Daripada penasaran, yuk mampir ><
[Update Tergantung Mood]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Kenakalan Baru
Pagi itu, penthouse di kawasan perumahan elit London terasa lebih hidup. Gaby sudah terbangun sejak fajar, jantungnya berdebar kencang dengan kombinasi antara gugup dan gairah. Ini adalah hari pertamanya di University of Oxford, tahun ajaran yang legendaris.
Di depan cermin pintar (smart mirror) yang menampilkan jadwal kuliah dan suhu Oxford hari ini, Gaby mematut dirinya. Sesuai tradisi Oxford yang ketat namun mulai bersentuhan dengan estetika modern, ia mengenakan pakaian khusus Sub Fusc.
Gaby tampak sangat elegan dengan kemeja putih berkerah tinggi yang dipadukan dengan pita hitam (black tie) khas mahasiswi, rok hitam formal, dan tentu saja, Commoner’s Gown. Jubah hitam tanpa lengan yang menjadi identitas ikonik mahasiswa Oxford. Ia menambahkan sentuhan pribadi dengan sepatu loafers dari koleksi terbaru yang ia riset tempo hari, serta riasan wajah soft glam ala Douyin yang membuatnya tampak segar sekaligus berkelas.
Di ruang makan, Emrys sudah menunggu. Di meja marmer itu, tersedia sarapan hangat. English Breakfast lengkap dengan roti panggang artisan dan jus jeruk segar. Emrys hari ini tampil sangat tajam dengan setelan jas tiga lapis berwarna navy, siap mengantarkan "permata" keluarganya ke kota menara impian.
Mata Emrys sempat tertegun sesaat melihat Gaby dalam balutan jubah akademiknya. Gadis kecilnya benar-benar sudah dewasa. "Makanlah yang banyak, Gaby. Upacara Matriculation hari ini akan sangat panjang dan melelahkan," ujar Emrys sembari menyesap kopi hitamnya.
"Aku terlalu bersemangat untuk merasa lapar, Kak! Tapi baunya enak sekali," jawab Gaby sembari mulai menyantap sarapannya. "Oh ya, aku sudah memantapkan hati. Aku akan mengambil konsentrasi di Fashion Design & Business Innovation. Oxford baru saja membuka lab digital terbaru untuk sustainable fashion, dan aku ingin menjadi bagian dari itu."
Emrys meletakkan cangkirnya perlahan. "Fashion lagi? Aku berharap kau setidaknya melirik Ekonomi Politik."
"Hari ini--dunia bergerak lewat estetika dan pengaruh, Kak Lemon. Dan aku akan membuktikan kalau aku bisa menguasai keduanya," balas Gaby dengan binar mata keras kepala yang membuat Emrys akhirnya hanya bisa menghela napas pasrah.
"Ngomong-ngomong, berhenti memanggilku 'Lemon' seperti Keytlon!"
.
.
.
Bentley hitam Emrys melaju membelah jalanan dari London menuju Oxford. Sepanjang jalan, Gaby sibuk dengan tabletnya, melihat peta holografik kampus dan grup obrolan mahasiswa baru.
Begitu mereka memasuki kawasan Oxford, suasana sangat meriah. Ribuan mahasiswa berlalu-lalang mengenakan jubah hitam yang sama. Pemandangan klasik yang tak lekang oleh waktu, namun kini bersanding dengan mobil-mobil listrik senyap dan drone pengantar dokumen yang terbang rendah di antara gedung-gedung batu kapur kuno.
Emrys menghentikan mobilnya tepat di depan Sheldonian Theatre.
"Ingat, Gaby," Emrys menoleh, suaranya memberat. Ia merapikan pita hitam di leher Gaby yang sedikit miring. "Di sini banyak pria yang hanya pandai bicara. Jangan mudah terpesona dengan aksen atau gelar mereka. Jika ada masalah sekecil apa pun, kau tahu siapa yang harus kau hubungi pertama kali."
"Iya, Kak Lemon yang protektif," goda Gaby sembari mencium pipi Emrys cepat. "Terima kasih sudah mengantarku."
Gaby melompat turun, jubah hitamnya berkibar tertiup angin musim gugur. Di kejauhan, ia melihat Emilia yang melambai heboh. Emilia tampak luar biasa cantik dengan jubah akademiknya, berdiri di samping pamannya, Keytlon, yang entah bagaimana bisa masuk ke area steril tamu VIP.
Upacara penyambutan dimulai. Ribuan mahasiswa baru berdiri di dalam teater kuno yang megah. Saat Chancellor mulai memberikan pidato dalam bahasa Latin, Gaby merasa merinding. Ia menoleh ke barisan kursi tamu kehormatan dan menemukan Emrys di sana, duduk dengan sikap tegak dan berwibawa, matanya tak lepas mengawasi Gaby dari kejauhan.
Tiba-tiba, seorang mahasiswa senior yang bertugas sebagai pemandu. Seorang pria dengan wajah sangat tampan dan senyum ramah berdiri di samping Gaby dan berbisik pelan. Rambut putih pucatnya tertata lumayan rapi, matanya yang se-biru es melirik Gaby dengan teliti.
"Welcome to the madness, new junior. I'm Melvin, your senior mentor. Looking for the fashion lab? I can show you the secret shortcut after this ceremony."
(Selamat datang di kegilaan ini, junior baru. Saya Melvin, mentor seniormu. Mencari lab fashion? Aku bisa menunjukkan jalan pintas rahasianya setelah upacara ini.)
Gaby tersenyum manis, namun dari sudut matanya, ia melihat rahang Emrys mengeras di kejauhan. Sepertinya, hari pertama di Oxford ini tidak akan berjalan membosankan.
.
.
.
Upacara Matriculation baru saja usai, namun ketegangan di udara justru baru dimulai. Melvin, sang mentor senior dengan senyum menawan dan gaya bicara yang luwes, masih berdiri di samping Gaby, seolah tidak menyadari tatapan menusuk dari kursi tamu kehormatan.
"Nama lengkapku Melvin Jabulani-Blackwood," bisik pria itu sembari membenarkan letak jubahnya yang sedikit miring. "Jangan terlalu kaku, Gaby. Di Oxford, peraturan ada untuk dipahami, tapi jalur pintas ada untuk dinikmati."
Melvin bukan mahasiswa biasa. Meskipun masih menempuh studi, ia sudah memiliki label streetwear mewah yang sedang naik daun di London Timur.
Kontras dengan penampilannya yang modis dan kulit putih pucatnya, warisan dari garis keturunan ayahnya yang merupakan bangsawan Inggris..
Sosok selanjutnya justru mencuri perhatian dengan cara yang berbeda.
"Melvin! Berhenti menggoda mahasiswa baru atau aku akan melaporkanmu pada Proctor," sebuah suara lantang memecah suasana.
Seorang gadis cantik dengan kulit gelap eksotis yang berkilau di bawah sinar matahari musim gugur melangkah mendekat. Ia mengenakan Sub Fusc dengan gaya yang sangat edgy, memadukan jubah klasiknya dengan sepatu bot platform.
"Gaby, perkenalkan adikku, Sabrina Jabulani-Blackwood," Melvin memperkenalkan dengan nada bangga.
Berbeda dengan Melvin yang terjun ke dunia seni, Sabrina adalah mahasiswi baru di jurusan International Business. Ia dipersiapkan menjadi penerus tunggal imperium bisnis properti dan logistik keluarga Jabulani yang berbasis di Johannesburg dan London. Meskipun mereka saudara kandung, perbedaan fisik mereka yang mencolok. Melvin yang berkulit putih, rambut pucat, mata biru.. Dan Sabrina yang memiliki kecantikan khas African Girl dengan rambut kepang yang artistik, kulit gelap eksotis sempurna, dan mata coklat..
Mereka selalu menjadi topik pembicaraan menarik di kalangan elit.
"Hai, Gaby! Abaikan kakakku, dia memang agak sedikit narsis kalau soal label fashion-nya," ujar Sabrina sembari menjabat tangan Gaby dengan penuh energi. "Kita di kelas yang berbeda, tapi kurasa kita akan sering bertemu di lab inovasi bisnis. Aku butuh orang dengan selera fashion bagus untuk riset pasarku nanti."
Gaby tersenyum lebar. Kehadiran Sabrina yang blak-blakan membuatnya merasa punya sekutu baru. Namun, keakraban itu terputus saat bayangan tinggi besar menaungi mereka.
Emrys sudah berdiri di sana. Wajahnya sedingin salju musim dingin di London.
"Waktu bicaranya sudah habis, Mr. Blackwood," ucap Emrys dengan suara rendah yang mengancam. Matanya melirik Melvin seolah pria itu adalah gangguan kecil yang harus segera disingkirkan. "Gaby, kita punya janji makan siang dengan Chancellor. Sekarang."
Emrys tidak menunggu jawaban. Ia meletakkan tangannya di punggung Gaby, menuntunnya pergi dengan protektif, meninggalkan Melvin yang hanya bisa mengangkat bahu dan Sabrina yang menatap punggung Emrys dengan tatapan penuh selidik.
"Who's the grumpy bodyguard?" gumam Sabrina pelan.
(Siapa pengawal yang pemarah itu?)
.
.
.
Ruang makan formal di Christ Church College yang bersejarah itu terasa begitu megah dengan langit-langit kayu ek yang tinggi dan potret-potret tokoh besar Oxford yang tergantung di dinding.
Namun bagi Gaby, kemegahan itu mendadak terasa menyesakkan saat ia melangkah masuk bersama Emrys.
Di ujung meja panjang berbahan mahoni, Chancellor sedang tertawa bersama seorang pria paruh baya berkulit putih pucat dengan setelan jas Savile Row yang sempurna. Di sampingnya, duduk Melvin yang tampak santai dan Sabrina yang sibuk dengan ponselnya.
"Ah, Emrys! Sini, bergabunglah dengan kami," sapa Chancellor ramah. "Kenalkan, ini Lord Alistair Jabulani-Blackwood. Beliau adalah salah satu penyokong dana utama untuk divisi riset terbaru kita, sama sepertimu."
Emrys menjabat tangan Lord Alistair dengan kekuatan yang terukur. Tatapannya sempat beradu dengan Melvin, yang hanya membalas dengan senyuman miring yang provokatif.
"Senang bertemu lagi, Emrys. Terakhir kita bertemu di gala London Timur, bukan?" tanya Lord Alistair dengan suara berat yang berwibawa. "Dan ini pasti Gabriella? Melvin baru saja bercerita bahwa dia menemukan talenta baru untuk mentor programnya."
Gaby tersenyum kaku, merasakan remasan lembut namun protektif dari tangan Emrys di punggungnya. "Selamat siang, Lord Alistair. Saya Gaby."
Makan siang dimulai, namun suasana di meja itu seperti medan perang yang tersembunyi di balik denting sendok perak dan piring porselen.
"Jadi, Gabriella memilih Fashion Innovation?" tanya Sabrina tiba-tiba, memecah keheningan di sisi meja mereka. "Kakakku, Melvin, punya studio di dekat kampus. Kau harus mampir. Kita bisa mendiskusikan rencana bisnis untuk label barumu nanti."
Emrys meletakkan garpunya dengan suara yang sedikit terlalu keras. "Gaby is here to study, Sabrina. Not to play house with start-ups," ucap Emrys dingin, suaranya memotong pembicaraan seperti pisau.
Melvin terkekeh rendah, menyesap red wine-nya dengan elegan. "Fashion is not 'playing house', Emrys. It's a billion-dollar industry. Justru Gaby akan belajar banyak dari orang yang sudah punya pasar di London, daripada hanya membaca buku teori yang membosankan."
Lord Alistair hanya tersenyum tipis, seolah menikmati ketegangan antara putranya dan Managing Director Kaito Group itu. Sementara itu, Gaby merasa wajahnya memanas. Ia terjebak di antara Emrys yang terlalu protektif dan keluarga Blackwood yang tampak begitu bebas dan ambisius.
"Aku rasa aku bisa mengatur waktuku sendiri, Kak," gumam Gaby pelan, mencoba membela dirinya sendiri.
Emrys tidak menjawab, namun tatapannya pada Melvin semakin tajam. Ia tahu reputasi Melvin di London. Seorang jenius yang liar dan sulit dikendalikan. Dan ia tidak akan membiarkan Gaby terseret ke dalam lingkaran itu.
Tiba-tiba, Sabrina menyenggol kaki Gaby di bawah meja dan menunjukkan layar ponselnya secara sembunyi-sembunyi.
“Don’t listen to the old men. Pesta Freshers' malam ini di studio Melvin. Kau harus datang. I'll send you the location.”
Gaby melirik Emrys yang sedang berdebat serius soal logistik dengan Lord Alistair. Sebuah rencana nekat mulai terbentuk di kepalanya.