Di dunia yang dipenuhi para ahli bela diri dan kultivator kuat, Goo Yoon hanyalah seorang pemuda biasa yang bahkan tidak mampu mengalahkan murid terlemah di sekte.
Namun Goo Yoon memiliki satu hal yang tidak dimiliki orang lain—tekad yang tidak pernah patah.
Setelah terus dipermalukan dan diremehkan, suatu hari ia menemukan sebuah seni bela diri kuno yang telah lama hilang. Seni tersebut dikenal sebagai Teknik Pedang Dewa Gila, sebuah kekuatan yang bahkan para master legendaris tak mampu kuasai.
Dengan latihan yang penuh darah, rasa sakit, dan kegagalan, Goo Yoon perlahan berubah.
Dari seorang pemuda lemah…
Menjadi legenda yang ditakuti seluruh dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jenih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Pertarungan di Tepi Tebing
Auman beruang raksasa menggema di seluruh Hutan Kabut.
ROOOAAARRR!!
Getaran suaranya membuat dedaunan di pepohonan bergetar. Kabut yang menyelimuti hutan seakan tersibak oleh kekuatan makhluk itu.
Goo Yoon berdiri tenang beberapa langkah di depan beruang hitam raksasa itu. Tubuh hewan itu hampir tiga kali lebih besar dari manusia biasa. Bulu hitamnya tebal seperti baja, dan kedua matanya bersinar merah seperti bara api.
Tanah bergetar saat beruang itu melangkah.
DUM… DUM…
Goo Yoon mempererat genggamannya pada tongkat kayu sederhana di tangannya.
“Kalau aku ingin lulus ujian ini… aku harus melewati dia.”
Beruang itu tiba-tiba mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi.
Lalu—
BRAKK!
Cakar raksasa itu menghantam tanah dengan keras.
Tanah retak, batu kecil beterbangan ke segala arah.
Namun Goo Yoon sudah bergerak.
SWISH!
Tubuhnya melompat ke samping dengan cepat.
“Serangannya kuat… tapi lambat.”
Beruang itu kembali mengaum dan menyerang dengan cakarnya yang lain.
WHOOSH!
Angin kencang dari ayunan cakar itu bahkan terasa seperti hantaman badai kecil.
Goo Yoon menunduk dan berguling ke depan, menghindarinya dengan selisih sangat tipis.
Ia langsung berdiri di samping tubuh beruang itu.
Kesempatan!
WHACK!
Tongkatnya menghantam kaki belakang beruang.
Namun—
THUD!
Tongkat itu terasa seperti memukul batu.
Beruang itu bahkan hampir tidak bergerak.
Goo Yoon sedikit terkejut.
“Bulu dan kulitnya terlalu tebal…”
Beruang itu segera berbalik.
ROAR!
Cakarnya menyapu ke arah Goo Yoon.
BAM!
Hantaman itu mengenai pohon besar di belakangnya.
Pohon itu langsung patah dan roboh.
Jika Goo Yoon tidak bergerak cepat, tubuhnya pasti sudah hancur.
Ia melompat mundur beberapa meter.
Napasnya mulai berat.
“Kalau menyerang sembarangan, aku tidak akan menang.”
Matanya mengamati tubuh beruang itu dengan tajam.
Setiap makhluk pasti memiliki titik lemah.
Saat beruang itu kembali melangkah, Goo Yoon memperhatikan sesuatu.
Gerakan kaki kiri beruang sedikit lebih lambat.
“Mungkin…”
Beruang itu kembali menyerang.
WHOOM!
Cakarnya turun seperti palu raksasa.
Namun kali ini Goo Yoon tidak menghindar jauh.
Ia justru mendekat.
SWISH!
Tubuhnya meluncur di bawah lengan beruang.
Lalu—
WHACK! WHACK!
Tongkatnya menghantam kaki kiri beruang dua kali berturut-turut.
Beruang itu menggeram kesakitan.
“GRRRR!”
Serangan itu memang tidak melukai parah, tapi cukup membuat keseimbangannya terganggu.
Kesempatan itu tidak disia-siakan Goo Yoon.
Ia melompat ke batu besar di sampingnya, lalu meloncat lebih tinggi.
Untuk sesaat, tubuhnya berada di udara tepat di depan kepala beruang.
Beruang itu membuka mulutnya lebar-lebar.
Taring tajam terlihat jelas.
Namun sebelum beruang sempat menggigit—
CRACK!
Tongkat Goo Yoon menghantam keras tepat di hidungnya.
“ROOOAAARR!”
Beruang itu mengamuk.
Ia mengayunkan kedua cakarnya liar ke segala arah.
Goo Yoon terlempar mundur dan jatuh berguling di tanah.
Debu dan kabut bercampur di udara.
Beberapa saat keduanya saling menatap.
Napas Goo Yoon semakin berat.
Tubuhnya penuh luka kecil.
Namun matanya justru semakin tajam.
“Kalau aku berhenti di sini… aku tidak akan pernah menjadi yang terkuat.”
Ia perlahan berdiri lagi.
Beruang itu juga kembali berdiri tegak, lebih marah dari sebelumnya.
DUM!
Ia melangkah maju.
DUM!
Tanah bergetar lagi.
Namun kali ini Goo Yoon tidak mundur.
Ia justru berlari lurus ke arah beruang itu.
“Sekali lagi!”
Beruang itu mengangkat kedua cakarnya tinggi.
Serangan mematikan siap turun.
Namun tepat sebelum itu—
Goo Yoon mengubah arah langkahnya secara tiba-tiba.
Ia berputar di sisi kiri beruang.
Lalu dengan seluruh kekuatannya—
CRAAACK!!
Tongkatnya menghantam lutut kaki kiri beruang.
Suara retakan terdengar jelas.
Beruang itu kehilangan keseimbangan.
Tubuh raksasanya roboh ke depan.
BOOOOM!
Tanah bergetar keras.
Kesempatan terakhir.
Goo Yoon melompat ke atas batu, lalu meloncat tinggi ke udara.
Dengan seluruh tenaga yang tersisa—
WHAAAAACK!!
Tongkatnya menghantam kepala beruang tepat di antara kedua matanya.
Sunyi.
Beberapa detik berlalu.
Tubuh raksasa itu akhirnya berhenti bergerak.
Beruang hitam penjaga ujian… kalah.
Goo Yoon terengah-engah.
Ia hampir jatuh karena kelelahan.
Namun ketika ia melihat ke atas tebing…
Bendera merah ujian berkibar di sana.
Ia tersenyum tipis.
“Masih belum selesai.”
Dengan langkah berat, Goo Yoon mulai memanjat menuju puncak tebing.
Tanpa ia sadari…
Di atas tebing, seseorang sedang memperhatikannya.
Seorang pria berjubah hitam dengan mata tajam.
Pria itu tersenyum kecil.
“Menarik… anak ini.”
Angin gunung berhembus pelan.
Dan nasib Goo Yoon perlahan mulai berubah.
yg bner mn nih?
Hubungannya dengan gurunya membuat aku nostalgia sama guruku /Determined/