satria baru mengetahui jika dirinya hanya seorang anak yang di temukan oleh kakek pandu saat berada di kaki gunung gede, saat kakek Pandu merasa ajalnya sudah dekat ia memberikan sebuah gelang yang ada bersama Satria langit saat ia menemukannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dalang di balik pngeroyokan
Bimo yang menyadari ada satu kekuatan yang menekan mereka dengan cepat menepuk bahu Satria
" Hei sadar , emosi loe bahaya" tegurnya
" Eh maaf , aku tak sadar" sahut Satria tak enak hati
" Aku sudah menyuruh kak Niken mengirim video itu ke Kapolda, siapa tahu nanti ada perkembangan lebih lanjut" lanjut Satria berkata,
" Mudah mudahan saja nantinya mereka di tangkap kembali" ucap tante Nani
" Amiiiin" Bimo, Hadi dan Satria mengamini doa tante Nani, mereka berbincang bincang sampai magrib baru masuk ke kamar untuk beristirahat
Satria sebelum masuk ke kamar telah berpesan agar tak menganggunya karena ia akan berlatih, tepat jam delapan, satu sosok melesat turun dari lantai dua meloncati pagar rumah, gerakannya ringan dan langsung menuju ke belakang rumah yang merupakan jalan setapak , saat sinat lampu jalan menerangi sosok itu, ternyata Satria yang melompat dari lantai dua rumah Hadi
Ia menuju jalan raya dan menunggu angkot
" Saat mobil angkot warna kuning dengan jurusan Way Halim Tanjung karang terlihat ia segera menyetop , dan langsung naik, hanya setengah jam ia telah sampai di tanjung karang, ia sengaja turun di gunung sari dan berjalan ke arah Pasar Bambu kuning, di lihat dari video bimo ia tahu preman yang memukuli Hadi berada di tempat bilyar di lantai dua , ia naik ke lantai dua dan mencari para preman itu
Satria duduk di dekat pintu masuk meja bilyar , ia menyalakan rokok dan menunggu di sana, cukup lama ia menunggu hingga akhirnya salah satu dari pengeroyok itu terlihat keluar dari ruangan meja Bilyar
sambil berjalan santai Satria mengikuti preman itu , ia menjaga jarak agar tak ketahuan
Preman itu mengarah ke jalan yang menuju Kaliawi, Satria yang melihat itu dengan cepat mengikuti ia ingat ada tanah kosong tak jauh dari sana ia harus bisa mencegat orang itu tepat di tanah kosong itu
Ia berjalan cepat mendahului preman itu, dan saat berada di tanah kosong ia mencari tempat yang gelap untuk menyergap
" Na na na" preman itu menyusul sambil berdendang kecil mungkin ia menang taruhan billyar
Bugh
saat melewati pohon Satria memukul dengan telak tengkuk, preman itu tersungkur dan pingsan , Satria dengan cepat menyeret preman itu ke sudut yang lebih gelap , ia menyumpal mulut preman itu dan mengikat tangan dan kakinya sebelum membangunkannya
" Emppp"
" Emmmp"
jerit tertahan terdengar dari mulut preman itu, matanya melihat ke sekeliling ia melotot marah saat melihat sosok lelaki di sampingnya
Traaack
Satria mengeluarkan pisau lipat yang di bawanya, dengan santai ia menempelkan pada leher preman itu
" Jangan teriak , gw ga jadi masalah di penjara atau di keroyok di sini, tapi yang jelas loe mati duluan!" ancam Satria , preman itu mengangguk dengan cepat, Satria hampir tertawa saat melihat sorot mata preman itu, sorot mata yang tadinya melotot kini menyipit dengan tatapan ketakutan apalagi ada bulir air mata menggenang di sudut matanya
" Loe pelaku pengeroyokan teman gw kan!" bentak Satria sambil menarik penyumpal mulut preman itu
" Bukan gw bang, beneran" sangkal preman itu
" Tak"
"Aduuh"
Preman itu menjerit kecil saat Satria menggetok kepalanya dengan gagang pisau, satria mengeluarkan handphonenya dan memperlihatkan video rekaman CCtv
" Masih mau ngeles loe" bentak Satria
" Iya bang itu saya" ucapnya ketakutan dan tak mengelak lagi setelah di perlihatkan video itu
" Loe di suruh siapa!?" tanya Satria sambil kmbali menempelkan pisau lipatnya
" Ga ada yang nyuruh bang" jawab preman itu,
" Akh"
Preman itu menjerit kesakitan saat Satria menekan pisaunya lebih kencang, darah mengalir dari leher preman itu
" Jawab yang bener!" bentak Satria
" Iy...iya bang, tuan Baron yang menyuruh kami" jawab preman itu ketakutan
" Baron, emang teman gw punya salah ke dia!" bentak Satria
" Kurang jelas kalau masalah itu bang, tapi kayanya soal cewek" jawab Preman itu lagi
" Hmm, gitu rupanya, loe bilang ke temen temen yang ngeroyok loe, serahin diri kalau ga terima akibatnya!" ancam Satria, sambil memukul tengkuk preman itu lagi
Bugh
preman itu kembali pingsan , Satria membuka ikatan tangan dan kaki preman itu, lalu dengan gerakan cepat ia menotok beberapa tempat di kaki dan tangan kiri preman itu
" ini hukuman buat loe" gumam Satria , dan ia meninggalkan tempat itu, rupanya Satria menggunakan Jarum Naga untuk memutuskan beberapa urat di kaki kanan dan tangan kiri preman itu
satria berjalan santai, kali ini ia melalui jalan yang menembus ke jalan Kartini tepat di belakang Bang Bri, ia duduk di halte yang ada di sana menunggu angkot lewat
Ciiiiit
satu mobil brio berwarna merah berhenti tepat di depan Satria,perlahan kacamobil terbuka
" Satria!" satu suara memanggil saat satria melihat ke arah yang memanggil ia kaget
" Kak Niken?" ucapnya, karena yang membawa mobil ternyata Niken
" Ayo naik, lagi ngapain di sini?" tanya Niken
" Satria mendekat dan naik ke mobil itu
" lagi cari angin kak suntuk" jawab Satria asal
" Cari angin? ga salah loe?" tanya Niken heran karena baru kali ini mendengar Satria main hanya cari angin saja, matanya menyipit dengan tatapan curiga
" Loe ga lagi nyari Bondol kan?" tanyanya curiga
" asal aja, ngapain gw main bondol kak," Gerutu Satria
" he he he, iya juga , sama gw aja loe ga mau , masa nyari bondol" Niken tertawa menggoda
" Jangan mulai deh kak nanti kalau gw spaneng gimana" celetuk Satria
" Emang berani" Tantang Niken
" He he he, engga" Satria tertawa kecil sambil menggeleng
" sekarang loe mau kemana, biar gw anterin?" tanya Niken
" Tadinya sih mau pulang kak, ke rumah Hadi, tapi sekarang ada kak Niken kita ke cafe yuk" ajak Satria, Niken langsung menoleh ke arah satria, seakan tak percaya Satria mengajaknya ke Cafe, padahal dulu ia ngajak di tolak terus
" Boleh, ayo mau ke Cafe mana?" sahut Niken cepat karena takut Satria berubah lagi
" Kita ke Cafe Permata aja gmana?" Saran Satria, ia memang ingi ke Cafe Permata di mana Hadi di pukuli di sana, ia ingin mencari preman preman yang telah memukuli Hadi, kalau ada di sana ia kan sengaja cari gara gara
" Siap, eh tunggu dulu?" Niken yang tadinya bersemangat menatap kesal pada Satria
" Kita ke cafe mau kencan apa cari orang?" tanyanya dengan mata mendelik
" Nyari orang he he he" Satria tertawa kecil niatnya ketahuan oleh Niken
mendengar itu niken diam dan melipat tangannya di depan dada
" Hmmm, ngambek" cibir Satria melihat Niken cemberut
" Bodo" Niken menjawab dengan ketus
" Ok dech. ke cafenya kak Niken yang nentuin" Satria mengalah daripada ngambeknya niken berkelanjutan
" Beneran!" Niken langsung berbinar, saat melihat Satria mengangguk ia langsung melajukan mobilnya , Satria hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Niken
Niken terus mengemudikan mobilnya ke arah teluk betung, mobil itu berhenti di sebuah cafe dan resto yang berada di daerah sumur putri
" ayo Masuk" ajak niken sambil menggandeng lengan Satria
Satria yang belum pernah masuk cafe sedikit canggung , tapi ia pura pura santai mengikuti tarikan Niken, Niken mengambil meja yang berada di luar ruangan ( Outdoor) dengan begitu mereka berdua bisa menikmati makanan sambil melihat pemandangan
Tapi sayang kalau Satria jika dipecat dari kerjanya, soalnya kerjanya sudah mantap tuh, santai dan lingkungannya sangat mendukung untuk latihan²nya... 😁