NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara

Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Percintaan Konglomerat / Romansa
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."

​Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.

​Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.

​Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?

​"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara

​Lorong marmer di lantai teratas gedung pusat Prayudha Group yang biasanya tenang dan berwibawa, seketika berubah menjadi saksi bisu runtuhnya sebuah pertahanan besar. Andra masih mendekap tubuh Isvara yang terkulai lemas.

Untuk pertama kalinya, Andra merasakan betapa ringannya tubuh istrinya seolah-olah Isvara terbuat dari kaca yang siap hancur hanya dengan satu sentuhan kasar. Tidak ada lagi keangkuhan dari wanita yang satu jam lalu membungkam Paman Hadi. Yang tersisa hanya raga pucat yang napasnya pun nyaris tak terdengar.

​Wajah Isvara yang biasanya dingin dan tajam kini tampak sangat rapuh. Kulitnya seputih porselen yang retak, dan bibir merah marunnya yang tadi mengeluarkan kata-kata pedas kini terkatup rapat, kebiruan. Andra mencoba memanggil namanya sekali lagi, suaranya parau oleh kepanikan yang tidak bisa ia jelaskan.

​"Isvara! Bangun! Jangan bercanda, Isvara!" serunya, mengabaikan beberapa staf yang mulai keluar dari ruang rapat dengan wajah penuh tanya.

​Andra segera mengangkat tubuh Isvara dengan gerakan protektif yang asing baginya. Ia berniat membawanya ke lift pribadi menuju basemen untuk segera dilarikan ke rumah sakit terbaik di Jakarta. Namun, baru saja ia melangkah keluar dari lobi utama gedung pusat menuju area drop-off yang megah, langkahnya terhenti secara paksa.

​Di sana, di bawah kanopi gedung yang menjulang, sudah menunggu sebuah SUV hitam dengan mesin yang masih menderu, seolah-olah sudah bersiap untuk misi pelarian. Sinta dan Rima berdiri di depan mobil itu dengan wajah yang tak kalah tegang, namun mereka tidak tampak terkejut. Seolah-olah mereka sudah memprediksi bahwa detik ini detik di mana Isvara tumbang akan tiba.

​"Tuan Adrian, tolong serahkan Ibu Isvara kepada kami," ucap Sinta dengan suara yang tegas, tanpa ragu, dan tanpa ada rasa takut sedikit pun pada pria yang memegang tampuk kekuasaan di gedung ini. Ia melangkah maju, dua bodyguard yang terlihat wajahnya kaku langsung maju dan akan mengambil alih tubuh Isvara dari dekapan Andra.

​Andra mengerutkan kening, ia mempererat dekapannya secara naluriah. Rasa posesif yang aneh mendadak muncul. "Apa yang kalian lakukan? Aku suaminya, aku yang akan membawanya ke rumah sakit!"

​Sinta langsung maju dan dia tampak tidak mundur satu inci pun. Matanya menatap Andra dengan tatapan yang hampir sama dinginnya dengan Isvara saat sedang bernegosiasi. "Rumah sakit mana yang akan Anda tuju, Tuan? Apakah Anda tahu siapa dokter yang menangani Nona Isvara? Apakah Anda tahu riwayat medisnya? Atau Anda hanya ingin membawanya ke IGD terdekat dan membiarkan identitas penyakitnya menjadi konsumsi publik yang bisa menjatuhkan saham perusahaan Anda? Jika Anda peduli pada citra Prayudha, biarkan kami yang mengurusnya."

​Andra tertegun. Kata-kata Sinta memukul tepat di titik egonya. "Aku suaminya, Sinta. Jangan berani-berani memerintahku di gedungku sendiri!"

​Rima, yang biasanya pendiam dan hanya berdiri di balik bayang-bayang Isvara, ikut melangkah maju. Keberaniannya muncul demi melindungi bosnya. "Tuan, dengan segala hormat. Hubungan Anda dan Ibu Isvara tidak pernah berjalan baik. Anda bahkan tidak tahu apa yang beliau konsumsi setiap pagi untuk sekadar bisa berdiri tegak, apalagi apa yang beliau rasakan di dalam dadanya setiap malam saat Anda tidak ada. Anda bukan siapa-siapa di hidup Ibu Isvara selain nama yang tertulis di atas materai perjanjian kontrak pernikahan."

​"Jaga bicara kamu Rima!!!!" Andra membentak, suaranya menggema di bawah kanopi gedung, membuat beberapa orang di sekitar menoleh. "Aku yang berhak atas dia secara hukum, kalian ini cuma asistennya jadi jangan bertindak lebih!"

​Sinta yang kesal berdebat langsung mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah pesan singkat di aplikasi pesan terenkripsi yang sudah disiapkan sebelumnya. "Ini adalah instruksi tertulis dari Ibu Isvara jika sewaktu-waktu kondisi ini terjadi. Beliau sudah menuliskan secara eksplisit: 'Jika aku tumbang, jangan biarkan keluarga Prayudha menyentuhku. Bawa aku pergi segera ke tempat biasa.' Anda lihat sendiri, Tuan Adrian? Bahkan dalam keadaan tidak sadar pun, Ibu Isvara lebih mempercayai kami daripada suaminya sendiri."

​Kalimat itu bagaikan palu godam yang menghantam harga diri Andra hingga hancur berkeping-keping. Ia menatap wajah Isvara yang masih terpejam dalam pelukannya. Rasa kehilangan yang aneh mulai merayap di dadanya. Ia merasa asing dengan wanita ini, namun di saat yang sama, ia merasa tidak rela melepaskannya ke tangan orang lain. Bagaimana mungkin seorang istri memberikan instruksi untuk 'dijauhkan' dari suaminya sendiri di saat nyawanya terancam?

​"Anda hanya akan membuang waktu saja Tuan," desak Sinta lagi, suaranya kini sedikit melunak namun tetap penuh otoritas yang mutlak. "Setiap detik yang Anda habiskan untuk berdebat dengan kami adalah detik yang mungkin merampas nyawa Ibu Isvara. Jika Anda benar-benar peduli setidaknya pada investasi Anda di Bali biarkan kami membawanya."

​Andra menggeram rendah. Gengsinya berteriak untuk tetap memegang kendali, namun melihat napas Isvara yang semakin tipis, pendek-pendek, dan bibirnya yang semakin membiru, ia tahu ia telah kalah telak. Dengan gerakan yang sangat berat dan penuh keraguan, Andra perlahan menurunkan tubuh Isvara dan membantunya masuk ke dalam kursi belakang mobil milik Sinta.

​Begitu tubuh lemah itu diletakkan di kursi, Sinta dan Rima segera bergerak lincah dan membantu dua bodyguard yang berbadan besar untuk membawa tubuh Isvara sedsngkan Rima dan Sinta berperan menutupi wajah Isvara. Pintu mobil ditutup dengan dentuman yang terdengar seperti vonis bagi Andra. Sinta langsung masuk ke kursi kemudi dan memacu kendaraannya pergi dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kepulan asap tipis dan keheningan yang menyesakkan di lobi gedung.

​Andra berdiri terpaku di sana. Tangannya masih terasa dingin, sisa dari suhu tubuh Isvara yang tadi ia dekap. Ia menatap kepergian mobil itu sampai hilang di tikungan jalan protokol Jakarta yang padat. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Andra Kalandra Prayudha merasa benar-benar kehilangan arah. Ia merasa seperti baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga, padahal ia selalu meyakinkan dirinya bahwa Isvara hanyalah alat bisnis, sebuah bidak catur yang bisa diganti.

​"Kenapa masih berdiri di sini, Andra?"

​Suara melengking yang sangat familiar itu memecah lamunan Andra. Ia berbalik dan mendapati Mama Wina, Arini, dan Papanya, Prabu, berdiri tidak jauh di belakangnya. Mereka menatap Andra dengan ekspresi yang sulit diartikan campuran antara jijik, bosan, dan sedikit kepuasan.

​"Drama yang sangat bagus dari istrimu itu kak," cibir Arini sambil melipat tangan di dada, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Pingsan tepat setelah presentasi selesai agar tidak perlu menjawab pertanyaan lanjutan? Pintar sekali dia bermain peran. Wajah pucat itu pasti hanya riasan makeup yang berlebihan, atau mungkin dia sengaja menahan napas."

​Mama Wina mengangguk setuju, ia mengibaskan tangannya ke udara seolah sedang mengusir lalat yang mengganggu. "Sudahlah, Andra. Jangan tertipu oleh akting murahan anak panti asuhan itu. Dia hanya ingin menarik simpatimu agar kamu mungkin saja merasa bersalah atas kondisi Isvara. Dia tahu posisinya terancam setelah Paman Hadi membongkar semua nya tadi. Dia hanya butuh alasan untuk kabur."

​Andra menatap ibunya dengan tatapan yang tidak biasa. Ada api kemarahan yang mulai menyulut di matanya. "Dia tidak akting, Ma. Tubuhnya dingin. Sangat dingin. Dan napasnya... dia benar-benar sesak."

​"Halah! Kamu itu terlalu polos kalau soal perempuan," potong Papa Prabu dengan suara beratnya yang penuh tekanan. "Wanita seperti Isvara itu punya seribu cara untuk bertahan hidup. Dia sudah biasa berjuang di jalanan sebelum kamu selamatkan. Sekarang, kembali ke dalam. Kita harus membereskan kekacauan yang ditinggalkan istrimu di ruang rapat. Jangan biarkan para pemegang saham merasa kita lemah hanya karena satu drama pingsan yang tidak penting."

​Ketiganya berbalik tanpa rasa bersalah, melangkah masuk kembali ke dalam gedung dengan angkuh. Bagi mereka, Isvara hanyalah gangguan kecil dalam jadwal harian mereka yang sibuk. Mereka meninggalkan Andra sendirian di area drop-off yang luas itu.

​Namun, tidak semua orang pergi. Maya, adik Andra yang paling bungsu, masih berdiri di sana. Maya yang biasanya bersikap acuh tak acuh kini mendekat perlahan, lalu menepuk pundak kakaknya dengan lembut.

​"Kak," panggil Maya pelan. "Kalau Kakak memang khawatir, sebaiknya Kakak susul ke rumah sakit. Jangan dengarkan Mama dan Arini. Aku tadi melihat mata kak Isvara sebelum dia benar-benar pingsan. Itu bukan mata orang yang sedang berakting, Kak. Itu mata orang yang sedang bertaruh nyawa. Dia benar-benar kesakitan."

​Andra terdiam. Saran Maya masuk ke dalam logikanya yang paling dalam, namun egonya yang setinggi langit segera bangkit kembali untuk menutupi rasa cemas itu. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan adiknya. Ia tidak ingin diolok-olok oleh keluarganya karena memedulikan wanita yang selama ini ia benci.

​"Aku tidak khawatir, Maya," ucap Andra dingin, suaranya kembali datar dan keras seperti batu karang. "Aku hanya kesal karena dia meninggalkan pekerjaan yang belum selesai. Dia sudah membuat malu nama Kalandra di depan investor luar dengan cara pingsan seperti itu."

​Maya menghela napas panjang, menatap kakaknya dengan iba yang mendalam. "Gengsimu itu suatu saat akan membunuhmu, Kak. Atau mungkin, akan membunuh kesempatan terakhirmu untuk mengenal siapa sebenarnya wanita yang kau nikahi sebelum semuanya terlambat."

​"Aku sudah cukup mengenalnya," potong Andra cepat, menolak untuk mendengar lebih jauh. "Dia wanita ambisius yang hanya peduli pada pekerjaannya. Sekarang, aku harus kembali ke atas. Masih banyak laporan yang harus ditandatangani."

​Andra berbalik, melangkah masuk ke gedung dengan langkah lebar yang dipaksakan. Ia berusaha mengabaikan gemetar di ujung jarinya yang masih terasa dingin. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Isvara akan baik-baik saja, bahwa besok wanita itu akan kembali ke kantor dengan wajah dingin dan kata-kata menohoknya yang menyebalkan.

​Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, sebuah suara kecil terus berbisik, menghantui setiap langkahnya: Bagaimana jika "Jaga kelas kita" benar-benar adalah pesan terakhirnya untukmu? Bagaimana jika kau tidak akan pernah melihat mata tajam itu terbuka lagi?

​Andra masuk ke dalam lift, menekan tombol lantai teratas dengan kasar. Namun sepanjang perjalanan ke atas, bayangan wajah pucat Isvara dan aroma lili yang dingin dari parfumnya seolah-olah menempel di setiap inci udara yang ia hirup. Ia berada di puncak kejayaannya, di dalam gedung miliknya sendiri, namun entah mengapa, Adrian Kalandra Prayudha merasa sangat hampa dan ketakutan.

1
lin sya
sbnrnya jodohnya isvara siapa thor, gk dewa gk andra , sama2 nykitin, lbih baik isvara fokus sm kesehatannya, sayangi diri sndiri pnting💪
Riza Afrianti
kapan si Andra kena karma nya yaa
Wayan Sucani
Apa hanya saya saja yg menangis..menjadi Isvara sangat menyakitkan...
blcak areng: ya ampun kak, peluk"🫂🫂🫂🫂
total 1 replies
Wayan Sucani
Sungguh sakit jd dirimu Isvara...
Wayan Sucani
Apa yg terjadi dimasa lalu Isvara???. rasanya sesak jd dirimu... tanpa cinta... berusaha kuat... dan baik2 saja...
Aku sesak Isvara...
lin sya
gk tau apa yg ada diotak isvara trllu memaksakan tubuhnya pdhl udh mau tumbang, apa krn judulnya rahasia dibalik nafas terakhir isvara makanya isvara kuat diluar tp rapuh didlm, kacian thor isvara kejayaannya ada ditangan suami angkuhnya bkn ditangan dia sndiri /Whimper/
lin sya
klo isvara bneran dibuat mati oleh tekanan ego andra buat dia bertransmigrasi ke tubuh pemeran lain thor, yg lbih kaya trus byk yg sayang, klo boleh saran ya thor, kacian isvara dibalik sikap dinginnya krn gak mau diksihani atau tdk mau trlihat lemah dia tiap hri hrs sllu kuat, gak suami, gak mertua, gk kluarga kndung gk ada yg beres, klo ditubuh baru kan bsa bls dendam dan bikin andra menyesal atas kematiannya💪/Sob/
blcak areng: Terima kasih ya Kak atas masukannya... nanti bisa jadi bahan pertimbangan 😍
total 1 replies
lin sya
gw bknnya bnci dgn karakter isvara justru kacian dan terkesan krn hebat bertahan dri tekanan org2 toxic disekitarnya, mmpu bertahan dgn pnykit jg bsa pnya karier yg bagus, smga klo lepas dri kluarga suami minimal pnya relasi atau org yg bsa jd pelindung agar ttp smgt hdup/Smile/
lin sya
smgt isvara mental mu kuat sekali plus bsa cerdik mnutupi pnyakit , musuhmu bkn hnya kk dan ibu mu tp kluarga suami mu, kira2 isvara bsa dpt donor jantung gak thor plus bsa kluar dri rmh tangga toxic dan dpt jodoh yg lbih baik bahkan isvara keren menutupi kelemahannya dgn skp dingin dan biar lah dianggap buruk pdhl ia pnya sisi rapuh😍
lin sya: ok kk author💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!