Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.
Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan, Piyama, dan Bedah Plastik
Pagi itu di Mansion Zollern, suasana terasa begitu hangat. Eleanor baru saja bangun dan menyadari ia tidak membawa baju ganti yang cukup, terpaksa ia masih mengenakan kemeja piyama sutra milik Edward yang kebesaran, menutupi separuh pahanya. Ia sedang menyesap kopi di ruang makan bersama Edward yang tampak sangat segar (dan masih pura-pura sesekali memegang bahunya), ketika tiba-tiba suara keributan terdengar dari arah lobi.
"Edward! Aku tahu kau di dalam! Buka pintunya!" Teriak suara melengking yang sangat familiar.
Pintu ganda ruang makan terbuka lebar, dan Lyodra masuk dengan wajah penuh amarah, lengkap dengan kacamata hitam dan tas bermereknya. Namun, langkahnya terhenti seketika saat melihat pemandangan di depannya.
Eleanor duduk dengan tenang, memegang cangkir porselen, mengenakan piyama Edward.
"Kau?! Kenapa kau ada di sini sepagi ini?!" Lyodra menunjuk Eleanor dengan jari gemetar. "Edward, bagaimana bisa kau membiarkan wanita kelas rendah ini tinggal di mansion pribadimu?"
Eleanor meletakkan cangkirnya perlahan. Ia tidak panik, tidak juga malu. Ia justru menatap Lyodra dengan pandangan menyelidik yang sangat dalam, dari dahi hingga ke dagu wanita itu.
"Nona Lyodra, suara Anda terlalu nyaring untuk jam sarapan yang tenang," ucap Eleanor datar. Ia kemudian berdiri, berjalan mendekati Lyodra dengan langkah anggun meskipun hanya mengenakan piyama.
Eleanor berhenti tepat di depan wajah Lyodra, membuat sang model refleks mundur. Eleanor sedikit memiringkan kepalanya, menatap dahi Lyodra dengan dahi berkerut.
"Berbicara soal kelas, sepertinya kita harus bicara soal kualitas... filler di dahi Anda," ucap Eleanor tiba-tiba, membuat Lyodra membeku. "Dan dagu itu? Presisinya agak sedikit miring ke kiri jika dilihat dari sudut ini. Apa Anda tidak merasakannya saat bercermin pagi tadi?"
"A-apa yang kau bicarakan?!" Lyodra panik, tangannya refleks menutupi dagunya. Bagaimana bisa Eleanor tahu soal rahasia kecantikan yang selama ini ia sembunyikan.
"Oh, dan hidung itu. Sangat proporsional, tapi sepertinya tulang rawan tambahannya sedikit terlalu menonjol di bagian puncak," Eleanor melanjutkan dengan suara yang sangat tenang dan penuh empati yang palsu. "Jangan khawatir, aku punya teman seorang dokter bedah plastik terbaik di London. Hasil kerjanya sangat natural, tidak kaku seperti... yang Anda miliki sekarang. Kalau kau mau, aku bisa memberikan kartu namanya sekarang juga. Kasihan sekali, wajah secantik ini harus rusak karena malpraktik halus."
Wajah Lyodra berubah dari merah padam menjadi pucat pasi. Sebagai model yang menjual kecantikan alami, kritikan Eleanor barusan adalah mimpi buruk. Ia merasa semua orang di ruangan itu, termasuk para pelayan, sekarang sedang memperhatikan letak kemiringan dagunya.
"Kau... kau benar-benar wanita iblis!" Teriak Lyodra, air matanya mulai menggenang karena malu dan panik. Ia tidak tahan lagi dengan tatapan menguliti dari Eleanor. Tanpa kata lagi, Lyodra berbalik dan lari keluar mansion sambil menangis sesenggukan.
Edward, yang sejak tadi duduk menonton sambil memangku dagu, meledak dalam tawa rendah yang sangat puas. Ia berdiri dan berjalan menghampiri Eleanor.
"Kau benar-benar menghancurkan harga dirinya, Eleanor. Kasihan sekali, sepertinya dia akan segera membuat janji temu dengan dokter bedah setelah ini," ucap Edward sambil menyeringai, matanya menatap Eleanor dengan binar kagum yang tak bisa disembunyikan.
Eleanor berbalik, menatap Edward dengan wajah datar yang kembali galak. "Itu balasannya karena dia mengganggu waktu kopi saya. Dan jangan tertawa, Tuan Zollern! Anda juga berhutang penjelasan kenapa pengamanan mansion ini begitu longgar sampai lalat seperti dia bisa masuk!"
"Dia punya akses lama yang lupa kuhapus, akan segera kuperbaiki," jawab Edward santai. Ia melangkah maju, membetulkan kerah piyama sutranya yang dipakai Eleanor. "Tapi harus kuakui, caramu membungkamnya tadi sangat menggemaskan. Kau terlihat sangat cocok menjadi Nyonya Zollern yang kejam."
"Dalam mimpi Anda!" Eleanor menepis tangan Edward, meskipun wajahnya kembali merona karena jarak mereka yang dekat. "Sekarang cepat habiskan sarapan Anda, atau saya akan memberikan kartu nama dokter bedah itu kepada Anda juga untuk memperbaiki bahu 'palsu' Anda itu!"
Edward tertawa lagi. Baginya, setiap hari bersama Eleanor adalah pertunjukan yang tidak akan pernah membuatnya bosan. Dan bagi Eleanor, meskipun ia masih kesal, ada rasa kemenangan kecil yang manis saat ia berhasil melindungi "wilayahnya" dari gangguan luar.