"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.
Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.
Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Mobil SUV hitam milik Bintang membelah kesunyian malam Jakarta yang mulai ditinggalkan keramaian gala tahun baru. Di dalam kabin yang sejuk, Afisa menyandarkan kepalanya, menatap pendar lampu jalanan yang berlarian di kaca jendela.
"Senang?" tanya Bintang lembut, tangannya masih setia menggenggam jemari Afisa di atas tuas transmisi.
Afisa menoleh, senyumnya belum luntur. "Banget, Bin. Terima kasih ya. Makan malamnya, keluargamu, dan berita Citra tadi... rasanya tahun depan bakal seru."
"Aku juga senang kalau kamu senang, Fis," balas Bintang. Ia membelokkan mobil memasuki pelataran apartemen mewah tempat Afisa tinggal. "Tapi ada satu hal yang belum kamu jawab dari tadi sore."
Jantung Afisa berdesir. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. Bintang mematikan mesin mobil, membuat suasana mendadak hening, hanya menyisakan suara detak jam di dashboard.
"Fis, tahun 2021 sebentar lagi habis. Aku nggak mau kita masuk ke tahun 2022 dengan status yang sama," Bintang memutar tubuhnya menghadap Afisa, tatapannya dalam dan penuh kesungguhan. "Aku tahu kamu masih takut. Aku tahu trauma itu nggak hilang dalam semalam. Tapi, apa empat tahun ini belum cukup membuktikan kalau aku bukan Guntur?"
Afisa menunduk, memainkan ujung blazer navy-nya. Kalimat Bintang menghujam tepat di ulu hati. Ia teringat bagaimana Bintang selalu ada saat ia lembur hingga subuh, bagaimana pria itu membawakannya kopi saat ia kalah sidang, dan bagaimana sabarnya Bintang menghadapi sikap defensifnya.
"Bin, aku cuma takut... kalau nanti kita sudah terikat, kamu bakal lihat sisi membosankanku. Aku takut kamu bakal pergi saat aku mulai sangat bergantung padamu," bisik Afisa jujur.
Bintang meraih dagu Afisa, memaksanya untuk menatap mata cokelat gelapnya. "Fis, dengar. Dalam medis, ekuilibrium itu tentang keseimbangan. Dan di hidupku, kamu adalah titik keseimbangan itu. Aku nggak butuh kamu jadi sempurna. Aku cuma butuh kamu di sini, di sampingku. Masalah bosan atau tidak, itu keputusan, bukan perasaan. Dan aku sudah memutuskan untuk tidak pernah pergi."
Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat. Afisa bisa merasakan ketulusan yang merembes dari setiap kata yang diucapkan Bintang. Perlahan, tembok pertahanan yang ia bangun selama bertahun-tahun retak juga.
"Bin"
"ya sayang"
" kamu serius nglamar aku di dalam mobil gini?,maksudku nggak ada tempat romantis lagi dokter bintang "
Bintang tertegun sejenak, lalu tawa renyah pecah dari bibirnya. Ia menyandarkan punggung ke jok mobil, menatap Afisa dengan gelengan kepala heran namun penuh kasih.
"Astaga, Afisa Anjani, S.H. Logika hukummu memang nggak pernah libur, ya?" Bintang tertawa sambil mengacak rambutnya sendiri. "Tadi di restoran bintang lima dengan city light Jakarta, kamu tolak. Sekarang di parkiran apartemen yang cuma diterangi lampu neon, kamu malah minta sisi romantis?"
Afisa melipat tangan di dada, mencoba menahan senyum kemenangannya. "Ya, setidaknya dokter yang katanya paling teliti di IGD ini punya rencana cadangan selain parkiran, kan?"
Bintang tersenyum misterius. Ia merogoh laci dashboard dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Bukan kotak beludru biru tadi, melainkan sebuah kotak kayu kecil berukir bunga matahari—bunga favorit Afisa.
"Aku sudah tahu kamu bakal protes," Bintang membuka kotak itu. Di dalamnya bukan cincin baru, melainkan sebuah kunci dengan gantungan bertuliskan 'Our Safe House'.
"Ini apa, Bin?"
"Ini kunci unit apartemen baru yang cicilannya baru aku lunasin bulan lalu. Lokasinya tepat di tengah-tengah antara kantormu dan rumah sakit tempatku dinas. Aku nggak butuh makan malam mewah lagi untuk membuktikan keseriusanku, Fis. Aku butuh rumah di mana aku bisa melihatmu setiap kali aku pulang bertugas. Tanpa tapi, tanpa nanti."
Bintang menatap Afisa lurus-lurus. "Jadi, Associate Afisa, apakah 'klausul' rumah tangga ini bisa kita tandatangani sekarang? Tanpa harus nunggu aku berlutut di tengah aspal parkiran?"
Afisa tertegun. Matanya mulai berkaca-kaca melihat kunci di tangan Bintang. Kunci itu bukan sekadar benda logam, tapi simbol bahwa Bintang benar-benar sudah merencanakan masa depan mereka hingga ke detail terkecil.
"Bin..." Afisa akhirnya meraih kunci itu, jari-jarinya bersentuhan dengan tangan Bintang yang hangat. "Oke. Kali ini aku nggak akan mengajukan keberatan."
Bintang tersenyum sangat lebar, seolah baru saja memenangkan lotre paling berharga di dunia. Ia menarik Afisa ke dalam pelukannya, menghirup aroma parfum wanita itu yang bercampur dengan aroma mobil yang sejuk.
"Terima kasih, Fis. Januari 2022 akan jadi awal yang baru buat kita."
Afisa membalas pelukan itu dengan erat.