Rose Moore, seorang desainer perhiasan elit di Boston yang sukses dan cantik, mendapati dunianya hancur tepat di malam perayaan ulang tahun pernikahannya yang ke-2. Suaminya, Asher Hudson, seorang Direktur Pemasaran terpandang, ternyata telah menikah siri selama tiga bulan dengan wanita bernama Mia Ruller atas paksaan orang tuanya. Alasan keji di baliknya: Rose dianggap "tidak suci" karena masa lalunya yang yatim piatu dan tidak perawan, sementara keluarga Hudson menuntut ahli waris dari darah yang mereka anggap "murni".
Alih-alih menangis dan meminta cerai, Rose yang terluka memilih jalan yang lebih dingin, ia menerima pernikahan tersebut hanya demi mempertahankan status hukumnya. Ia bertekad menyiksa Asher secara mental, menguasai hartanya, dan menghancurkan reputasi keluarga Hudson yang sombong dari dalam.
Namun, rencana balas dendam Rose tergoncang saat ia secara tak sengaja bertemu kembali dengan Nikolai Volkov, kekasih masa SMA-nya dari Texas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
Waktu berlalu seperti badai yang menghantam karang, menyisakan puing-puing masa lalu yang kini terkubur di bawah salju abadi Saint Petersburg, Rusia. Tiga belas tahun telah terlewati sejak malam Nikolai Volkov memilih memutus tali pusat dengan kekaisaran ayahnya di Texas. Perjalanan itu tidak mudah. Viktor Volkov ternyata memiliki dendam yang lebih dalam dari samudra.
Tahun-tahun pertama pelarian mereka adalah medan perang finansial. Setiap kali Nikolai membangun bisnis baru di Eropa, Viktor akan datang dengan kekuatan modalnya; menghancurkan mitra kerja Nikolai, menyuap bank, dan memaksanya gulung tikar. Mereka berpindah-pindah dari satu apartemen sempit ke apartemen lainnya, dari London ke Berlin, hingga akhirnya Nikolai membawa Rose ke tanah leluhur ibunya yang jauh: Rusia. Di sana, di bawah perlindungan hukum yang berbeda dan jauh dari jangkauan langsung Texas, Nikolai memulai segalanya benar-benar dari nol.
Rose Moore tidak pernah sekalipun mengeluh. Wanita yang dulunya pernah merasakan kemewahan Boston itu kini belajar memasak dengan bahan seadanya, mencuci pakaian dengan tangannya sendiri, dan tetap tersenyum manis menyambut Nikolai yang pulang dengan bahu lunglai.
"Asal bersamamu, Nik. Dunia ini luas, kita tidak butuh Texas untuk bahagia," bisik Rose setiap malam, menjadi satu-satunya alasan Nikolai tidak menyerah pada kegelapan.
Namun, takdir memiliki cara yang kejam untuk menguji mereka. Puncak penderitaan itu terjadi sepuluh tahun silam. Saat Nikolai sedang berjuang mempertahankan perusahaan logistik kecilnya dari serangan pengkhianat—para tikus yang disuap ayahnya untuk membocorkan data, badai lain menghantam rumah mereka.
Anak kembar mereka, Theodore dan Alexander, yang saat itu baru berusia dua tahun, terserang demam tinggi secara bersamaan. Di tengah kekacauan kantor dan pembekuan akun bank akibat sabotase Viktor, Nikolai tidak bisa segera memberikan fasilitas medis terbaik. Alexander, sang adik yang fisiknya lebih lemah, tidak mampu bertahan. Bocah kecil itu mengembuskan napas terakhirnya di pelukan Rose, tepat saat salju pertama jatuh di tahun itu.
Kepergian Alexander menjadi luka yang tak pernah benar-benar pulih. Nikolai hampir gila karena rasa bersalah; merasa gagal menjadi ayah dan pelindung. Viktor Volkov tidak hanya merampas hartanya, tetapi secara tidak langsung telah merenggut nyawa cucunya sendiri. Sejak hari itu, Nikolai menutup rapat pintu hatinya untuk Texas. Ia membuang nama belakangnya dan hidup hanya sebagai Nikolai, seorang pengusaha kelas menengah yang tangguh di Rusia.
Kini, sepuluh tahun setelah tragedi itu, kehidupan mereka telah mencapai stabilitas yang tenang namun bermakna. Theodore, yang kini berusia dua belas tahun, tumbuh menjadi anak laki-laki yang luar biasa. Ia mewarisi tatapan mata Nikolai yang tajam, namun memiliki kelembutan hati ibunya. Theodore adalah pusat semesta mereka, pengingat abadi akan perjuangan berdarah-darah orang tuanya.
Perusahaan logistik Nikolai kini sudah cukup stabil. Meski ia sengaja menjaga profilnya agar tetap rendah di bawah radar internasional, pendapatannya lebih dari cukup untuk hidup nyaman di sebuah rumah bergaya klasik dengan perapian yang selalu menyala. Nikolai lebih memilih keamanan keluarganya daripada ekspansi gila-gilaan yang bisa mengundang perhatian sang ayah.
Rose sendiri tidak pernah kehilangan kilaunya. Meski sering berpindah tempat, nama "Rose Moore" justru menjadi legenda di kalangan kolektor perhiasan rahasia. Pelanggan setianya dari masa lalu tetap mencarinya lewat jalur pribadi. Ia kini memiliki studio kecil di lantai atas rumah mereka, tempat ia menciptakan karya indah dari batu permata Rusia yang eksotis.
Pagi itu, aroma roti gandum dan kopi memenuhi dapur. Rose, yang kini terlihat lebih matang namun tetap secantik saat pertama kali Nikolai menemukannya, sedang menata sarapan. Theodore masuk ke dapur dengan seragam sekolah, membawa tas punggungnya.
"Pagi, Ma." Theodore mengecup pipi Rose. Anak itu sangat protektif terhadap ibunya, seolah ia tahu berapa banyak air mata yang telah dikeringkan Rose untuknya.
"Pagi, Theo. Sarapanmu sudah siap. Ayahmu sedang menelepon, mungkin soal pengiriman di pelabuhan," jawab Rose sambil tersenyum lembut.
Tak lama kemudian, Nikolai masuk. Ia duduk di meja makan, memandang istri dan anaknya dengan tatapan penuh syukur.
"Bisnis hari ini?" tanya Rose lembut.
"Stabil, Sayang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Nikolai menggenggam tangan Rose di atas meja. "Aku baru saja mendapat kabar bahwa Hudson Marketing di Boston akhirnya benar-benar hilang dari peta bisnis. Asher Hudson sekarang hanyalah seorang buruh di pabrik otomotif. Ayahku... dia mulai menua dan kehilangan taringnya di Texas."
Rose hanya mengangguk pelan. Masa lalu itu terasa seperti mimpi buruk yang sangat jauh.
"Apa kita akan kembali ke sana suatu hari nanti, Ayah?" tanya Theodore tiba-tiba.
Nikolai menatap putranya, lalu beralih ke foto Alexander yang ada di atas nakas perapian. "Tidak, Theo. Rumah kita di sini. Di tempat di mana kita tidak perlu menjadi siapa-siapa untuk dicintai. Di tempat di mana ibumu tidak perlu menangis karena dihina."
Rose tersenyum, menyentuh tangan Nikolai. Mereka mungkin tidak lagi memimpin bursa saham dunia, mereka mungkin dicoret dari daftar pewaris tunggal miliaran dolar, tetapi di rumah hangat di tengah dinginnya Rusia ini, mereka memiliki kekayaan yang tidak akan pernah bisa dibeli oleh Viktor Volkov: keutuhan jiwa dan cinta yang tak terkalahkan oleh waktu.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰