Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiriman Makanan
Pagi itu, sinar matahari memantul di atas permukaan lantai beton yang baru saja dipoles mengkilap. Alessia melangkah masuk ke area konstruksi yang sudah hampir rampung, tempat Noah berdiri dengan helm proyek putih dan kemeja yang lengannya digulung praktis.
Kesibukan para pekerja dan deru mesin halus di latar belakang tidak mengurangi kemegahan calon showroom mobil sport milik keluarga Noah. Alessia menatap sekeliling dengan mata berbinar, mengagumi arsitektur modern yang didominasi oleh kaca temper dan baja hitam.
"Wah... keren sekali! Memang showroom mobil sport itu sesuatu ya," puji Alessia tulus. Ia bisa membayangkan deretan mobil-mobil eksotis yang nantinya akan terparkir di sini, diterangi lampu sorot yang dramatis.
Noah menoleh, menyambut kedatangan Alessia dengan senyum lebar yang penuh kebanggaan. Ia berjalan mendekat, seolah ingin menunjukkan mahakaryanya lebih dekat pada gadis itu.
"Mobil sport itu kemewahan, Al. Setiap detailnya adalah seni, termasuk suaranya," jelas Noah dengan nada antusias. Ia menunjuk ke arah panggung utama yang melingkar. "Di sana nanti akan diletakkan unit terbatas. Aku ingin orang yang masuk ke sini tidak merasa sedang di toko, tapi sedang di galeri seni."
Alessia mengangguk paham. Ia menyentuh salah satu pilar marmer yang terasa dingin di kulitnya. "Ayah pasti akan sangat terkesan kalau melihat hasil akhirnya nanti. Kamu benar-benar punya selera yang tinggi, Noah."
"Terima kasih, Al. Itu pujian besar darimu," sahut Noah. Ia kemudian menatap Alessia lebih dalam, sejenak melupakan cetak biru di tangannya. "Bicara soal selera, aku harap kamu juga punya waktu untuk mencoba salah satu unitnya nanti bersamaku. Bukan sebagai kolega bisnis, tapi sebagai teman."
Alessia tersenyum tipis, namun di sudut matanya, ia melihat sosok Nathaniel yang berdiri tidak jauh di belakangnya. Nathaniel tetap dengan gaya khasnya: diam, waspada, dan mengawasi setiap gerak-gerik Noah.
Meskipun Nathaniel tadi berjanji akan menjadi "penyeleksi" jodohnya, Alessia tidak bisa memungkiri bahwa dunia Noah, dunia kemewahan yang ia bangun sejak lahir, memang tampak sangat serasi dengan dunianya sebagai seorang Sinclair. Namun, entah mengapa, pujian Noah tentang "seni dan kemewahan" tidak memberikan getaran yang sama seperti saat Nathaniel mengobati kakinya di balkon.
Alessia melangkah menjauh dari area showroom mobil sport dengan langkah yang mulai tidak sinkron. Meskipun ia berusaha tetap terlihat profesional di depan Noah, rasa nyut-nyutan di tumitnya mulai kembali menyerang.
"Noah, aku harus mengunjungi stand tas dulu ya, katanya di sana wastafel-nya bermasalah," ucap Alessia, mencoba mengalihkan fokus dari rasa sakitnya.
"Oh tentu, Al. Aku akan menunggu saat bisa mencoba unit denganmu," ujar Noah sambil melambaikan tangan, menatap punggung Alessia yang menjauh dengan tatapan penuh minat.
Namun, baru berjalan beberapa puluh meter menuju area butik tas mewah, langkah Alessia tersendat. Ia meringis kecil, tangannya refleks mencari tumpuan dan tentu saja, lengan kokoh Nathaniel sudah ada di sana untuk menyangganya.
Nathaniel tidak perlu bertanya. Ia melihat kerutan di dahi Alessia dan cara gadis itu sedikit menyeret kaki kanannya. Tanpa berkata-kata, ia memutar arah langkah mereka.
"Eh, Kak? Stand tas ke arah sana," protes Alessia bingung.
"Sini ke stand sepatu dulu," ajak Nathaniel tegas, suaranya tidak menerima bantahan.
Mereka memasuki sebuah butik sepatu premium yang memiliki koleksi daily wear. Nathaniel langsung melangkah ke rak bagian flat shoes dan sneakers ringan berbahan kulit domba yang sangat lembut.
Tanpa memanggil pelayan untuk mengukur kaki Alessia, ia mengambil sepasang sepatu berwarna nude yang tampak elegan namun sangat empuk.
Ia sudah tahu ukurannya luar kepala, 37, tidak kurang dan tidak lebih.
Nathaniel berlutut di depan Alessia, mengabaikan tatapan beberapa pengunjung toko lainnya. Ia melepas heels Alessia dan memasangkan sepatu baru itu dengan saksama.
"Keras kepala memang. Kalau mau tampil cantik itu tidak perlu sampai menyiksa diri, Alessia," gerutu Nathaniel sambil mengikat tali sepatu atau merapikan posisi kaki Alessia.
Meskipun mulutnya menggerutu, tangannya sangat lembut. Ia memastikan tidak ada bagian sepatu yang menekan luka lecet yang kemarin baru saja ia obati.
Alessia menunduk, menatap puncak kepala Nathaniel. Di tengah kemewahan proyek Noah dan deretan mobil sport tadi, perhatian kecil Nathaniel yang "cerewet" ini justru terasa jauh lebih mewah baginya.
"Tapi kan aku harus terlihat berwibawa di depan Noah dan para kontraktor, Kak," bela Alessia pelan.
Nathaniel berdiri, menatap Alessia dengan pandangan datar namun dalam. "Wibawamu itu ada di otak dan cara bicaramu, bukan di ketinggian hak sepatumu. Sekarang jalan, coba pakai ini. Masih sakit tidak?"
———
Langkah Alessia yang tadinya ringan karena sepatu baru dari Nathaniel mendadak terasa sedikit berat begitu mereka melangkah keluar dari lift lantai eksekutif. Di atas meja resepsionis, sebuah kotak besar dengan aroma panggangan roti yang menggoda sudah tergeletak di sana.
"Pak Nathaniel, ada kiriman makanan dari Nona Lady Montgomery," lapor salah satu staf dengan senyum penuh arti.
Alessia menghentikan langkahnya, matanya langsung tertuju pada kotak tersebut. Ada secercah rasa tidak nyaman yang kembali mencubit dadanya. Padahal semalam ia merasa sudah "menang" karena Nathaniel berjanji akan menjadikannya prioritas.
"Kakak sudah tukar pesan sama dia?" tanya Alessia, mencoba terdengar santai meski nada suaranya sedikit meninggi karena penasaran.
Nathaniel mengangguk pelan sambil memeriksa jam tangannya, seolah kiriman itu bukan hal yang luar biasa. "Iya, tadi dia kirim pesan tanya aku suka makanan apa. Aku jawab jujur saja kalau aku suka pizza keju dengan daging sapi," jawab Nathaniel tenang.
"Oh... jadi sekarang sudah mulai saling tanya makanan kesukaan, ya?" gumam Alessia ketus, bibirnya mengerucut tanpa ia sadari. Ia baru saja akan melontarkan protes lebih jauh, namun Nathaniel sudah terlebih dahulu memberikan instruksi kepada staf di sana.
"Bawa pizza itu ke ruanganmu beberapa slice, Al. Dan sisanya, kotak lainnya bagikan saja pada staf di sini untuk camilan sore," pinta Nathaniel tanpa beban.
Alessia tertegun. "Lho? Kakak tidak makan?"
Nathaniel menatap Alessia dengan tatapan datarnya yang khas. "Aku sedang tidak ingin makan pizza. Lagipula, bukankah kamu tadi mengeluh lapar setelah berkeliling proyek Noah? Makanlah selagi hangat."
Alessia menatap kotak pizza itu, lalu menatap Nathaniel yang sudah bersiap masuk ke ruangannya sendiri. Rasa kesal yang tadi membumbung tinggi seketika kempes. Nathaniel tidak memakan pemberian Lady; ia justru memberikannya pada Alessia dan para staf.
"Tapi Kak, Lady kan mengirim ini khusus untuk Kakak," ujar Alessia, kali ini dengan nada yang jauh lebih lembut.
"Dia mengirimnya karena bertanya padaku, dan aku menjawabnya sebagai bentuk sopan santun. Tapi soal siapa yang menghabiskannya, itu hakku, kan?" sahut Nathaniel sambil memegang gagang pintu ruangannya. Ia berhenti sejenak, lalu menoleh. "Jangan lupa minum air putih yang banyak, Al. Tadi kamu banyak berjalan."
Setelah pintu ruangan Nathaniel tertutup, Alessia membawa dua potong pizza ke ruangannya sendiri dengan perasaan yang jauh lebih baik. Meskipun Lady mencoba masuk ke kehidupan Nathaniel, pria itu tetap memperlakukan semua pemberian itu sebagai "logistik" biasa, sementara perhatian pribadinya tetap hanya tertuju pada satu orang.