"Cintai aku sekali lagi."
(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)
---
"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Bima Ego
...GAMON...
...Bab 16: Bima Ego...
...POV Bima & Rina...
---
Dua Minggu Sejak Keana Datang ke Kantor
Tiga Bulan Bima dan Rina Resmi Bersama
Dari luar, semuanya sempurna.
Bima makin moncer di kantor. Presentasi demi presentasi sukses. Atasan mulai kasih proyek lebih besar. Rina selalu ada di sampingnya—masakin, dengerin cerita, jadi tempat pulang.
Tapi di dalam, ada sesuatu yang mulai berubah.
Bukan cinta. Bukan juga luka lama. Tapi ego.
Ego yang selama ini dia pendam. Ego yang tumbuh dari tahun-tahun direndahkan. Ego yang bilang: "Lo udah cukup lama jadi korban. Sekarang saatnya lo yang di atas."
Masalahnya, ego itu mulai merembes ke mana-mana. Termasuk ke Rina.
---
Jumat Malam – Apartemen Rina
Mereka habis makan. Rina lagi bersih-bersih meja. Bima di sofa, main ponsel.
"Bim, tolong angkat piringnya dong." Rina dari dapur.
"Bentar."
Lima menit. Sepuluh menit. Rina keluar dari dapur, lihat piring masih di meja, Bima masih main ponsel.
"Bim, piringnya."
Bima angkat muka. Ada sesuatu di matanya—sesuatu yang Rina nggak biasa lihat.
"Lo sibuk banget sih nyuruh-nyuruh?"
Rina kaget. "Apa?"
"Gue capek, Rin. Seharian kerja. Pas sampe sini, lo langsung nyuruh angkat piring. Nggak ada 'capek, sayang?' atau 'makasih udah dateng'?"
Rina diem. Matanya melek lebar.
"Bim, lo serius?"
Bima diem. Sadar omongannya kelewatan. Tapi egonya nggak mau kalah.
"Gue cuma bilang—"
"Gue denger." Rina potong. Suaranya datar. Tapi dadanya naik turun. "Gue denger banget."
Dia balik ke dapur. Lanjut bersihin. Bima di sofa, nggak bergerak.
---
Malam Itu – Sepi
Mereka tidur. Tapi nggak saling nyender kayak biasa. Ada jarak. Tipis. Tapi nyata.
Bima tahu dia salah. Tapi minta maaf rasanya berat. Entah kenapa.
Kenapa gue jadi kayak gini?
Dia nggak tahu jawabannya.
---
Sabtu Pagi – Sarapan Hening
Rina masak. Bima makan. Nggak ada obrolan. Hanya suara sendok dan piring.
Rina yang buka suara duluan.
"Bim."
"Hmm?"
"Lo marah sama gue?"
Bima kaget. "Nggak."
"Lo kesel sama gue?"
"Nggak."
"Terus kenapa semalem lo ngomong kayak gitu?"
Bima diem. Susah jelasin sesuatu yang dia sendiri nggak paham.
"Gue... gue nggak tahu, Rin."
Rina taruh sendok. Tatap dia.
"Bim, gue nggak akan marah kalau lo jujur. Tapi kalau lo diem kayak gini, gue cuma bisa mikir yang aneh-aneh."
Bima tatap dia. Di mata Rina, ada sesuatu yang belum pernah dia lihat: ragu.
"Lo ragu sama gue?" tanyanya.
Rina geleng pelan.
"Gue nggak ragu sama lo. Tapi gue ragu sama diri gue sendiri. Apa gue yang salah? Apa gue terlalu banyak nuntut? Apa gue bikin lo nggak nyaman?"
Bima diem. Dadanya panas.
"Lo nggak salah, Rin."
"Terus kenapa lo kayak orang lain akhir-akhir ini?"
Pertanyaan itu. Nusuk.
Bima nggak bisa jawab.
---
Minggu – Bima Sendirian
Rina ada acara keluarga. Bima di kost. Sendirian. Pikirannya kacau.
Dia ingat omongannya semalem. Kasar. Nggak seperti dia.
Dia ingat mata Rina pagi tadi. Ragu. Sakit.
Kenapa gue jadi kayak gini?
Dia buka buku catatan lama. Halaman-halaman penuh perjuangan. Penuh tekad buat bangkit. Penuh janji buat jadi lebih baik.
Tapi janji itu buat siapa? Buat dirinya sendiri? Atau buat buktiin ke orang lain?
Dia ingat kata-kata Doni beberapa bulan lalu: "Lo berubah karena dendam. Itu nggak salah. Tapi kalau lo nggak belajar mencintai diri lo sendiri, semua perubahan itu nggak akan cukup."
Sekarang dia mulai paham.
Dia berubah. Tapi dia lupa satu hal: berubah bukan berarti jadi sombong. Berubah bukan berarti jadi dingin. Berubah bukan berarti ngerasa paling benar.
Dia ambil ponsel. Ngetik pesan buat Rina.
Bima: "Rin, gue minta maaf. Bukan buat semalem aja. Tapi buat semuanya. Gue jadi orang yang nggak gue kenal akhir-akhir ini. Dan lo... lo nggak pantas dapet yang kayak gini."
Dikirim.
Dia tunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Nggak ada balasan.
Dia telepon. Nggak diangkat.
Dia telepon lagi. Masih nggak diangkat.
Dadanya mulai panik.
---
Malam – Rina Datang
Pintu kost diketuk. Bima buka. Rina berdiri di luar. Wajahnya datar. Nggak marah. Nggak sedih. Tapi datar.
"Bisa ngomong?"
Bima minggir. Rina masuk. Duduk di kursi—kursi yang sama pas dia dateng jam 11 malam dulu.
Bima duduk di kasur. Berhadapan.
Rina mulai. Suaranya pelan. Terkontrol. Tapi ada getar di ujungnya.
"Bim, gue mau tanya sesuatu. Jujur."
Bima angguk. Siap.
"Lo masih sayang gue?"
Bima kaget. "Rin—"
"Jawab dulu."
"Iya. Gue masih sayang lo. Banget."
Rina tatap dia. Matanya nyari sesuatu.
"Terus kenapa lo jadi dingin? Kenapa lo jadi gampang marah? Kenapa lo jadi... orang lain?"
Bima diem. Susah.
"Gue... gue nggak tahu, Rin."
"Lo tahu. Lo cuma nggak mau ngaku."
Bima angkat muka. Matanya mulai basah.
"Gue takut, Rin."
Rina menunggu.
"Gue takut kalau gue lemah, gue bakal balik ke titik nol. Gue takut kalau gue nunjukin kerentanan, gue bakal direndahin lagi. Gue takut... gue kehilangan lo."
Rina diem. Napasnya pelan.
"Lo tahu nggak, Bim? Lo nggak akan kehilangan gue karena lo lemah. Lo akan kehilangan gue karena lo jadi sombong."
Bima tersentak.
"Gue nggak—"
"Iya. Lo sombong." Rina potong. Suaranya naik dikit. "Lo lupa kalau lo juga bisa salah. Lo lupa kalau lo juga butuh orang lain. Lo lupa kalau cinta itu bukan tentang siapa yang paling hebat, tapi tentang siapa yang paling tulus."
Diam.
"Gue sayang lo, Bim. Tapi gue nggak akan bertahan kalau lo terus kayak gini."
Bima nggak bisa ngomong. Kata-kata Rina nusuk dalem.
Rina berdiri. Mau pergi.
"Rin."
Dia berhenti. Nggak balik.
"Gue minta maaf."
Rina diem.
"Beneran. Gue minta maaf. Bukan cuma buat nyenengin lo. Tapi buat semuanya. Gue... gue nggak mau kehilangan lo."
Rina balik. Tatap dia. Matanya juga basah.
"Lo tahu, Bim. Gue nggak minta lo sempurna. Gue cuma minta lo jadi Bima yang gue kenal. Yang hangat. Yang rendah hati. Yang nggak malu buat minta tolong atau ngaku salah."
Bima berdiri. Jalan mendekat.
"Gue janji. Gue akan coba. Beneran."
Rina tatap dia. Lama.
Lalu dia maju. Peluk Bima.
Bima peluk balik. Erat.
"Gue sayang lo, Bim. Tapi tolong... jangan bikin gue ngerasa sendiri di samping lo."
"Gue janji, Rin. Gue janji."
---
Malam Itu – Bima Nulis Lagi
Di buku catatan, halaman baru.
---
Hari ini Rina ngompolin gue. Beneran. Dia bilang gue sombong. Dan dia bener.
Gue lupa. Di tengah semua pencapaian, gue lupa dari mana gue datang. Gue lupa kalau gue juga manusia. Bisa salah. Bisa jatuh. Butuh orang lain.
Rina ngingetin gue. Dengan cara yang sakit. Tapi perlu.
Makasih, Rin. Lo nggak hanya nerima gue. Lo juga ngelurusin gue kalau mulai bengkok.
Gue janji. Nggak akan sombong lagi. Nggak akan bikin lo ngerasa sendiri.
Karena lo... lo rumah gue.
---
Dia tutup buku. Matikan lampu.
Di sampingnya, Rina tidur. Tangannya masih megang lengan Bima.
Bima tatap wajahnya. Damai.
Dan di situ, dia berjanji dalam hati: nggak akan sia-siain ini.
---
Bersambung ke Bab 17: Keana Pindah Kota
---
...📝 Preview Bab 17:...
Keana ambil keputusan besar. Jakarta udah terlalu penuh kenangan. Dia butuh tempat baru. Udara baru. Hidup baru.
Dia apply kerja di luar kota. Dan diterima.
Maya nangis. Keana juga. Tapi ini yang terbaik.
Bab 17: Keana Pindah Kota—segera!
---