seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Suasana di dalam kamar penthouse itu masih mencekam, hanya deru halus pendingin ruangan dan gemericik air yang mulai memenuhi bathtub di kamar mandi dalam. Alan melangkah masuk kembali ke kamar dengan membawa kantong belanjaan dari Leo. Ia meletakkannya di tepi ranjang, tepat di samping Dinda yang masih membungkus dirinya dengan selimut, tampak seperti rongsokan manusia yang tak lagi memiliki daya.
"Ini pakaian bersih untukmu. Dan ini..." Alan menjeda, tangannya gemetar saat menyodorkan sebuah kotak kecil berisi pil kontrasepsi darurat. "...pil yang harus kau minum. Agar tidak ada beban di masa depan."
Dinda menatap kotak itu. Air matanya jatuh tepat di atas kemasan plastik tersebut. Baginya, pil itu bukan sekadar obat, melainkan bukti nyata bahwa kehormatannya telah dianggap sebagai "kecelakaan" yang harus dihapus jejaknya.
"Air hangatnya sudah siap. Mari, aku bantu kau mandi," ucap Alan rendah.
Dinda menggeleng kuat-kuat. "Jangan... jangan sentuh aku lagi. Pergi!"
Alan tidak mendengarkan. Dengan keras kepala, ia menyibak selimut itu dan menyusupkan lengannya di bawah tubuh Dinda. Dinda memukul dada Alan, mencakar bahunya, namun pria itu tetap membopongnya menuju kamar mandi. Tubuh Dinda terasa ringan, namun kebencian yang terpancar darinya terasa begitu berat menindih pundak Alan.
Begitu sampai di depan bathtub, Alan menurunkan Dinda perlahan. Namun, saat tangan Alan bergerak untuk melepas selimut yang melilit tubuh polos Dinda agar ia bisa berendam, Dinda meledak.
"KELUAR! KELUAR DARI SINI, TUAN ALAN!" teriak Dinda dengan suara yang pecah. Ia merapatkan selimut itu ke dadanya, matanya menyala penuh amarah dan kehinaan. "TIDAK BISAKAH TUAN MEMBERIKAN SAYA SEDIKIT SAJA HARGA DIRI UNTUK MANDI SENDIRI? TUAN SUDAH MENGAMBIL SEGALANYA SEMALAM! APA BELUM CUKUP?"
Alan tertegun. Ia melihat bahu Dinda yang bergetar hebat. Rasa bersalah menghantamnya begitu telak hingga ia harus mundur selangkah. "Aku... aku hanya ingin memastikan kau tidak jatuh. Kau sangat lemas, Dinda."
"SAYA LEBIH BAIK JATUH DI SINI DARIPADA HARUS DILIHAT LAGI OLEH MATA BEJAT TUAN!"
Alan menghela napas panjang, menundukkan kepalanya. "Baik. Aku keluar. Pintu tidak akan aku kunci. Jika kau butuh sesuatu, teriak saja."
***
Begitu pintu tertutup, Dinda luruh ke dalam air hangat. Namun, air hangat itu tidak memberikan ketenangan. Dinda mengambil sabun cair dan spons, lalu menggosok kulitnya dengan kasar. Ia menggosok lehernya, dadanya, pahanya—setiap jengkal kulit yang pernah disentuh dan dicium Alan semalam. Ia menggosoknya hingga kulitnya memerah dan terasa perih, seolah-olah dengan rasa sakit fisik itu, ia bisa melunturkan noda yang ditinggalkan Alan.
"Ayah... maafkan Dinda..." isaknya pecah di antara uap air.
Ia teringat pesan mendiang ayahnya: “Nduk, harta kita boleh tidak ada, tapi martabatmu sebagai perempuan adalah satu-satunya mahkota yang harus kau jaga sampai mati.”
Kini, mahkota itu hancur. Dinda menenggelamkan wajahnya ke dalam air, berharap rasa sesak di dadanya ikut larut. Ia teringat Dika. Adiknya yang semalam pasti menunggunya pulang. Dika yang berjanji akan menjaganya. Bagaimana jika Dika tahu? Bagaimana jika Dika melihat kakaknya yang hancur ini?
Lama sekali Dinda di dalam sana. Hingga air yang semula hangat berubah menjadi dingin, barulah ia memaksa dirinya berdiri. Dengan sisa tenaga, ia mengeringkan tubuhnya dan memakai pakaian yang dibelikan Leo—sebuah dress berbahan lembut yang terasa sangat asing di kulitnya yang biasa mengenakan kaos murah.
***
Dinda keluar dari kamar mandi dengan langkah gontai, rambutnya yang basah tergerai di bahu. Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke lantai. Tak lama, Alan masuk membawa nampan berisi bubur ayam dan segelas air putih.
"Makanlah sedikit. Kau butuh tenaga untuk minum obat nyeri dan pil itu," kata Alan sambil duduk di kursi kecil di depan Dinda.
Dinda tidak menoleh. "Saya mau pulang sekarang."
"Tidak bisa, Dinda. Kondisimu belum stabil. Lihatlah matamu, sangat sembab. Dan jalanmu masih susah," cegah Alan. "Jika kau pulang sekarang, Dika akan langsung tahu ada yang tidak beres. Apa kau mau dia melihatmu seperti ini?"
Dinda mengepalkan tangannya di atas pangkuan. "Dia adik saya. Dia berhak tahu kalau kakaknya dihancurkan oleh atasannya sendiri!"
"Dan apa yang akan dia lakukan? Dia akan datang ke sini, menyerangku, dan berakhir di penjara. Apa itu yang kau inginkan?" Alan bertanya dengan nada yang sangat tenang namun mengancam secara logika. "Biarkan kau di sini dulu. Tenangkan dirimu. Biarkan bengkak di matamu hilang."
"Tuan tidak berhak mengatur saya lagi!"
"Aku berhak karena aku yang bertanggung jawab atas keadaanmu sekarang!" Alan meninggikan suaranya sedikit, lalu segera melunak saat melihat Dinda tersentak. ia mengambil sesendok bubur. "Ayo, buka mulutmu. Satu suap saja."
Dinda memalingkan wajah. Namun Alan tetap diam, menyodorkan sendok itu dengan sabar. Setelah beberapa menit dalam keheningan yang menyiksa, Dinda akhirnya membuka mulutnya, membiarkan bubur itu masuk meski rasanya seperti menelan pasir.
Setelah beberapa suap, Alan menyodorkan pil kontrasepsi darurat itu. Dinda menatap benda kecil itu dengan air mata yang kembali mengalir. Ia meminumnya dengan tangan yang bergetar, menelan kenyataan pahit bahwa ia sedang menghapus kemungkinan adanya "benih" dari pria yang sangat ia benci sekaligus ia takuti itu.
"Tentang Dika dan Dita... biar aku yang mengatasinya," ucap Alan setelah Dinda meminum obatnya.
Dinda mendongak, matanya yang sembab menatap tajam. "Apa yang akan Tuan lakukan? Jangan berani-berani menyentuh mereka!"
"Aku akan menelepon Leo. Leo akan pergi ke kontrakannmu. Dia akan memberi tahu Dika bahwa kau harus lembur mendadak di kantor pusat untuk proyek mendesak, dan karena kau kelelahan, kau menginap di mess kantor. Leo akan membawakan makanan enak dan uang tambahan untuk mereka agar mereka tenang," jelas Alan.
"Dika tidak sebodoh itu, Tuan."
"Dika akan percaya jika Leo yang bicara. Leo punya cara untuk meyakinkan orang," jawab Alan dingin. "Sekarang, istirahatlah. Aku akan menjagamu di sini. Tidak akan kusentuh lagi, aku janji."
Dinda hanya bisa terdiam, merebahkan tubuhnya kembali ke atas ranjang mewah itu. Ia merasa seperti burung di dalam sangkar emas—segalanya tersedia, namun sayapnya telah patah dan kuncinya dipegang oleh sang pemangsa. Di kejauhan, ia hanya bisa berdoa semoga Dika tidak menyadari kebohongan besar yang mulai menyelimuti keluarga mereka.
***
Bersambung...