Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19. Pengintaian Sang Bayangan
Malam di The Velvet Manor tidak pernah benar-benar menjanjikan kedamaian.
Selalu ada suara angin yang meratap di celah-celah dinding batu granit yang tua, atau derit kayu dari perabotan antik yang terdengar seperti rintihan jiwa-jiwa yang terjebak di dalamnya.
Aira berdiri di balkon kamarnya yang luas, membiarkan angin malam yang menusuk tulang menyapu kulit bahunya yang terbuka.
Gaun tidur sutra hitamnya yang tipis berkibar pelan, memeluk lekuk tubuhnya yang kini memancarkan otoritas yang berbeda—sebuah wibawa yang lahir dari keberanian untuk menjadi kejam.
Aira menatap hamparan hutan kabut di bawah sana, di mana kegelapan seolah menelan segala bentuk kehidupan.
Di tangannya, ia memegang gelas kristal berisi cairan hangat yang disiapkan oleh pelayan dapur—ia sudah tidak lagi mempercayai apa pun yang keluar dari tangan Julian tanpa pengawasan ketat.
Smirk tipis masih tertinggal di bibirnya yang kemerahan, sebuah sisa dari kepuasan saat melihat wajah Julian yang hancur dan ketundukan Dante yang terpaksa di aula tadi.
"Kau sangat menikmatinya, bukan?" bisik suara Isabella asli di dalam kepalanya, suaranya kini terdengar lebih jernih, seolah-olah dia sedang berdiri tepat di samping Aira.
"Rasa takut yang memancar dari pori-pori mereka adalah parfum terbaik yang pernah kau hirup, Aira. Kau mulai menyukai bagaimana mereka gemetar saat kau menatap mereka dengan kehinaan."
Aira tidak menjawab bayangan itu. Ia justru merasakan bulu kuduknya berdiri. Hawa di sekitarnya mendadak berubah menjadi lebih berat, lebih pekat. Ia merasa seperti sedang diawasi oleh predator yang tidak butuh cahaya untuk melihat.
Srak.
Suara gesekan kain yang sangat halus, nyaris tak terdengar oleh telinga manusia biasa, terdengar dari arah atap balkon yang menjorok.
Sebelum Aira sempat berbalik, sebuah bayangan besar melompat turun dengan keanggunan seekor macan kumbang yang sedang berburu.
Itu adalah Zane.
Zane tidak mengenakan seragam pengawalnya yang kaku. Ia hanya mengenakan celana hitam formal dan kemeja sutra hitam yang tidak dikancingkan, memperlihatkan otot-otot dadanya yang keras seperti batu karang dan tato mawar hitam yang merayap dari bahu hingga ke jantungnya.
Di tangannya yang bersarung tangan kulit setengah jari, ia memegang sebuah belati pendek yang bilahnya berkilat tajam di bawah sinar rembulan perak.
"Kau melanggar batas, Zane," ujar Aira. Suaranya tetap tenang, bahkan cenderung dingin.
Ia tidak bergeming sedikit pun dari posisinya di tepi balkon, meskipun ia tahu Zane kini berdiri hanya beberapa sentimeter di belakang punggungnya.
"Batas?" Zane terkekeh rendah, sebuah suara yang lebih mirip geraman serigala daripada tawa manusia.
"Sejak kapan ada batas bagi bayangan untuk mengawasi setiap gerak-gerik tuannya? Terutama tuan yang baru saja menunjukkan taring yang... sangat asing bagi indra penciumanku."
Zane melangkah maju, memerangkap Aira di antara tubuhnya yang besar dan panas dengan pagar balkon yang dingin.
Ia tidak menyentuh Aira dengan tangan, melainkan dengan ujung belatinya yang dingin. Ia menelusuri garis rahang Aira dengan mata pisaunya, sangat perlahan, seolah sedang membedah setiap lapisan kebohongan di balik wajah porselen itu.
"Tadi di aula, kau bilang kau hanya berpura-pura lemah selama beberapa hari ini untuk menguji kami," bisik Zane tepat di telinga Aira. Hawa napasnya berbau hutan, besi, dan sedikit aroma tembakau mahal.
"Tapi mata itu tidak bisa berbohong padaku, Isabella. Kau tidak sedang menguji kami karena kau berkuasa. Kau sedang berjuang sekuat tenaga agar jiwamu tidak hancur berantakan di bawah tatapan kami."
Zane menekan ujung belatinya sedikit lebih dalam di leher Aira, tepat di atas nadinya yang berdenyut kencang.
Ketegangan yang menyiksa ini membuat napas Aira tertahan. Logam dingin itu seolah siap menembus kulitnya jika ia salah berucap satu kata saja.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Zane lagi, matanya yang gelap mengunci pandangan Aira melalui pantulan di kaca jendela.
"Isabella yang kukenal selama sepuluh tahun adalah iblis, tapi dia adalah iblis yang bisa kuprediksi langkahnya. Kau... kau adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Kau kejam, tapi kau memiliki kelembutan yang sangat manusiawi di sudut matamu. Kelembutan yang membuat Dante dan Kael kehilangan akal sehat mereka karena ingin memilikinya."
Aira perlahan berbalik di dalam kungkungan lengan Zane yang kokoh. Ia menatap langsung ke mata gelap Zane yang penuh dengan kecurigaan yang mendalam dan hasrat yang tertahan.
Aira mengangkat tangannya yang halus, dan dengan tindakan yang sangat berani, ia menggenggam bilah belati Zane yang tajam. Ia menarik bilah itu ke telapak tangannya, membiarkan logam tajam itu mengiris kulitnya hingga setetes darah merah yang kental mengalir turun ke pergelangan tangannya.
"Kau ingin tahu siapa aku, Zane?" bisik Aira dengan smirk yang paling mematikan yang pernah ia miliki. Ia menjilat darah dari telapak tangannya sendiri sambil terus menatap mata Zane tanpa berkedip.
"Aku adalah mimpi buruk yang tidak akan pernah bisa kau bangunkan. Aku adalah pemilik napasmu, dan jika kau terus bertanya hal yang tidak perlu, aku akan memastikan lidahmu tidak akan bisa lagi menyebut namaku selamanya."
Zane tertegun. Aksi provokatif Aira benar-benar menghancurkan pertahanan mentalnya. Ia terbiasa dengan ancaman fisik, tapi ia tidak siap dengan tantangan sensual yang dibalut kekejaman seperti ini.
Obsesi yang selama ini ia tekan di balik kesunyiannya meledak seketika. Zane menjatuhkan belatinya ke lantai balkon—bunyi denting logam itu seolah menjadi tanda berakhirnya kewarasan Zane.
Ia mencengkeram pinggang Aira dengan kasar, menariknya hingga tubuh mereka bersentuhan tanpa celah sedikit pun.
"Kalau begitu, tunjukkan padaku kegelapanmu yang sebenarnya, Nyonya," geram Zane.
Zane mencium Aira di bawah sinar rembulan yang pucat.
Ciuman itu tidak seperti Dante yang dominan atau Kael yang liar. Ciuman Zane terasa seperti sebuah ancaman; dingin, menuntut, dan penuh dengan rasa haus akan sebuah kebenaran yang tersembunyi.
Ia mencium leher Aira dengan intensitas yang seolah ingin menghisap seluruh rahasia dan jiwa dari tubuh wanita itu.
Aira mendesah panjang, sebuah suara yang terdengar pasrah namun penuh kemenangan. Tangannya mencengkeram rambut hitam Zane yang kasar, menarik pria itu lebih dekat.
Ia merasa kewalahan oleh kekuatan fisik Zane yang luar biasa, namun di dalam hatinya, ia tersenyum. Ia telah berhasil menjinakkan satu lagi serigala yang paling berbahaya di rumah ini dengan cara yang paling kotor.
"Kau menciumku seperti seorang pengkhianat yang haus akan darah majikannya, Zane," bisik Aira di sela-sela ciuman mereka yang memanas.
"Aku adalah bayanganmu," balas Zane, napasnya memburu hebat. "Dan bayangan akan selalu menyentuh apa yang tidak berani disentuh oleh cahaya."
Zane mengangkat tubuh Aira, mendudukkannya di atas pagar balkon yang tinggi dan berbahaya.
Di bawah sana adalah jurang kegelapan hutan kabut, namun Aira tidak merasa takut sedikit pun. Ia justru merasa sangat hidup, lebih hidup daripada saat ia menjadi gadis kantor yang membosankan di dunianya yang lama.
Di dalam cermin kamar yang terbuka lebar, ia melihat Isabella asli sedang menonton mereka dengan mata yang berkilat nafsu dan bangga.
Malam itu, di bawah sinar bulan, Aira menyadari bahwa ia tidak perlu lagi kembali ke dunianya yang lama.
Di sini, di antara pelayan-pelayannya yang gila, obsesif, dan haus darah, ia telah menemukan takhtanya yang sebenarnya—sebuah takhta yang dibangun di atas ketakutan dan hasrat mereka.
"Mulai malam ini, kau akan menjadi mata-mataku di antara mereka bertiga, Zane," perintah Aira sambil membelai wajah Zane yang kini tampak benar-benar tunduk dan terobsesi padanya.
"Beritahu aku setiap bisikan yang direncanakan Dante, setiap racun yang disiapkan Julian, dan setiap rencana amukan Kael. Jika kau melakukannya dengan baik... aku akan memberimu hadiah yang jauh lebih berharga dari sekadar ciuman di balkon ini."
Zane berlutut di depan Aira di atas balkon, mencium jemari Aira yang berdarah dengan penuh pemujaan yang gelap, membiarkan noda merah itu mengotori bibirnya.
"Apapun... apapun perintah Anda, Nyonya. Hidup dan matiku adalah milik Anda."
Lanjuutt