"Apakah namaku adalah sinonim dari kata perpisahan? Mengapa setiap tangan yang kugenggam, selalu berakhir dengan melepaskan?"
Dina mengira pelariannya ke sebuah kota kecil akan mengakhiri teror Rama, mantan kekasihnya yang obsesif dan kasar. Di sana, ia menemukan perlindungan pada sosok Letda Adrian, seorang perwira muda yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Adrian adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa "pulang". Namun, semesta seolah enggan melihat Dina bahagia. Tugas negara memanggil Adrian ke Papua, dan ia pulang dalam peti jenazah yang terbalut bendera. Sekali lagi, Dina ditinggalkan oleh satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Setahun berlalu, namun Dina masih hidup dalam bayang-bayang nisan Adrian. Penyakit lambung kronis akibat trauma batin membawanya pindah ke Bandung demi mencari udara baru. Di sebuah rumah sakit besar, ia kembali bertemu dengan dr. Arga, Sp.PD, dokter spesialis tampan yang dulu merawatnya di masa-masa paling rapuh. Arga jatuh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA DUNIA DI RUANG PERIKSA
Di dalam ruang periksa yang masih menyisakan aroma antiseptik yang tajam, Dokter Arga menyandarkan punggungnya ke kursi kerja dengan tatapan yang masih tertuju pada pintu kayu yang baru saja tertutup di depan Dina. Ia memutar-mutar pena di jemarinya, sebuah kebiasaan saat pikirannya sedang terusik oleh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara medis. Keluhan lambung Dina yang berulang, detak jantungnya yang sering kali tak beraturan tanpa adanya kelainan organik, serta sorot matanya yang seolah menyimpan kabut abadi, membuat Arga merasa ada sebuah teka-teki besar yang gagal ia pecahkan sebagai seorang dokter spesialis. Rasa penasaran itu akhirnya tak terbendung lagi saat ia menoleh ke arah Suster Sarah yang sedang sibuk merapikan berkas pasien di sudut ruangan.
"Suster Sarah," panggil Arga dengan nada rendah, mencoba menjaga profesionalitas namun tak mampu menyembunyikan rasa ingin tahunya yang memuncak. "Sebenarnya, siapa sosok Mas Adrian yang sering Mbak Dina sebutkan itu? Sampai setahun berlalu, Mbak Dina sepertinya masih terjebak di hari yang sama, tubuhnya terus bereaksi pada kesedihan yang tak kunjung usai. Memangnya pria itu pergi ke mana sampai Mbak Dina sebegitu sulitnya melepaskan? Apa dia menikah dengan orang lain di luar sana?"
Suster Sarah menghentikan gerakannya seketika. Ia menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang sarat akan rasa hormat sekaligus kepedihan yang mendalam. Ia meletakkan tensimeter di atas meja, lalu menatap Dokter Arga dengan tatapan yang sangat serius, seolah ingin memastikan sang dokter muda memahami beratnya beban yang dipikul pasien favorit mereka itu.
"Bukan nikah sama orang lain, Dok," jawab Suster Sarah dengan suara yang nyaris berbisik, seakan takut merusak ketenangan roh yang sedang mereka bicarakan. "Mas Adrian itu tidak pergi meninggalkan Mbak Dina untuk wanita lain. Beliau itu seorang Letnan Dua, Dok. Kebanggaan kota kecil ini. Beliau gugur dalam tugas di Papua setahun yang lalu. Mas Adrian pulang ke sini dengan peti jenazah yang dibalut bendera merah putih, diiringi tembakan salvo militer yang suaranya masih terngiang di telinga seluruh warga desa sampai sekarang."
Dokter Arga tertegun, pena di tangannya nyaris terjatuh. Ia terdiam seribu bahasa, merasa sedikit menyesal telah melontarkan pertanyaan yang semula ia kira hanyalah masalah asmara biasa. Ia tidak menyangka bahwa pasien yang sering ia tegur karena kurang menjaga makan itu ternyata sedang berduka atas seorang pahlawan negara.
"Mbak Dina itu saksi matanya, Dok," lanjut Suster Sarah dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Dia yang mendampingi Mas Adrian dari saat kritis di Jakarta sampai napas terakhirnya di rumah sakit. Mereka itu sudah seperti belahan jiwa. Jadi kalau Dokter tanya kenapa lambungnya selalu sakit, itu karena rindu dan rasa kehilangannya sudah mendarah daging. Bagi Mbak Dina, Mas Adrian tidak pernah benar-benar pergi, tapi kenyataan bahwa raganya sudah di bawah tanah merah itulah yang setiap hari menghancurkan fisiknya pelan-pelan."
Mendengar penjelasan itu, Dokter Arga merasa dadanya ikut sesak. Ia kini paham mengapa obat-obatan medis yang ia berikan selama ini hanya menjadi penawar sementara. Ia menyadari bahwa tugasnya kini bukan sekadar menyembuhkan fisik Dina, melainkan membantu wanita itu untuk kembali menemukan alasan untuk hidup, tanpa harus merasa mengkhianati cinta sucinya pada sang Letnan.
Hari-hari di rumah sakit kota kecil itu terasa berjalan lebih lambat bagi Dokter Arga. Entah mengapa, setiap kali ia memeriksa daftar pasien harian, matanya secara tidak sadar selalu mencari satu nama yang selama setahun ini menjadi "langganan" tetap di ruang periksanya. Namun, kursi tunggu di depan ruangannya kini tak lagi memperlihatkan sosok wanita dengan tatapan sendu yang selalu menggenggam resep obat dengan tangan gemetar itu. Satu minggu berlalu, kemudian dua minggu, hingga genap sebulan ruangan Arga tidak lagi kedatangan "pasien favoritnya".
Arga melepaskan stetoskop dari lehernya dan menyandarkan punggung ke kursi kayu, menatap kosong ke arah pintu yang tertutup. Rasa penasaran yang awalnya hanya profesionalitas medis kini telah berubah menjadi sesuatu yang mengusik pikirannya setiap malam. Ia menoleh ke arah Suster Sarah yang sedang sibuk menyusun laporan bulanan di meja pojok.
"Suster Sarah," panggil Arga, suaranya terdengar sedikit lebih berat dari biasanya. "Mbak Dina... apa dia sudah benar-benar sembuh? Sudah lama sekali dia tidak kontrol. Apa obat lambung yang terakhir saya resepkan itu bekerja dengan sangat baik sampai dia tidak perlu kembali?"
Suster Sarah menghentikan ketikannya. Ia menatap Dokter Arga dengan tatapan yang sulit diartikan—sebuah tatapan yang seolah tahu bahwa sang dokter muda telah menyimpan perhatian lebih dari sekadar hubungan dokter dan pasien. Suster Sarah menghela napas panjang, lalu meletakkan kacamatanya di atas meja.
"Mungkin belum sembuh total secara fisik, Dok. Tapi Mbak Dina sudah memutuskan untuk melangkah," jawab Suster Sarah pelan. "Dua hari yang lalu dia datang ke sini, tapi bukan untuk periksa. Dia cuma titip salam buat Dokter Arga dan pamit. Mbak Dina pindah kerja, Dok. Dia keluar dari kantor logistik di sini. Katanya, mungkin dengan menjauh dari suasana kota kecil ini, dia bisa benar-benar menyembuhkan hatinya yang selama ini tertinggal di makam Mas Adrian."
Arga tersentak. Ada rasa kehilangan yang tiba-tiba menyeruak di dadanya, sebuah perasaan yang seharusnya tidak dimiliki oleh seorang dokter terhadap pasiennya. "Pindah? Ke mana, Suster? Apa dia kembali ke Jakarta atau ke tempat lain?" tanya Arga bertubi-tubi, suaranya sedikit meninggi karena rasa khawatir yang tak terbendung.
Suster Sarah menggeleng lemah. "Saya tidak tahu pasti, Dok. Dia hanya bilang ingin mencari udara baru yang tidak mengingatkannya pada bau tanah merah dan seragam loreng setiap hari. Dia ingin belajar berdiri di atas kakinya sendiri tanpa harus terus-terusan dikasihani sebagai 'janda' pahlawan oleh warga desa."
Keheningan yang menyesakkan menyelimuti ruangan itu sejenak. Arga terdiam, meratapi kenyataan bahwa satu-satunya wanita yang berhasil menarik perhatiannya justru pergi tepat saat ia mulai ingin mengenalnya lebih jauh.
Keheningan di ruang periksa itu terasa semakin pekat, hanya diiringi detak jam dinding yang seolah menghitung sisa waktu masa bakti Dokter Arga di kota kecil ini. Suster Sarah menatap dokter muda itu dengan senyum tipis yang penuh arti, seolah ia bisa membaca gejolak tersembunyi di balik jas putih yang dikenakan Arga.
"Lagipula, Dok..." Suster Sarah melanjutkan kalimatnya, suaranya merendah namun memberikan penekanan yang dalam, "Bukankah bulan depan masa bakti Dokter di rumah sakit ini juga selesai? Dokter juga akan kembali ke Bandung, kan? Menjadi dokter spesialis penyakit dalam di sana, meneruskan praktik yang jauh lebih besar."
Arga tertegun, ia tidak menyangka Suster Sarah begitu memperhatikan jadwal kepindahannya. Ia hanya mengangguk pelan, mengakui rencana masa depannya yang sudah tertata rapi sejak ia lulus dari universitas ternama.
"Iya, Sus. Orang tua saya sudah meminta saya pulang. Mereka ingin saya segera bergabung di rumah sakit pusat di Bandung," jawab Arga singkat.
Suster Sarah terkekeh kecil, sebuah tawa yang sarat akan kekaguman. "Itu keren sekali, Dok. Bayangkan, Dokter Arga akan bertugas di rumah sakit yang sama dengan kedua orang tua Dokter yang juga dokter hebat di sana. Sebuah keluarga dokter spesialis di satu atap rumah sakit besar... itu benar-benar impian banyak orang. Dokter punya segalanya: karier yang mapan, keluarga yang terpandang, dan masa depan yang sangat cerah di kota besar."
Suster Sarah berhenti sejenak, lalu menatap pintu ruangan yang tadi dilewati bayangan Dina dalam ingatannya. "Tapi bagi Mbak Dina, kota besar seperti Jakarta atau Bandung mungkin justru terasa menakutkan. Dia pergi bukan untuk mencari kemewahan atau karier yang lebih hebat, Dok. Dia pergi hanya untuk mencari tempat di mana dia bisa bernapas tanpa harus merasa sesak setiap kali melihat seragam loreng atau mendengar suara tembakan salvo dalam mimpinya."
Kata-kata Suster Sarah seolah menjadi kontras yang tajam bagi Arga. Di satu sisi, ada dirinya yang memiliki jalan hidup yang mulus, didukung oleh orang tua yang satu profesi di rumah sakit yang sama, sebuah dinasti medis yang kokoh di Bandung. Di sisi lain, ada Dina, seorang wanita yang harus berjuang sendirian melawan trauma, berpindah dari satu kota ke kota lain hanya untuk menjahit kembali kepingan hatinya yang hancur karena kehilangan sang Letnan.
Arga merapikan stetoskopnya dengan gerakan yang lambat. Ia merasa keberhasilannya dan latar belakang keluarganya yang hebat di Bandung tiba-tiba terasa hambar jika dibandingkan dengan ketegaran jiwa Dina. Ia menyadari bahwa meskipun ia adalah dokter spesialis penyakit dalam yang hebat, ada jenis "penyakit" di dalam hati Dina yang tidak bisa ia sembuhkan hanya dengan peralatan medis canggih di rumah sakit milik orang tuanya.
"Dunia kami memang berbeda jauh, ya Sus?" gumam Arga hampir tidak terdengar.
"Tergantung, Dok," jawab Suster Sarah sambil beranjak dari kursinya. "Tergantung apakah Dokter ingin tetap berada di rumah sakit besar itu, atau sesekali ingin mencari pasien 'favorit' Dokter yang mungkin sekarang sedang berada di sudut pelabuhan atau bandara di kota lain, mencoba menjadi pengawal bagi hidupnya sendiri."
Malam itu, saat Arga membereskan berkas-berkasnya untuk persiapan pindah ke Bandung, ia terus terbayang pada tatapan kosong Dina. Ia tahu, di Bandung nanti, ia akan dikelilingi oleh kemewahan dan fasilitas medis terbaik, namun ia sangsi apakah ia bisa menemukan lagi pasien yang mampu menggetarkan nuraninya sedalam wanita pembawa duka dari kota kecil ini.
-gagal move on
-Penjelajah waktu, hidup di zaman ajaib