Bagaimana rasanya dihancurkan oleh orang-orang yang seharusnya melindungimu? Dari orang tua yang egois hingga 'cinta' yang berujung pada tindak kriminal dan hilangnya kehormatan. Novel ini adalah perjalananku menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak pernah adil. Tentang bagaimana berdiri di antara pengkhianatan keluarga dan trauma masa remaja yang merusak harga diri. Saat pintu-pintu baru mulai terbuka, justru ingin lari. Karena tahu, tidak semua yang datang berniat menyembuhkan beberapa mungkin hanya ingin mematahkan apa yang sudah retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjelisitinjak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 12
Setelah kelas berakhir, rasanya tidak adil jika kami langsung pulang ke rumah masing-masing dan bergelut lagi dengan tumpukan revisi.
Akhirnya, kami berenam aku, Dhea, Diva, Tomi, Yogi, dan Renata sepakat untuk singgah di sebuah kafe estetik yang letaknya tak jauh dari kampus.
Sebelum turun dari motor, aku menyempatkan diri mengirim pesan singkat kepada Mama.
"Ma, Hana pulang agak lambat ya. Mau mampir ke kafe sebentar bareng teman-teman."
Hanya butuh beberapa detik sampai ponselku bergetar. Mama membalas
"Iya Sayang, hati-hati ya. Jangan pulang terlalu larut, salam buat teman-temanmu."
Aku tersenyum tipis melihat balasan itu. Rasanya masih aneh, tapi menyenangkan, mendapatkan izin selembut itu dari Mama. Aku mengantongi ponselku dan menyusul teman-temanku yang sudah sibuk memilih meja di area outdoor.
"Gila, sejuk banget di sini!"
seru Renata sambil mengibaskan rambutnya. "Sumpah, otak gue tadi udah kayak mesin motor yang kepanasan gara-gara bahas teknis wisuda."
"Sama, Ren. Gue udah bayangin nanti pas jalan ke panggung jangan sampai kesrimpet kain sendiri," timpal Diva yang disambut tawa oleh kami semua.
Kami memesan minuman dingin dan beberapa camilan untuk berbagi.
Tomi duduk tepat di hadapanku. Dia baru saja melepas jaketnya, menyisakan kaos hitam yang pas di badahnya. Yogi, seperti biasa, menjadi pusat kebisingan dengan cerita-cerita konyolnya tentang masa-masa awal kami kuliah.
"Eh, kalian ingat nggak pas si Tomi pertama kali masuk kelas? Gayanya udah kayak anak paling pinter sedunia, eh taunya pas disuruh perkenalan bahasa Inggris malah gugup sampai salah sebut umur!" ledek Yogi sambil memukul meja.
Tomi tertawa pasrah.
"Woi, itu kan karena gue grogi liat cewek-cewek di kelas ini pada galak semua, apalagi si Dhea!"
"Dih, kok gue dibawa-bawa!" sahut Dhea tak terima, sambil melempar kentang goreng ke arah Tomi yang dengan tangkas langsung ditangkap oleh laki-laki itu.
Suasana kafe yang nyaman dengan alunan musik jazz pelan membuat pikiranku benar-benar tenang. Aku melihat mereka satu per satu; sahabat-sahabat yang luar biasa, dan Tomi... yang sejak tadi sesekali mencuri pandang ke arahku sambil tersenyum.
Untuk sejenak, aku merasa hidupku akhirnya kembali ke jalur yang benar. Tidak ada teriakan di rumah, tidak ada ketakutan yang mencekam. Aku hanya seorang mahasiswi yang sedang menikmati sore bersama orang-orang yang menyenangkan.
"Han, kok diem aja? Jus alpukat kamu tuh, keburu mencair nanti rasanya jadi hambar," tegur Tomi lembut, membuyarkan lamunanku.
"Eh, iya Tom,"
jawabku pelan. Aku menyesap minumanku, merasakan sensasi dingin yang menyegarkan tenggorokanku.
Renata duduk di samping Yogi sambil sesekali merangkul lengan pacarnya itu. Dia benar-benar tipe wanita yang menyegarkan suasana; ceria, berisik, dan blak-blakan. Kalau Dhea itu bawelnya tanpa filter, Renata ini tipe yang kalau ngomong suka langsung ke inti tapi bikin semua orang tertawa.
"Eh, kalian tau nggak?"
Renata memulai sambil menatap kami satu per satu dengan mata berbinar.
"Gue semalam mimpi si Yogi ini pas wisuda nanti nggak pake sepatu, tapi pake sandal jepit motif swallow warna hijau. Terus dia jalan paling depan sambil bawa bendera fakultas!"
"Anjir, Ren! Masa cowok lo sendiri yang lo nistain?"
Yogi protes sambil tertawa, meski wajahnya sedikit memerah.
"Ya habisnya lo semalam ngeluh mulu katanya kaki lo pegel kalau kelamaan berdiri pake sepatu formal,"
balas Renata santai sambil menyambar jus jeruk milik Yogi.
"Lagian kalau beneran terjadi, lo bakal jadi legenda kampus, Sayang. 'Pria Sandal Jepit Lulus Cumlaude'."
Dhea langsung menyambar,
"Gue dukung! Nanti gue yang bagian videoin terus kita viralin di TikTok. Judulnya: Wisuda Tetap Santuy Meski Masa Depan Belum Tentu Maju."
"Parah lo pada!"
Tomi menimpali sambil tertawa lepas sampai bahunya terguncang.
Dia melirikku,
"Han, jangan ditiru ya. Kamu jangan sampai ikut-ikutan aliran sesat mereka berdua."
Aku tertawa sambil menggelengkan kepala. "Enggak lah, Tom. Aku masih sayang nyawa kalau harus pake sandal jepit di depan Rektor."
"Tuh kan, Hana emang paling bener di antara kalian semua," ucap Tomi bangga.
Suasana makin pecah saat Renata mulai menceritakan pengalaman memalukannya saat pertama kali PDKT dengan Yogi. Dia bercerita bagaimana dia salah mengirim pesan I love you ke grup angkatan karena saking gugupnya.
"Gila, itu sebulan gue nggak berani masuk kampus!" Renata menutup ceritanya dengan tawa yang menggelegar.
Kami semua tertawa lepas. Benar-benar lepas tanpa beban. Melihat interaksi Renata dan Yogi yang begitu santai dan penuh tawa, ada sedikit rasa hangat yang menjalar di hatiku. Renata dan Dhea benar-benar cocok kalau sudah bergabung kelas bisa serasa milik berdua.
"Duh, perut gue sakit!"
Diva memegangi perutnya sambil mengusap air mata karena terlalu banyak tertawa. "Sumpah, sore ini berharga banget. Gue ngerasa stres bab terakhir skripsi langsung ilang."
Aku menyesap jusku, menatap wajah-wajah bahagia di sekelilingku. Suara musik kafe yang pelan, aroma kopi yang harum, dan tawa sahabat-sahabatku membuatku merasa sangat hidup. Rasanya, inilah dunia yang seharusnya aku miliki sejak dulu. Tanpa drama, tanpa ketakutan.
Tiba-tiba, Tomi bergeser sedikit lebih dekat denganku di meja kayu itu.
"Seneng ya, liat mereka?"
bisiknya pelan agar hanya aku yang dengar.
Aku menoleh dan mengangguk tulus.
"Iya, Tom. Seneng banget."
"Kamu juga kelihatan lebih cantik kalau ketawa lepas begini, Han,"
ucapnya rendah, menatapku dengan binar yang membuat dadaku sedikit berdebar. Untuk sejenak aku terdiam menatap dia dia senyum dan aku kembali fokus kepada teman teman yang lain Kami terus bercerita, mulai dari rencana setelah lulus hingga hal-hal random yang membuat kami tertawa sampai sakit perut. Aku benar-benar merasa refreshing kali ini. Energiku seperti terisi kembali.
...----------------...
Aku menginjakkan kaki di lantai rumah dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Begitu menutup pintu depan, aku tidak disambut oleh keheningan yang mencekam atau suara TV yang dipasang keras untuk menutupi rasa canggung.
Sebaliknya, sayup-sayup aku mendengar suara tawa dari arah ruang tengah.
Aku melangkah pelan, lalu berhenti di tengah tangga. Dari lantai atas, aku mengintip ke bawah. Mataku membelalak tak percaya.
Papa dan Mama sedang duduk berdampingan di sofa. Papa tampak memegang sebuah kotak beludru kecil, sementara Mama menutup mulutnya dengan tangan, tampak sangat terkejut sekaligus bahagia.
"Ini buat apa, Pa? Nggak ada acara apa-apa, kan?"
tanya Mama dengan nada suara yang begitu manja, sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak kudengar.
"Nggak perlu nunggu acara khusus buat kasih sesuatu ke istri Papa sendiri," jawab Papa sambil mengeluarkan sebuah kalung emas dengan liontin permata kecil yang berkilau.
"Papa cuma mau bilang terima kasih karena Mama masih mau sabar menghadapi ego Papa selama ini. Kita mulai dari awal lagi ya, Ma?"
Mama tertawa malu-malu saat Papa membantu memakaikan kalung itu di lehernya. Mereka terlihat begitu serasi, begitu harmonis, layaknya pasangan pengantin baru. Melihat pemandangan itu, ada rasa damai yang menjalar di hatiku.
Beban berat yang selama ini menghimpit pundakku seolah luruh satu per satu. Inilah rumah yang aku impikan. Rumah yang penuh kehangatan, bukan medan perang.
Aku masih terpaku di sana, tersenyum sendiri melihat mereka, sampai akhirnya suara Papa kembali terdengar.
"Ma, panggilkan Hana di kamarnya. Ayo kita makan malam di luar, kita rayakan suasana baru ini bareng putri kita,"
ucap Papa sambil merangkul pundak Mama.
"Iya, Pa. Pasti Hana seneng banget," jawab Mama penuh semangat.
Mendengar itu, aku buru-buru berlari kecil masuk ke dalam kamar sebelum mereka menyadari aku sedang mengintip. Aku menyandarkan punggung di balik pintu kamar, jantungku berdebar karena rasa bahagia yang asing.
Namun, tepat saat aku hendak mengganti pakaian untuk pergi bersama mereka, mataku tertuju pada ponsel yang tergeletak di atas meja rias. Layarnya berkedip. Ada satu notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.
Pikiranku yang tadinya damai mendadak tersentak. Aku tahu itu siapa. Di satu sisi, aku punya keluarga yang baru saja pulih. Di sisi lain, ada masa lalu yang sedang mengetuk pintu dengan sangat keras.
Tangan aku gemetar saat menyentuh layar ponsel. Aku tahu ini berisiko, tapi aku tidak bisa membiarkan Wira terus menelepon saat aku sedang bersama orang tuaku. Dengan gerakan cepat, aku mengetik pesan singkat
"Jangan telepon sekarang. Aku lagi sama orang tuaku. Nanti aku hubungi lagi."
Setelah menekan tombol kirim, aku langsung mematikan ponsel. Benar-benar aku matikan total. Aku tidak mau ada gangguan apa pun yang bisa merusak momen langka ini.
Tok... tok... tok...
"Hana? Sayang, sudah pulang?"
suara Mama terdengar dari balik pintu.
"Eh, iya Ma! Sudah," jawabku sedikit gugup, sambil buru-buru menyelipkan ponsel ke dalam laci meja rias.
Mama membuka pintu sedikit, kepalanya melongok masuk dengan senyum lebar.
"Ayo siap-siap, Nak. Papa mau ajak kita makan malam di luar. Katanya mau cari suasana baru. Kamu mandi dulu ya, Mama tunggu di bawah."
"Iya, Ma. Hana siap-siap dulu," balasku berusaha terdengar seceria mungkin.
Begitu Mama menutup pintu, aku terduduk sebentar di pinggir tempat tidur. Jantungku masih berdegup kencang setengah karena bahagia melihat perubahan Papa dan Mama, setengah lagi karena rasa takut yang luar biasa akan kembalinya Wira.
Tarik napas, Hana. Fokus ke malam ini dulu, bisikku pada diri sendiri.
Aku segera menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi. Guyuran air dingin membantuku sedikit lebih tenang. Setelah itu, aku memilih pakaian yang simpel tapi tetap terlihat manis; sebuah dress selutut berwarna soft pink yang jarang kupakai.
Aku mematut diri di cermin, memoleskan sedikit lipstik agar wajahku tidak terlihat pucat karena rasa cemas yang masih tersisa.
Aku menarik napas panjang satu kali lagi sebelum melangkah keluar kamar. Di bawah, Papa dan Mama sudah menunggu.
Papa terlihat rapi dengan kemeja batiknya, dan Mama tampak cantik dengan kalung barunya.
"Nah, putri Papa sudah siap. Cantik sekali malam ini,"
puji Papa saat melihatku menuruni tangga.
Aku tersenyum tulus.
"Makasih, Pa."
Malam ini, aku akan menyimpan rapat-rapat rahasia tentang Wira. Aku ingin menikmati setiap detik kehangatan ini, seolah-olah badai di luar sana tidak akan pernah sampai ke rumah kami.