Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang Terlalu Ramai untuk Sebuah Hati
Mobil Adrian berhenti tepat di depan rumah Alya ketika malam sudah benar-benar sunyi. Lampu teras rumah masih menyala lembut, sementara udara malam terasa sedikit lebih dingin setelah hujan tipis yang turun sebelumnya. Jalanan di depan rumah terlihat sepi, hanya suara jangkrik yang terdengar samar dari taman kecil di samping rumah.
Alya membuka sabuk pengamannya dengan gerakan cepat.
“Terima kasih untuk makan malamnya,” katanya santai.
Namun nada suaranya terdengar lebih ceria dari biasanya.
Adrian hanya mengangguk kecil dari kursi pengemudi.
“Sama-sama.”
Alya membuka pintu mobil lalu turun dengan langkah ringan. Ia melambaikan tangan kecil sebelum berjalan menuju pintu rumah. Namun sebelum benar-benar masuk, ia sempat menoleh lagi ke arah mobil Adrian yang masih parkir di depan.
Lampu mobil itu menyala sebentar sebelum akhirnya bergerak perlahan meninggalkan halaman rumah.
Alya berdiri di depan pintu selama beberapa detik.
Lalu…
Tiba-tiba ia melompat kecil.
“AAAAA!”
Ia menutup mulutnya sendiri sambil tertawa.
Begitu pintu rumah terbuka dan ia masuk ke dalam, tubuhnya langsung berubah seperti bola energi yang tidak bisa diam. Ia berjalan cepat menuju kamarnya di lantai atas sambil menahan tawa yang hampir meledak.
Begitu pintu kamar tertutup—
Alya langsung meloncat ke tengah ruangan.
“AAAAAA!”
Ia berputar di tempat seperti anak kecil yang baru menang lotre.
“Seru banget!”
Ia melompat-lompat kecil di atas karpet sambil memegang kepalanya sendiri.
Namun dari luar kamar…
Yang terdengar justru sangat berbeda.
“Alya?!”
Suara ibunya terdengar panik dari lorong.
“Alya kamu kenapa?!”
Ayahnya juga ikut mengetuk pintu dengan keras.
“Buka pintunya!”
Gedoran itu membuat Alya membeku di tempat.
Ia menoleh ke pintu dengan mata membesar.
“Ya ampun…”
Alya buru-buru berlari ke pintu lalu membukanya sedikit.
Ibunya berdiri di luar dengan wajah khawatir, sementara ayahnya terlihat hampir siap mendobrak pintu.
“Kamu kenapa teriak-teriak?” tanya ibunya.
Alya langsung tersenyum kaku.
“Enggak apa-apa…”
Ayahnya mengerutkan kening.
“Tadi kedengarannya kayak orang kesurupan.”
Alya langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Ya ampun.”
Ia tertawa kecil sambil mundur malu.
“Cuma… senang aja.”
Ibunya menatapnya curiga beberapa detik.
Namun akhirnya ia hanya menggeleng.
“Ya sudah, jangan teriak lagi. Ibu kira kamu kenapa.”
Setelah orang tuanya kembali ke kamar masing-masing, Alya menutup pintunya pelan.
Lalu ia bersandar di pintu itu sambil menghela napas panjang.
“Malu bangettt, awww.”
Namun beberapa detik kemudian…
Senyum kecil muncul lagi di wajahnya.
Ia berjalan ke arah kamar mandi sambil melepas jepit rambutnya.
“Ah, mandi dulu.”
Air hangat dari shower langsung jatuh ke bahunya ketika ia berdiri di bawahnya. Uap tipis memenuhi kamar mandi, membuat suasana terasa tenang setelah hari yang panjang.
Namun bahkan di bawah shower…
Alya masih tersenyum sendiri.
Ia mulai bersenandung kecil tanpa sadar.
“Hmmm… hm hm hm…”
Nada lagu itu tidak jelas. Hanya potongan melodi acak yang ia buat sendiri.
Pikirannya kembali memutar kejadian hari ini seperti film yang diputar ulang.
Butik gaun pengantin.
Gaun aneh yang membuatnya terjungkal.
Lalu makan lalapan di pinggir jalan.
Dan Adrian yang ternyata makan pakai tangan tanpa terlihat canggung sama sekali.
Alya tertawa kecil di bawah shower.
“Direktur makan lalapan.”
Ia menggeleng pelan.
“Aku pikir dia bakal kabur.”
Air hangat mengalir di rambutnya ketika ia menutup mata sebentar.
Entah kenapa, mengingat semuanya membuat dadanya terasa hangat.
Setelah selesai mandi dan berganti piyama, Alya keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah. Ia berjalan ke depan cermin besar di dekat lemari lalu berhenti di sana.
Beberapa detik ia hanya menatap dirinya sendiri.
Lalu tiba-tiba—
Ia mengangkat kedua tangannya seperti sedang memegang mikrofon.
“Selamat malam semuanya!” katanya dramatis pada bayangan dirinya sendiri.
Ia mulai berputar kecil di depan cermin.
“Terima kasih sudah datang ke konser Alya malam ini!”
Ia tertawa sendiri.
Kemudian ia mulai menari kecil sambil bersenandung.
“Lalalala… hari ini seru sekali…”
Alya memiringkan kepalanya sambil melihat dirinya di cermin.
“Direktur ternyata nggak se-menakutkan itu.”
Ia menggerakkan bahunya sedikit seperti sedang melakukan dance kecil.
“Bahkan makan lalapan juga.”
Ia menunjuk bayangannya sendiri.
“Dan dia ngajak aku ngobrol sama rekan bisnisnya.”
Alya berhenti sejenak.
Senyumnya melembut sedikit.
“Dia juga nggak bikin aku merasa kecil.”
Kalimat itu keluar pelan, hampir seperti pengakuan pada dirinya sendiri.
Beberapa detik ia hanya menatap cermin dengan ekspresi tenang.
Lalu tiba-tiba ponselnya bergetar di meja.
Alya menoleh.
Nama di layar membuatnya langsung membeku.
Adrian
Alya menatap layar itu seperti seseorang yang baru melihat hantu.
“Kenapa dia video call?”
Ia menelan ludah.
Setelah ragu beberapa detik, Alya akhirnya mengangkat panggilan itu.
Wajah Adrian muncul di layar.
Ia terlihat sudah di rumah, mengenakan kemeja santai.
“Alya.”
Alya duduk tegak seperti siswa yang dipanggil guru.
“Iya?”
Adrian terlihat sangat tenang seperti biasa.
“Aku cuma mau bilang…”
Ia berhenti sebentar.
“Selamat tidur.”
Alya berkedip.
“Hah?”
Adrian melanjutkan dengan nada datar.
“Tidur yang nyenyak.”
Lalu panggilan itu berakhir.
Alya menatap layar ponselnya dengan ekspresi kosong.
Beberapa detik berlalu.
Lalu—
“AAAAAA!”
Ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur sambil menggeliat seperti ulat.
“Kejang-kejang!”
Alya menendang-nendang udara dengan kaki.
“Kenapa dia video call cuma buat bilang selamat tidur?!”
Ia menutup wajahnya dengan bantal sambil tertawa histeris.
Namun setelah beberapa saat…
Ia tiba-tiba berhenti.
Alya menurunkan bantalnya perlahan.
Ekspresinya berubah bingung.
“Tunggu…”
Ia duduk di tempat tidur.
“Kenapa aku bereaksi kayak gini?”
Ia menatap tangannya sendiri.
“Aku kenapa sih?”
Beberapa detik Alya berpikir.
Namun otaknya terlalu lelah untuk mencari jawaban.
Akhirnya ia menghela napas panjang lalu mengambil remote televisi.
“Sudahlah.”
Ia menyalakan drama Cina kolosal favoritnya.
“Lebih baik nonton.”
Jam terus berjalan.
Satu episode.
Dua episode.
Tiga episode.
Tanpa sadar waktu sudah menunjukkan hampir jam satu malam.
Alya akhirnya tertidur dengan televisi masih menyala pelan.
Sementara itu…
Di tempat lain, Adrian duduk di ruang kerjanya dengan lampu meja menyala lembut.
Laptopnya terbuka di depan.
Namun yang ia lihat bukan laporan bisnis.
Melainkan profil media sosial Alya.
Ia menggulir layar perlahan.
Foto Alya bersama rangkaian bunga di toko ibunya.
Foto Alya tertawa bersama teman-temannya.
Foto Alya memegang kamera sambil membuat video promosi.
Beberapa video pendek juga muncul.
Adrian menonton salah satunya.
Alya terlihat sedang menjelaskan cara merangkai bunga sambil bercanda dengan pelanggan.
Senyumnya terlihat sangat hidup.
Adrian berhenti di satu foto.
Foto Alya yang tertawa lepas dengan mata hampir tertutup.
Ia menatap foto itu beberapa detik.
Lalu tanpa sadar…
Adrian tersenyum kecil.
Ia teringat bagaimana Alya terjungkal di butik tadi siang.
Dan bagaimana ia terlihat sangat bahagia ketika makan lalapan di pinggir jalan.
Adrian menutup laptopnya perlahan.
Malam terasa tenang.
Namun di dalam pikirannya, bayangan Alya masih muncul dengan jelas.
Di dua tempat yang berbeda malam itu…
Mereka berdua tersenyum sebelum akhirnya tertidur.
Bahagia.
Namun dengan cara mereka masing-masing.