Hujan turun tanpa jeda malam itu, di kamar kos sempit berbau lembab, Dian terbaring sendirian, tidak ada keluarga yang menemani Dia hidup sebatang karang, hanya terdengar suara tetesan air dari atap bocor, nafasnya semakin berat. Perutnya kosong sejak kemarin Dian belum makan apapun, Dian sudah terbiasa menahan lapar, sejak kecil Dia hidup tanpa orang tua bekerja serabutan berpindah-pindah tempat tinggal. Menahan hinaan, rasa dingin sendirian, seakan dunia tidak pernah memberinya pilihan.
Namun malam ini terasa berbeda, tubuhnya terlalu lemah untuk bangkit, pandangannya mulai kabur, Dia menatap langit-langit atap yang bocor dan tersenyum tipis, "Apa memang hidupku cuma sampai disini..?"
Malam itu hujan turun semakin deras, angin menyusup dari celah jendela membawa hawa dingin yang menusuk tulang.
Nantikan kelanjutan cerita yaa🌹🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twis G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 12
Yin Yin hampir ingin memukul kepalanya sendiri saat melihat cahaya spiritual putih itu keluar dari tubuh harimau kecil.
Dihadapannya, tiga kultivator langsung menatap dengan mata berbinar serakah, salah satu dari mereka maju selangkah,
"Benar, ini aura harimau putih roh surgawi."
Yang lain tertawa pelan, "Tak ku sangka kita menemukannya di desa kecil seperti ini."
Mata mereka kini benar-benar tertuju pada harimau kecil di pelukan Yin Yin.
Yin Yin masih memeluknya seperti memeluk kucing biasa, tetapi di dalam hatinya dia hampir panik,
"Sistem! Sistem! Sistem! Cepat lakukan sesuatu!"
DING!
Panel transparan muncul di hadapannya.
[Permintaan bantuan darurat terdeteksi]
[Memindai situasi....]
Beberapa detik terasa sangat lama, ketiga kultivator sudah semakin dekat, kultivator berjubah biru berkata dengan nada dingin,
"Gadis kecil, serahkan binatang itu, hewan itu bukan sesuatu yang bisa dimiliki orang biasa."
Yin Yin tersenyum canggung, "Ah... paman salah liat, ini benar-benar cuma kucing."
Harimau kecil di pelukannya malah mengibas ekor santai, "Krrr".
Yin Yin hampir menangis, "Tolong jangan bersuara sekarang..."
Saat itu suara sistem kemudian terdengar lagi,
DING!
[Solusi ditemukan]
[Menekan energi spiritual target]
[Biaya 5 poin sistem]
Yin Yin hampir berteriak senang di dalam hati,
"Pakai! Cepat pakai!"
DING!
[Cincin penekan aura spiritual diaktifkan]
Seketika sebuah cahaya tipis yang tak terlihat manusia biasa menyelimuti tubuh harimau kecil, aura spiritualnya yang tadi terasa samar di udara langsung hilang, benar-benar hilang.
Ketiga kultivator yang tadi bersiap mengambil langkah tiba-tiba mengerutkan kening,
"Hm?"
Yang berjubah hitam memejamkan mata sejenak mencoba merasakan lagi, sunyi... tidak ada apapun, kultivator pertama menatap Yin Yin lagi.
"Aneh, aura tadi benar-benar tidak ada sama sekali."
Yang lain menggeleng, "Aku tidak merasakannya lagi."
Mereka menatap harimau kecil di pelukan Yin Yin, sekarang benar-benar terlihat seperti anak kucing putih biasa.
Harimau kecil itu bahkan sedang menjilat cakarnya lagi, "Krrr."
Yin Yin berusaha tetap santai, "Sudah saya bilang kan, cuma kucing biasa."
Beberapa detik berlalu dalam keheningan, akhirnya kultivator berjubah biru menghela nafas, " Mungkin kita salah."
Yang lain mendengus kesal, "Aura spiritual di desa seperti ini memang masih kacau."
Mereka menatap Yin Yin sekali lagi, lalu berbalik pergi menuju arah hutan, "Kita coba cari ke arah gunung."
Langkah mereka perlahan menjauh, baru setelah bayangan tiga kultivator itu benar-benar hilang dari jalan desa, Yin Yin langsung terduduk di rumput.
"HAAAH.."
Dia memeluk harimau kecil itu erat-erat, "Aku hampir mati karena kamu!"
Harimau kecil itu menatapnya bingung, "Krr?"
DING!
[Fungsi penekan aura akan aktif selama target berada dekat tuan rumah]
Yin Yin menganggu puas, "Itu bagus."
Dia menatap harimau kecil di pelukannya dengan serius, "Mulai sekarang kamu harus sembunyi dengan baik."
Harimau kecil itu hanya mengibas ekor.
Langit sudah mulai gelap Yin Yin akhirnya kembali ke rumah, rumah kayu kecil mereka di tepi desa sudah mulai mengeluarkan cahaya lampu minyak.
Begitu Yin Yin membuka pintu_
Ibunya langsung menoleh dari dapur, "Yin Yin? Kamu dari mana saja?"
"Yin Yin habis dari ladang di sungai Bu," sambil memeluk harimau putih, dan keranjang di punggungnya.
Ibunya menghela nafas dan mengangguk, "Lain kali jangan pulang terlalu sore."
"Siap Bu," kata Yin Yin cepat.
Ibunya, Lin Mei Hua, sedang menumbuk sesuatu di lesung, ayahnya, sedang memperbaiki keranjang bambu di sudut ruangan. Adiknya yang kedua, Yin Chen, sedang membelah kayu, adik ketiganya, Lin Meli dan si bungsu Xiao Lan duduk di lantai mengupas kacang.
Begitu melihat Yin Yin membawa sesuatu putih di pelukannya, Xiao Lan langsung berlari, "Kakak bawa kucing!"
Harimau kecil itu menatap Xiao Lan, "Krr?"
Yin Yin menghela napas, "Iya kucing."
Ayahnya yang mendengar itu tertawa kecil, "Kucing dari hutan?"
Yin Yin mengangguk cepat, "Ngk Yah, dia sendiri ikut aku pulang."
Ibunya tersenyum, "Kalau begitu biarkan saja dia di rumah, biar makin rame."
Harimau kecil itu malah langsung melompat ke lantai dan berjalan santai seperti pemilik rumah, Yin Yin menatapnya 'Kamu benar-benar tidak tahu bahaya'.
Namun suasana seru itu terganggu saat Yin Yin tiba-tiba menepuk tangannya, "Oke, Ayah ibu, adik-adikku, hari ini aku akan membuat sesuatu, kita akan bekerja sama."
Keluarganya menatapnya bingung,
"Kerja apa?"
Yin Yin tersenyum misterius, Dia membuka panel sistem diam-diam dan melihat resep yang tadi muncul.
DING!
[Resep tersedia]
*Roti gandum madu
Yin Yin berkata dengan semangat, "Besok kita jualan roti gandum madu di pasar!"
Ibunya berkedip, "Jualan? Roti gandum?"
Yin Yin mengangguk cepat, "Ya, aku punya resep roti gandum madu pasti enak."
Ayahnya tertawa melihat nada antusias Yin Yin, "Kamu bisa buat roti?"
Yin Yin mengangkat dagunya bangga, "Tentu saja, ayah pasti belum ketemu roti gandum madu ini dimana pun."
Sistem berbunyi pelan,
DING!
[Mode panduan memasak diaktifkan]
Beberapa saat kemudian, seluruh dapur kecil itu menjadi ramai, Yin Chen menggiling gandum, Lin Meli mencampur adonan, Xiao Lan memegang mangkuk madu dengan hati-hati, Lin Mei Hua membantu mengaduk adonan dan Yin Guo Shan menyiapkan tungku.
Sementara Yin Yin berdiri di tengah dapur seperti jendral perang yang memberi perintah,
"Tambahkan madu!"
"Aduk lagi!"
"Jangan terlalu banyak air!"
Harimau kecil itu duduk di sudut dapur, menatap semua orang dengan penasaran, aroma roti yang manis perlahan memenuhi rumah, beberapa saat kemudian, batch pertama roti keluar dari tungku, hangat dan berwarna keemasan.
Yin Yin menggigit sedikit, matanya langsung berbinar, "Enak!"
Ibunya juga mencoba, matanya melebar, "Ini, benar-benar enak."
Ayahnya tertawa terkejut, "Kalau dijual di pasar pasti laku!"
Yin Yin tersenyum puas dengan roti buatan mereka, sementara itu di sudut dapur, harimau kecil itu mengendus aroma roti, "Krr?"
Yin Yin menatap harimau kecil itu, Dia menyobek sedikit roti dan memberikannya.
Harimau kecil itu menggigitnya, lalu matanya langsung berbinar, "Krr!"
Semua orang langsung tertawa melihat ekspresi harimau kecil itu, malam itu rumah kecil keluarga Yin dipenuhi aroma roti gandum madu.
Bersambung....