Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di balik kaca dan topeng yang retak
Suasana di pojokan food court yang tadinya penuh tawa mendadak sedingin es. Eno Surya masih dengan kostum jerapah ungunya yang separuh terbuka, Dewi Laras dengan sisa tawa yang membeku di bibir, dan Bagas Putra yang matanya masih tajam menatap ke arah pintu keluar mal tempat mobil mewah itu menghilang.
"Gue nggak salah lihat, kan? Itu Gia, kan?" suara Laras bergetar. "Dia... dia nggak pernah kelihatan se-takut itu. Bahkan pas dia debat sama Pak Gunawan kemarin, dia masih bisa tegak."
"Pria itu..." Bagas bergumam, tangannya mengepal di atas meja plastik. "Gue kayak pernah lihat mukanya di berita bisnis. Tapi aura orang itu... beda sama bokap lo, Ras. Orang tadi kelihatan lebih berbahaya."
Eno mengusap wajahnya yang penuh keringat dengan kasar. "Kita harus gimana? Apa kita samperin sekarang? Eh, tapi gue masih jadi jerapah, ntar malah dikira atraksi sirkus kabur."
"Nggak, jangan gegabah," potong Bagas. "Gia itu tipe orang yang bakal makin tertutup kalau dipaksa. Kita tunggu dia di kampus besok. Kalau dia tetep diem, baru kita pake cara kita."
Senin pagi di kampus terasa sangat berat. Langit mendung seolah ikut mendukung suasana hati mereka. Saat Gia Kirana muncul di koridor, dia tampak seperti Gia yang biasanya: kemeja rapi, rambut dikuncir kuda tanpa sehelai pun yang berantakan, dan buku catatan di dekapan. Tapi bagi mereka yang sudah mengenalnya sejak "zaman topi caping", ada yang mati di dalam matanya.
"Pagi, Gi," sapa Rhea Amara dengan nada yang diusahakan seceria mungkin. "Tadi malam lo ke mana? Kita di grup nanyain stok soal latihan statistik, lo nggak bales."
Gia sempat terdiam sedetik sebelum memperbaiki letak kacamatanya. "Sori, gue ketiduran. Gue agak kurang enak badan semalam."
Laras dan Bagas saling lirik. Kebohongan pertama.
"Oh ya?" Laras mendekat, mencoba merangkul bahu Gia. "Tadi malam kita bertiga—gue, Bagas, sama si Jerapah Ungu ini—sempet ke mal. Kita kayak lihat lo di sana, tapi mungkin kita salah lihat ya?"
Laras sengaja melempar umpan. Tubuh Gia mendadak kaku di bawah rangkulan Laras. Dia menarik napas panjang, lalu melepaskan diri dengan halus.
"Mungkin salah lihat. Gue di rumah seharian," jawab Gia singkat. "Gue duluan ya, ada urusan sama asdos."
Gia berjalan cepat, hampir berlari, meninggalkan kelima sahabatnya yang mematung di koridor.
"Dia bohong," bisik Juna Pratama yang sedari tadi cuma menyimak. "Gue barusan cek lokasi terakhir HP-nya di fitur find my friends yang kita buat iseng-iseng semester lalu. Semalam dia emang di mal itu. Dan sekarang... lokasinya ada di sebuah perumahan elit yang jauh banget dari kostannya."
"Oke, fiks. Gia dalam masalah," tegas Bagas.
Mereka memutuskan untuk melakukan pengintaian sore itu juga setelah jam kuliah usai. Dengan tiga motor, mereka membuntuti Gia yang ternyata tidak pulang ke kost. Dia naik taksi menuju sebuah rumah besar yang pagarnya setinggi tiga meter, dikelilingi kawat berduri.
Dari balik pohon besar di seberang jalan, mereka melihat Gia turun dari taksi. Pintu gerbang terbuka, dan pria mewah dari mal kemarin keluar. Tanpa basa-basi, pria itu menarik tangan Gia masuk ke dalam. Sayup-sayup terdengar suara pria itu membentak, "Kamu pikir bisa lari dari tanggung jawab keluarga ini hanya dengan kuliah hukum?"
Laras merasa hatinya mencelos. "Tanggung jawab keluarga? Apa maksudnya?"
"Guys, gue baru inget!" seru Juna sambil menatap layar HP-nya dengan panik. "Pria itu namanya Hermawan. Dia pemilik salah satu bank swasta yang lagi kena kasus pencucian uang. Dan... marganya sama kayak Gia. Kirana. Itu... itu bokapnya Gia!"
Plot twist itu menghantam mereka. Selama ini mereka pikir Gia adalah anak mandiri dari keluarga biasa yang ambisius. Ternyata, Gia adalah putri dari seorang tersangka koruptor yang sedang bersembunyi. Gia belajar hukum mati-matian bukan karena ingin jadi pengacara hebat saja, tapi karena dia ingin tahu cara menyelamatkan dirinya—atau mungkin menghukum ayahnya sendiri.
Tiba-tiba, suara teriakan Gia terdengar dari dalam rumah, diikuti bunyi kaca pecah.
"Gak bisa dibiarin!" Bagas langsung menghidupkan mesin motornya. "Persetan sama rencana. Temen kita lagi disiksa di dalam sana!"
"Bagas, tunggu! Kita nggak punya akses masuk!" teriak Laras.
"Eno! Lo masih bawa kostum jerapah itu di bagasi?" tanya Bagas dengan tatapan liar.
"Masih, kenapa?"
"Pakai sekarang. Kita bakal bikin kegaduhan paling absurd yang pernah ada di komplek elit ini supaya satpam mereka bingung, sementara gue sama Juna masuk lewat tembok belakang!"
Di tengah situasi hidup dan mati, rencana konyol tetap menjadi jalan keluar mereka. Persahabatan mereka sedang diuji di level yang berbeda: bukan lagi soal uang kuliah, tapi soal menyelamatkan jiwa sahabat mereka dari "penjara" darah dagingnya sendiri.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...