Nikolas Martinez adalah pemimpin geng motor The Vultures yang urakan namun cerdas, sementara Salene Lumiere adalah putri bangsawan yang hidup dalam sangkar emas milik Keluarganya. Dua dunia yang bertolak belakang, di mana Salene menemukan kebebasan di balik jaket kulit Nikolas.
Namun, tepat di malam perayaan ulang tahun ke-18 mereka yang penuh janji manis, sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nikolas terhempas ke dalam koma selama lima tahun. Di dalam tidur panjangnya, Nikolas hidup dalam delusi indah bahwa ia dan Salene masih bersama, tanpa menyadari bahwa di dunia nyata, waktu terus berjalan dengan kejam.
Saat Nikolas terbangun di tahun 2026, ia mendapati dunianya telah hancur. Sahabat-sahabatnya telah dewasa, dan Salene—gadis yang menjadi alasan satu-satunya untuk ia bangun—telah menghilang. Rahasia besar terkunci rapat oleh orang-orang terdekatnya, Salene telah menikah dengan pria lain di California.
Sebuah kisah tentang cinta yang melampaui logika.
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Angin Pasifik berhembus kencang, membawa aroma garam yang kontras dengan wangi melati dari taman gantung di mansion mewah kawasan Malibu. Salene berdiri di balkon lantai dua, menatap garis cakrawala di mana langit malam yang gelap bertemu dengan samudra yang tak berujung.
Di sini, di California, bintang-bintang tampak berbeda dengan bintang di langit London yang dulu sering ia tatap dari balkon markas The Vultures.
Salene mengusap lengannya yang kini terasa lebih berisi. Berat badannya kini stabil di angka 55 kilogram—angka yang dulu akan membuat Madame meledak dalam amarah, namun sekarang menjadi simbol kemerdekaannya yang sunyi. Tanpa diet ketat, tanpa korset yang menyesakkan paru-paru, Salene menjelma menjadi wanita yang kecantikannya matang, sempurna dalam balutan gaun tidur sutra yang longgar.
"Bagaimana kabarmu, Nik?" bisiknya pada kegelapan malam. "Apa kau masih betah dengan tidur panjangmu? Atau kau sedang membalap di sirkuit mimpi yang jauh lebih indah dari kenyataan ini?"
Setitik air mata jatuh, namun Salene segera menghapusnya. "Semoga kau bisa memaafkan ku, Nik. Maafkan aku karena tidak cukup kuat untuk menunggumu bangun."
PRANKKK!
Suara barang pecah yang sangat keras meledak dari kamar sebelah, memecah kesunyian malam. Salene tersentak, namun ia tidak beranjak. Ia sudah terbiasa. Kamar di sebelah balkonnya adalah kamar utama milik suaminya, Taylor Johnson.
Kenyataan di balik dinding mansion senilai puluhan juta dolar ini jauh lebih busuk daripada yang dibayangkan publik. Dunia mengenal Taylor Johnson sebagai pengusaha muda jenius yang setia, dan Salene sebagai istri porselen yang beruntung. Namun, kebenarannya adalah Salene hanyalah "istri pajangan" untuk kebutuhan bisnis dan citra politik keluarga Lumiere di Amerika.
Di kamar sebelah, Taylor sedang berada bersama kekasih aslinya—sekretaris pribadinya, Elena. Mereka telah bersama jauh sebelum pernikahan kontrak ini terjadi. Taylor sangat mencintai Elena, namun status sosial Elena tidak akan pernah diterima oleh dewan direksi perusahaan keluarga Taylor.
Suara teriakan tertahan dan isak tangis Elena terdengar samar. Sepertinya mereka sedang bertengkar hebat lagi, entah karena masalah pekerjaan atau rasa cemburu Elena yang tak kunjung padam meski ia tinggal di bawah atap yang sama dengan istri sah kekasihnya.
Salene menarik napas panjang, lalu berbalik masuk ke dalam kamarnya sendiri. Di tengah ranjang king size yang megah, terdapat sebuah boks bayi dari kayu cendana. Di dalamnya, seorang bayi laki-laki berusia empat bulan sedang tertidur pulas dengan kepalan tangan kecil di dekat pipinya.
Axel. Salene memanggilnya Baby A.
Dunia tahu Axel adalah anak kandung Salene dan Taylor. Majalah sosialita menyebutnya "Pewaris Sempurna". Namun, Axel adalah darah daging Taylor dan Elena. Salene setuju untuk mengakui Axel sebagai anaknya demi melindungi bayi itu dari status "anak haram" yang bisa menghancurkan masa depannya, sekaligus sebagai jaminan agar Madame tidak lagi merongrongnya untuk memberikan keturunan.
Sejak malam pernikahan mereka setahun yang lalu, Taylor tidak pernah menyentuh Salene. Mereka tidur di kamar yang berbeda, menjalani kehidupan masing-masing di bawah satu atap. Bagi Salene, itu adalah berkah terbesar. Ia bersyukur rahimnya tidak perlu mengandung anak dari pria yang tidak ia cintai. Ia bersyukur tubuhnya tetap "milik" kenangannya bersama Nikolas Martinez.
Salene duduk di pinggir boks bayi, mengusap lembut kening Axel. "Setidaknya aku tidak sendirian, kan, Baby A?"
Anehnya, Salene tidak merasa benci pada bayi ini. Ia justru merasa sangat sayang. Axel adalah satu-satunya makhluk di rumah ini yang tulus padanya. Di saat Taylor sibuk bertengkar dengan Elena di kamar sebelah, Salene-lah yang mengganti popok Axel, Salene-lah yang terbangun saat Axel menangis di tengah malam, dan Salene-lah yang pertama kali mendengar tawa kecil bayi itu.
Salene yang kesepian menemukan pelipur lara pada sosok Baby A. Bayi itu adalah dunianya sekarang. Seringkali, saat ia menatap mata biru Axel yang jernih, ia membayangkan jika saja takdir berbeda... jika saja ia dan Nikolas yang memiliki bayi ini. Ia membayangkan anak laki-laki yang memiliki mata setajam Nik namun sehangat tawa pria itu.
"Ayahmu sedang sibuk dengan dunianya sendiri, Sayang," gumam Salene pelan saat suara pecahan barang kembali terdengar dari sebelah. "Tapi kau punya aku. Kita akan menjaga satu sama lain di sangkar kristal ini."
Tiba-tiba, ponsel Salene yang berada di meja rias bergetar. Sebuah pesan singkat dari Lauren masuk.
From: Lauren
Alen... ada keajaiban. Nikolas... dia sudah sadar. Dia mencari mu.
Ponsel itu jatuh dari genggaman Salene ke atas karpet tebal. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Seluruh sendinya terasa lemas. Nikolas bangun? Di saat ia sudah terikat pada pernikahan palsu, di saat ia mengasuh anak dari wanita lain, dan di saat ia sudah melepaskan seluruh harapannya?
Salene menutup mulutnya dengan tangan, berusaha agar isakannya tidak membangunkan Axel. Air mata kebahagiaan sekaligus kepedihan yang luar biasa tumpah tak terbendung.
"Kau bangun, Nik..." isaknya lirih. "Kau bangun di saat aku sudah menjadi milik orang lain..."
Di kamar sebelah, suara pertengkaran Taylor dan Elena akhirnya mereda, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Namun di dalam kamar Salene, badai baru saja dimulai. Salene menatap Axel, lalu menatap foto kecil Nikolas yang ia sembunyikan di dalam liontin kalungnya.
Dua dunia yang ia jaga dengan susah payah kini bertabrakan. Ia ingin berlari kembali ke London, ia ingin memeluk Nik dan mengatakan bahwa ia tidak pernah berhenti mencintainya. Namun, ia melihat Axel. Jika ia pergi, siapa yang akan menjaga bayi ini dari keruwetan hidup Taylor dan Elena? Dan bagaimana ia bisa menjelaskan pada Nik bahwa "anaknya" sebenarnya bukan anaknya?
"Maafkan aku, Nik," tangis Salene pecah di kesunyian malam Malibu. "Duniaku sudah terlalu rumit untuk kau masuki lagi sekarang."
Malam itu, di bawah kemewahan mansion yang terasa seperti penjara, Salene Lumiere menyadari bahwa keajaiban yang ia doakan selama lima tahun ternyata datang di waktu yang paling menyakitkan.
🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰