“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”
Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.
— Cinta Ribuan Duri —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Jarak yang Tak Terucap
Pagi pertama Ardila di rumah barunya terasa asing, ia membuka mata perlahan dan menatap langit-langit kamar yang masih terasa begitu tidak familiar baginya. Cahaya matahari masuk dari sela tirai jendela, menerangi ruangan yang luas namun terasa sangat sepi.
Ardila duduk di tepi tempat tidur sambil merapikan rambutnya, ia menoleh ke sisi lain ranjang yang masih kosong dan rapi, tidak ada tanda-tanda bahwa Rafa pernah kembali ke kamar itu malam tadi.
Ardila menghela napas pelan, ia bangkit dari tempat tidur lalu berjalan menuju jendela besar di sudut kamar. Dari sana ia bisa melihat halaman rumah yang luas dengan taman yang tertata rapi.
Ardila berdiri di sana beberapa saat, ia memandang ke luar jendela dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Ini adalah rumah suaminya.
Namun entah mengapa ia masih merasa seperti seorang tamu. Beberapa saat kemudian Ardila memutuskan untuk mandi dan bersiap. Ia memilih mengenakan pakaian sederhana sebelum akhirnya turun ke lantai bawah.
Ruang makan sudah terlihat ramai. Pak Andreo duduk di kursi utama sambil membaca berita di ponselnya, sementara istrinya duduk di sebelahnya dengan secangkir teh hangat di tangan.
Ketika melihat Ardila datang, wanita itu langsung menoleh. “Oh, kamu sudah bangun.”
Ardila menunduk sopan. “Selamat pagi, Pa… Ma.”
Pak Andreo mengangguk singkat.
“Pagi.”
Ardila duduk di kursi yang kosong di ujung meja, seorang pelayan segera meletakkan sarapan di depannya. Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Ardila kemudian memberanikan diri bertanya, “Mas Rafa belum pulang?”
Ibu Rafa meletakkan cangkir tehnya.
“Dia sudah berangkat ke kantor lebih pagi.”
Ardila sedikit terkejut.
“Oh… begitu.”
Ia tidak menyangka Rafa bahkan tidak kembali ke kamar setelah pergi semalam. Namun Ardila berusaha tidak memikirkannya terlalu jauh.
Sarapan pagi itu terasa cukup canggung. Tidak banyak percakapan yang terjadi, hanya suara sendok dan piring yang sesekali terdengar di meja makan. Setelah beberapa saat, Pak Andreo akhirnya berbicara.
“Ardila.” Ardila menoleh.
“Iya, Pa?”
“Kamu masih bekerja di perusahaan ayahmu, bukan?” Ardila mengangguk.
“Iya, Pa.”
Pak Andreo menyandarkan tubuhnya di kursi.
“Itu bagus.”
Ardila tidak langsung mengerti maksudnya, ia hanya menunggu pria itu melanjutkan perkataannya. “Kamu harus bekerja dengan lebih serius sekarang.”
Ardila sedikit bingung. “Maksud Pa?”
Ibu Rafa ikut berbicara, ia menatap Ardila dengan ekspresi yang terlihat cukup serius.
“Sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini, tentu saja ada tanggung jawab yang harus kamu jalankan.”
Ardila menatap mereka dengan perasaan ragu.
“Tanggung jawab?”
Pak Andreo mengangguk pelan. “Kamu bekerja di perusahaan besar milik keluargamu, penghasilanmu pasti tidak sedikit.”
Kalimat itu membuat Ardila semakin tidak mengerti arah pembicaraan mereka. Namun pria itu melanjutkan dengan nada yang tenang.
“Mulai sekarang kamu harus membantu keluarga ini juga.” Ardila terdiam.
Ibu Rafa menyilangkan tangannya di atas meja. “Kami tidak meminta hal yang berlebihan, kamu hanya perlu memberikan sebagian penghasilanmu kepada keluarga.”
Ardila menatap mereka dengan mata yang sedikit membesar. Ia tidak pernah memikirkan hal seperti itu sebelumnya.
“Tapi…” Ardila mencoba berbicara dengan hati-hati, “penghasilan itu biasanya aku gunakan untuk kebutuhan pribadi dan membantu Papa Mama juga.”
Pak Andreo menghela napas pendek. “Kami tidak melarangmu membantu orang tuamu.”
Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.“Tapi sekarang kamu sudah menikah dengan Rafa, jadi sudah seharusnya kamu juga memikirkan keluarga suamimu.”
Ardila menunduk pelan. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Suasana meja makan tiba-tiba terasa berat. Ibu Rafa kemudian berkata dengan nada yang lebih tegas.
“Kami hanya ingin kamu bekerja dengan giat dan tidak bersikap santai. Kamu harus memberikan kontribusi untuk keluarga ini.”
Ardila menggenggam ujung bajunya dengan pelan. Ia tidak pernah membayangkan percakapan seperti ini akan terjadi di pagi pertamanya sebagai menantu di rumah ini.
Namun Ardila mencoba tetap bersikap sopan.“Baik, Ma… aku akan berusaha.”
Pak Andreo terlihat cukup puas dengan jawaban itu. “Bagus.”
Sarapan pun berakhir tidak lama setelah itu. Ardila berdiri dari kursinya lalu berpamitan untuk bersiap pergi ke kantor.
Ia berjalan menuju pintu rumah dengan langkah pelan. Di dalam hatinya, berbagai perasaan bercampur menjadi satu.
Pagi itu terasa jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Beberapa saat kemudian mobil Ardila melaju meninggalkan rumah besar itu menuju kantor tempat ia bekerja.
Sepanjang perjalanan, pikirannya terus memikirkan percakapan di meja makan tadi.Ia tidak tahu harus menganggapnya sebagai hal yang wajar atau sesuatu yang aneh.
Namun satu hal yang pasti, semuanya terasa berbeda sejak ia menikah.Hari itu Ardila kembali menjalani rutinitasnya di kantor.
Ia duduk di mejanya sambil memeriksa beberapa dokumen seperti biasa, mencoba menenggelamkan pikirannya dalam pekerjaan.
Beberapa rekan kerja sempat mengucapkan selamat atas pernikahannya. Ardila hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
Namun di dalam hatinya ia tidak benar-benar merasa bahagia.
Sore hari akhirnya tiba.
Ardila pulang dengan tubuh yang terasa lelah.
Ketika mobilnya kembali memasuki halaman rumah Rafa, langit sudah mulai gelap.
Rumah itu terlihat sama tenangnya seperti pagi tadi. Ardila masuk ke dalam rumah lalu berjalan menuju kamarnya.
Ia membuka pintu kamar perlahan. Ruangan itu masih terlihat sama seperti semalam.
Sepi.
Rafa belum kembali.
Ardila duduk di tepi tempat tidur sambil melepaskan sepatu kerjanya, ia memandang ke luar jendela kamar dengan perasaan hampa. Pernikahannya baru berjalan satu hari.
Namun jarak antara dirinya dan Rafa terasa sangat jauh. Tidak ada percakapan hangat.
Tidak ada kebersamaan.
Hanya keheningan yang memenuhi ruangan itu. Malam semakin larut. Rafa belum juga kembali. Dan seperti malam sebelumnya, Ardila kembali tertidur sendirian di kamar itu.