Hu Li’an merasa kepalanya seperti akan pecah. Cahaya putih yang menyilaukan dari lampu plafon membuatnya mengerutkan kening.
Lantai yang keras di bawah tubuhnya bukan tempat tidur hotel yang lembut seperti yang dia ingat sebelum pingsan di bak mandi. Udara berbau alkohol dan obat-obatan yang khas rumah sakit membuatnya semakin pusing.
Dia ingat Saat itu dia merasa tenggorokan kering dan tubuhnya tidak berdaya, air mulai memenuhi bak mandi.
"Harusnya aku tenggelam... tapi kenapa aku ada di sini?"
Tiba-tiba pintu ruang inap terbuka perlahan dari luar. Seorang pria tinggi dengan wajah tajam dan mata hitam yang dalam masuk bersama seorang dokter dan perawat.
Pria itu mengenakan jas hitam yang rapi, rambutnya tertata rapi, dan ekspresinya tampak terkejut." Kamu bangun!"
Dokter segera mengarahkan perawat untuk menyiapkan alat pemeriksaan.Pria itu berjalan mendekati ranjang dengan langkah yang mantap, lalu menekan ujung ranjang dengan lembut.
"Kamu bangun..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Menjaganya
Hu Lian tidak bertanya lebih jauh lagi.Tubuhnya yang sangat kelelahan membuatnya memutuskan untuk pergi tidur lebih dulu, menyampaikan ucapan selamat malam dengan lembut sebelum masuk ke dalam selimut.
Sementara itu, Bai Xuning pergi ke ruang tamu dengan membawa laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaan sambil menunggu kabar dari Wang Yihan.
Tidak lama kemudian, notifikasi email muncul di layar laptopnya. Dia membukanya dan wajahnya langsung mengerut setelah membaca isi pesannya.
Pria yang menyerang Hu Lian ternyata adalah mantan saingan ayahnya yang telah bangkrut karena terbongkar mengelabui pajak dan kini menjadi buronan hukum.
Kebencian orang itu sangat dalam terhadap keluarga Hu karena ayah Hu adalah salah satu orang yang memberikan bukti tentang penggelapan dana perusahaan miliknya.
Namun selama ini dia tidak bisa menjangkau ayah atau ibu Hu, jadi akhirnya dia memilih untuk mengincar Hu Lian sebagai targetnya.
Wajah Bai Xuning menjadi semakin dingin dan penuh kemarahan. Dia segera mengetik balasan email untuk Wang Yihan, memberikan perintah dengan tegas.
"Berikan pelajaran yang cukup keras agar dia tidak berani lagi menghampiri Hu Lian atau keluarga nya. Tapi pastikan tidak ada korban jiwa dan semua dilakukan dengan cara yang tidak akan membuat kita terlibat masalah hukum," tulisnya dengan cepat sebelum mengirimnya.
Setelah itu, dia membuka email kedua yang baru saja masuk—berisi informasi tentang Ling Zhi.
Dari data yang dikumpulkan, keluarga Ling dulunya adalah tetangga dekat keluarga Hu, bahkan tinggal di komplek perumahan yang sama selama bertahun-tahun.
Lebih dari itu, Ling Zhi dan Hu Lian adalah teman baik sejak kecil dan bahkan bisa dibilang sebagai kekasih masa kecil.
Bai Xuning menatap layar laptopnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Informasi ini membuatnya merasa sedikit tertekan, namun dia segera menekan perasaan itu dan menutup laptopnya.
Dia berdiri dan berjalan menuju kamar Hu Lian, ingin memastikan bahwa dia tidur dengan nyaman dan aman.
Bai Xuning perlahan membuka pintu kamar tanpa membuat suara, melihat Hu Lian yang sudah tertidur dengan damai di atas ranjang.
Cahaya bulan yang masuk melalui jendela menerangi wajahnya yang lembut, membuatnya terlihat lebih anggun dari biasanya.
Tanpa berpikir panjang, dia melepas sandalnya dan naik ke tempat tidur dengan hati-hati, berusaha tidak membangunkan gadis itu.
Dia kemudian berbaring di sisinya dan dengan lembut memeluk tubuhnya dengan sikap yang cukup posesif—tangan besarnya erat menyelimuti pinggang Hu Lian, sementara wajahnya menyandar di lehernya.
Hu Lian sedikit bergerak dan meringkuk lebih erat ke dalam pelukannya, namun tidak terbangun. Bai Xuning menutup matanya dan menghela nafas dalam, merasakan aroma khas Hu Lian yang membuat hatinya menjadi lebih tenang.
Dia kemudian mengeluarkan suara bisik yang hanya bisa terdengar dirinya sendiri. "Aku tidak akan pernah melepaskan mu... tidak peduli siapa yang datang atau apa yang terjadi di masa lalu mu. Kamu hanya milik aku.."
Sambil terus memeluknya erat, Bai Xuning perlahan tertidur dengan pikiran yang penuh tekad untuk selalu menjaga dan melindungi gadis yang dicintainya.

Hu Lian terbangun dengan perlahan, merasa tubuhnya seperti terjerat dalam pelukan yang erat.
Seperti biasa, Bai Xuning masih memeluknya dengan posisi yang sama—wajahnya yang tampan tertancap di dadanya, napasnya hangat dan tenang menyentuh kulitnya.
"......."Dia melihat ke atas dengan ekspresi campuran antara kesal dan lembut.
Tangan Hu Lian yang masih terbalut perlahan mengangkat seolah ingin memukul pipi pria itu agar terbangun, namun segera dia menarik tangannya kembali.
Melihatnya yang tenang dan wajahnya yang terlihat damai saat tidur membuat Hu Lian tidak tega untuk mengganggunya.
Sudahlah... biarkan dia saja tidur lebih lama sedikit, pikirnya dengan menghela nafas perlahan.
Dia menyaksikan wajah Bai Xuning yang biasanya tampak keras dan dingin kini terlihat sangat lembut saat tertidur.
Kadang-kadang dia melihat pria itu sedikit mengerutkan dahi atau menggenggamnya lebih erat, seolah sedang bermimpi tentang sesuatu.
Hu Lian perlahan mengusap rambut hitam legam Bai Xuning dengan jari-jari kecilnya, gerakannya sangat lembut agar tidak membangunkan dia.
Walaupun sering merasa kesal dengan sikap posesifnya, di dalam hatinya dia tidak bisa menyangkal bahwa kehadiran pria itu membuatnya merasa aman dan terlindungi.
Tak lama setelah itu, kelopak mata Bai Xuning mulai bergerak perlahan.
Dia membuka matanya dengan pelan, dan langsung menemukan wajah Hu Lian yang sedang melihatnya dengan ekspresi lembut, sementara jari-jarinya masih sedikit menyentuh rambutnya.
"Kamu sedang mengelus rambutku?" ucapnya dengan suara yang masih sedikit serak karena baru bangun, wajahnya langsung tampak lebih ceria.
"......."Hu Lian segera menarik tangannya dengan cepat, wajahnya sedikit memerah karena ketahuan.
"A-aku tidak! Hanya rambutmu kusut dan ada debu di sana..." katanya dengan nada sedikit defensif, berusaha menutupi perasaannya.
Namun Bai Xuning tidak memperdulikan penjelasannya. Dia menarik Hu Lian lebih dekat dan mencium dahinya dengan lembut.
"Terima kasih..,"bisiknya dengan suara lembut.Dia kemudian melihat tangan Hu Lian yang masih terbalut dan mengangkatnya dengan hati-hati untuk melihatnya."Bagaimana perasaan lukamu hari ini? Apakah sudah lebih baik?"
Hu Lian tertegun sesaat sebelum mengangguk perlahan, merasa sedikit menghangatkan dengan perhatiannya. "Sudah tidak terlalu sakit lagi... dokter bilang besok bisa ganti perban."
"Baiklah, sekarang aku akan memasak sarapan untukmu. Kamu tinggal diam saja dan istirahat," ucapnya sebelum pergi ke arah kamar mandi, Sebuah senyum lebar muncul di wajahnya tanpa dia menyadari hal itu.

Keduanya menikmati sarapan dengan cukup tenang—meskipun Bai Xuning hanya bisa membuat roti isi sederhana, Hu Lian tetap merasa senang karena rasanya cukup enak.
Saat mereka hampir selesai, bel rumah tiba-tiba berbunyi dengan keras.
Bai Xuning segera mengangkat tangannya untuk menghalangi Hu Lian yang hendak berdiri.
"Kamu diam saja dan habiskan makanannya, aku yang akan membukanya," ucapnya dengan lembut sebelum bangun dari kursinya dan berjalan menuju pintu.
Namun ketika dia membuka pintu dan melihat siapa tamu yang datang, wajahnya yang tadinya ceria langsung berubah menjadi dingin dan ekspresinya sungguh menyakitkan suasana baik yang ada.
"Ling Zhi?Apa yang kamu lakukan di sini?!"tanya Bai Xuning dengan nada yang jelas menunjukkan rasa tidak senang, tubuhnya secara tidak sadar menghadang pintu agar pria itu tidak bisa masuk begitu saja.
Ling Zhi mengenakan jas muda dengan kacamata emasnya yang khas, wajahnya tetap tenang meskipun disambut dengan sikap dingin.
Dia mengangkat kantong berwarna kemerahan yang dipegangnya dengan tangan kanannya.".....Aku hanya ingin mengunjungi Ah Lian untuk memastikan kondisinya baik-baik saja. Aku membawa beberapa makanan yang bisa membantu proses penyembuhan lukanya,"
jawabnya dengan sopan namun tegas, mata langsung mencari keberadaan Hu Lian dari balik Bai Xuning.Suara mereka membuat Hu Lian segera berdiri dan berjalan mendekat ke arah pintu.
"Siapa itu?" tanyanya, dan ketika melihat Ling Zhi, ekspresinya sedikit terkejut. "Oh... kamu?"
Bai Xuning melihatnya dengan tatapan cemas, takut Hu Lian akan mengizinkan pria itu masuk.
Ling Zhi melihat dari pakaian Hu Lian yang masih mengenakan piyama merah marun, kemudian mengalihkan pandangannya ke Bai Xuning yang juga memakai piyama yang sama persis.
Wajahnya yang tadinya tenang langsung mengeraskan, alisnya terangkat dengan ekspresi tidak percaya.
Bukankah mereka sudah putus? Lalu mengapa mereka tinggal bersama dan bahkan memakai piyama pasangan? pikirnya dengan hati yang sedikit tertekan, namun tetap mempertahankan sikap tenangnya.
"Ah Lian, bolehkah aku masuk sebentar saja? Aku hanya ingin memberikan makanan ini dan memastikan kondisimu baik-baik saja,"ucapnya dengan suara lembut, menatap langsung ke arah Hu Lian.
Gadis itu mengangguk perlahan dan akan mengizinkannya masuk, namun Bai Xuning segera menghalangi dengan langkah cepat.
"Maaf, tidak bisa!" katanya dengan nada tegas, membuat Hu Lian melihatnya dengan tatapan kesal."Apa alasannya?!"
Bai Xuning berpikir cepat dan mengeluarkan alasan yang benar-benar konyol. "Kita... kita sedang membersihkan apartemen dan penuh dengan debu! Kalau kamu masuk pasti akan terkena debu banyak dan tidak baik untuk kesehatanmu.........." jelasnya dengan wajah yang mencoba tampak serius padahal matanya menunjukkan bahwa dia sedang berpura-pura.
Hu Lian hanya bisa menghela nafas dalam dan menutup wajahnya dengan tangan yang tidak terluka.
"Alasan paling konyol yang pernah kudengar dalam hidupku..." bisiknya dengan frustasi.Sementara itu, Ling Zhi hanya bisa tersenyum pelan mendengar alasan itu.
"Tidak apa-apa, aku tidak perlu masuk lama.cukup beri saja makanan ini pada Ah Lian......," ucapnya sambil memberikan kantong kemerahan itu kepada Bai Xuning dengan tatapan yang penuh makna. "Dan tolong jaga dia dengan baik ya... jika kamu tidak bisa, aku akan mengambil alih."
"Jangan bermimpi!" Bantah Bai Xuning memandangnya dengan tatapan penuh kemarahan sebelum dengan cepat mengambil tas makanan itu dari tangan Ling Zhi.
Tanpa berkata sepatah kata lagi, dia mendorong pria itu keluar, kemudian menutup pintu dengan keras yang membuat dinding sedikit bergetar.
Nafasnya terasa berat dan cepat, dada terasa sesak karena kata-kata provokatif yang keluar dari mulut Ling Zhi terus mengganggunya.
Dia sadar bahwa pria itu sengaja mengatakan hal itu untuk membuatnya khawatir.Hu Lian sudah berdiri di belakangnya dan melihat seluruh kejadian.
"...Ada apa denganmu?" tanyanya dengan suara lembut, sedikit khawatir melihat wajah Bai Xuning yang tampak sangat tegang.
Bai Xuning berbalik dengan cepat, tas makanan itu terjatuh ke lantai tanpa dia sadari.Dia langsung berjalan menghampiri Hu Lian dan memeluknya dengan sangat erat, kepalanya menyembunyikan wajahnya di leher gadis itu.
"...Sayang, jangan tinggalkan aku oke.. aku sudah berusaha menjadi baik..."bisiknya dengan suara yang menggigil.
Hu Lian langsung membeku ketika merasakan bagian lehernya menjadi basah.
Dia menyadari bahwa Bai Xuning sedang menangis—hal yang sangat jarang dia lihat dari pria yang biasanya tampak kuat dan percaya diri seperti itu.
Tanpa berpikir panjang, dia mengangkat tangan yang tidak terluka dan mulai mengusap punggungnya dengan lembut.
"Aku tidak akan pergi kemana-mana... tenang saja..." ucapnya dengan suara lembut ,meskipun hatinya sendiri merasa sedikit bingung dengan perubahan suasana yang tiba-tiba.