NovelToon NovelToon
Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AkeilanaTZ

Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu tak terduga

Rumah terasa berbeda setelah kami pulang dari pegunungan.

Bukan karena furniturnya berubah.

Bukan juga karena suasana kotanya.

Tetapi karena kami yang berubah.

Aku baru menyadari hal itu ketika membuka pintu rumah pagi itu.

Biasanya Ashar langsung berangkat kerja lebih dulu. Ia tipe orang yang disiplin, hampir seperti jam dinding yang selalu berdetak tepat waktu.

Namun pagi ini berbeda.

Ashar berdiri di dapur dengan celemek yang bahkan aku tidak ingat pernah kami beli.

“Apa yang kamu lakukan?” tanyaku sambil mengucek mata.

Ashar menoleh dengan ekspresi sangat serius.

“Aku membuat sarapan.”

Aku mengangkat alis.

“Kamu?”

“Iya.”

Aku mendekat dan melihat isi wajan.

Telur dadar yang… bentuknya cukup unik.

Lebih mirip peta negara yang belum ditemukan di atlas dunia.

Aku menahan tawa.

“Ini bentuk apa?”

Ashar menatap telur itu dengan sangat serius.

“Abstrak.”

Aku akhirnya tertawa.

“Setidaknya kamu jujur.”

Ia menghela napas.

“Memasak ternyata lebih sulit dari yang terlihat.”

“Kamu baru menyadarinya sekarang?”

Ia mengangguk.

“Tapi aku ingin mencoba.”

Aku memandangnya beberapa detik.

Perubahan kecil seperti ini terus muncul sejak kami pulang dari bulan madu.

Ashar terlihat lebih… hadir.

Lebih santai.

Lebih seperti seseorang yang tidak lagi takut membuat kesalahan.

Aku duduk di kursi dapur.

“Apa ada alasan khusus?”

“Apa?”

“Kamu tiba-tiba membuat sarapan.”

Ashar meletakkan telur di piring.

“Tidak ada.”

Ia menoleh padaku.

“Aku hanya ingin melakukannya.”

Jawaban sederhana.

Namun entah kenapa membuat hatiku hangat.

Kami makan sarapan bersama.

Atau lebih tepatnya… mencoba memakan telur abstrak itu.

Rasanya tidak buruk.

Hanya sedikit terlalu asin.

“Aku mungkin salah menghitung garam,” kata Ashar.

“Mungkin?”

Ia tersenyum kecil.

“Baiklah… mungkin terlalu banyak.”

Aku meneguk teh hangat.

Namun tiba-tiba aroma telur itu terasa sangat kuat di hidungku.

Aku mengerutkan kening.

“Ada apa?” tanya Ashar.

“Aku tidak tahu…”

Aku menutup hidung sebentar.

“Aromanya tiba-tiba terlalu menyengat.”

Ashar menatap telur di piringnya.

“Padahal ini telur yang sama dengan yang kamu makan tadi.”

“Aku tahu.”

Aku menggeleng.

“Mungkin aku hanya sedikit pusing.”

Ia langsung terlihat khawatir.

“Kamu sakit?”

“Tidak.”

“Yakin?”

“Iya.”

Ashar masih menatapku dengan ekspresi curiga.

“Kalau kamu merasa tidak enak badan—”

“Ashar.”

“Iya?”

“Tenang.”

Ia akhirnya mengangguk.

Tetapi aku bisa melihat jelas bahwa ia masih memperhatikanku.

Diam-diam.

Sedikit lebih protektif dari biasanya sekarang.

Hari itu aku memutuskan pergi keluar sebentar.

Setelah beberapa hari hanya di rumah, aku ingin berjalan-jalan ke toko buku kecil di pusat kota.

Ashar sebenarnya menawarkan untuk mengantar.

Tetapi aku menolak.

“Kamu harus bekerja.”

“Aku bisa menunda.”

“Ashar.”

“Iya?”

“Aku hanya pergi ke toko buku.”

Ia terlihat ragu.

“Aku bisa menjemputmu nanti.”

Aku tertawa kecil.

“Baiklah.”

Toko buku itu tidak banyak berubah sejak terakhir kali aku datang.

Rak kayu tua.

Aroma kertas.

Dan musik instrumental pelan di latar belakang.

Aku menyusuri rak demi rak dengan santai.

Namun beberapa menit kemudian, perutku terasa sedikit aneh.

Bukan sakit.

Lebih seperti… sensasi kosong yang tidak biasa.

Aku mengerutkan kening.

“Aneh,” gumamku pelan.

Mungkin aku hanya lapar lagi.

Aku mengambil satu buku dan menuju kasir.

Namun saat keluar dari toko, seseorang memanggil namaku.

“Mala?”

Aku menoleh.

Seorang pria berdiri beberapa meter dariku.

Tinggi.

Rambutnya sedikit bergelombang.

Dan wajahnya terasa… familiar.

Ia tersenyum lebar.

“Kamu benar-benar Mala, kan?”

Aku mencoba mengingat.

Lalu tiba-tiba sebuah nama muncul di kepalaku.

“Rizal?”

Ia tertawa.

“Akhirnya kamu ingat juga.”

Aku mendekat sedikit.

“Ya ampun… sudah berapa tahun?”

“Terakhir kita bertemu waktu kamu masih SMP.”

Aku tertawa kecil.

“Itu sudah lama sekali.”

Rizal mengangguk.

“Aku hampir tidak mengenalimu tadi.”

“Aku juga.”

Ia menatapku dengan ekspresi hangat.

“Bagaimana kabarmu?”

“Baik.”

“Kamu masih tinggal di kota ini?”

“Iya.”

Ia tersenyum.

“Pamanmu pasti senang.”

Aku terdiam beberapa detik.

“Paman?”

Ia terlihat bingung.

“Ayahmu.”

Hatiku terasa sedikit terenyuh mendengar itu.

“Beliau sudah lama meninggal.”

Rizal langsung terlihat kaget.

“Maaf… aku tidak tahu.”

“Tidak apa-apa.”

Ia menghela napas pelan.

“Kita ini sebenarnya masih keluarga jauh.”

Aku mengangguk.

Aku memang ingat sekarang.

Rizal adalah anak dari sepupu jauh ayahku.

Kami jarang bertemu karena keluarganya pindah kota saat aku masih kecil.

“Kamu sudah menikah?”

tanyanya.

Aku tersenyum.

“Sudah.”

“Wah… selamat.”

“Terima kasih.”

Ia tertawa kecil.

“Suamimu pasti sangat beruntung.”

Aku hendak menjawab—

tetapi suara lain tiba-tiba terdengar dari belakangku.

“Mala.”

Aku menoleh.

Ashar berdiri beberapa meter di belakang kami.

Tangannya masih memegang kunci mobil.

Matanya berpindah dari aku ke Rizal.

Ekspresinya tenang.

Tetapi ada sesuatu yang berbeda di tatapannya.

Sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Aku tersenyum.

“Ashar.”

Ia mendekat.

Langkahnya tenang, tetapi sedikit lebih tegas dari biasanya.

“Ini Rizal,” kataku.

“Dia kerabat jauh dari keluarga ayahku.”

Rizal mengulurkan tangan.

“Halo.”

Ashar menyambutnya.

“Halo.”

Jabat tangan mereka cukup singkat.

Namun entah kenapa suasana terasa sedikit… kaku.

Rizal tersenyum.

“Senang bertemu denganmu.”

Ashar mengangguk.

“Sama.”

Aku melirik Ashar.

Ia terlihat normal.

Tetapi aku mengenalnya cukup lama untuk menyadari satu hal kecil.

Ia berdiri sedikit lebih dekat dariku daripada biasanya.

Seperti tanpa sadar ingin memastikan aku berada di sisinya.

Rizal akhirnya pamit setelah beberapa menit berbincang.

“Semoga kita bisa bertemu lagi,” katanya.

Aku mengangguk.

“Pasti.”

Setelah ia pergi, aku menoleh ke arah Ashar.

“Kamu datang cepat.”

“Aku sudah selesai bekerja.”

Ia memandang ke arah jalan tempat Rizal pergi.

“Dia keluarga jauhmu?”

“Iya.”

Ashar mengangguk pelan.

Namun ekspresinya masih sedikit… tegang.

Aku menahan senyum.

“Ashar.”

“Iya?”

“Kamu cemburu?”

Ia langsung menoleh cepat.

“Apa?”

“Kamu cemburu.”

“Aku tidak—”

Ia berhenti bicara.

Aku menatapnya sambil tersenyum.

“Ashar.”

Ia menghela napas.

“Sedikit.”

Aku tertawa kecil.

“Itu bahkan keluarga jauh.”

“Aku tahu.”

“Lalu?”

Ia menatapku dengan serius.

“Aku tetap tidak suka orang lain menatapmu terlalu lama.”

Kalimat itu membuatku terdiam.

Bukan karena kesal.

Justru karena cara ia mengatakannya.

Ashar yang dulu selalu takut melakukan sesuatu…

sekarang terlihat seperti seseorang yang tidak takut menunjukkan perasaannya.

Aku memegang tangannya.

“Kamu lucu.”

“Aku serius.”

“Aku tahu.”

Aku tersenyum.

Dan tanpa kami sadari…

di balik semua percakapan ringan hari itu…

hidup kami sebenarnya sedang memulai sesuatu yang baru.

Sesuatu yang bahkan belum kami ketahui.

Sesuatu yang akan mengubah hidup kami sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!