Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Bel Pintu di Waktu Terlarang
Yuni datang lebih pagi dari biasanya.
Ardi baru saja keluar dari kamar Maya ketika suara pintu dapur terbuka. Dia membeku di lorong. Di kamarnya sendiri, dia seharusnya aman. Tapi langkah kakinya masih terasa berat. Napasnya masih cepat.
Yuni masuk dengan tas belanja. Dari lorong, Ardi mendengar suaranya bergerak—membuka kulkas, meletakkan sayur, menyalakan kompor. Suara normal. Suara yang seharusnya menenangkan. Tapi pagi ini, setiap dentingan piring terasa seperti peringatan.
Ardi masuk ke kamar mandi. Air dingin membasahi wajahnya. Di cermin, bayangannya sendiri terlihat asing. Mata sayu. Dagu sedikit kasar. Bekas lipatan bantal di pipi. Tapi yang paling mengganggu adalah matanya—ada ketakutan di sana yang tidak bisa dia sembunyikan.
Ketika dia turun, Maya sudah duduk di meja dapur. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Rambut disisir rapi. Pakaian rapi. Senyum tipis yang sudah disiapkan sejak tadi pagi.
“Pagi,” sapa Maya, datar.
“Pagi.” Ardi duduk di seberangnya. Menjaga jarak.
Yuni membawa nasi goreng ke meja, tersenyum ramah. “Selamat makan, Bu. Pak.”
Mereka makan dalam diam. Yuni sibuk di dapur, mencuci peralatan masak yang sebenarnya sudah bersih. Ardi tahu dia mendengarkan. Telinganya seperti radar, menangkap setiap kata yang tidak diucapkan.
“Bu Maya,” Yuni memecah keheningan. Masih membelakangi mereka.
“Iya, Yuk?”
“Tadi pagi saya lihat pintu dapur tidak terkunci. Mungkin Ibu lupa.”
Maya berhenti mengunyah sebentar. “Iya. Maaf, Yuk. Aku lupa.”
“Tidak apa-apa. Saya hanya ingatkan.” Yuni menoleh, tersenyum ramah. “Rumah besar begini harus hati-hati. Jangan sampai ada yang masuk.”
Ardi menatap Yuni dari balik mangkuk. Wanita itu tersenyum. Tidak ada yang aneh. Tapi kata-katanya terasa tajam. Jangan sampai ada yang masuk. Seperti peringatan. Seperti jebakan yang dipasang dengan senyum.
Setelah sarapan, Ardi berdiri. “Aku ke kantor.”
“Hati-hati,” kata Maya.
Ardi berjalan ke lorong, mengambil jaket. Di balik pintu dapur, suara Yuni terdengar pelan.
“Ibu, saya mau bicara.”
Ardi berhenti.
“Bicara apa, Yuk?” Suara Maya tenang. Tapi Ardi tahu dia panik.
“Sebentar saja. Nanti setelah Bapak Ardi berangkat.”
Ardi mengepalkan tangan. Ingin kembali. Ingin mendengar. Tapi dia tahu itu akan mencurigakan. Dia keluar, menutup pintu di belakangnya.
Di dalam mobil, dia duduk sebentar. Memegang setir dengan tangan gemetar.
Ponselnya bergetar. Maya.
Yuni mau bicara. Aku takut.
Ardi mengetik: Aku tidak jadi ke kantor. Aku tunggu di luar.
Jangan. Itu akan semakin mencurigakan.
Maya—
Biarkan aku bicara dengannya. Aku bisa.
Ardi menatap layar. Jari-jarinya menggantung. Dia tidak ingin meninggalkan Maya sendirian. Tapi Maya benar. Jika dia tidak berangkat, Yuni akan semakin curiga.
Telepon aku kalau ada apa-apa.
Iya.
Ardi menghidupkan mesin. Melaju keluar garasi. Di kaca spion, rumah Menteng terlihat seperti biasa. Megah. Tenang. Tidak menunjukkan apa pun yang terjadi di dalam.
---
Ardi tidak pergi ke kantor.
Dia memarkir mobil di jalan kecil di belakang rumah Menteng. Tempat yang tidak terlihat dari jendela dapur. Matanya tidak lepas dari pintu belakang.
Ponselnya diam.
Sepuluh menit. Dua puluh. Ardi mulai gelisah. Membayangkan Yuni bicara pada Maya. Membayangkan Maya menangis. Membayangkan semuanya terbuka.
Ponselnya bergetar.
Maya: Dia tahu. Tapi dia tidak akan bilang pada Bram.
Ardi mengetik cepat: Dia minta apa?
Dia minta aku jujur. Aku bilang—aku bilang aku mencintaimu.
Ardi menutup mata. Kepala bersandar di setir. Maya mengaku. Pada Yuni. Wanita yang tidak mereka kenal. Yang bekerja di rumah mereka. Yang tiba-tiba menjadi penjaga rahasia mereka.
Dia bilang apa?
Dia diam. Lalu dia bilang, “Saya tidak akan lapor. Tapi Ibu harus siap kalau suatu hari nanti semuanya terbuka.”
Lalu?
Lalu dia bilang dia akan tetap bekerja di sini. Karena dia butuh uang. Tapi dia tidak akan jadi bagian dari rahasia ini.
Ardi menghela napas. Lega yang tidak bertahan lama. Yuni tidak akan lapor. Tapi Yuni juga tidak akan membantu mereka menyembunyikan. Dia hanya akan diam. Dan diamnya bisa jadi bom waktu.
Aku pulang.
Jangan. Dia masih di sini. Dia bilang dia akan pulang siang, tapi dia ingin membersihkan kamar lantai dua.
Kita bicara nanti malam.
Iya.
Ardi mematikan mesin. Bersandar di kursi. Di luar, matahari mulai naik, menghangatkan kaca mobil yang mulai berembun. Dia menatap rumah Menteng dari kejauhan. Rumah yang dulu terasa seperti penjara. Sekarang terasa seperti satu-satunya tempat yang ingin dia tuju.
---
Ardi kembali pukul empat sore.
Yuni sudah pulang. Dapur bersih. Tidak ada suara panci atau piring. Ardi berjalan ke lorong, menaiki tangga dengan langkah cepat.
Pintu kamar Maya terbuka setengah.
Ardi masuk tanpa mengetuk. Maya duduk di tepi ranjang, menghadap jendela. Punggungnya membelakangi pintu. Di tangannya, secangkir teh yang sudah dingin.
“Maya.”
Maya menoleh. Wajahnya pucat. Matanya merah. Tapi dia tidak menangis. Hanya lelah. Lelah yang sudah terlalu lama dipendam.
“Kau datang,” katanya.
“Aku tidak pergi ke kantor. Aku di belakang rumah.”
Maya tersenyum tipis. “Aku tahu. Aku melihat mobilmu dari jendela kamar mandi.”
Ardi duduk di sampingnya, meraih tangannya. Tangan Maya dingin. Sedikit gemetar.
“Dia bicara apa?”
Maya menarik napas panjang. “Dia bilang dia sudah melihat dari minggu pertama. Cara kita saling memandang. Cara kita menghindari bertatapan di depannya. Cara aku tersenyum setiap kali kau pulang.”
Ardi menggenggam lebih erat.
“Aku bilang dia salah,” lanjut Maya. “Tapi dia bilang, ‘Ibu, saya tidak bodoh.’” Maya tertawa pahit. “Lalu aku—aku bilang dia benar.”
“Kau tidak perlu—”
“Aku perlu, Ardi.” Maya menatapnya. Matanya jujur. “Aku sudah lelah berbohong. Setidaknya pada satu orang, aku ingin jujur.”
Ardi tidak menjawab. Maya benar. Mereka sudah terlalu banyak berbohong. Pada Sari, pada Bram, pada Yuni, pada diri mereka sendiri.
“Dia bilang dia tidak akan lapor,” kata Maya. “Tapi dia tidak akan membantu kita. Dan dia bilang—” Maya berhenti. Suaranya patah.
“Bilang apa?”
“Dia bilang, ‘Semua rahasia pasti terbuka, Bu. Saya hanya tidak ingin berada di dekat saat itu terjadi.’”
Ardi menutup mata. Kata-kata Yuni terasa seperti nubuat. Semua rahasia pasti terbuka.
“Aku takut, Ardi,” bisik Maya. “Aku takut suatu hari nanti semuanya terbuka. Bram tahu. Sari tahu. Semua orang tahu. Dan aku akan kehilangan segalanya.”
Ardi membuka mata. Menatap Maya. Di bawah cahaya sore yang masuk lewat jendela, wajahnya lembut. Matanya basah. Bibirnya sedikit menggigit. Dia ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi dia tidak bisa berbohong pada Maya. Tidak lagi.
“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi,” kata Ardi jujur. “Tapi aku janji, aku tidak akan meninggalkan kamu sendirian.”
Maya menatapnya lama. Lalu tersenyum. Senyum yang patah. Senyum yang tidak lagi berusaha kuat.
“Janji?” bisiknya.
“Janji.”
Ardi menarik Maya ke dalam pelukan. Tubuhnya gemetar. Air matanya membasahi kemejanya. Di luar, matahari mulai tenggelam. Meninggalkan langit oranye yang perlahan berubah menjadi abu-abu.
Mereka berdua duduk di tepi ranjang. Berpelukan. Tidak bicara. Tidak ada yang perlu dikatakan. Semua sudah terbuka. Setidaknya pada Yuni.
---
Malam tiba lebih cepat dari biasanya.
Maya sudah berganti pakaian. Rambut dikeringkan. Wajah dibersihkan dari bekas tangis. Ardi duduk di ruang keluarga, pura-pura membaca laporan yang tidak dia mengerti.
Ponselnya berdering. Sari.
“Di, aku ke rumah Menteng. Aku bawain kue buat Kak Maya.”
Ardi menegang. “Sekarang?”
“Iya. Aku udah di jalan. Kamu di sana, kan?”
“Iya. Aku—”
“Oke. Aku lima menit lagi.”
Telepon ditutup. Ardi berdiri, berjalan ke dapur. Maya sedang membantu Yuni membereskan peralatan makan malam.
“Sari mau ke sini,” bisik Ardi.
Maya menegang. “Sekarang?”
“Lima menit lagi.”
Maya menghela napas. Mengusap keringat di dahi. “Aku ke kamar dulu. Ganti baju.”
“Tidak perlu. Kamu sudah rapi.”
“Aku tidak rapi, Ardi. Mataku sembab.”
Maya berjalan cepat ke lorong, menaiki tangga. Ardi berdiri di ruang keluarga. Jantungnya berdebar tidak karuan. Yuni masih di dapur, mencuci piring, tidak menunjukkan reaksi apa pun.
Bel pintu berbunyi.
Ardi membuka pintu. Sari berdiri di teras, membawa kotak kue merah muda. Tersenyum cerah. Dress biru muda. Rambut diikat setengah. Wajah segar.
“Di! Aku bawain kue bolu kesukaan Kak Maya.” Sari masuk tanpa diundang. Matanya menyapu ruang keluarga. “Kak Maya di mana?”
“Di kamar. Sebentar turun.”
Sari meletakkan kotak kue di meja, duduk di sofa. “Kamu kelihatan lelah.”
“Iya. Banyak kerjaan.”
“Kak Maya juga?” Sari menatap Ardi, matanya tajam. “Tadi Kak Maya chat, katanya kurang tidur.”
Ardi duduk di seberang Sari. Menjaga jarak. “Iya. Mungkin cuaca.”
Sari tidak bertanya lebih lanjut. Dia membuka kotak kue, mengambil sepotong, menawarkan pada Ardi. “Coba. Enak.”
Ardi mengambil kue itu. Menggigit kecil. Manis. Terlalu manis. Tapi dia tersenyum. “Enak.”
Sari tersenyum puas. Di atas, langkah kaki terdengar. Maya turun dengan langkah pelan. Wajah sudah dibersihkan. Rambut disisir rapi. Senyum tipis yang sudah disiapkan.
“Kak Maya!” Sari berdiri, menyambut Maya dengan pelukan. “Aku bawain kue. Aku dengar Kakak kurang tidur.”
Maya tersenyum, membalas pelukan Sari. “Iya. Makasih, Sari.”
Mereka duduk di sofa. Sari di tengah. Ardi dan Maya di samping kanan dan kiri. Sari bercerita tentang butik yang akan dibukanya. Tentang teman kuliah yang akan menikah. Tentang film yang ingin mereka tonton bersama.
Ardi mendengarkan. Mengangguk di tempat yang tepat. Maya juga. Sesekali tertawa. Sesekali bertanya. Di permukaan, mereka terlihat normal. Ibu tiri dan anak tiri yang akrab. Calon menantu yang ramah.
Tapi Ardi merasakan setiap detiknya seperti siksaan.
“Di,” Sari memecah keheningan, menoleh ke Ardi. “Kapan kamu ke apartemenku? Aku kangen.”
Ardi tersentak. “Besok. Aku janji.”
Sari tersenyum, meraih tangan Ardi, menggenggam erat. “Aku tunggu.”
Maya menatap tangan mereka yang bertaut. Lalu mengalihkan pandangan. Ardi melihatnya—cara Maya menggigit bibir, cara jari-jarinya memilin ujung baju. Dia cemburu. Atau mungkin bukan cemburu. Mungkin hanya lelah.
“Kak Maya,” Sari berganti sasaran. “Kamu tahu, Di jarang banget ke apartemenku sekarang. Aku jadi curiga, apa dia punya pacar lain.”
Maya tersenyum. Senyumnya terasa kaku. “Masa?”
“Iya. Tapi aku percaya Di. Dia anak yang bertanggung jawab, kan?” Sari menatap Ardi. Matanya penuh harap. “Kamu nggak akan selingkuh, kan, Di?”
Ardi merasakan dadanya sesak. Sari bertanya dengan nada bercanda. Tapi matanya serius. Terlalu serius.
“Tidak,” jawab Ardi. Kata itu terasa seperti belati yang menikam dirinya sendiri.
Sari tersenyum lega, mencium pipi Ardi. “Aku tahu. Aku cuma bercanda.”
Maya berdiri tiba-tiba. “Aku ambil minum.”
“Aku bantu, Kak,” kata Sari.
“Tidak usah. Kamu di sini saja.”
Maya berjalan ke dapur. Langkahnya cepat. Ardi menatap punggungnya. Ingin mengikuti. Tapi Sari masih memegang tangannya.
“Di,” bisik Sari.
“Hm?”
“Aku sayang kamu.”
Ardi menatap Sari. Di bawah lampu ruang tamu yang redup, wajahnya lembut. Matanya jujur. Senyumnya tulus. Dia wanita yang mencintainya dengan seluruh hatinya. Yang percaya padanya. Yang tidak pantas dibohongi.
“Aku juga,” jawab Ardi. Untuk pertama kalinya, kata-kata itu terasa seperti kebohongan paling sempurna yang pernah dia ucapkan.
---
Sari pulang pukul sepuluh.
Ardi mengantarnya ke mobil, mencium keningnya cepat, mengatakan selamat malam. Sari memeluknya lama. Lebih lama dari biasanya.
“Di, kamu yakin tidak ada yang salah?” bisik Sari di dadanya.
“Yakin.”
Sari melepaskan pelukan, menatap Ardi dengan mata yang mencari. “Besok kamu ke apartemenku?”
“Besok.”
Sari tersenyum, masuk ke mobil, melaju pergi. Ardi berdiri di teras, menatap mobil Sari yang menghilang di ujung jalan.
Di dalam rumah, Maya duduk di ruang keluarga. Sendirian. Kotak kue masih terbuka di meja. Bolu yang sudah dipotong setengah, tidak disentuh.
Ardi masuk, duduk di samping Maya. Mereka diam. Tidak ada yang bicara.
“Kau pembohong yang baik,” bisik Maya akhirnya.
Ardi tidak menjawab.
“Aku juga,” sambut Maya. “Kita berdua pembohong yang baik.”
Ardi meraih tangan Maya. Menggenggam erat. Tangan Maya dingin. Tapi tidak lagi gemetar.
“Besok,” kata Ardi. “Besok aku bicara dengan Sari.”
Maya menatapnya. Matanya basah. “Bicara apa?”
“Aku akan jujur.”
Maya menarik napas panjang, melepaskan tangan Ardi. “Kau tidak perlu melakukan itu.”
“Aku harus.”
“Kau akan menyakitinya, Ardi.” Suara Maya pelan. Tidak menuduh. Hanya fakta. “Kau akan menghancurkannya.”
“Aku sudah menyakitinya dengan diam-diam. Setidaknya dengan jujur, dia bisa move on.”
Maya menatap Ardi lama. Di bawah lampu ruang tamu yang redup, wajahnya terlihat rapuh. Tapi juga kuat. Kuat dalam cara yang membuat Ardi ingin melindunginya. Meskipun dia tahu dialah yang paling berbahaya untuk Maya.
“Aku tidak akan pergi,” bisik Maya. “Tapi aku juga tidak akan menunggu selamanya.”
Ardi mengangguk. “Aku tahu.”
Malam itu, mereka duduk di ruang keluarga. Berdua. Dengan kue yang sudah dingin dan rahasia yang semakin berat. Di dapur, Yuni sudah pulang. Di rumah ini, hanya mereka berdua.
Tapi di luar sana, Sari menunggu. Bram tidak tahu. Dan dunia terus berputar tanpa peduli bahwa dua orang sedang berusaha mengambil keputusan yang tidak pernah bisa mereka buat.
Ardi baru saja berdiri dari sofa ketika ponselnya bergetar.
Pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Foto dirinya dan Maya di dapur pagi tadi.
Disertai satu kalimat:
“Kalau tidak ingin Pak Bram tahu… kita perlu bicara.”