Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.
Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAMAR YANG TERBAGI
Lantai marmer yang dingin di bawah kaki Vivien seolah merambat naik, membekukan seluruh sarafnya saat ia melangkah menyusuri lorong panjang menuju kamar utama. Apartemen ini bukan sekadar tempat tinggal; ini adalah mahakarya minimalis yang kejam. Dinding-dindingnya yang tinggi tanpa hiasan, pencahayaan sensorik yang redup, dan keheningan yang dipaksakan membuat Vivien merasa seperti berada di dalam galeri seni di mana ia sendiri adalah objek yang sedang dipamerkan.
Pintu ganda kamar utama terbuka otomatis saat ia mendekat. Di dalamnya, luas ruangan itu hampir menyamai luas rumah lama keluarganya di Jakarta. Namun, tidak ada kehangatan di sini. Hanya ada tempat tidur berukuran king-size dengan sprei sutra hitam, sofa kulit desainer, dan dinding kaca raksasa yang memperlihatkan kerlap-kerlip Melbourne yang tak acuh di balik hujan yang belum juga reda.
Maximilian sudah berada di sana. Ia telah berganti pakaian menjadi jubah mandi sutra berwarna abu-abu gelap. Ia duduk di tepi tempat tidur, membelakangi pintu, dengan kepala tertunduk seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat—atau mungkin, ia sedang menikmati kemenangannya.
"Tutup pintunya, Vivien," suara Maximilian memecah kesunyian tanpa ia perlu menoleh.
Vivien menelan ludah. Ia menutup pintu dengan pelan, suaranya terdengar seperti denting logam yang mengunci sel penjara. Ia tetap berdiri di dekat pintu, menjaga jarak sejauh mungkin. Gaun pengantinnya yang berat kini terasa seperti beban ribuan ton yang ingin ia lepaskan, namun kehadirannya Maximilian di sana membuatnya merasa telanjang bahkan sebelum ia membuka satu kancing pun.
"Kau tidak akan tidur di sana sambil berdiri seperti patung porselen, bukan?" Maximilian bangkit berdiri. Ia berbalik dan menatap Vivien dengan pandangan yang sulit dibaca. Tidak ada nafsu di sana, hanya penilaian dingin yang membuat Vivien merasa seperti aset yang sedang diinspeksi kualitasnya.
"Aku akan tidur di sofa," jawab Vivien tegas.
Maximilian tertawa kecil—suara yang kering dan tanpa humor. "Bacalah kontrak itu lagi, Sayangku. Pasal sembilan: Suami dan Istri wajib berbagi ruang tidur yang sama untuk menjaga kredibilitas hubungan di hadapan staf rumah tangga dan sistem keamanan. Aku tidak membayar jutaan dolar untuk melihatmu tidur di sofa seperti pelayan yang dihukum."
"Ini bukan soal uang, Maximilian! Ini soal harga diri!"
"Harga dirimu sudah kau jual saat kau membubuhkan tanda tangan di map hitam tadi," Maximilian melangkah mendekat. Vivien mundur hingga punggungnya membentur pintu. Maximilian meletakkan satu tangannya di daun pintu, tepat di samping kepala Vivien, mengurungnya dalam ruang sempit yang dipenuhi aroma pria itu. "Jangan bersikap seolah kau punya pilihan. Di sini, di dalam ruangan ini, hanya ada satu aturan: Aturanku."
Tangan Maximilian yang lain terangkat, jemarinya bergerak menuju deretan kancing kecil di punggung gaun Vivien. Vivien tersentak, mencoba menepis tangan itu, namun Maximilian mencengkeram pergelangan tangannya dengan kekuatan yang pas—tidak menyakiti, tapi mengunci.
"Jangan sentuh aku," desis Vivien, giginya bergeletuk karena amarah dan ketakutan yang bercampur.
"Aku hanya membantu istrimu melepaskan bebannya," bisik Maximilian di depan wajahnya. "Atau kau lebih suka tidur dengan gaun ini dan sesak napas sampai pagi? Aku tidak tertarik menyentuh wanita yang hatinya dipenuhi racun, Vivien. Simpan ketakutanmu. Aku lebih suka menaklukkan pikiranmu daripada tubuhmu."
Maximilian membalikkan tubuh Vivien dengan paksa namun tenang, lalu mulai membuka kancing gaun itu satu per satu dengan ketangkasan yang menakutkan. Setiap kancing yang terbuka terasa seperti pertahanan Vivien yang runtuh. Ia memejamkan mata, memikirkan ibunya, memikirkan ayahnya, memikirkan alat perekam yang masih tertempel di balik korsetnya. Ia harus bertahan. Ia harus menjadi air yang tenang namun menghanyutkan.
Setelah kancing terakhir terbuka, Maximilian mundur dua langkah. "Kamar mandi ada di sebelah kiri. Pakai apa pun yang ada di lemari. Semuanya sudah disesuaikan dengan ukuranmu. Jangan membuatku menunggu lama untuk mematikan lampu."
Tanpa kata, Vivien menyambar jubah satin dari lemari walk-in yang sangat luas dan berlari menuju kamar mandi. Di dalam, ia segera mengunci pintu dan bersandar di sana, napasnya tersengal. Ia meraba korsetnya, mengambil alat perekam digital kecil itu dengan tangan gemetar. Ia memastikan lampu indikatornya masih menyala.
Aku punya suaramu, Max, batinnya. Aku punya pengakuanmu tentang intimidasi ini.
Vivien segera mengganti pakaiannya dengan piama sutra yang paling tertutup yang bisa ia temukan. Ia mencuci mukanya dengan air dingin, mencoba menghapus jejak air mata yang sempat menggenang. Saat ia melihat cermin, ia tidak lagi melihat Vivien yang ceria. Ia melihat seorang prajurit yang sedang menyamar di garis depan musuh.
Ketika ia keluar dari kamar mandi, lampu ruangan sudah redup. Maximilian sudah berbaring di satu sisi tempat tidur, matanya terpejam, namun Vivien tahu pria itu tidak tidur. Ia merangkak ke sisi lain tempat tidur, menjaga jarak sejauh mungkin hingga ia hampir jatuh dari tepian kasur.
Keheningan malam Melbourne kembali menyelimuti ruangan itu, namun udara di antara mereka terasa bermuatan listrik statis.
"Vivien," suara Maximilian terdengar di tengah kegelapan, rendah dan bergetar.
Vivien tidak menjawab. Ia tetap membelakangi Maximilian, memeluk dirinya sendiri di bawah selimut sutra yang dingin.
"Kau pikir dengan merekam percakapan kita, kau bisa menghancurkanku?"
Jantung Vivien seolah berhenti berdetak. Seluruh tubuhnya menjadi kaku. Bagaimana pria itu tahu?
Maximilian berbalik, menyangga kepalanya dengan satu tangan, menatap punggung Vivien yang tegang. "Aku membangun sistem keamanan gedung ini, Vivien. Kau pikir aku tidak akan mendeteksi sinyal frekuensi radio sekecil apa pun yang aktif di dalam penthouse-ku? Alat perekam di korsetmu... itu mainan anak-anak bagi departemen IT-ku."
Vivien berbalik dengan cepat, wajahnya pucat pasi di bawah cahaya remang. "Jika kau tahu, kenapa kau membiarkanku?"
Maximilian menyeringai dalam kegelapan. Sebuah pemandangan yang membuat bulu kuduk Vivien berdiri. "Karena aku ingin kau tahu betapa sia-sianya usahamu. Aku ingin kau merasakan harapan itu tumbuh, lalu aku akan menghancurkannya tepat di depan matamu. Itu jauh lebih memuaskan daripada sekadar menyita alat itu."
Maximilian menjangkau meja nakas, mengambil sebuah benda kecil—alat perekam milik Vivien yang entah bagaimana sudah berpindah ke tangan pria itu saat Vivien mandi. Maximilian meremukkannya dengan satu tekanan tangan yang kuat hingga plastik dan komponen elektroniknya hancur berkeping-keping. Ia menjatuhkan sisa-sisa alat itu ke lantai.
"Selamat tidur, Vivien Alfarezel," ucap Maximilian dingin sambil kembali berbaring dan memejamkan mata. "Jangan bermimpi tentang kemenangan. Bermimpilah tentang bagaimana kau akan menjalani sisa hidupmu sebagai bayang-bayangku."
Vivien menatap puing-puing alat perekamnya di lantai. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh satu per satu. Ia menyadari bahwa ia bukan sedang menghadapi seorang pebisnis kejam. Ia sedang menghadapi seorang iblis yang bisa membaca setiap gerakannya bahkan sebelum ia memikirkannya.
Namun, di tengah isak tangisnya yang tertahan, sebuah pemikiran baru muncul di benak Vivien. Jika Maximilian begitu hebat, kenapa dia repot-repot menjelaskan semuanya? Kenapa dia membiarkan Vivien tetap berada di tempat tidur ini bukannya melemparnya ke jalanan?
Mungkin, hanya mungkin... Maximilian memiliki kelemahan yang belum ia tunjukkan. Dan Vivien bersumpah, ia akan menemukan retakan kecil di dinding es pria itu, meskipun ia harus mempertaruhkan nyawanya.
Malam itu, di lantai lima puluh, dua musuh tidur dalam satu ranjang, dipisahkan oleh kebencian yang sedalam samudera, namun terikat oleh benang merah yang, meski patah, menolak untuk benar-benar putus.