tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Setelah sekitar lima belas menit yang terasa seperti berjam-jam, Genevieve akhirnya mencium perubahan aroma di udara. Bau apek lorong perlahan digantikan oleh aroma sisa kayu bakar, lemak hewani yang mengering, dan ragi. Ia telah tiba di area dapur dan penyimpanan makanan yang terletak di lantai dasar sayap pelayan.
Pintu ganda dapur itu sedikit terbuka. Ruangan di dalamnya gelap gulita, hanya diterangi oleh sisa-sisa bara merah yang berdenyut redup di perapian raksasa di tengah ruangan. Genevieve meluncur masuk ke dalam kegelapan itu layaknya sebuah bayangan.
Matanya beradaptasi dengan cepat. Ia melihat deretan meja kayu panjang yang dipenuhi noda sayuran dan bekas irisan pisau. Pisau-pisau dapur yang besar terkunci di rak besi di dinding. Di sudut ruangan, terdapat beberapa tong kayu besar dan rak gantung yang menjuntaikan beberapa potong daging asap yang keras.
Genevieve bergerak cepat namun terukur menuju ruang penyimpanan kecil (pantri) di belakang meja utama. Di sana, di dalam keranjang anyaman, ia menemukan apa yang ia cari: beberapa potong roti gandum hitam yang keras sisa jatah pelayan, dan separuh balok keju tua yang mulai mengering.
Ia mengambil satu potong roti yang teksturnya nyaris sekeras batu bata. Alih-alih langsung menggigitnya—yang akan menimbulkan bunyi keretakan yang keras—Genevieve berjalan ke arah tong air minum di sudut pantri. Ia mencelupkan ujung roti itu ke dalam air dingin, menunggunya beberapa detik hingga sedikit melunak, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Ia mengunyah dalam diam, matanya terus waspada mengawasi kegelapan dapur. Keju yang asin dan keras ia kunyah pelan-pelan. Tubuhnya merespons nutrisi dadakan itu nyaris seketika.
**[Asupan Kalori Terdeteksi. Menetralkan efek kelaparan sementara.]**
**[Waktu Bertahan Hidup Diperbarui: 38 Jam, 15 Menit.]**
Genevieve menghela napas lega yang nyaris tak terdengar. Ia berhasil memperpanjang waktunya. Namun, tepat ketika ia memasukkan sisa roti ke dalam saku jubahnya untuk persediaan besok, pendengarannya menangkap suara langkah kaki yang berat dan bergeser mendekat dari arah lorong pelayan.
Darah Genevieve seketika mendingin. Langkah itu tidak sendirian. Ada dua pasang kaki, dan salah satunya ia kenali dari caranya diseret—itu langkah Martha.
Genevieve dengan sigap menyusut ke sudut paling gelap di pantri, menyelipkan tubuh kurusnya di antara celah sempit antara dinding batu dingin dan tumpukan karung-karung tepung gandum yang berdebu. Ia menarik tudung jubahnya lebih rendah, menutupi seluruh rambut peraknya, dan menahan napasnya kembali. Tangannya perlahan meraba pinggangnya, menggenggam gagang tusuk konde perak peninggalan itu dengan erat, bersiap untuk kemungkinan terburuk.
Pintu pantri berderit terbuka, cahaya kekuningan dari lentera minyak tumpah ke dalam ruangan kecil itu, memotong bayangan panjang dari dua sosok yang berdiri di ambang pintu.
Sosok pertama adalah Martha. Wajah pelayan itu terlihat lelah, namun matanya memancarkan kekesalan. Sosok kedua adalah seorang pria paruh baya bertubuh gempal dengan pakaian beludru usang. Genevieve segera mengenali pria itu dari sisa-sisa ingatan tubuh ini; ia adalah Gideon, Kepala Pelayan Kastil Ravenscroft. Pria yang seharusnya mengatur semua kebutuhan kastil, yang selama ini selalu menutup mata atas penderitaan Genevieve.
"Aku sudah memberikannya dosis yang lebih banyak hari ini, Tuan Gideon," bisik Martha, suaranya bergetar antara rasa frustrasi dan ketakutan. Ia mengangkat lentera itu, menerangi wajah Gideon yang keras dan berkerut. "Dia menghabiskan tehnya. Aku melihatnya sendiri. Tapi sampai malam ini, tabib mengatakan tidak ada tanda-tanda kematian. Tubuhnya aneh, seolah-olah dia kebal."
"Turunkan suaramu, bodoh," desis Gideon tajam. Matanya melirik ke arah luar dapur dengan waspada sebelum kembali menatap Martha. "Racun Silvershade butuh waktu. Jika kau terlalu banyak memberikannya, paru-parunya akan meledak dan tabib bodoh itu akan tahu bahwa dia mati diracun, bukan karena sakit radang paru seperti yang kita rencanakan."
"Tapi kita kehabisan waktu!" Martha bersikeras, tangannya meremas celemeknya dengan cemas. "Tidakkah Anda mendengar kabar dari utusan pos sore tadi?"
Gideon mendengus pelan, mengusap wajahnya yang berkeringat dingin di tengah suhu beku kastil. "Itu sebabnya aku memanggilmu kemari. Surat dari ibukota baru saja tiba."
Di balik karung tepung, mata Genevieve memicing tajam. Genggamannya pada tusuk konde semakin menguat hingga buku-buku jarinya memutih. Jantungnya berdebar kencang, namun pikirannya tetap sejernih es, merekam setiap suku kata yang keluar dari mulut mereka.
"Apakah... apakah dari Yang Mulia Duke Alistair?" tanya Martha dengan suara gemetar.
"Bukan," potong Gideon cepat, nada suaranya berubah menjadi lebih rendah dan penuh ketakutan. "Duke Alistair sedang berada di perbatasan selatan, memimpin perang melawan kaum pemberontak. Dia sama sekali tidak peduli pada wanita buangan itu. Surat ini datang langsung dari *Nyonya Besar* House Blackwood di ibukota. Ibu suri Alistair sendiri."
Genevieve merasakan kejutan yang luar biasa menghantam dadanya. Pemahaman baru mengalir deras di otaknya, meruntuhkan semua asumsi awalnya.
"Nyonya Besar mengirimkan ancaman, Martha," lanjut Gideon, suaranya kini terdengar parau dan putus asa. "Dia mengatakan bahwa jika Lady Genevieve belum terbukti mati dan dikubur sebelum musim dingin berakhir bulan depan, maka Nyonya Besar akan mengirimkan pasukan elit pribadinya kemari. Mereka tidak hanya akan membereskan wanita itu, tapi mereka juga akan memenggal kepalaku, kepalamu, dan seluruh pelayan di kastil ini karena dianggap tidak becus menjalankan perintah rahasianya."
Martha menutup mulutnya dengan kedua tangan, lenteranya sedikit bergoyang, membuat cahaya di dalam pantri ikut menari liar. "Astaga... jadi... Nyonya Besar yang menyuruh kita..."
"Tutup mulutmu!" bentak Gideon tertahan. Ia mencengkeram lengan Martha dengan kasar. "Ya. Duke Alistair mengasingkannya ke utara yang dingin ini karena percaya wanita itu berkhianat, mungkin berharap dia mati perlahan karena cuaca. Tapi Nyonya Besar tidak ingin mengambil risiko wanita itu kembali dan menuntut haknya sebagai seorang Duchess. Nyonya Besarlah yang mengirimkan racun Silvershade itu padaku."
Gideon melepaskan cengkeramannya dan menghela napas kasar. "Besok pagi, gandakan racun di dalam tehnya. Jangan pedulikan apakah tabib curiga atau tidak. Lebih baik tabib tua itu yang kita habisi nanti daripada kita semua yang dipenggal oleh algojo dari ibukota. Pastikan wanita itu tidak bisa bernapas lagi saat matahari terbenam besok."
Martha hanya bisa mengangguk cepat, wajahnya seputih kapas. "B-baik, Tuan Gideon. Saya mengerti. Saya akan memastikannya mati besok."
"Bagus. Sekarang kembalilah ke kamarmu sebelum penjaga malam melewati koridor ini," perintah Gideon. Ia memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari pantri, diikuti oleh Martha yang tergopoh-gopoh sambil membawa lentera, membiarkan ruangan itu kembali ditelan oleh kegelapan pekat.
Genevieve masih berdiri kaku di balik karung tepung berdebu, menolak untuk mengendurkan otot-ototnya sampai suara langkah kedua pelayan pengkhianat itu benar-benar menghilang di kejauhan.
Perlahan, ia melepaskan napas panjang yang terasa sangat panas di udara dingin. Kegelapan di sekelilingnya terasa jauh lebih pekat, sepekat intrik politik yang kini membelit lehernya. Otaknya mencerna informasi baru ini dengan kecepatan kilat.
Suaminya yang dingin, Duke Alistair, membuangnya ke mari mungkin untuk menghukumnya, atau, ironisnya, bisa jadi untuk melindunginya dari ibukota yang haus darah tanpa menyadari bahwa ibunya sendiri telah menanam mata-mata di kastil ini. Sang Nyonya Besar House Blackwood adalah dalang sebenarnya. Gideon dan Martha hanyalah pion-pion rendahan yang dikendalikan oleh ketakutan.
Dan besok pagi, mereka akan datang dengan niat membunuh yang terang-terangan. Tidak ada lagi racun dosis lambat. Mereka akan memaksakan kematiannya.
Genevieve menatap ke arah pintu pantri yang terbuka, matanya menyala dalam kegelapan bak sepasang permata safir yang tajam dan mematikan. Bibirnya perlahan melengkung membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat dingin, senyuman seorang pemburu yang baru saja menemukan titik lemah mangsanya.
"Kalian ingin melihatku mati besok saat matahari terbenam?" bisik Genevieve ke udara kosong, suaranya stabil dan dipenuhi oleh tekad baja. Tangannya mengusap botol kaca berisi sisa racun di sakunya. "Mari kita lihat, siapa yang akan benar-benar kehilangan napasnya sebelum malam tiba."