ini adalah part 2 dari novel "Diremehkan Karena Miskin Ternyata aku punya sistem analisis nilai"
disarankan baca part 1 terlebih dahulu
**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2—Mencari Karyawan Pertama
BAB 2
Rahmat menyadari satu hal. Dunia bisnis itu pasti lebih gelap daripada yang dibayangkan, bukan hanya serangan dari Black spider tempo hari yang untung dia berhasil gagalkan, namun kedepannya dia pasti akan mendapatkan banyak lagi saingan bisnis lain, kemungkinan akan menyerang dengan cara tidak sportif.
Meski Rahmat sekarang bisa serbaguna, dia mampu membeli skil apapun yang berguna di dunia bisnis dan menjalani usahanya sendiri. Ia tetap butuh batasan, dia tidak bisa fokus ke segala aspek. Gampangnya dia butuh karyawan tambahan.
Ting-Tong-Ting-Tong
Bel istirahat waktu itu berbunyi nyaring, menandakan jam pelajaran telah berakhir. Guru menutup materi dan keluar dari kelas.
Suasana kelas jadi gaduh saat itu juga. Namun rahmat masih berkutat dengan buku tulisnya.
Ia sudah merancang bagian-bagian dan jobdesk yang dibutuhkan. Termasuk model, marketing, divisi perlindungan (tukang pukul), dan karena kejadian tadi malam tentu … dia butuh seorang IT yang paham tentang dunia hacking.
Rahmat menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu kelas yang keras. Pikirannya melayang pada kejadian di Galeria semalam. Membeli skill hacking seharga sepuluh juta memang menyelamatkan hartanya, tapi itu menguras energi mentalnya hingga titik terendah.
Ia juga manusia, masih banyak kegiatan yang harus dilakoni. Paling tidak dia membutuhkan satu orang IT lagi.
"Aku tidak bisa terus-menerus jadi pemadam kebakaran," gumamnya pelan. "Kalau Black Spider menyerang saat aku sedang tidur atau ujian, habislah semuanya."
Ia butuh seseorang yang bisa berjaga di balik layar 24 jam atau paling tidak mereka berdua bisa membagi tugas, menjaga 12 jam 12 jam. Seseorang yang otaknya sudah 'terinstal' logika komputer tanpa perlu dibeli lewat sistem.
Terkadang orang jenis seperti itu lebih memiliki kemampuan lebih baik daripada seseroang yang hanya membeli dari skil sistem.
Oleh karena itu, dia sempat konsultasi sama Anisa ketua osis SMA Garuda dan kakak kelasnya. Anisa merupakan anak dari komandan polisi di kota ini, sebelumnya dia pernah bekerja dibawah sang ketua osis itu untuk melindungi seorang idol bernama Kanaya Arcelia yang kini menjadi teman sekelasnya selama 7 hari.
Dan dalam wase kerja itu dia paham bahwa Anisa punya banyak jaringan atas hal tersebut,
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Anissa masuk.
[ Kak Anissa: Mat, soal permintaanmu semalam tentang tenaga IT... aku punya satu nama. Dia adik kelasmu, kelas 10. Namanya Maya. Dia salah satu orang yang paling kupercaya untuk urusan data internal OSIS. Besok dia ada seleksi tahap akhir calon ketua OSIS. Dia adalah penerusku saat dia sudah kelas 11 besok.]
Rahmat mengernyit. "Kelas 10? Calon Ketua OSIS?"
Apa itu bahkan baik-baik saja, dia tidak akan terbagi dan sibuk? Rahmat mengetikan sesuatu, mengatakan apakah tidak ada jaringan yang lebih luas lagi, bukan anak sekolah namun yang lebih profesional lagi.
Lagian Rasanya agak kontradiktif. Biasanya calon ketua OSIS adalah orang-orang yang vokal dan penuh percaya diri, sementara hacker handal biasanya lebih suka bersembunyi di balik tudung jaket.
Namun jawaban Anisa buat dia terkejut.
[Kak anisa ; Maya lebih profesional dari semua It yang , bahkan melampaui teknisi di polsek tempatku. Aku bahkan sempat menawari dia untuk bergabung dengan agensi nya kalau sudah lulus.]
[Kak Anisa: Jangan terkecoh penampilannya. Temui dia di ruang lab komputer sebelah barat setelah jam istirahat atau pulang sekolah. Dia biasanya bersembunyi di sana kalau suasana kelas terlalu berisik.]
Rahmat bangkit, mengabaikan ajakan teman-temannya untuk ke kantin.
“Mat, mau makan?” Tanya rafeka.
Dani menimpali. “Tapi jangan buat kegaduhan seperti tempo hari!”
Rahmat terkekeh, menolak dengan sopan. “Maaf, sayang sekali aku ada urusan sebentar.”
Ia berjalan menuju sayap gedung sekolah yang jarang dilewati murid—lantai bawah tanah yang lembab dan sunyi.
Pintu lab komputer itu tertutup rapat. Dari celah kaca yang buram, Rahmat hanya melihat cahaya biru dari satu monitor di pojok ruangan. Ia mengetuk pelan, lalu masuk.
Di sana, duduk seorang siswi dengan seragam yang terlihat agak kebesaran. Rambutnya tergerai bebas dan kacamata tebalnya merosot sampai ke ujung hidung. Ia terlihat tampil menawan, cantik juga, namun aura yang dikeluarkan sedikit kaku, matanya juga panda tanda dia kebanyakan bergadang, lalu postur tubuhnya bungkuk. Ciri-ciri orang tidak percaya diri.
“H-halo,” sapa rahmat untuk menghilangkan suasana sunyi.
Gadis itu berhenti dari aktivitas komputer, lalu menoleh. Saat melihat Rahmat, gadis itu tersentak hingga hampir jatuh dari kursi putarnya.
Tubuhnya bergetar seperti ketakutan.
"A-ada apa ya? Lab... labnya sedang tidak dipinjam," suara gadis itu sangat kecil, nyaris tenggelam oleh suara kipas CPU. Ia menunduk dalam-dalam, seolah takut menatap mata Rahmat.
‘ini jauh dari kata kurang percaya diri.’ batinnya.
Rahmat berjalan mendekat, matanya diam-diam mengaktifkan sistem analisis untuk melihat data-datanya ia ingin melihat sehebat apa kandidat calon ketua OSIS besok dan kenapa Anissa mempercayainya.
“A-ah … jangan mendekat …” ucapnya lirih, malu.
Namun rahmat makin mendekat, menatap gadis itu lebih jelas.
━━━━━━━━━━━━━━━
[SYSTEM ANALYSIS: TARGET CHARACTER]
━━━━━━━━━━━━━━━
Nama: Maya Adhisti
Usia: 15 Tahun
Status: Siswi SMA Garuda Kelas X, Kandidat Ketua OSIS paling dipercayai
Reputasi Sekolah: Rendah – Tidak terlalu dikenal bahkan tergolong buruk karena dia tidak percaya diri
Latar Belakang:Karena sering mengurung diri dan tidak punya banyak teman dia jadi super nolep
Nilai Kepribadian: 5/10 (buruk karena tidak percaya diri, namun orang yang baik hati)
Tingkat Kepercayaan Diri: Sangat Rendah
Kemampuan Khusus:
Elite Cyber Security
Logic Architect.
Tingkat Ketertarikan terhadap Host: 30% (Alih-alih tertarik gadis ini malah ketakutan)
Tingkat Kecocokan dengan Host: Lumayan
Potensi Masa Depan: Tinggi
berpotensi menjadi :
- Hacker
-Tim It profesional
Catatan:
-Butuh dukungan emosional dan validasi konsisten
(Setiap tuan membantu target mencapai potensi masa depan, hadiah spesial akan diberikan)
Potensi Hubungan dengan Host di Masa Depan:
Calon pasangan – 60% Patner kerja 85%
━━━━━━━━━━━━━━━
Data Belum juga berakhir. Berkat kemampuan sistem level 3 beberapa data bertambah
—--
Iq : 145 (JENIUS)
Kecerdasan : S
Kemampuan Kepemimpinan : C
Kemampuan Bela Diri : C
Karisma : C
Ukuran tersembunyi: Ukuran Tersembunyi: 34D (Estimasi Sistem)
Catatan: Tidak proporsional dengan penampilan luar – tersamarkan oleh seragam longgar dan postur membungkuk, ukuran cukup besar untuk anak seumurannya
______
Rahmat terdiam beberapa detik.
“…Ini sistem makin nggak tahu tempat,” batinnya datar. “Ngawur parah.”
Dari luar, Maya benar-benar terlihat seperti “gadis biasa”—bahkan cenderung tenggelam di antara siswa lain. Seragam kebesaran, bahu sedikit turun, cara duduk yang defensif, dan kacamata tebal yang menutupi ekspresinya.
Tidak ada yang akan menyangka. Rahmat melirik sekilas tanpa sadar. Kendati bilang begitu, dia masih lelaki pada umumnya.
Pakaian itu memang kebesaran, namun jika dilihat lebih jelas lekukan asetnya melekut ketat, kancingnya yang terbuka diatas menampilkan belahan. Yup, ini benar 34D
“Memang besar, ya.” Gumamnya.
“Eh? Besar … apa maksudnya?” Ucap gadis itu mendengar ucapan barusan.
Rahmat langsung mengalihkan pandangan lagi. “Fokus, goblok…” gumamnya pelan dalam hati.
Seperti baru sadar apa yang terjadi, dan arah mata pandang barusan. Ia merona.
“A-apa yang kamu lihat…?” suara Maya langsung terdengar gemetar.
Gadis itu refleks menyilangkan tangan di depan tubuhnya, wajahnya memerah drastis sampai ke telinga. Kursinya mundur sedikit karena dorongan panik.
“K-kamu jangan aneh-aneh ya! Dasar Mesum, buaya darat! Apa maumu kesini!?