Anela adalah janda muda beranak satu yang telah belajar bangkit setelah pernikahan pertamanya hancur karena pengkhianatan. Hidup mandirinya membawanya menjadi wanita dewasa yang kuat, anggun, dan memikat—dengan aura sensual alami yang membuatnya mudah menarik perhatian pria.
Rico adalah pembasket terkenal, tampan, kaya, dan dominan dalam cara yang tenang namun penuh karisma. Pertemuan mereka dimulai dari satu malam yang penuh ketegangan hasrat dan rasa penasaran yang sulit dijelaskan.
Apa yang awalnya hanya percikan gairah berubah menjadi hubungan yang semakin dalam—dipenuhi tarikan emosional, ketegangan hasrat, dan keinginan untuk memiliki satu sama lain di tengah dunia mereka yang berbeda. Namun cinta mereka harus menghadapi masa lalu, tekanan karir, dan kenyataan bahwa cinta panas tidak selalu mudah untuk dipertahankan.
Semakin mereka mendekat, semakin kuat pula rasa ingin memiliki… dan semakin berbahaya cinta yang mereka sembunyikan dari dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELUKAN PENUH KERINDUAN
Pintu kamar tertutup.
Dan untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.
Hanya suara napas mereka sendiri.
Kamar itu terasa lebih sempit dari biasanya — bukan karena ruangannya berubah, tapi karena ketegangan di antara mereka yang sudah menumpuk selama dua minggu tanpa benar-benar bisa menyentuh satu sama lain secara bebas.
Rico yang pertama bergerak.
Pelan.
Seolah sedang menahan sesuatu yang sudah lama ingin keluar.
Tangannya kembali ke pinggang Anela, menarik perempuan itu lebih dekat tanpa terburu-buru, tapi cukup kuat untuk membuat Anela merasakan betapa besar rindu yang ditahan pria itu.
“Aku hampir gila dua minggu ini,” bisik Rico rendah.
Suara itu saja sudah membuat kulit Anela merinding.
Anela tertawa kecil — pelan, gugup, tapi juga penuh keinginan yang sama.
“Kamu yang pilih supaya kita gak ketemu dulu,” balasnya.
“Kamu juga tidak pernah minta aku berhenti datang.”
Itu benar.
Dan mereka berdua tahu itu.
Anela yang bergerak lebih dulu kali ini.
Ia menarik kerah baju Rico, mendekatkan wajahnya, mencium pria itu dengan lebih dalam dari sebelumnya — bukan terburu-buru, tapi lebih lapar, lebih emosional, seolah mereka sedang mencoba menebus waktu yang hilang.
Rico mengeluarkan napas berat di sela ciuman itu.
Tangannya bergerak naik ke punggung Anela, menahan perempuan itu lebih dekat, seolah takut Anela akan berubah pikiran atau menghilang kalau ia sedikit saja memberi jarak.
Ciuman mereka menjadi lebih lambat.
Lebih dalam.
Lebih terasa seperti percakapan tanpa kata tentang rindu, tekanan dunia luar, dan keinginan untuk tetap menjadi tempat pulang satu sama lain.
Anela merasakan detak jantung Rico yang cepat di dadanya sendiri.
“Kamu tahu aku kangen apa?” bisik Rico di dekat bibir Anela.
“Apa?”
“Cara kamu menatap aku seperti ini.”
Anela tersenyum kecil, napasnya sudah berubah lebih berat.
“Kamu juga selalu menatap aku seperti kamu takut aku pergi.”
Rico tidak membantah.
Ia hanya menempelkan dahinya ke dahi Anela, memejamkan mata sebentar — momen kecil yang terasa lebih intim daripada banyak kata romantis.
Lampu kamar yang redup membuat suasana semakin hangat, semakin privat, seolah dunia di luar sana tidak ada hubungannya dengan mereka.
Rico mulai melucuti pakaian Anela, dan dirinya sendiri dengan gerakan yang sangat cepat. Ia tidak ingin membuang waktu.
Rico mencium Anela, sambil menggiringnya ke arah kasur. Lalu membaringkannya di sana.
Anela gugup karena ia juga sangat menunggu momen ini. Bercinta dengan kekasih hatinya.
Rico membuka paha Anela, memainkan jarinya di bawah sana. Anela terkesiap sedikit tidak siap.
Lalu mulai mencoba menikmati permainan Rico. Rico memainkan jari telunjuknya di dalam Anela dengan gerakan konstan, perlahan dan pasti, gelombang itu datang, gelombang kenikmatan yang diberikan Rico lewat jari-jarinya.
Sejurus kemudian, tanpa menunggu Anela reda dari gelombang kenikmatan yang baru dicapainya, Rico bergegas menancap miliknya, tidak tergesa, hanya cepat, dan tetap lembut.
Sekali masuk, "blesss" dan Rico langsung bergerak, mengejar puncak kenikmatan yang ia tahan selama dua minggu ini. Dibawahnya Anela mengerang "aaaghh"
Rico tau, Anela sedang di ujung tanduk, menuju pelepasan gelombang kenikmatan untuk kedua kalinya, Rico menancapnya dengan lebih cepat. "Hmmmh.... panggil namaku sayang!" bisik Rico di telinga Anela.
' Emhhh.... aaah Rico... Aaah.... terus sayang, tancap lebih kuat Rico...ahhh...Rico ku..."
aaah aaah aaah aaah.... teriak rico begitu sampai puncak kenikmatan yang benar-benar memabukkan.
-------------------
semangat kak....👍😍
lanjut kak...🙏