NovelToon NovelToon
Pucuk Indah Harapan

Pucuk Indah Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Karir
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Cinta tidak selalu datang dengan gemuruh.
Kadang ia tumbuh perlahan—seperti pucuk kecil yang bertahan di antara badai.
Arga adalah pria yang belajar mencintai melalui tanggung jawab. Ia percaya pernikahan bukan tentang romantika yang riuh, melainkan komitmen yang dijaga diam-diam, hari demi hari. Sementara Nara adalah perempuan yang membawa harapan di balik luka masa lalu—ia ingin dicintai sepenuhnya, tanpa ragu dan tanpa setengah hati.
Pertemuan mereka sederhana, namun keputusan untuk menikah mengubah segalanya. Di balik janji suci, ada perbedaan cara berpikir, ketakutan yang tak terucap, dan realitas hidup yang tak selalu sejalan dengan harapan. Mereka belajar bahwa cinta setelah pernikahan bukan hanya tentang saling memiliki, tetapi tentang saling memahami—bahkan ketika kecewa, bahkan ketika lelah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arga dan Prinsip Kakunya

Ruang rapat utama lantai 20 itu terasa seperti lemari es. Bukan hanya karena AC pusat yang disetel pada suhu 18°C, tetapi karena kehadiran Arga Abimanyu yang duduk di kursi kebesarannya dengan aura yang mampu membekukan siapa pun yang berani bersuara. Di depannya, tablet kerja menyala, namun tatapannya lurus tertuju pada layar proyektor di mana Nara sedang berdiri untuk memulai presentasi.

"Silakan dimulai, Ibu Nara," ucap Arga. Suaranya datar, namun ada penekanan pada kata 'Ibu' yang terdengar sangat berjarak, seolah kejadian semalam di bawah atap yang sama hanyalah fiksi.

Nara menarik napas panjang. Ia sudah terbiasa menghadapi klien sulit, tapi menghadapi suaminya sendiri dalam mode "CEO" adalah tantangan level berbeda.

"Terima kasih, Pak Arga. Berikut adalah revisi desain untuk lobi utama dan ruang executive lounge. Kami menggabungkan unsur kayu hangat dengan pencahayaan yang lebih lembut untuk memberikan kesan homey namun tetap elegan," papar Nara dengan tenang.

"Interupsi," potong Arga bahkan sebelum Nara sampai di slide ketiga. Ia meletakkan pulpennya di atas meja dengan bunyi tak yang menggema. "Kehangatan? Saya pikir saya sudah menegaskan di kontrak awal bahwa perusahaan ini mengusung konsep Modern-Industrial-Sophisticated. Apa poin 'Industrial' di sini sudah diganti dengan poin 'Ruang Keluarga'?"

Seluruh staf di ruangan itu menahan napas. Rio, yang duduk di samping Nara, mencoba membela. "Maaf Pak Arga, tapi menurut riset tim kami, kesan homey akan meningkatkan kenyamanan klien saat menunggu—"

"Saya tidak bertanya pada riset Anda, Rio," Arga menoleh tajam ke arah Rio, tatapan matanya seolah bisa melubangi kemeja pria muda itu. "Saya bicara tentang prinsip konsistensi merek. Jika prinsip dasar saja bisa dilanggar demi 'kenyamanan', lalu apa gunanya kontrak yang kita sepakati?"

Nara merasakan telinganya panas. Ia tahu Arga sedang melakukan apa: pria ini sedang menggunakan prinsip kakunya untuk menghukum Nara atas kejadian di koridor tadi pagi.

"Pak Arga," Nara melangkah maju sedikit, menatap langsung ke mata suaminya. "Prinsip tidak berarti mati rasa terhadap kebutuhan manusia. Desain yang kaku hanya akan membuat gedung ini terasa seperti penjara mewah. Saya yakin, sebagai pemimpin, Anda tahu bedanya ketegasan dan ketidakinginan untuk beradaptasi."

Hening. Bayu, asisten Arga, sampai pura-pura sibuk mencatat di bukunya untuk menghindari ketegangan itu.

Arga menyandarkan punggungnya di kursi. Ia menatap Nara lama sekali. Di matanya terpancar konflik antara rasa bangga karena Nara berani melawannya, dan rasa kesal karena perempuan ini tidak mau tunduk pada aturannya—baik di rumah maupun di kantor.

"Prinsip saya adalah aturan mainnya, Ibu Nara. Tanpa aturan, semua akan berantakan," Arga bicara dengan suara rendah namun mengancam. "Kembalikan desainnya ke konsep awal. Saya beri waktu sampai besok pagi jam delapan. Di meja saya."

"Besok pagi?" Rio terlonjak. "Tapi Pak, itu artinya kami harus lembur semalaman!"

"Itu konsekuensi dari ketidaktelitian mengikuti brief," jawab Arga dingin. Ia bangkit berdiri, menutup tabletnya dengan gerakan efisien. "Rapat selesai."

Arga melangkah keluar ruangan tanpa menoleh ke belakang. Nara berdiri terpaku di depan proyektor yang masih menyala. Ia merasa ingin melempar laser pointernya ke arah punggung Arga. Pria itu benar-benar menggunakan kekuasaannya untuk membatasi ruang gerak Nara, persis seperti yang ia lakukan di rumah.

"Mbak Nara, maaf ya. Kayaknya Pak Arga lagi bad mood parah," bisik Rio penuh simpati. "Apa saya temani lembur nanti malam di kantor?"

Nara hampir saja mengangguk, namun ia teringat perintah Arga di mobil tadi pagi: pulang sebelum jam lima. Jika ia lembur bersama Rio, Arga pasti akan meledak. Tapi jika ia pulang tepat waktu, pekerjaan ini tidak akan selesai.

"Nggak usah, Rio. Biar saya kerjakan sendiri di rumah," jawab Nara lirih.

Di balik pintu ruang rapat yang tertutup, Arga berdiri sejenak. Ia mengepalkan tangannya. Ia tahu ia baru saja bersikap tidak adil, namun prinsip kakunya menolak untuk mengaku kalah. Di kepalanya, ia hanya ingin memastikan satu hal: bahwa Nara tahu siapa yang memegang kendali, meskipun di luar sana, Nara bisa tersenyum pada siapa saja.

---

Nara mengemasi laptopnya dengan gerakan kasar, mengabaikan tatapan kasihan dari rekan-rekan setimnya. Di kepalanya, ia sedang menyusun rentetan kalimat protes yang akan ia tumpahkan begitu mereka sampai di rumah. Arga bukan hanya kaku; pria itu sudah menjadi diktator yang mencampurkan urusan pribadi—entah apa masalahnya—ke dalam urusan profesional.

Arga pulang lebih awal, sengaja untuk memastikan Nara tidak punya alasan untuk tetap berada di kantor bersama Rio. Saat Nara memasuki rumah pukul enam sore, ia menemukan Arga sudah duduk santai di ruang tamu, sedang membaca jurnal ekonomi seolah tidak pernah terjadi ketegangan luar biasa di ruang rapat tadi siang.

"Kamu keterlaluan, Arga," ucap Nara tanpa basa-basi, meletakkan tasnya dengan dentuman keras di atas meja.

Arga tidak menurunkan jurnalnya. "Selamat sore, Nara. Kamu terlambat satu jam dari kesepakatan jam lima kita."

"Jangan mulai dengan jam-jam sialan itu!" Nara berdiri di depan Arga, menghalangi pandangannya. "Apa masalahmu di kantor tadi? Kamu menghina kerjaku di depan orang banyak hanya karena aku menambahkan sedikit unsur 'hangat'? Itu desain, Arga, bukan rumus matematika!"

Arga akhirnya meletakkan jurnalnya, menatap Nara dengan tatapan yang sedingin es. "Itu prinsip, Nara. Perusahaan saya dibangun di atas konsistensi. Jika saya membiarkan satu vendor melanggar brief hanya karena saya punya hubungan pribadi dengannya, maka saya menghancurkan kredibilitas saya sendiri."

"Hubungan pribadi?" Nara tertawa getir. "Hubungan pribadi macam apa? Kita bahkan sarapan tanpa suara dan tidur di kamar yang berbeda! Kamu hanya takut kehilangan kendali, kan? Kamu takut kalau ada orang lain yang lebih mengerti apa yang dibutuhkan gedung itu daripada kamu."

Arga berdiri, membuat Nara harus sedikit mendongak karena perbedaan tinggi mereka. "Saya tidak takut kehilangan kendali. Saya hanya menjalankan aturan. Dan aturan besok pagi jam delapan tetap berlaku. Silakan kerjakan revisinya."

"Aku akan mengerjakannya," tantang Nara, matanya berkaca-kaca karena marah sekaligus lelah. "Tapi jangan harap aku akan mengerjakannya di kamarmu. Aku butuh ruang untuk berpikir, dan ruang itu bukan di tempat yang udaranya penuh dengan ego kamu."

Nara menyambar laptopnya dan berjalan cepat menuju kamar tamu yang biasanya ia tempati sebelum "inspeksi" ibu mereka. Namun, Arga mencekal lengannya saat ia melewati koridor.

"Nara, ingat kesepakatan. Kalau Ibu atau Tante Sarah menelepon video dan kamu tidak ada di kamar saya, apa jawabanmu?"

Nara menyentakkan tangannya dengan kuat. "Bilang saja pada mereka kalau istrimu sedang sibuk memperbaiki prinsip suaminya yang terlalu kaku sampai hampir patah! Jangan atur hidupku di luar jam kantor, Arga. Di sini, aku bukan vendormu."

Nara membanting pintu kamar tamu dan menguncinya dari dalam. Di ruang tengah, Arga berdiri mematung. Keheningan kembali menyergap rumah itu, namun kali ini terasa lebih tajam. Ia melihat ke arah tangannya yang tadi mencekal Nara, merasakan sisa hangat kulit perempuan itu.

Arga kembali duduk, namun ia tidak bisa lagi fokus pada jurnalnya. Prinsip kakunya yang biasanya menjadi pelindung terbaiknya, kini terasa seperti penjara yang mulai membuatnya kesepian di tengah rumah mewahnya sendiri. Ia tahu Nara benar; ia sedang tidak membela desain, ia sedang membela egonya yang terusik sejak melihat tawa Nara untuk pria lain pagi tadi.

---

Arga menghela napas panjang, suaranya terdengar berat di tengah ruangan yang kini terasa terlalu sunyi. Ia berjalan menuju dapur, mencoba mencari distraksi dengan menuangkan air dingin ke dalam gelas. Namun, kata-kata Nara tentang "prinsip yang hampir patah" terus terngiang di kepalanya.

Biasanya, Arga sangat bangga dengan ketegasannya. Baginya, emosi adalah variabel yang hanya akan merusak hasil akhir. Tapi malam ini, saat ia melihat cahaya lampu yang mengintip dari bawah pintu kamar tamu tempat Nara mengunci diri, ada sesuatu yang terasa salah.

Ia berjalan perlahan menuju kamar tersebut, berniat untuk mengetuk, namun tangannya berhenti di udara. Ia mendengar suara jemari yang menari cepat di atas keyboard laptop, disusul suara gumaman kesal Nara yang sedang bergelut dengan draf desain.

"Dasar kaku... tidak punya perasaan... industrial-industrial matamu," gumam Nara dari balik pintu, tidak sadar suaranya terdengar sampai luar.

Arga tertegun. Ia tidak tahu harus merasa tersinggung atau justru ingin tersenyum tipis. Ternyata di balik sikap profesionalnya di kantor, Nara menyimpan kejengkelan yang begitu manusiawi. Arga menurunkan tangannya, memutuskan untuk tidak mengganggu singa yang sedang terluka itu.

Ia kembali ke ruang kerja pribadinya, namun bukannya memeriksa laporan saham, ia malah membuka folder profil perusahaan milik Nara. Ia melihat portofolio desain perempuan itu satu per satu. Ia menyadari sesuatu yang sebelumnya luput dari perhatiannya yang terlalu teknis: setiap desain Nara memiliki "nyawa". Ada sentuhan yang membuat sebuah ruangan tidak hanya indah dipandang, tapi nyaman untuk ditinggali.

Mungkin, batasan industrial yang ia terapkan selama ini memang terlalu menyesakkan. Persis seperti pernikahannya yang ia atur sedemikian rupa dengan kontrak dan kesepakatan dingin.

Hampir tengah malam, Arga keluar lagi dari ruangannya. Ia melihat lampu di bawah pintu kamar tamu masih menyala. Tanpa suara, ia turun ke dapur, menyalakan mesin kopi, dan membuat secangkir latte dengan sedikit gula—sesuai dengan yang ia lihat saat Nara memesan di kafe tempo hari.

Ia membawa cangkir itu ke depan pintu kamar tamu. Kali ini, ia mengetuk pelan.

"Nara," panggilnya rendah.

Suara ketikan di dalam berhenti. "Apa lagi? Aku belum selesai, Arga. Masih ada lima jam sebelum jam delapan pagi!"

"Buka pintunya. Saya cuma bawa kopi," ucap Arga.

Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan wajah Nara yang tampak kusut dengan kacamata yang bertengger di hidungnya. Matanya yang lelah menatap Arga dengan penuh curiga. Namun, saat aroma kopi itu sampai ke penciumannya, pertahanannya sedikit goyah.

"Ini bukan kopi beracun agar aku makin cepat kerja, kan?" tanya Nara sinis, meski ia akhirnya menerima cangkir itu.

Arga menatapnya lekat. "Kerjakan saja semampumu. Prinsip saya memang kaku, tapi saya bukan monster yang membiarkan partnernya mati kelelahan karena ego saya sendiri."

Nara tertegun melihat perubahan nada bicara Arga. Tidak ada kata maaf yang keluar, tapi bagi pria seperti Arga, membawakan kopi di tengah malam adalah bentuk pengakuan kesalahan yang paling maksimal.

"Terima kasih," bisik Nara.

Saat Nara hendak menutup pintu, Arga menahan daun pintunya sebentar. "Setelah ini, kembali ke kamar utama. Sofa itu memang pendek, tapi setidaknya saya tahu istri saya tidak sedang merutuki saya dari kamar sebelah."

Tanpa menunggu jawaban, Arga berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Nara yang berdiri mematung memegang cangkir kopi yang hangat—hangat yang perlahan mulai menjalar, bukan hanya ke tangannya, tapi juga ke hatinya yang tadi sempat membeku.

---

Nara tertegun di ambang pintu, menatap punggung Arga yang menjauh dengan langkah yang tetap tenang namun tidak lagi sekaku biasanya. Ia menunduk, menatap kepulan uap dari cangkir kopi di tangannya. Aroma latte itu benar-benar sesuai dengan seleranya—bagaimana bisa pria sepertinya memperhatikan detail sekecil itu di tengah perang dingin mereka?

Ia kembali ke meja kerjanya di dalam kamar tamu, menyesap kopi itu perlahan. Rasa hangatnya seolah memberikan energi baru yang bukan berasal dari kafein, melainkan dari rasa dihargai yang sempat hilang di ruang rapat tadi siang.

Nara menatap layar laptopnya, melihat draf desain yang tadinya ia revisi dengan penuh kemarahan. Ia mulai menghapus beberapa bagian yang terlalu emosional, mencoba mencari jalan tengah antara konsep industrial Arga yang dingin dengan sentuhan manusiawi yang ia yakini benar.

"Oke,.Kita lihat siapa yang akan menang kali ini," gumamnya dengan senyum tipis yang mulai muncul.

Waktu berlalu hingga jarum jam menunjukkan pukul dua pagi. Pekerjaan itu akhirnya selesai. Nara meregangkan otot lehernya yang kaku, lalu teringat ucapan Arga: Kembali ke kamar utama.

Dengan langkah ragu, ia mematikan lampu kamar tamu dan berjalan menuju kamar Arga. Saat pintu terbuka, suasana di dalam sangat sunyi. Hanya ada cahaya lampu tidur yang temaram. Nara melihat ke arah sofa, Arga sudah terlelap di sana. Namun, selimut yang ia berikan semalam sudah terjatuh ke lantai, dan Arga tampak meringkuk sedikit karena udara AC yang dingin.

Nara mendekat dengan sangat pelan. Ia mengambil selimut itu, bermaksud menutupinya kembali. Saat ia membungkuk, ia bisa melihat wajah Arga saat tidur. Tanpa kacamata dan tanpa ekspresi otoriter, Arga tampak jauh lebih muda—dan jauh lebih rapuh. Garis-garis tegas di dahinya yang selalu muncul saat ia bicara soal "prinsip" kini menghilang.

"Kenapa kamu harus sesulit ini, Arga?" bisik Nara hampir tanpa suara.

Baru saja ia hendak menarik tangannya setelah membenarkan selimut, Arga bergerak dalam tidurnya. Secara refleks, tangannya meraih tangan Nara, menariknya pelan seolah mencari sumber kehangatan. Nara membeku. Jantungnya berdebar kencang saat menyadari ia kini terduduk di tepi sofa, dengan tangannya yang terperangkap dalam genggaman erat Arga.

Arga tidak bangun, tapi ia juga tidak melepaskan tangan Nara. Ia justru menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, lalu menyandarkan pipinya di punggung tangan Nara.

Nara ingin menarik tangannya, tapi ia tidak tega membangunkan pria yang tampak sangat kelelahan itu. Akhirnya, ia hanya terduduk di sana dalam kegelapan, membiarkan tangannya tetap dalam genggaman suaminya. Malam itu, di dalam kamar yang mendadak terasa begitu intim, prinsip-prinsip kaku yang mereka bangga-banggakan perlahan mulai mencair, digantikan oleh kehadiran satu sama lain yang nyata dan tak terelakkan.

Malam pertama mereka dihabiskan dengan jarak, malam kedua dihabiskan dengan amarah, namun malam ketiga ini... mereka menghabiskannya dalam keheningan yang mulai terasa seperti sebuah jembatan.

1
Rayyan Fahlevy
semangat kak
Rayyan Fahlevy
Lanjut kak🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!