ini adalah part 2 dari novel "Diremehkan Karena Miskin Ternyata aku punya sistem analisis nilai"
disarankan baca part 1 terlebih dahulu
**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25—Overdosis Keindahan: Gugurnya Sang Ketua Sekte di Barisan Depan
Matahari tepat berada di atas kepala, membakar aspal parkiran SMA Garuda. Namun, panas di luar tak sebanding dengan atmosfer di dalam Aula Besar. Kipas angin raksasa dan AC sentral bekerja keras meredam hawa panas dari ribuan pasang tubuh yang memadati ruangan.
Cahaya matahari yang menerobos masuk dari ventilasi atas menciptakan garis-garis debu emas di udara, menambah kesan dramatis sebelum tirai merah dibuka.
Lampu sorot warna-warni menyapu panggung. Satu per satu peserta pentas seni tampil memukau; ada grup tari tradisional yang memadukan gerakan kontemporer, hingga band pop-rock kelas 12 yang membuat suasana memanas.
Masing-masing menampilkan pentas yang memukau, namun belum seharga dengan rasa panas dan gerah yang mereka alami.
Konser ini meski mereka agak tidak enak berpikir demikian atas semua kerja keras peserta, namun tujuan semua orang jelas. Untuk melihat panggung kanaya Arcelia dan Alya si idola sekolah.
“Kanaya sama alya belum tampil?” bisik beberapa orang.
“Belum. Katanya sebentar lagi, mungkin mereka ada di akhir.”
“Gue gak sabar Melihat bidadari kita. Dewi alya pakai kostum idol! Pasti cantik minta ampun.”
“Haha gue setuju.”
“Cuma masalah satu.”
Salah satu menatap poster penuh dengki, Melihat Rahmat si pria yang diapit oleh dua wanita yang level cantiknya bak dewi.
“Bangsat gue iri Cok!”
“Modal ganteng doang.”
“Semoga dia gak ngacauin acara pentas.”
Sementara itu, di balik panggung—tepatnya di Ruang Tunggu VIP—suasana justru sangat hening.
"Sepuluh menit lagi, Trio Star,"
suara berat Anissa memecah keheningan. Sang Ketua OSIS itu berdiri di ambang pintu dengan buku agenda di pelukan, matanya menatap tajam namun ada binar bangga yang tertutup kewibawaannya.
Rahmat, yang sedang duduk tenang di depan cermin besar, menoleh. Ia mengenakan setelan jas hitam slim-fit dengan aksen emas di kerahnya, memberikan kesan sultan yang elegan sekaligus misterius.
"Siap, Ibu Negara," jawab Rahmat santai sembari membetulkan jam tangan mewahnya.
Di sudut ruangan, Kanaya sedang membantu Alya merapikan bagian belakang kostumnya. Dan saat Alya berbalik, Rahmat sempat terpaku sejenak.
Berkat tangan dingin tim stylist profesional Kanaya, Alya bertransformasi total. Pakaian itu adalah pakaian ala idol rok pendek dengan kostum warna merah, memberikan kesan percaya diri dan penuh ambisius, selain itu dia terlihat lebih manis dengan gaya rambut baru.
Rahmat tertegun selama beberapa detik. Alya kini memancarkan aura center idol yang kuat. Kostum merah menyala itu kontras dengan kulitnya yang putih bersih, ditambah gaya rambut side-pony yang membuatnya tampak segar sekaligus berani.
"G-Gimana, Rahmat? Kanaya bilang warna merah ini biar aku nggak tenggelam di panggung,"
cicit Alya sembari memilin ujung rok pendeknya yang terasa asing.
Rahmat beranjak dari kursinya, berjalan mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa satu langkah.
"Merah itu melambangkan keberanian, Alya. Dan malam—eh, siang ini, kamu terlihat lebih dari sekadar berani. Kamu terlihat... mematikan bagi jantung siapapun yang melihatnya.”
Dan perkataan itu benar 100% di pojokan ruang tunggu Alfian yang berbaris dan bersiap-siap untuk jadi suporter tim the star dengan rumbai - rumbai warna warninya tersentak.
"B-bangsat... d-dewi Alya..." gumam Alfian, rumbai-rumbai warna-warni di tangannya terlepas begitu saja ke lantai.
Kacamatanya melorot sampai ke ujung hidung, tapi matanya tak berkedip menatap Alya dari kejauhan. "Merah itu... bukan sekadar warna. Itu adalah simbol kehancuran pertahanan imanku."
"Woi! Pegang rumbai-rumbai lo yang bener! Kita mau support bidadari!" seru salah satu anggota "Garda Depan Alya" sembari menyenggol bahu Alfian.
Alfian tersentak, buru-buru membetulkan kacamatanya dan memungut rumbai-rumbainya dengan tangan gemetar. "S-sorry... gue cuma... gue cuma merasa melihat masa depan yang cerah."
Sementara itu, Rahmat terkekeh pelan melihat reaksi Alya yang memerah padam mendengar pujiannya. Ia kemudian menoleh ke arah Kanaya yang sedang berdiri di depan cermin besar, memberikan sentuhan akhir pada makeup-nya.
"Gimana, Nona idol? Sudah siap mempesona seluruh jagat SMA Garuda?" tanya Rahmat santai.
Kanaya berbalik, memberikan senyuman killer khas idolanya. Ia mengenakan kostum ala idol berwarna hitam dan aksen perak berkilau, dengan rok mini berlipat dan jaket crop yang memantulkan cahaya lampu. Rambutnya dikuncir dua tinggi, memberikan kesan playful sekaligus powerful.
"Selalu siap, Sultan," jawab Kanaya bangga.
Sementara itu. Di barisan depan Rozak sedang berdiri tegak, memimpin pasukan
"Sekte Pemuja Kanaya".
Ia mengenakan ikat kepala bertuliskan "KANAYA FOREVER" dan memegang rumbai-rumbai emas raksasa.
Secara kontrak kerja dan aturan kekalahan dia seharusnya mengenakan kostum rahmat good boy. Tapi peduli setan, ogah setengah mati dia dukung makhluk bajingan kelas kakap itu.
Dia berteguh dengan prinsipnya sendiri.
"Dengarkan aku, Pasukan!" teriak Rozak dengan suara menggelegar.
"Hari ini adalah hari pembuktian! Kita akan tunjukkan pada dunia bahwa Kanaya Arcelia adalah satu-satunya dewi di hati kita! Jangan biarkan suporter Alya mengalahkan suara kita!"
"SIAP, KETUA!" jawab pasukannya serempak.
Tepat saat itu, tirai merah besar di panggung mulai tersingkap perlahan. Suasana aula mendadak hening. Cahaya matahari siang yang menerobos masuk dari ventilasi atas menciptakan garis-garis debu emas di udara, menambah kesan dramatis.
Rahmat duduk di depan Grand Piano putih di tengah panggung. Ia menekan tuts piano pertama, menciptakan dentuman nada rendah yang bergetar di dada setiap penonton.
TING!
Lampu sorot kuning keemasan jatuh tepat pada Rahmat. Di belakangnya, Kanaya dan Alya berdiri membelakangi penonton dengan pose yang sangat artistik.
"SMA GARUDAAA! APA KALIAN SIAP?!" teriak Kanaya dengan suara powerful-nya sembari berbalik ke arah penonton.
Seisi aula meledak. Teriakan histeris memecah langit-langit gedung. Kombinasi visual Kanaya yang glamor dan Alya yang mendadak tampil bold dengan warna merah benar-benar meruntuhkan logika para murid pria di sana.
“Siap!!!”
“Ini dia yang kutunggu tunggu!!!”
“Kanaya aku padamu'!!!”
“Gila alya cantik banget!”
“Kyaa Rahmat keren gak main!”
Dan di barisan depan... Rozak mematung.
Rumbai-rumbai emas raksasa di tangannya jatuh perlahan. Mulutnya menganga lebar, air liurnya nyaris menetes. Matanya terpaku pada sosok Kanaya yang bersinar di bawah lampu sorot.
"K-Kanaya..." gumam Rozak, suaranya terdengar seperti orang yang sedang sekarat. "Senyum itu... kedipan mata itu... rok mini itu..."
Itu adalah gambaran idola favoritnya yang biasa dilihat di televisi dan live ig. Sekarang di depan mata!
Rozak merasakan dadanya sesak. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga rasanya mau melompat keluar. Pandangannya mulai kabur, dunianya serasa berputar.
[ DING! ]
━━━━━━━━━━━━━━━
[SISTEM ANALISIS: FATAL HIT!]
* Target: Rozak (Ketua Sekte Pemuja Kanaya).
* Efek: Overdosis Keindahan Idol, Kehancuran Mental Mutlak.
* Status: Mokad dalam kebahagiaan yang hakiki.
━━━━━━━━━━━━━━━
"Ketua! Ketua Rozak!" seru pasukannya panik saat melihat pemimpin mereka ambruk ke tanah dengan senyuman lebar yang menakutkan di wajahnya.
"Sial! Ketua mokad gara-gara kedipan mata dewi Kanaya!"
Kekacauan terjadi di barisan depan. Di tengah keriuhan itu, Rahmat bersiap siap. Konser the trio star akan segera dimulai.