NovelToon NovelToon
My Possessiv Damian

My Possessiv Damian

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!

Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18

Di ruangan VIP Legacy, Valerie tampak tertawa lepas, menikmati kebersamaannya dengan Aiden dan anggota lainnya. Mereka bernyanyi, melakukan toast dengan gelas wine di tangan, dan bercanda ria layaknya reuni mahasiswa pada umumnya.

Namun, rasa ingin ke kamar kecil membuatnya harus memisahkan diri sejenak. Ia memberi isyarat pada Aiden yang sedang asyik mengobrol.

Aiden sempat menawarkan diri untuk mengantarnya, namun Valerie menolak halus dengan senyum manis. "Tidak usah, Aiden. Aku tidak akan lama, kok," ucapnya yang langsung diiyakan oleh kekasihnya itu.

Valerie berjalan menyusuri lorong klub yang mulai agak sepi menuju area toilet. Tiba-tiba, ponsel di tas kecilnya bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk muncul di layar. Saat ia mengintip, jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat melihat nama kontak "Pria Gila" terpampang di sana.

Pesan itu singkat namun mengintimidasi: "Di mana kau sekarang?"

Valerie terdiam sejenak di tengah lorong yang remang-remang itu. Ia berpikir keras, haruskah ia membalasnya atau mengabaikannya saja? Dengan jemari yang sedikit gemetar namun penuh keberanian, ia memutuskan untuk membalas dengan sebuah kebohongan besar.

"Aku sudah berada di penthouse. Aku sedang beristirahat," ketik Valerie lalu menekan tombol kirim.

Ia menarik napas panjang, berpikir bahwa Damian tidak akan mungkin tahu kebenarannya. Ia yakin pria itu pasti akan pulang larut malam seperti kemarin, memberikan Valerie cukup waktu untuk bersenang-senang sebelum kembali ke "sangkar" tersebut.

Kebohongan Valerie telah dikirim, namun ia tidak tahu bahwa sang penerima pesan hanya berjarak beberapa meter darinya!

Valerie melangkah keluar dari area toilet dengan perasaan yang sedikit lebih tenang. Ia merapikan gaunnya sejenak, lalu mulai berjalan santai menyusuri lorong remang-remang itu untuk kembali ke ruangan VIP Legacy. Namun, baru beberapa langkah, tubuhnya mendadak kaku.

Matanya menangkap sosok pria berbadan tegap dengan setelan hitam yang sangat ia kenali—pria yang kemarin terlibat dalam penculikannya. Astaga, itu bukannya anak buah Damian? Sedang apa dia di sini? Apa jangan-jangan Damian juga ada di sini? batinnya mulai diliputi kecemasan yang hebat.

Panik, Valerie segera memundurkan langkahnya dan merapatkan tubuh di balik sebuah pilar besar yang cukup gelap. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dada.

Ia mengintip sedikit, melihat pria itu berjalan perlahan ke arah posisinya. Valerie menahan napas, berusaha mengecilkan eksistensinya agar tidak terlihat.

Namun, tepat saat ia merasa sudah cukup aman bersembunyi, sebuah telapak tangan yang besar dan hangat mendarat di pundaknya dari arah belakang.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Penipu Kecil?" sebuah suara berat dan dingin berbisik tepat di dekat telinganya.

Valerie tersentak hebat, tubuhnya gemetar seketika. Ia perlahan menoleh ke belakang dengan gerakan kaku. Suaranya seolah tercekat di tenggorokan saat melihat Damian sudah berdiri tegak di belakangnya.

Pria itu menatapnya dengan tatapan predator yang telah menemukan mangsanya, sementara jemarinya sedikit meremas pundak Valerie—sebuah cengkeraman yang posesif sekaligus memperingatkan.

"Tadi kau bilang sudah ada di penthouse dan sedang beristirahat, bukan?" tanya Damian dengan nada datar yang mengerikan, sambil menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan pesan bohong dari Valerie beberapa menit lalu.

Valerie menelan ludah, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Perlahan ia menegakkan tubuhnya, memasang senyum canggung yang terlihat seperti seringaian gugup.

"O-oh... hai, Damian. Kebetulan sekali, kau juga ada di sini ya?" tanyanya, berusaha berpura-pura terkejut yang natural.

Namun, Damian tidak membalas basa-basi itu. Tatapannya justru semakin tajam dan mengintimidasi.

Ia melangkah maju satu demi satu, memaksa Valerie mundur perlahan hingga punggung gadis itu membentur dinding dingin di belakangnya.

Tanpa membuang waktu, Damian meletakkan kedua tangannya di sisi kepala Valerie, mengurung gadis itu sepenuhnya dalam kungkungan tubuhnya yang tegap.

"Sekali lagi aku tanya... apa yang kau lakukan di tempat ini dengan pakaian seperti ini, Valerie?" suara Damian rendah, namun penuh tuntutan.

Valerie mencelos dalam hati. Namanya juga di club, masa harus pakai piyama? Yang benar saja! keluhnya kesal, merasa pertanyaan Damian sangat tidak sinkron dengan keadaan.

Namun, ia tahu sekarang bukan saatnya untuk memancing amarah pria itu.

"Aku sedang menghadiri ulang tahun temanku," jawab Valerie, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. "Kebetulan club ini milik keluarganya, jadi kami merayakannya di sini."

Damian terdiam sesaat. Tatapan matanya yang sedalam jurang itu seolah menelusuri manik mata Valerie, mencari celah apakah gadis itu sedang berbohong atau tidak.

Setelah beberapa detik yang terasa sangat lama, Damian tiba-tiba meraih pergelangan tangan Valerie dengan kuat.

"Ikut aku," perintahnya singkat sambil menarik tangan Valerie agar mengikutinya.

"Eh?! Kita mau ke mana?" Valerie mencoba protes, langkahnya terseret mengikuti langkah lebar Damian. "Aku masih bersama teman-temanku, Damian! Aku tidak bisa pergi begitu saja!"

Damian seolah menulikan telinga. Ia terus menyeret Valerie menuju pintu keluar privat tanpa peduli pada tatapan beberapa orang di lorong. "Kau ikut aku sekarang. Kabari teman-temanmu kalau kau pulang lebih awal," ucapnya tanpa menoleh, nadanya mutlak dan tak terbantahkan.

Valerie mendengus keras, wajahnya memerah padam karena kesal. Karena tidak punya kekuatan untuk melepaskan diri dari cengkeraman tangan Damian yang seperti borgol besi, ia akhirnya menyerah.

Valerie berjalan mengekor di belakang Damian sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai, persis seperti anak kecil yang sedang merajuk karena mainannya direbut paksa.

1
@RearthaZ
lanjutin terus ceritanya kak
@RearthaZ
awalan cerita yang bagus kak
Raffa Ahmad
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!