Fei Xing berasal dari abad masa depan—tahun 3080—dimana hampir semua aspek kehidupan dikuasai oleh mesin pintar canggih.
Kemajuan teknologi yang terlalu cepat mengakibatkan banyak kerusuhan dan konflik di seluruh dunia.
Ayahnya, seorang profesor jenius di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, menciptakan sebuah sistem canggih yang terpasang pada jam pintar Fei Xing.
Tujuan utama penciptaan sistem itu adalah untuk melindungi anaknya dengan mengirimkannya pergi dari tahun 3080 yang penuh bahaya.
Di dunia baru ini, Fei Xing bebas mengendalikan sistemnya sesuai keinginannya.
Sistem kecerdasan buatan ini sangat pintar dan memiliki protokol dasar: tidak boleh menyakiti atau melawan tuannya.
Dalam kurun waktu 100 tahun, Fei Xing sudah sering melakukan perjalanan lintas dunia—dari zaman modern, masa lalu, hingga dunia saat ini—hanya untuk bertahan hidup dan mengembangkan kemampuannya.
Namun Sistemnya membutuhkan energi untuk tetap beroperasi dan menjaga kelangsungan hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia 1020
Fei Xing menggeleng perlahan. "Saya tidak akan mengambilnya secara cuma-cuma,Saya ingin melakukan penukaran yang adil."
Peng Zuan mengerutkan keningnya dengan tatapan penuh keraguan. "...Bagaimana kamu bisa tahu bahwa giok itu ada di tangan saya? Bahkan sebagian besar warga desa sendiri tidak tahu tentang hal itu."
Fei Xing menjawab dengan wajah datar, tidak menunjukkan sedikit pun perubahan ekspresi meskipun sedang mengarang cerita sepenuhnya dari awal hingga akhir.
"...Giok itu awalnya adalah milik keluarga saya. Dulu dirampok dari rumah kami oleh bajingan tak tahu malu itu!"
Dia mulai menyampaikan kisah yang dibuatnya dengan nada yang penuh emosi namun tetap terkendali. "Pria bangsawan itu—yang kemudian datang ke desa kalian—dulunya telah dijodohkan dengan adik perempuan saya. Setelah menerima mahar berupa giok itu sebagai tanda pernikahan, dia malah mencampakkan adik saya di tengah jalan dan melarikan diri ke selatan untuk mencari perlindungan pada Kaisar!"
Fei Xing menghentikan bicara sejenak, seolah sedang menahan emosi. "Adik saya sangat tertekan,Dia menjadi bahan olok-olok bagi semua orang hingga akhirnya tidak bisa menahan lagi dan melompat ke sunga...."
Fei Xing melihat ke arahnya dengan mata merah penuh kebencian." ...Saya sebagai kakaknya—bagaimana mungkin bisa membiarkan hal ini berlalu begitu saja?! Saya harus membalas dendam atas apa yang dia lakukan pada keluarga saya!"
Orang-orang yang mendengar cerita itu langsung tercengang.
Mereka tidak pernah menyangka bahwa pria bangsawan yang mereka bunuh karena telah melecehkan putri salah satu warga desa ternyata juga telah membuat seorang gadis lain meninggal dunia sebelum datang ke sini.
Beberapa di antara mereka bahkan menunjukkan ekspresi rasa kasihan pada Fei Xing.
[Tuan, aktingmu sungguh luar biasa! Bahkan saya hampir percaya bahwa cerita itu benar-benar terjadi!] sistem berkomentar dengan penuh kagum di dalam benaknya.
Peng Zuan tetap mengerutkan keningnya,
tampaknya masih belum sepenuhnya percaya.
Namun matanya sudah menunjukkan rasa keraguan yang semakin berkurang. "...Jika benar giok itu milik keluarga kamu, maka kamu pasti bisa menyebutkan ciri-ciri khususnya yang tidak diketahui orang lain..."
Fei Xing melihatnya dengan tatapan yang serius dan tegas. "...Giok berwarna hijau tua dengan bentuk ukiran kepala harimau yang sangat detail di bagian atasnya. Di bawah ukiran harimau itu, ada tanda kaligrafi 'Feiyu' yang diukir dengan sangat kecil—hanya bisa dilihat jika diperhatikan dengan seksama. Tanda itu dibuat oleh nenek moyang keluarga saya sebagai bukti kepemilikan."
Seorang pria yang berdiri di samping Peng Zuan segera mendekat dan berbisik rendah ke telinganya. "...ciri-ciri yang dia sebutkan sama persis dengan giok yang kita simpan! Sepertinya dia tidak berbohong!"
Peng Zuan terdiam sejenak, memikirkan kata-kata teman satu desanya dan ekspresi Fei Xing yang tampak sangat jujur.
Dia tahu bahwa giok itu memang memiliki ciri-ciri yang sama persis dengan yang disebutkan oleh pria muda bangsawan ini.
Bagaimana mungkin orang lain bisa mengetahuinya jika bukan benar-benar pemiliknya?
"...Baiklah," ucap Peng Zuan dengan suara yang lebih lembut. "Aku percaya pada cerita kamu. Tapi apa yang kamu tawarkan sebagai imbalan untuk giok itu? Kita menyimpan giok itu bukan karena menginginkannya....."
Fei Xing mengangguk dengan pemahaman.".....Saya mengerti niat kalian yang baik. Sebagai imbalannya, saya akan memberikan sesuatu yang bisa mengubah kehidupan seluruh desa ini—solusi untuk mengatasi musim kemarau yang panjang ini, serta cara untuk membuat tanah kalian menjadi subur kembali sehingga kalian tidak perlu lagi menderita kelaparan dan kekurangan air."
Ekspresi para warga desa langsung berubah menjadi penuh rasa penasaran dan harapan.
Mereka tidak bisa membayangkan apa yang bisa diberikan oleh seorang putra bangsawan untuk menyelesaikan masalah yang sudah menyiksa mereka selama bertahun-tahun.
Kata-kata Fei Xing membuat Peng Zuan tertegun kaku di tempatnya.
Matanya membesar dengan ekspresi tidak percaya."Ini.... ini terlalu tidak mungkin terjadi...Bagaimana mungkin ada cara untuk mengatasi kemarau yang sudah melanda kita selama bertahun-tahun?"
Fei Xing hanya berkata."...Saya memiliki banyak waktu untuk membuktikannya.Mungkin lebih baik kita membahasnya ditempat yang lebih aman dan tenang saja."
Peng Zuan mengangguk perlahan, kemudian memalingkan wajahnya ke arah kerumunan warga yang masih berada di sekitar.
"Semua orang boleh bubar! Mari kita lanjutkan perbincangan ini di rumah saya saja." Hanya dua orang pria yang dipercaya—yang sebelumnya membisikinya dan seorang dengan tubuh tinggi namun kurus—disuruh mengikuti mereka.
Ketika sampai di rumah Peng Zuan, Fei Xing melihat bahwa bangunan itu sederhana namun sangat bersih dan terawat dengan baik.
Dinding dari tanah liat dan kayu tampak kokoh, meskipun sudah cukup tua. Peng Zuan segera menyajikan air dalam gelas kayu untuk keempat orang.
Fei Xing mengambil gelas dengan sopan sebagai tanda penghormatan, lalu sedikit menyedot isinya.
Namun segera setelah merasakan rasa yang aneh dan sedikit berbau amis, dia hampir menyemburnya keluar.
Melihat wajah Fei Xing yang berubah warna, Peng Zuan segera mengerti dan membujuknya dengan tergesa-gesa. "Tuan, maafkan saya! Tolong luapkan saja jika tidak tahan!"
Tanpa berlama-lama, Fei Xing dengan sopan meminta maaf lalu meludahkan air itu ke tanah di sampingnya.
[Tuan, kamu baik-baik saja?! Air di sini mengandung sedikit zat beracun dari lumpur dasar sumur—]
Diam, jangan bicara sekarang! potong Fei Xing dengan rasa kesal di dalam benaknya, fokus pada keadaan saat ini.
"Maafkan saya...." ucap Fei Xing dengan sopan setelah mengelap bibirnya dengan tangan."...Saya sarankan jangan lagi meminum air seperti ini. Sudah tercemar oleh zat-zat yang tidak baik bagi tubuh. Tidak peduli seberapa sering kamu merebusnya, zat berbahaya itu tidak akan hilang begitu saja."
Dua pria rekan Peng Zuan yang ada di sana hanya diam dan tidak menyentuh gelas air di depan mereka.
Sejujurnya, selama bertahun-tahun mereka sudah menyadari bahwa kualitas air semakin memburuk.
Namun sejak musim kemarau datang, sumber air yang tersisa hanya sumur-sumur dangkal yang menghasilkan air keruh dan berbau seperti ini.
Mereka tidak punya pilihan lain selain meminumnya.
Fei Xing menghela nafas dalam-dalam, melihat kondisi yang ada dengan rasa prihatin. "...Soal apa yang saya katakan tadi—saya benar-benar bisa melakukannya. Namun untuk melakukan itu, saya perlu mengetahui seluruh kondisi desa kalian secara detail.....dimana sumber air utama kalian berada, apa saja makanan yang biasa kalian konsumsi, dan bagaimana sistem pertanian yang kalian jalankan."
Dia kemudian menatap Peng Zuan dengan tatapan yang serius. "...Dan yang paling penting—apakah desa kalian masih resmi berada di bawah naungan pemerintahan Kaisar Han, atau sudah dianggap tidak ada dan dihapus dari catatan pemerintah?"
Peng Zuan terdiam sejenak sebelum menjawab dengan suara yang sedikit berat."...Setelah insiden dengan tamu itu beberapa tahun lalu, Kaisar menyatakan bahwa desa kami sudah berada di luar wilayah kekuasaannya. Secara resmi, kami tidak ada lagi dalam catatan kerajaan. Kami dibiarkan sendiri untuk bertahan hidup dengan apa yang ada..."
Salah satu pria rekanannya menambahkan dengan nada penuh kemarahan. "...Padahal kita masih membayar pajak dengan apa yang bisa kita berikan! Tapi tidak ada satu bantuan pun yang kita terima dari istana, bahkan saat musim kemarau seperti ini!"
Fei Xing mengangguk dengan pemahaman yang mendalam. Sekarang dia semakin jelas melihat betapa besarnya masalah yang harus diatasi di dunia ini.
".....Baiklah. Besok pagi, tolong tunjukkan saya seluruh area desa dan sumber air yang masih ada...."
Peng Zuan melihatnya dengan mata yang penuh harapan meskipun masih ada rasa keraguan. "...Jika kamu benar-benar bisa membantu kami, maka giok itu akan segera kamu dapatkan. Kami tidak membutuhkannya—kami hanya membutuhkan kesempatan untuk hidup dengan layak."
Keesokan paginya, pukul 6 pagi sudah ada aktivitas di desa.
Fei Xing bersama Peng Zuan, serta dua orang temannya—Lin Dang yang bertubuh tinggi kurus dan Dong Ming yang memiliki wajah kasar namun ramah—bergerak menyisir setiap sudut desa mulai dari ujung utara hingga selatan.
"Kita punya total empat sumur," jelaskan Peng Zuan sambil mengusap keringat di dahinya karena panas matahari yang sudah mulai terik.
".....Hanya satu sumur di tengah desa yang masih mengeluarkan air, walaupun jumlahnya sudah sangat sedikit. Dua sumur lainnya sudah benar-benar kering, termasuk yang ada di ujung desa sebelah timur."
[Tuan, analisis menunjukkan kandungan air di dalam sumur aktif sangat terbatas. Solusi paling efektif untuk jangka pendek adalah memberikan pasokan air tambahan atau memicu hujan buatan. Ini akan memberikan waktu bagi kita untuk bekerja pada solusi jangka panjang.]
Fei Xing mengangguk dalam hati, langsung memerintahkan sistemnya untuk mencari alat penurun hujan atau peralatan simulasi hujan buatan di gudang sumber daya yang bisa diaksesnya.
Sementara itu, dia tetap fokus mengamati kondisi desa dengan seksama.
Jam menunjukkan pukul 8 pagi, namun matahari sudah bersinar sangat terik hingga membuat udara terasa panas menyengat.
Peng Zuan, Lin Dang, dan Dong Ming sudah berkeringat deras, pakaian mereka basah merembes karena keringat.
Namun Fei Xing tampak tidak terpengaruh sama sekali—tubuhnya yang sudah berevolusi setelah hidup di era teknologi canggih dan mendapatkan nutrisi terbaik membuatnya jauh lebih tahan terhadap kondisi cuaca ekstrem.
Dia melihat rumah-rumah kayu yang sebagian sudah keropos dan compang-camping, sebagian besar tanpa atap yang cukup kuat untuk melindungi dari panas matahari.
Jalanan desa yang terbuat dari tanah kini benar-benar kering dan berdebu, setiap langkah yang diambil membuat awan debu kecil terbentuk di sekitar kaki mereka.