Daripada penasaran, yuk mampir ><
[Update Tergantung Mood]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Melvin
Setiap kali Melvin menatap Gaby, ia terkadang teringat kembali pada hari pertama di Oxford. Hari di mana ia memutuskan bahwa gadis ini adalah satu-satunya kanvas yang layak untuk obsesinya.
Melvin ingat bagaimana ia berdiri di antara pilar-pilar batu Oxford yang angkuh. Rambut putih pucatnya tertata rapi, kontras dengan almamater gelap yang ia kenakan. Matanya yang sebiru es menyapu kerumunan mahasiswa baru hingga terpaku pada satu titik. Gabriella Queensa Vanessa.
"Welcome to the madness, new junior. I'm Melvin, your senior mentor." ucap Melvin kala itu dengan suara bariton yang menghanyutkan. "Looking for the fashion lab? I can show you the secret shortcut after this ceremony."
(Ada di bab-8: Kenakalan Kecil)
Senyum Gaby saat itu adalah kesalahan terbesarnya. Senyum yang membuat Melvin menyadari bahwa Gaby bukan sekadar mahasiswi berbakat, tapi sepupu dari Emrys Aetherion Kaito. Pria yang memegang kendali bisnis yang ingin Melvin taklukkan. Sejak detik itu, rencana besar mulai disusun.
The Blackwood Underground Party
Puncak dari rencana itu terjadi di sebuah gudang tua di pinggiran London. Sebuah tempat yang disulap menjadi studio futuristik yang jauh dari jangkauan pengawasan keluarga Aetherion-Kaito.
Cahaya laser ungu dan biru membelah kegelapan, musik techno-melodic berdentum rendah, menciptakan denyut nadi yang memacu adrenalin. Gaby berdiri di sana, terpukau oleh estetika yang belum pernah ia lihat di mansion kakaknya yang kaku.
"The runaway princess has arrived," goda Melvin, mendekat dengan kemeja transparan beraksen rantai perak yang berkilau di bawah lampu neon. Ia menyodorkan gelas berisi cairan biru elektrik, seolah memberikan kunci menuju kebebasan.
"Jangan panggil aku begitu, Melvin," protes Gaby, meski matanya berbinar senang. Ia merasa dihargai bukan sebagai seorang Aetherion, tapi sebagai seorang desainer.
"Gaby! Sini!" Sabrina, salah satu rekan mereka, menarik Gaby ke sudut ruangan yang lebih privat. "Lihat ini. Prototipe kain sustainable yang aku bicarakan. Melvin ingin kau mencoba desain pertamanya. Kau akan menjadi 'wajah' rahasia koleksi ini malam ini."
Gaby menyentuh kain itu. Teksturnya magis selembut sutra namun sekuat baja. Persis seperti bagaimana Melvin ingin membangun sangkarnya kelak.
Saat Gaby melangkah ke balik tirai untuk berganti pakaian, ponsel di tasnya bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama 'Kak Emrys' yang berulang kali memanggil. Kakaknya pasti sudah tahu Gaby menyelinap keluar dari penthouse demi pesta bawah tanah ini.
Melvin berdiri di luar tirai, mendengar getaran itu dengan senyum tipis yang mengerikan. Ia tahu Emrys sedang panik.
"Agh! Itu lucu sekali!" Melvin menutup wajahnya. Dia masih mengingat semuanya. Ketika pria itu tiba-tiba datang ke acaranya dan menyeret paksa adiknya.
Hari-hari dimana ia berusaha mengabaikan Gaby, berharap gadis itu tidak merasa terancam karna kehadirannya.
Dia melenguh panjang enggan mengingat semua itu.
Yah.. Awalnya dia mendekati Gaby hanya untuk keluarganya.. Tapi, entah sejak kapan obsesi itu muncul pada dirinya. Saat ia berdiskusi dengan ayahnya, tanpa ragu ia meminta Gaby sebagai imbalan. Maka Alistair memintanya "bekerja dengan benar".
(Cukup.. Author agak gila lanjutinnya..)
.
.
.
Suasana sore di pulau itu selalu terasa menipu. Matahari yang mulai meredup memberikan warna jingga yang hangat pada permukaan danau, menciptakan ilusi kedamaian yang semu. Di tepi air, Gaby duduk bersimpuh, jemari halusnya mengusap bulu lembut seekor kelinci putih yang sibuk mengendus sisa wortel di tangannya.
Ia tampak seperti lukisan klasik yang sempurna. Gadis malang dalam balutan gaun mahal yang terkurung di surga yang sunyi.
Langkah kaki Melvin hampir tidak terdengar di atas rumput yang tebal, namun auranya selalu mendahuluinya. Udara di sekitar Gaby mendadak terasa lebih berat, seolah oksigen di sana mulai dikuasai oleh keberadaan pria itu.
Gaby tetap diam. Ia tidak menoleh, tidak juga gemetar. Ia hanya menatap bayangan Melvin yang menjulang tinggi di atas tanah, menutupi tubuhnya dari sisa sinar matahari sore. Bayangan itu tampak seperti raksasa yang siap menelan sosok kecilnya kapan saja.
"Kelinci itu mengingatkanku padamu, Gaby," suara Melvin memecah keheningan, rendah dan halus, namun memiliki nada kepemilikan yang tajam. "Manis, diam, dan sama sekali tidak punya tempat untuk lari di pulau ini."
Melvin berjongkok di belakang Gaby. Ia tidak menyentuh kelinci itu, melainkan menyelipkan jemarinya yang dingin ke dalam rambut Gaby, membelainya dengan ritme yang lambat dan menghanyutkan.
"Kau menghabiskan tiga jam di sini hanya untuk seekor binatang?" Melvin berbisik tepat di samping telinga Gaby, napasnya terasa hangat namun membuat bulu kuduk Gaby meremang. "Apa kau sedang membayangkan kelinci ini bisa membawamu pergi melewati hutan itu?"
Gaby akhirnya bersuara, suaranya parau namun tenang. "Dia tidak perlu lari, Melvin. Dia sudah merasa di rumah."
Melvin terkekeh, sebuah suara yang jarang terdengar namun selalu terdengar mengerikan bagi Gaby. Ia menarik dagu Gaby dengan lembut agar gadis itu menatap matanya.
"Jawaban yang bagus, Gaby girl," ucap Melvin sembari mengusap bibir Gaby dengan ibu jarinya. "Tapi aku tahu matamu berbohong. Kau masih mencari celah, bukan? Kau masih berharap kakakmu itu akan datang membakar pulauku."
Ia terdiam sejenak, menatap lekat-lekat pupil mata Gaby yang melebar.
"Kau tahu apa yang menarik? Minggu ini, koleksi streetwear terbaruku rilis di London. Seluruh kota akan memakai desain yang terinspirasi dari tangisanmu malam itu. Emrys akan melihatnya di setiap sudut jalan, dan dia jelas tahu bahwa inspirasiku sedang berada dalam genggamanku sekarang."
Sore itu, kedamaian semu di tepi danau pecah saat Melvin memutuskan bahwa waktu bermain Gaby telah habis. Tanpa peringatan, tangan kokoh Melvin menyusup di bawah tubuh Gaby, mengangkatnya dengan gerakan yang begitu efisien dan tak terbantahkan.
Gaby tersentak, refleks mengeratkan pelukannya pada kelinci putih kecil itu. Bulu halus hewan itu bergesekkan dengan gaun sutranya, keduanya sama-sama tak berdaya dalam dekapan sang predator.
Melvin tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia melangkah mantap menyusuri jalan setapak bebatuan, menggendong Gaby seolah gadis itu tidak memiliki berat sama sekali. Kepala Gaby terkulai di bahu Melvin, matanya menatap kosong ke arah hutan yang perlahan menjauh saat mereka memasuki pintu besar rumah batu itu.
Suara langkah sepatu Melvin bergema di lorong yang sunyi, melewati deretan pelayan yang menunduk dalam, tak berani menatap tuannya yang sedang membawa "harta karunnya" kembali ke sarang.
Mereka menaiki tangga melingkar menuju lantai atas, hingga Melvin mendorong pintu kayu ek yang berat.
Itu adalah kamar mereka. Sebuah ruangan luas dengan interior mewah yang memadukan kayu gelap dan kain beludru, namun terasa seperti sel yang kedap suara. Di sinilah mereka menghabiskan 365 malam terakhir. Di sinilah identitas Gaby sebagai mahasiswi Oxford perlahan dikikis dan digantikan sebagai milik Melvin seutuhnya.
Melvin menurunkan Gaby perlahan di atas ranjang king size yang tertata rapi. Ia tidak langsung menjauh. Sebaliknya, ia menumpu kedua tangannya di sisi tubuh Gaby, mengurungnya dalam ruang yang sempit.
"Letakkan kelincinya, Gaby," bisik Melvin, suaranya kini terdengar lebih berat, memenuhi rungu gadis itu.
Gaby melepaskan kelinci itu yang segera berlari ke sudut ruangan. Ia bisa merasakan tatapan mata biru es Melvin menyisir wajahnya, mencari sisa-sisa pemberontakan yang mungkin masih tersisa. Setahun telah berlalu, dan di kamar ini, aroma parfum Melvin telah sepenuhnya menutupi aroma vanila miliknya.
"Kau tahu aku tidak suka berbagi perhatianmu, bahkan dengan seekor binatang sekalipun," lanjut Melvin sembari menyibakkan rambut putihnya yang jatuh ke dahi. Ia mengunci tatapan Gaby, seolah ingin memastikan bahwa di dalam dunia gadis itu, hanya ada bayangannya yang tersisa.
Ketegangan di kamar itu selalu terasa seperti bom waktu yang berdetak pelan. Di balik segala obsesi dan perlakuan posesifnya, ada satu batas suci yang secara mengejutkan belum pernah dilalui oleh Melvin Jabulani-Blackwood.
Gaby merasakannya setiap malam. Hasrat yang membara dari tubuh Melvin saat pria itu memeluknya, ciuman-ciuman yang menuntut, dan jemari yang menelusuri lekuk tubuhnya seolah sedang memahat sebuah mahakarya. Namun, Melvin selalu berhenti tepat di ambang pintu terakhir.
Bagi Gaby, ini adalah sebuah anomali yang membingungkan sekaligus menakutkan. Mengapa pria sebuas Melvin, yang mampu membunuh seorang koki hanya karena suapannya ditolak, justru menahan diri untuk tidak "merusaknya" lebih dalam?
Apakah Melvin sedang menunggu sebuah momen yang sempurna? Atau apakah bagi Melvin, kesucian Gaby adalah bagian dari "estetika" karya seni yang tidak boleh cacat sebelum waktunya?
Gaby tahu, selama ia masih memegang "mahkota" itu, ia masih memiliki sedikit kekuatan tawar.. Sebuah martabat terakhir yang belum dirampas oleh Blackwood.
Melvin meletakkan kepalanya di ceruk leher Gaby, menghirup aroma kulit gadis itu dengan napas yang berat. Gaby memejamkan mata, tubuhnya kaku, tangannya terkepal di atas sprei beludru yang dingin.
"Kau sangat tenang hari ini, Gaby," bisik Melvin, suaranya parau oleh gairah yang ia tekan sendiri. "Apa kau mulai terbiasa dengan semua ini?"
Gaby tidak menjawab. Ia tahu setiap kata, setiap tatapan, dan setiap gerakan tubuhnya bisa memicu atau memadamkan api di dalam diri Melvin. Ia harus bermain dengan sangat cantik. Jika ia melakukan satu kesalahan kecil, mungkin sebuah penolakan yang terlalu kasar atau godaan yang terlalu berani..ia takut kendali diri Melvin yang rapuh itu akan hancur berkeping-keping.
Ia harus tetap waspada. Ia harus menjaga "cap perawannya" sekuat tenaga, karena baginya, itu adalah satu-satunya jembatan yang tersisa antara dirinya yang sekarang dengan Gabriella Queensa Vanessa yang dulu dikenal oleh Emrys di London maupun Jakarta.
"Aku hanya lelah, Melvin," jawab Gaby lirih, mencoba menjaga suaranya tetap datar.
Melvin menjauhkan wajahnya sedikit, menatap mata Gaby dengan intensitas yang seolah bisa menembus tengkoraknya. Ia mengusap bibir Gaby yang bengkak karena ciumannya tadi dengan ibu jari.