NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.

Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 - Perintah Yang Memalukan

Pagi itu, Alyssa dipanggil ke ruang keluarga dengan nada yang singkat dan tanpa penjelasan. Cara penyampaiannya saja sudah cukup membuatnya mengerti bahwa ini bukan percakapan biasa, melainkan sesuatu yang sudah diputuskan tanpa melibatkan dirinya. Ia berjalan menyusuri koridor dengan langkah pelan, berusaha menenangkan napas yang terasa lebih berat dari biasanya, sambil menyiapkan diri untuk apa pun yang akan ia dengar.

Begitu pintu terbuka, pandangannya langsung tertuju pada ibu Daren yang duduk tegak di sofa dengan beberapa dokumen tersusun rapi di atas meja. Ekspresinya tidak berubah, tetap dingin dan sulit ditebak, seolah semua yang terjadi kemarin tidak memberi dampak apa pun. Ruangan itu terasa terlalu tenang, sampai suara langkah Alyssa sendiri terdengar asing di telinganya.

Alyssa berhenti beberapa langkah dari sana.

“Ibu memanggil saya?”

Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia menutup map di tangannya dengan gerakan perlahan, lalu mengangkat pandangan ke arah Alyssa dengan tatapan yang membuat udara di ruangan itu terasa lebih berat dari sebelumnya. Tidak ada kemarahan yang terlihat jelas, tetapi justru itu yang membuatnya terasa lebih menekan.

“Mulai hari ini,” katanya pelan, “kamu akan mengikuti aturan di rumah ini.”

Alyssa mengangguk kecil, mencoba menjaga suaranya tetap stabil meskipun perasaannya mulai tidak tenang.

“Baik, Bu.”

“Karena sepertinya kamu belum memahami posisimu dengan jelas,” lanjut wanita itu tanpa jeda.

Kalimat itu membuat Alyssa tanpa sadar menegakkan tubuhnya sedikit. Ia mencoba mencerna maksud di balik kata-kata itu, meskipun sebenarnya ia sudah bisa menebaknya.

“Apa maksud Ibu?” tanyanya hati-hati.

“Kamu tinggal di rumah ini,” jawab wanita itu dengan nada datar. “Makan, menggunakan fasilitas, dan membawa nama keluarga Wijaya. Tapi kamu belum menunjukkan bahwa kamu layak mendapatkan semua itu.”

Alyssa menahan napas sejenak. Ia tahu ini bukan percakapan yang bisa ia bantah begitu saja, karena setiap kata yang keluar dari wanita di depannya sudah seperti keputusan yang tidak bisa diubah.

“Apa yang harus saya lakukan?” tanyanya akhirnya, memilih untuk menahan semua hal lain yang ingin ia katakan.

Ibu Daren menyandarkan tubuhnya dengan tenang, seolah sudah menunggu pertanyaan itu sejak awal.

“Mulai dari hal sederhana,” katanya. “Kamu akan membantu melayani tamu.”

Alyssa mengangguk, meskipun ada sesuatu yang terasa tidak biasa dari cara kalimat itu diucapkan.

“Baik.”

“Bukan hanya membantu,” lanjutnya dengan nada yang sedikit lebih tegas. “Kamu yang akan melayani.”

Alyssa terdiam sejenak, mencoba memastikan bahwa ia tidak salah memahami maksudnya. Pikirannya langsung terarah pada sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Seperti pelayan?” tanyanya pelan.

Tatapan ibu Daren berubah lebih tajam dalam sekejap.

“Kalau kamu merasa itu merendahkan, kamu bebas keluar dari rumah ini.”

Jawaban itu tidak memberi ruang sedikit pun untuk bernegosiasi. Alyssa menunduk, menahan semua reaksi yang hampir keluar dari dirinya.

“Tidak, Bu. Saya akan melakukannya.”

Wanita itu mengangguk tipis, terlihat cukup puas dengan jawaban tersebut.

“Selain itu,” tambahnya, “kamu juga akan membantu pekerjaan rumah. Dari dapur sampai ruang tamu, apa pun yang diberikan padamu harus kamu kerjakan tanpa banyak bicara.”

Alyssa menggenggam tangannya pelan di samping tubuhnya, merasakan ujung jarinya mulai dingin.

“Semua?”

“Semua yang diberikan padamu.”

Suasana kembali hening, namun kali ini terasa lebih berat dari sebelumnya. Alyssa menarik napas perlahan, membiarkan pikirannya melayang sesaat pada wajah ibunya dan rumah kecil yang ia tinggalkan. Semua pengorbanan yang membuatnya berdiri di tempat ini seakan kembali muncul, memaksanya untuk tetap bertahan meskipun harga dirinya terus ditekan.

“Baik, Bu,” jawabnya akhirnya.

Ibu Daren berdiri tanpa mengatakan apa pun lagi, lalu berjalan melewati Alyssa dengan langkah tenang.

“Jangan mengecewakan lagi,” katanya singkat sebelum keluar dari ruangan.

Alyssa tetap berdiri di tempatnya selama beberapa detik, mencoba menenangkan dirinya sebelum akhirnya berbalik. Langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya, seolah setiap keputusan yang baru saja dibuat telah menambah beban yang harus ia pikul.

Hari itu, semuanya benar-benar berubah.

Alyssa berdiri di dapur dengan apron sederhana yang menutupi pakaian rumahnya. Rambutnya diikat rapi tanpa hiasan, membuat penampilannya jauh berbeda dari gadis yang semalam berdiri di tengah pesta besar. Beberapa pelayan berdiri di sekitarnya, namun suasana di antara mereka terasa berbeda.

Ia bukan lagi seseorang yang sekadar berada di sana.

Ia adalah orang yang diperintah.

“Nona, tolong siapkan teh untuk tamu di ruang tengah,” kata salah satu pelayan senior dengan nada yang tetap sopan, tetapi kini terdengar lebih seperti instruksi.

Alyssa mengangguk.

“Baik.”

Ia mulai menyiapkan nampan dengan hati-hati, memastikan setiap cangkir berada di posisi yang tepat. Gerakannya pelan namun teratur, berusaha tidak melakukan kesalahan sekecil apa pun karena ia tahu setiap hal bisa menjadi alasan untuk kembali disalahkan.

Saat semuanya siap, ia mengangkat nampan itu dan berjalan keluar dari dapur. Langkahnya terjaga, meskipun ia bisa merasakan beberapa tatapan mengikuti dari belakang, seolah setiap gerakannya sedang dinilai.

Begitu ia masuk ke ruang tengah, beberapa tamu sudah duduk dengan santai sambil berbincang. Pakaian mereka rapi dan berkelas, memperlihatkan bahwa mereka berasal dari lingkungan yang sama dengan keluarga Wijaya.

Alyssa menunduk sedikit.

“Silakan tehnya,” katanya dengan suara sopan.

Ia mulai menyajikan satu per satu, menjaga tangannya tetap stabil meskipun jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Namun saat ia mendekat ke salah satu tamu, wanita itu menatapnya lebih lama dari yang seharusnya.

“Aku pernah melihatmu,” katanya.

Alyssa berhenti sejenak, lalu mengangkat wajahnya perlahan.

“Di pesta kemarin,” lanjut wanita itu.

Beberapa tamu lain mulai memperhatikan, dan suasana yang awalnya biasa berubah menjadi lebih fokus.

“Oh, yang itu ya?” kata yang lain dengan nada yang terdengar ringan, seolah sedang membicarakan sesuatu yang menghibur.

Alyssa tidak menjawab. Ia memilih melanjutkan pekerjaannya, mencoba mengabaikan arah percakapan yang mulai berubah.

“Tidak menyangka,” kata wanita tadi sambil tersenyum tipis. “Sekarang malah melayani.”

Beberapa orang ikut tersenyum, dan suasana menjadi sedikit lebih santai bagi mereka, tetapi tidak bagi Alyssa.

Ia menggenggam nampan itu lebih erat, menahan semua reaksi yang ingin muncul.

“Silakan dinikmati,” katanya singkat.

Tidak ada yang menghentikannya, tidak juga ada yang membela. Ia menyelesaikan tugasnya satu per satu, lalu keluar dari ruangan itu dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari sebelumnya.

Begitu sampai di dapur, ia meletakkan nampan dengan hati-hati di atas meja. Tangannya terasa sedikit gemetar, dan ia menunduk untuk menyembunyikan ekspresinya.

Seseorang di sampingnya berbicara dengan nada pelan.

“Nona… tidak apa-apa?”

Alyssa menggeleng.

“Iya, aku baik-baik saja.”

Namun suaranya tidak sepenuhnya meyakinkan. Ia menarik napas dalam, mencoba menahan tekanan yang terasa memenuhi dadanya. Air matanya hampir jatuh, tetapi ia menahannya sekuat mungkin karena ia tidak ingin terlihat lemah di tempat ini.

Ia mengangkat wajahnya perlahan, menelan semua yang terasa pahit, lalu kembali bekerja tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Sore harinya, ia diminta membersihkan ruang tamu setelah para tamu pergi. Ia mengelap meja dengan teliti, merapikan bantal yang sedikit bergeser, dan memastikan setiap sudut kembali seperti semula. Gerakannya hati-hati, seolah ia sedang mencoba menghapus jejak keberadaannya sendiri dari ruangan itu.

Saat ia sedang merapikan vas bunga, suara langkah kaki terdengar dari arah pintu. Alyssa menoleh, dan sosok yang berdiri di sana membuat tangannya berhenti sejenak.

Cassandra.

Wanita itu mengenakan pakaian santai yang tetap terlihat mahal, dengan sikap yang tidak berubah sedikit pun dari malam sebelumnya. Tatapannya langsung tertuju pada Alyssa, menelusuri penampilannya dari atas sampai bawah tanpa berusaha menyembunyikan penilaian di dalamnya.

Beberapa detik berlalu dalam diam sebelum Cassandra melangkah masuk.

“Jadi ini posisi barumu,” katanya pelan.

Alyssa kembali menunduk dan melanjutkan pekerjaannya, memilih untuk tidak terpengaruh lebih jauh.

“Saya hanya melakukan apa yang diminta,” jawabnya singkat.

Cassandra tersenyum tipis, seolah jawaban itu sudah ia duga.

“Terlihat cocok,” katanya. “Lebih sesuai dibanding berdiri di samping Daren.”

Kalimat itu terasa ringan, tetapi menyimpan sesuatu yang jauh lebih tajam. Alyssa tidak menjawab, karena ia tahu setiap respons hanya akan memperpanjang situasi.

Cassandra berjalan mendekat dengan langkah pelan dan teratur, lalu berhenti beberapa langkah dari Alyssa.

“Aku hampir tidak mengenalimu,” katanya lagi. “Kemarin di pesta… dan sekarang di sini.”

Alyssa menegakkan tubuhnya sedikit, berusaha menjaga dirinya tetap tenang.

“Tidak semua orang punya pilihan,” katanya pelan.

Cassandra mengangkat alisnya, tampak tertarik dengan jawaban itu.

“Oh?” katanya. “Atau mungkin kamu hanya tidak tahu tempatmu sejak awal.”

Alyssa terdiam, menggenggam kain lap di tangannya dengan lebih erat. Ia menahan semua hal yang ingin keluar, karena ia tahu tidak ada gunanya melawan di situasi seperti ini.

Cassandra memperhatikan ekspresinya dengan seksama, lalu tersenyum kecil. Senyum itu terlihat lebih jelas dari sebelumnya, seolah ia menemukan sesuatu yang ia cari.

“Aku mengerti sekarang,” katanya pelan. “Kamu bertahan karena terpaksa.”

Ia melangkah sedikit lebih dekat, memperkecil jarak di antara mereka.

“Dan itu membuat semuanya jadi lebih mudah.”

Alyssa menoleh.

“Mudah untuk apa?” tanyanya.

Cassandra tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Alyssa dengan pandangan yang sulit diartikan, lalu membiarkan beberapa detik berlalu sebelum akhirnya membuka suara.

“Mudah untuk melihat seberapa jauh kamu bisa bertahan,” katanya akhirnya.

Suasana di ruangan itu berubah menjadi lebih sunyi. Alyssa menatapnya, merasakan sesuatu di dalam dirinya yang perlahan mulai berubah. Bukan lagi sekadar rasa sakit yang ia tahan sejak tadi, tetapi sesuatu yang lebih dalam dan lebih tenang.

Kesadaran.

Bahwa semua ini belum selesai, dan apa yang ia hadapi sekarang hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih panjang. Ia menarik napas perlahan, menenangkan dirinya sendiri sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.

Namun kali ini, cara ia menundukkan kepala tidak lagi sama.

1
sutiasih kasih
km sll merendhkn Alyssa tentang mnempatkn diri....
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
sutiasih kasih
ketika km sadar n haluanmu brubah....
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
sutiasih kasih
daren.... smpe kpan km pura"... & lelet dlm mngambil sikap...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
sutiasih kasih
org lain boleh bebas berkeliaran bhkn bebas mngatur layaknya menantu...
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
sutiasih kasih
mnunggu saat allysa mundur & prgi dri daren...
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
sutiasih kasih
msa iya rmh horang kaya raya... g ada cctv di setiap sudut rumah....
🤔🤔
@RearthaZ
kak aku sudah baca dan like, semua chapternya, boleh tolong bantuannya juga ya kak untuk like dan baca cerita baru ku (aku baru pemula hehehe) boleh 'CEK PROFIL KU' ya kak... nama judul ceritanya "MENIKAHI DUKE MISTERIUS"
@RearthaZ
lanjutin kak
@RearthaZ
aku mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!