Zayna Almeera adalah badai yang dipaksa berhenti di sebuah desa tenang. Terbiasa dengan gemerlap kota, ia merasa dunianya runtuh saat harus menukar kehidupan mewahnya dengan ubin pesantren yang dingin. Ia datang membawa duri, siap menusuk siapa pun yang mencoba menjinakkan kebebasannya.
Di sana, ia bertemu Gus Haidar. Pemuda itu seperti telaga luas yang tak terusik; bicaranya tenang, tatapannya terjaga, dan dunianya hanya berisi pengabdian. Bagi Zayna, Haidar adalah teka-teki silang yang menyebalkan. Namun bagi Haidar, Zayna adalah kebisingan yang tiba-tiba membuat kesunyiannya terasa lebih lengkap.
Antara keras kepalanya Zayna dan sabarnya Haidar, ada sebuah cerita tentang bagaimana rasa pahit harus dibiarkan mengendap agar manisnya bisa dinikmati. Zayna ingin lari, tapi hatinya justru perlahan tertambat pada ketenangan yang tak pernah ia temukan di riuhnya kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kursus singkat menjadi "khodijah"
Zayna Almeera punya misi baru. Setelah tahu bahwa dirinya adalah "Janji Lama" yang selama ini dijaga Gus Haidar, gengsi Zayna mendadak berubah menjadi rasa ingin tahu. Jika Haidar sudah menjaganya dalam doa selama puluhan tahun, maka Zayna merasa harus membalasnya dengan menjadi santriwati yang "agak bener".
"Zoy, gimana caranya biar bisa masak sayur lodeh yang rasanya nggak kayak air sabun?" tanya Zayna di dapur pesantren. Ia mengenakan celemek di atas gamisnya, tangannya memegang ulekan seperti memegang senjata perang.
Zoya tertawa sampai memegangi perut. "Mbak Zay, masak itu pakai perasaan, bukan pakai emosi. Bawangnya jangan dipelototin gitu, nanti dia pahit."
"Aku pengen kasih kejutan buat Gus Haidar, Zoy. Masa calon istrinya cuma bisa pesan ojek online doang? Kan malu-maluin kasta per-istri-an!"
Siang itu, Zayna datang ke kantor madrasah membawa rantang susun. Ia berjalan dengan sangat anggun—setidaknya menurut versinya—meski beberapa kali tersandung ujung gamisnya sendiri.
Gus Haidar sedang mengoreksi tumpukan kertas santri. Ia mendongak, dan kali ini ia tidak segera menunduk. Ia menatap Zayna yang datang dengan wajah penuh noda kunyit di pipi kiri.
"Gus," panggil Zayna dengan suara yang diseret-seret agar terdengar lembut. "Saya bawakan makan siang. Ini masakan saya sendiri. Tanpa bantuan jin, murni tenaga manusia kota."
Haidar meletakkan pulpennya. Ia menatap pipi Zayna, lalu tersenyum tipis. "Mbak Zayna... ada 'emas' di pipi Mbak."
"Hah? Emas?" Zayna meraba pipinya. "Oh! Ini kunyit, Gus! Tadi saya duel sama bumbu dapur buat bikin lodeh ini."
Zayna membuka rantangnya. Aroma yang keluar sebenarnya cukup menjanjikan, meski warnanya sedikit terlalu kuning mencolok. Haidar mencicipi sesendok kecil dengan sangat hati-hati.
Zayna menunggu dengan napas tertahan. "Gimana, Gus? Udah pantas jadi menantu Ibu Nyai belum?"
Haidar terdiam lama, mengunyah perlahan, lalu meminum air putih dengan cepat. "Rasanya... sangat 'berani', Mbak."
"Berani gimana?"
"Berani asinnya, berani kunyitnya, dan sepertinya Mbak lupa membuang batang serainya," ucap Haidar sambil meletakkan sendok. Ia menatap Zayna dengan pandangan yang kini jauh lebih hangat. "Tapi bagi saya, ini adalah masakan paling jujur yang pernah saya makan. Terima kasih, Zayna."
Zayna cemberut, lalu ikut mencicipi. "Huek! Asin banget! Gus, kenapa dimakan? Harusnya Gus buang aja!"
"Jangan," cegah Haidar saat Zayna ingin menarik rantangnya. "Sesuatu yang dibuat dengan niat baik tidak boleh disia-siakan. Saya akan menghabiskannya, meski setelah ini saya mungkin harus minum air satu galon."
Zayna tertegun. Ia duduk di kursi depan meja Haidar. "Gus, kenapa sih Gus baik banget? Padahal saya dulu nakal banget, sering jahilin Gus."
Haidar menatap tumpukan kitabnya, lalu kembali pada Zayna. "Karena sejak saya tahu kamu adalah orangnya, saya sudah belajar untuk menerima segala kurangmu. Cinta itu bukan tentang mencari yang sempurna, Zayna. Tapi tentang bagaimana dua orang yang tidak sempurna saling membangun surga dalam kekurangan masing-masing."
Zayna merasakan pipinya kembali memanas. "Gus jangan puitis terus dong! Saya jadi susah mau nakal lagi."
"Memang itu tujuannya," jawab Haidar singkat dengan senyum kemenangan.
"Zayna keluar dari kantor dengan langkah ringan, meski hatinya terasa penuh. Ia menyadari bahwa menjadi 'istri idaman' bukan berarti harus pintar masak dalam semalam, tapi tentang kemauan untuk mencoba. Sementara itu, di dalam kantor, Haidar benar-benar menghabiskan lodeh asin itu hingga tetes terakhir, karena baginya, rasa asin itu adalah rasa perjuangan Zayna untuknya."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
dari sekian banyaknya novel yg aku baca Cuma In yg Membuat Aku pangling Dan kagum Banget dengan Stiap Untaian katanya, Aplgi sangat Puitis banget
yg Lainnya Nanti Dluu hehehehhe,
yang Lain Tentang Apa Thor Law tentang percintaan Aku mau baca 🤭🤭🤭?
udah banyak Up Hari in
Pdhal aku bruu sja mendapatkan kesenangan Mlah Di BKIN Tak Karuan lgii
sring2 yaa Thor up 3 bab Biar Aku tambah smngat Bacanya
bercanda Thor mksih Thor Udah BKIN Novel SE kece In, Smangat Thor up nya law bisa 3 bab pun gpp