Bagi Adnan Mahendra, hidup adalah maha karya presisi. Sebagai arsitek ternama di Surabaya, ia percaya bahwa fondasi yang kuat akan membuat bangunan abadi.
Namun, dunianya yang simetris runtuh dalam perlahan ketika laporan demi laporan Jo Bima yang tidak lain asisten Adnan sendiri. Mengungkap sisi gelap Arini, istri yang sangat ia puja dengan ketulusan cinta sejatinya.
Namun di balik wajah cantik dan senyum lembutnya, Arini telah membangun istana kebohongan. Bersama pria lain di sudut-sudut kota Surabaya yang panas tanpa sepengetahuannya.
Akankah cinta mereka bertahan, akankah pondasi rumah tangga yang di bangun Adnan tetap berdiri kokoh? ketika Bagaskara masa lalu Arini kembali mengusik ketenangan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan Awal
Sore di pusat perbelanjaan itu mulai bergeser ke malam saat Arini dan Bagas keluar dari restoran. Lampu-lampu di langit-langit mal menyala lebih terang.
Memantulkan warna keemasan di lantai mengilap. Pengunjung masih ramai, tapi ritmenya berubah. Orang-orang mulai membawa lebih banyak kantong belanja. Beberapa keluarga bergegas pulang, sementara aroma kopi dan roti panggang dari kafe-kafe di lantai dasar terasa lebih kuat.
Arini berjalan di sisi Bagas dengan langkah yang tak terlalu cepat. Percakapan mereka di restoran masih tertinggal di kepalanya seperti gema yang belum selesai. Kalimat-kalimat Bagas masih berputar di benaknya—tentang kesepian, tentang keberanian untuk pergi, tentang perasaan yang rupanya belum benar-benar selesai.
Ia seharusnya merasa marah atau tersinggung atau setidaknya menjaga jarak dengan tegas. Namun yang justru ia rasakan adalah sesuatu yang jauh lebih rumit, hangat yang bercampur takut. Sudah lama sekali tidak ada yang berbicara padanya seolah perasaannya penting. Sudah lama tak ada yang menatapnya seperti perempuan, bukan sekadar istri yang harus baik-baik saja.
“Kamu bawa mobil sendiri?” tanya Bagas saat mereka turun dengan eskalator menuju area parkir basemen.
Arini mengangguk. “Iya.”
“Masih suka menyetir sendiri ke mana-mana?” tanya Bagas sekali lagi.
“Kamu masih suka komentar soal itu juga.” Jawab Arini mengembalikan pertanyaan.
Bagas tersenyum kecil. “Soalnya dari dulu kamu suka keras kepala.”
Arini meliriknya sekilas. Untuk sesaat, obrolan itu terasa ringan. Nyaris biasa. Nyaris seperti dulu, ketika mereka bisa saling sindir tanpa ada beban besar di belakangnya. Namun begitu sampai di area parkir, suasana berubah lagi.
Udara basemen lebih dingin dan berbau samar oli, logam, dan sisa panas mesin mobil. Lampu putih memanjang di langit-langit memantulkan bayangan pucat di badan-badan kendaraan. Suara langkah mereka menggema kecil di antara deretan mobil yang terparkir.
Arini berhenti di dekat mobilnya, “Sudah, sampai sini saja,” katanya pelan sambil menoleh ke Bagas.
Bagas ikut berhenti, kedua tangan pria itu masuk ke saku celana, tapi tatapannya tetap tertuju padanya. Tidak mendesak, tidak juga main-main. Justru terlalu tenang untuk membuat Arini merasa aman.
“Hati-hati di jalan,” ucap Bagas.
Arini mengangguk. “Kamu juga.”
Tangannya sudah bergerak ke gagang pintu mobil ketika Bagas memanggil namanya. “Arini.”
Perempuan itu menoleh dan sebelum ia sempat membaca apa yang ada di mata Bagas. Lelaki itu sudah melangkah maju lalu menariknya ke dalam pelukan, semuanya terjadi cepat.
Tubuh Arini membeku dalam lingkaran lengan yang hangat dan mengejutkan itu. Hidungnya menangkap aroma khas Bagas. Sedikit kayu, sedikit sabun, dan sesuatu yang samar tapi akrab. Dada lelaki itu terasa kokoh di hadapannya. Satu detik, dua detik, tiga detik. Terlalu singkat untuk disebut lama. Terlalu intim untuk dianggap biasa.
Arini langsung mendorong pelan tubuh Bagas dan mundur setapak. Napasnya tercekat, matanya membesar. “Apa yang kau lakukan?”
Suaranya tak keras, tapi jelas dipenuhi kaget dan teguran. Bagas tidak tampak menyesal. Ia justru menatap Arini lekat-lekat, lalu tersenyum tipis. Senyum yang tenang, seolah baru saja melakukan sesuatu yang sudah ia pikirkan sejak lama.
“Ingat yang kukatakan tadi,” ucapnya rendah. Arini menatapnya tanpa berkedip.
“Kalau kau tidak bahagia, datanglah padaku.” Tatapan Bagas tak bergeser sedikit pun.
“Aku akan membuat hidupmu jauh lebih bahagia dari yang kau bayangkan.” Kalimat itu jatuh tepat di ruang paling rapuh dalam diri Arini.
Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri diam. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Kesadaran bahwa apa yang sedang terjadi ini salah, berbahaya, dan seharusnya dihentikan. Beradu keras dengan bagian dirinya yang diam-diam merasa dilihat, diinginkan, dan dipilih. Akhirnya Arini membuka pintu mobilnya dengan gerakan cepat.
“Jangan seperti ini lagi,” katanya lirih, tanpa tahu apakah kalimat itu benar-benar sebuah larangan atau hanya usaha terakhir menjaga dirinya tetap waras.
Bagas tidak menjawab. Arini masuk ke mobil, menutup pintu, lalu langsung menyalakan mesin. Saat mobil bergerak mundur perlahan, ia sempat melihat Bagas masih berdiri di tempat semula, satu tangan masuk ke saku, satu tangan lain terangkat kecil ke arahnya. Bukan lambaian besar. Hanya gerakan singkat, tapi cukup untuk membuat dadanya kembali sesak.
Yang tidak Arini tahu, dari sudut area parkir yang tidak terlalu jauh, seseorang mengangkat ponsel dan mengambil gambar itu semua dengan sangat jelas. Mulai dari saat mereka berjalan berdampingan, saat Arini berhenti di samping mobilnya, hingga detik ketika Bagas menariknya ke dalam pelukan.
Bima berdiri di balik pilar beton dengan wajah tetap datar. Setelah memastikan mobil Arini benar-benar keluar dari area parkir, ia menunduk memeriksa hasil fotonya satu per satu. Tajam, cukup jelas. Tidak menyisakan banyak ruang untuk penyangkalan.
Tanpa membuang waktu, ia mengirim semua itu ke nomor atasannya. Saat perjalanan pulang, Arini memegang setir lebih erat dari biasanya. Radio mobil menyala pelan, tapi tak benar-benar ia dengar. Lampu jalan lewat bergantian di kaca depan.
Gedung-gedung, lampu merah, deretan kendaraan, semua tampak kabur di pinggir pandangannya karena pikirannya sedang terlalu penuh. Pelukan itu seharusnya membuatnya marah. Dan sebagian dari dirinya memang marah.
Bagas terlalu jauh, terlalu berani. Terlalu mudah mengucapkan hal-hal yang seharusnya tidak lagi punya tempat dalam hidup mereka. Namun bagian lain dari dirinya justru tak bisa berhenti mengingat bagaimana rasanya dipeluk tanpa ragu. Dipeluk seperti seseorang yang masih dianggap berharga.
Sudah berapa lama sejak terakhir kali ia merasakan itu? Arini memejam sesaat saat mobil berhenti di lampu merah. Pertanyaan itu muncul terlalu cepat, terlalu jujur, dan membuat tenggorokannya terasa pahit.
Setibanya di rumah, suasana kembali seperti biasa, besar, bersih, dan sunyi. Bu Sum sudah selesai membereskan dapur. Salah satu lampu ruang keluarga menyala redup. Aroma pengharum ruangan bercampur dengan hawa dingin AC sentral. Semuanya pada tempatnya, tak ada satu pun yang tampak kacau. Hanya Arini yang tidak, Arini merasa kebimbangan tak karuan di hatinya.
“Ibu sudah makan malam?” tanya Bu Sum ketika melihatnya masuk.
Arini menoleh cepat, seolah baru sadar ada orang lain di rumah. “Sudah tadi di luar.”
“Baik, Bu. Bapak tadi ada kirim pesan?”
Arini mengangguk singkat. “Iya.”
Ia tak ingin bicara lebih banyak. Buru-buru ia naik ke kamar, meletakkan tasnya di atas sofa kecil, lalu masuk ke kamar mandi lebih lama dari biasanya. Air hangat mengalir membasahi bahunya, tetapi tidak mampu menenangkan pikirannya.
Ketika akhirnya ia keluar dengan piama satin lembut dan rambut setengah kering, langit di luar jendela sudah gelap penuh. Lampu-lampu kota terlihat seperti titik-titik kecil yang berpendar jauh di bawah sana.
Arini duduk di tepi tempat tidur sambil memegang ponselnya. Nama Bagaskara tersimpan di layar setelah tadi, entah bagaimana, ia menerima kartu nama itu dan memasukkan nomornya. Hanya nama, tidak lebih. Ia menatap layar cukup lama.
Jangan,
Itu salah,
Kau tahu ini salah,
Namun kesepian punya suara yang licik. Ia tidak datang sebagai teriakan. Ia datang sebagai bisikan pelan yang berkata bahwa satu pesan saja tak akan mengubah apa-apa. Arini membuka ruang chat itu. Layar kosong menunggunya. Jemarinya bergerak, lalu berhenti. Mengetik, menghapus. Mengetik lagi, menghapus lagi.
Akhirnya ia hanya menulis, sudah sampai rumah?
Ia menatap pesan itu selama dua detik penuh, lalu menekan kirim. Jantungnya langsung berdegup lebih cepat. Balasan datang kurang dari satu menit.
Sudah. Kamu?
Arini menggigit bibir kecil, baru sampai juga, titik tiga muncul. Bagus, aku sempat khawatir kamu ke pikiran omelanku tadi. Arini mendengus kecil tanpa sadar. Jarinya mulai lebih ringan.
Bukan omelan, lebih ke ceramah. Bagas membalas cepat.
Maaf. Mantan pacar yang terlalu tampan memang kadang emosional. Kini sepersekian detik balasan Bagas terus datang.
Arini menatap layar, lalu tanpa bisa dicegah, sudut bibirnya terangkat. Percaya diri sekali.
Harus. Soalnya sainganku sekarang arsitek kaya raya. Balasan Bagas kini lebih cepat datang.
Tawa kecil lolos dari bibir Arini. Suara itu terdengar asing di kamar yang biasanya hanya diisi dengung AC dan keheningan. Ia bahkan sempat terdiam beberapa detik setelah mendengar tawanya sendiri, seolah tak yakin suara itu benar-benar miliknya.
Obrolan mereka berlanjut dari hal-hal ringan, pekerjaan Bagas sekarang, proyek foto komersial yang sedang ia pegang, kafe-kafe baru di Surabaya, makanan favorit yang dulu sering mereka perdebatkan. Lalu bergerak pelan ke kenangan-kenangan kecil yang entah mengapa masih melekat jelas.
Tentang Arini yang dulu selalu mencuri cabai dari piring Bagas. Tentang Bagas yang sering datang terlambat ke kampus tapi tetap sempat membelikan roti. Tentang hujan sore di tahun terakhir kuliah yang membuat mereka terjebak di halte dan tertawa tanpa alasan penting.
Arini tak sadar sudah hampir satu jam menatap layar ponsel. Hangat menjalar pelan di dadanya. Hangat yang sederhana, tapi cukup untuk membuat ruang kosong di dalam dirinya terasa tidak terlalu gelap. Beberapa kali ia tersenyum sendiri. Sekali dua kali bahkan tertawa pelan, lalu buru-buru menutup mulut seakan takut ada yang mendengar.
Bagas pandai membuat percakapan terasa mudah. Tidak menuntut, tidak dingin. Tidak seperti sedang bicara dengan dinding yang sopan.
Di Jakarta, pada saat yang sama, Adnan duduk sendirian di suite hotelnya. Lampu di ruang tengah menyala temaram. Jasnya sudah dilepas dan disampirkan di sofa. Kancing manset terbuka. Dasi terletak sembarangan di atas meja kaca. Di hadapannya, laptop menyala menampilkan sebuah file PDF yang baru dikirim Bima beberapa menit lalu.
Judul file itu singkat. Laporan Subjek - Bagaskara Pradipta. Adnan membaca halaman pertama dengan wajah nyaris tanpa ekspresi. Bima memang bekerja cepat. Dan kali ini pekerjaannya memang tidak serumit biasanya, sebab identitas pria itu rupanya bukan identitas yang perlu digali lewat banyak pintu tertutup.
Nama Bagaskara Pradipta cukup dikenal. Seorang fotografer profesional, pernah bekerja untuk beberapa majalah gaya hidup nasional. Kini memiliki studio kreatif sendiri. Kerap terlibat proyek kampanye merek besar dan pameran visual di beberapa kota.
Semua itu mudah ditemukan, terlalu mudah. Namun bukan itu yang ingin diketahui Adnan. Ia menggulir ke halaman berikutnya. Ada rangkuman riwayat pekerjaan, alamat studio, catatan media sosial, dan beberapa foto aktivitas Bagas dalam acara publik.
Adnan melewati semuanya dengan dingin. Semua itu hanya permukaan. Yang ia cari adalah garis yang menghubungkan pria ini dengan istrinya. Lalu matanya berhenti di bagian bawah halaman ketiga.
Catatan tambahan, berdasarkan penelusuran arsip digital dan keterangan salah satu sumber lama di lingkungan kampus, subjek diduga memiliki hubungan personal dengan Ibu Arini pada masa kuliah. Indikasi kuat mantan kekasih. Jari Adnan berhenti di touchpad. Ruang hotel itu terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Ia membaca kalimat itu sekali lagi. Pelan. Sangat pelan.
Mantan kekasih,
Bukan pria asing,
Bukan pertemuan acak yang bisa dijelaskan sebagai kebetulan biasa. Seseorang dari masa lalu, seseorang yang pernah cukup penting untuk meninggalkan bekas.
Wajah Adnan tetap tenang, tetapi sesuatu di belakang tatapannya menjadi jauh lebih gelap. Ia menutup mata sejenak, lalu membukanya kembali. Rahangnya mengeras tipis.
Laporan itu belum selesai, di halaman berikutnya, Bima menyertakan kronologi singkat pertemuan hari ini, termasuk waktu Arini tiba di mal, durasi di restoran, dan satu lampiran foto tambahan.
Adnan mengeklik lampiran itu, foto terbuka penuh di layar. Area parkir basement, siluet mobil Arini. Bagas berdiri dekat sekali dan Arini istrinya ada di dalam pelukan pria itu. Bukan sudut yang samar, bukan gambar buram yang bisa diperdebatkan. Jelas, sangat jelas.
Tubuh Adnan tidak bergerak sama sekali. Justru itulah yang membuat kemarahannya tampak lebih mengerikan. Tidak ada gelas pecah, tidak ada makian. Tidak ada ledakan emosi yang murahan. Ia hanya menatap foto itu lama sekali, seolah sedang mencatat setiap detailnya untuk disimpan rapi di tempat yang tak akan pernah lupa.
Pelukan itu mungkin singkat, mungkin spontan. Mungkin juga tak dibalas penuh oleh Arini. Tapi bagi Adnan, satu fakta tetap berdiri dingin di tengah semuanya. Istrinya membiarkan pria lain cukup dekat untuk menyentuhnya.
Setelah itu, ia membuka ponselnya. Tak ada pesan baru dari Arini selain obrolan singkat sore tadi. Tidak ada tanda apa pun bahwa perempuan itu sedang melakukan sesuatu yang salah. Namun entah kenapa, justru ketenangan itu terasa paling tajam.
Ia membayangkan Arini sekarang, mungkin sedang di kamar, mungkin tersenyum menatap layar ponsel, mungkin sedang berbicara dengan masa lalunya. Sementara ia duduk di sini memandangi bukti bahwa rumah tangganya baru saja diguncang dari fondasi paling bawah.
Adnan mengalihkan pandangan ke jendela kamar hotel. Jakarta di malam hari berpendar dengan jutaan lampu, megah dan dingin. Pantulan dirinya muncul samar di kaca. Seorang pria yang tampak utuh, padahal di dalamnya mulai berdiri sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar marah.
Ia meletakkan ponsel, lalu menatap lagi foto di layar laptop. Mantan kekasih, jadi itu asal keberanian pria itu. Jadi itu alasan tatapan mereka tadi terlihat seperti dua orang yang tidak benar-benar asing. Jadi itu pula alasan Arini berbohong tanpa ragu.
Karena masa lalu memang selalu licik. Ia tidak datang mengetuk dari depan. Ia menyelinap masuk melalui celah-celah yang lama tak dijaga. Adnan menutup file itu perlahan. Bukan karena selesai, tapi karena ia sudah tahu cukup banyak untuk mengambil keputusan pertama.
Ia tidak akan gegabah. Tidak akan menelepon Arini malam ini untuk melabraknya seperti suami bodoh yang kalah oleh emosi. Tidak, ia akan menunggu, mengamati, mengumpulkan semuanya dengan rapi.
Kalau memang ada kebohongan, ia ingin melihat seberapa jauh istrinya sanggup melangkah. Kalau memang ada permainan, ia ingin tahu siapa yang merasa paling pintar memulainya. Adnan berdiri, berjalan ke dekat jendela, lalu memasukkan satu tangan ke saku celana. Di bawah sana, lampu-lampu kota berkilat seperti bara kecil yang tersebar di kegelapan.
Ketika akhirnya ia berbicara, suaranya sangat pelan. Namun cukup untuk memenuhi seluruh ruangan dengan dingin yang tak terlihat.
“Jika kau ingin bermain api denganku, Arini...” gumamnya, mata tetap lurus ke luar jendela. “Maka akan aku pastikan kau yang terbakar.”
Sori thor itu pendapat saya ... tapi tetap samangag bikin ceritanya ...