptopnya. Tulisan yang tadi ia ketik perlahan-lahan berubah warna menjadi merah darah. Di bawahnya, muncul sebuah komentar dari akun bernama 'EDITOR UTAMA'.

​“Plot twist yang menarik, Aruna. Tapi kau lupa satu aturan dasar di platform ini: Karakter yang sudah mati tidak boleh hidup kembali tanpa pengorbanan yang setimpal. Pilih satu: Arvand tetap di dunia nyata tapi kehilangan seluruh kekuatannya dan menjadi lumpuh, atau dia kembali ke dunia novel dan kau tidak akan pernah bisa melihatnya lagi.”

​Tiba-tiba, dari luar rumah terdengar suara sirine ambulans yang sangat kencang. Pintu depan terbuka lagi, tapi kali ini yang masuk adalah petugas medis asli bersama polisi.

​"Ibu Aruna! Syukurlah Anda ada di sini! Anda melarikan diri dari rumah sakit dalam keadaan tidak stabil!" ujar salah satu petugas.

​Aruna menoleh ke arah Arvand, tapi Arvand sudah menghilang. Di tempat pria itu berdiri, hanya ada sebuah pedang kayu mainan milik Arel yang tergeletak di lantai.

​Aruna melihat ke arah jendela. Di sana, di antara pepohonan, ia melihat sosok Arvand dan Arel sedang melambaikan tangan dari balik tirai cahaya yang mulai memudar.

​"Pilih, Aruna! Waktumu habis!" suara Editor itu menggema di dalam kepalanya.

​Pilihan mana yang akan diambil Aruna: Menyelamatkan Arvand ke dunia nyata dengan kondisi cacat, atau membiarkan mereka tetap di dunia novel tanpa ada jaminan komunikasi lagi? Dan siapakah sebenarnya 'Editor Utama' yang tampaknya memiliki dendam pribadi pada Aruna?

1
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
apakah ini berry atau yg mulia summer /Facepalm//Facepalm/
Linda pransiska manalu: hhhhhhh
total 3 replies
vj'z tri
hadeuhhhh gak bisa liat orang senyum dikit ni mahluk 🤧🤧🤧🤧
vj'z tri
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ semoga bisa bersama kalian
Erchapram
LUAR BIAS!
Travel Diaryska
utk yg suka cerita intens perang ya mgkn bagus aja ceritanya.
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Travel Diaryska
mc nya ga OP, sistemnya cuma jd notif doang, ga kasih hadiah obat bagus apa gitu biar mc fit. ga ada waktu buat mc heal dlu.
vj'z tri
kelennnnn lahhhh pokoke oyeeee🎉🎉🎉🎉
Erchapram
Sudah bab 18, teman-teman yang sudah baca tapi belum lanjut. Diharap segera melanjutkan karena sebentar lagi akan masuk bab 20.

Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.

Terima kasih.
XZR-1ERLAND
Sungguh plotwits nyaa
vj'z tri
hadeuhhh olah raga jantung terus ini /Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/
vj'z tri
OMG pilihan apa lagi ini/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ kasihan jendral
vj'z tri
eeedodoeeee wes keracunan masih tenggak racun lagi /CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
XZR-1ERLAND
duh thorr gw gak sabar liat ending nya , semoga happy ending ya thorrr, semangat trs thorr 💪
XZR-1ERLAND: iya kak Sama-sama, kakak juga jgn lupa mampir baca novel ku ya,btw aku masih jadi athour pemula, mohon dukungannya, kritik atau saran Kakak 👍
total 2 replies
vj'z tri
tahan diset loh ngobrol nya mau meledak ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
oalahhhh ini biang Lala nya ternyata 🤧🤧🤧
vj'z tri: sabarrrrr tunggu up /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
vj'z tri
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/ siapa lagi itulah sabar sabar
vj'z tri
kerennnnn 🎉🎉🎉🎉
vj'z tri
sabar sabar tunggu kelanjutan /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
bener bener ni ya kelakuan pangeran kaleng /Shame//Shame//Shame//Shame/
vj'z tri
benar benar konspirasi /Panic//Panic//Panic//Panic//Panic/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!