Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.
Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.
Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.
Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.
novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9. Takut
Happy Reading
"Alderza?"
Tok....Tok....Tok....
ketukannya semakin kencang seolah pertanda kalau Alderza ingin Aily membuka jendelanya.
Dengan tangan yang gemetar, Aily membuka jendela kamarnya tersebut dengan perlahan. Dan.... Benar saja, ia mendapati Alderza ada di sana.
"Alderza, kamu ngapain ke sini malem-malem?"
Alderza tersengal-sengal. Napasnya begitu berat. Terlihat peluh keluar membasahi wajahnya yang tampan.
"Boleh masuk?" Tanya Alderza sembari mengatur napas.
"Ma-masuk apanya?" Balas Aily ketakutan.
"Masuk guenya lah. Masa gue diem doang di jendela, udah kayak maling aja!"
Aily terdiam sejenak. Seorang cowok mau masuk ke kamarnya? Jantungnya seketika berdebar tidak karuan.
Aily lalu mundur perlahan dengan wajah ketakutan, seketika membuat Alderza mengembuskan napas kesal seolah mengerti apa yang ditakutkan oleh Aily.
Tiba-tiba, Alderza mengulurkan jari kelingkingnya ke arah Aily lalu berkata.
"Gue janji gak bakal ngapa-ngapain."
"Iya, gue janji gak bakalan macem-macem, dan gue juga gak bakalan masuk kalau gak ada izin dari lo."
Aily sama sekali tidak membalas perkataan Alderza. Mata Alderza berubah menjadi sayu, jari kelingkingnya terus terulur dengan wajahnya yang terkesan serius. Aily menelan salivanya, berusaha memberanikan diri, lalu berjalan maju mendekati Alderza.
Tangannya terangkat, menautkan kelingkingnya dengan kelingking Alderza, tanda bahwa Aily menerima janji Alderza.
"Oke." Balas Aily ragu.
Alderza tersenyum lalu naik ke jendela tersebut lalu melompat melewati meja tempat Aily menulis.
Brakk
Suara kaki Alderza begitu nyaring di dalam kamar tersebut, membuat Aily takut lalu melihat pintu kamarnya.
Aman, ternyata sudah terkunci.
Alderza sangat mengerti posisinya saat ini. Dia saat ini sedang berada di atas kandang macan betina. Alderza juga tahu bagaimana perasaan Aily jika dia mengeluarkan banyak suara.
Alderza menghampiri Aily. Mata mereka saat ini saling bertemu dan saling menatap satu sama lain. Manik cokelat itu mengingatkan Aderza kepada seseorang di masa lalu. Tapi sudahlah, dia bukan cewek itu. Untuk apa juga dia peduli? Tidak ada gunanya.
"Kamu mau ngapain ke sini?" Tanya Aily takut.
Kali ini, ia bukan takut karena Alderza, melainkan ia lebih takut Tiara karena ia sudah mengizinkan Alderza untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Ajarin gue matematika, buruan!"
"Kenapa gak lewat pintu aja? Kenapa harus manjat pohon sampe masuk lewat jendela kamar aku?" Ucap Aily panjang lebar. Benar, dia sangat takut jika Tiara mengetahui hal ini dan datang kemari.
Maka dari itu, Aily harus menginterogasi Alderza agar mendapatkan jawaban yang meyakinkan.
"Kalau gue lewat pintu, yang ada gue diusir sama nyokap lo!"
"Apalagi sekarang udah malem, mungkin gue udah ditendang sama nyokap lo."
Alderza menarik kursi yang selalu dipakai Aily untuk menulis. Dia langsung duduk dengan rapi dan membuka buku matematikanya.
"Udah, jangan banyak tanya, buruan. Ajarin gue matematika!"
Aily menyilangkan kedua tangannya, sepertinya sudah cukup bagi Aily memperlakukan Alderza dengan baik. Sekali lagi, ia selalu tekankan dalam hatinya, jangan terlalu berharap.
"Kamu bisa enggak sih, sopan dikit kalo minta tolong!"
"Eh, ini barusan gue udah minta tolong!"
Aily menyilangkan kedua tangannya, tidak berkata sepatah katapun.
Melihat reaksi Aily yang seperti itu, Alderza mengembuskan napas pasrah.
"Oke. Oke. Aily..... Gue... Mau... Minta tolong, AJARIN GUE MATEMATIKA!" Ucap Alderza tiba-tiba berubah dengan nada tinggi membuat Aily kesal.
"Keluar!"
What?
Alderza kaget saat Aily mengusirnya dengan lantang seperti itu, rasanya persis seperti Tiara yang sangat sadis ketika mengusirnya.
"Aku bilang, keluar!"
"Oke. Oke. Ana denger, gue minta maaf. Gue kali ini bener-bener serius, ajarin gue matematika. Gue gak mau dihukum terus-terusan sama bu Asih. Pliss...."
Alderza memohon, kali ini tidak ada nada tinggi. Malah terlihat seperti orang yang benar-benar memohon.
"Oke." Balas Aily sembari tersenyum.
Alderza bergidik ngeri ketika melihat Aily tersenyum. Cewek itu benar-benar labil. Dia terkadang galak seperti ibunya, tapi juga terkadang sangat lemah lembut dan selalu tersenyum.
Senyumannya itu....
Tapi kemudian, perhatian Alderza teralihkan dari senyuman Aily, ke arah kaki Aily yang membengkak di area sekitaran mata kaki.
"Mau belajar matematika atau ngelamun?" Tanya Aily.
"Kaki lo, gue tadi siang ngeliat kalo lo jalannya agak pincang gitu, dan baru sadar ternyata selain luka, kaki lo juga bengkak."
"Aku gak papa, Alderza. Mending kamu pulang aja kalau emang gak serius mau belajar."
"Iya, iya."
Aily menerangkan satu per satu apa yang ditugaskan oleh bu Asih. Tentunya, dari langkah paling mudah terlebih dahulu.
Aily terkagum sekaligus kaget, ternyata jika Alderza serius memperhatikan, dia sangat mudah mengerti dan mengingat caranya.
Dia bahkan sudah beberapa kali mengerjakan ulang soalnya dengan benar.
Entahlah, tapi Aily merasa ada yang salah dengan Alderza. Sepertinya cowok itu anak yang pintar, tetapi kenapa dia malah jadi seperti ini? Berandalan dan terkenal sebagai biang onar yang ditakuti seluruh sekolah.
Tiba-tiba saja, Alderza membuyarkan lamunan Aily. Cowok itu langsung mengangkat kertas tugasnya dan berkata.
"Beres, benerkan?" Tanya Alderza pada Aily yang sedang melamun.
Alderza langsung mengambil buku catatan Aily dan mencocokkan hasilnya. Dia kemudian tersenyum kecil saat mendapatkan semua jawabannya benar.
"Kamu pinter, Alderza. Aku tau kamu sadar sama kemampuan kamu. Tapi, kenapa kamu jadi males kayak gini?" Tanya Aily.
Alderza merasa telinganya sedikit rusak mendengar kata 'aku-kamu' yang menggelikan itu.
"Kenapa sih, ngomongnya gak 'lo-gue' aja? Kenapa harus 'aku-kamu'?"
"Ibaratnya tuh seorang cewek yang kamu suka. Padahal kan banyak banget tuh cewek di dunia ini yang cantik atau bahkan sempurna. Tapi kamu tetep milih satu cewek karena kamu nyaman sama cewek itu. Begitu pun aku. Masih banyak bahasa 'aku-kamu', 'lo-gue', 'you and i', dan lain-lain. Tapi, aku lebih nyamannya pake 'aku-kamu'."
Alderza tiba-tiba tertawa mendengar perkataan Aily. Aily hanya terdiam dan menutup mulutnya rapat-rapat.
"Ribet banget hidup lo!"
"Ih, aku serius Alderza!" Aily cemberut dan itu benar-benar sangat lucu membuat Alderza menatapnya sangat lekat.
Tiba-tiba, senyuman Alderza menghilang. Dia malah terus menatap Aily dan hanyut pada manik matanya yang cokelat itu.
Kenapa Alderza terus merasa de javu jika melihat matanya? Sudah sangat jelas bahwa Aily bukan orang yang dia cari selama ini.
"Kamu kenapa? Jangan lihatin aku kayak gitu, serem."
Alderza mengedipkan matanya beberapa kali, lalu memalingkan pandangannya ke arah lain.
Dia melihat sekeliling ruangan kamar Aily yang berwarna ungu, semuanya berwarna ungu dari tembok, tempat tidur, selimut, dan lain sebagainya.
Mungkin hanya lantai yang berwarna putih di sini.
Tiba-tiba, matanya mulai tertuju pada sebuah buku kecil yang lusuh berwarna ungu. Alderza baru ingat, Aily terkadang selalu menulis di buku lusuh itu saat di bus sekolah.
"Lo suka nulis apaan sih?" Tanya Alderza berusaha mengalihkan pembicaraannya.
Aily melotot kaget saat melihat diary miliknya dibawa oleh Alderza. Tidak, tidak ada seorang pun yang boleh membaca diary itu.
Tangan Alderza perlahan membuka diary nya itu, tapi ternyata kurang gesit. Aily langsung merebutnya sekuat tenaga.
"Mendingan kamu pulang aja, udah malem."
Ucapan Aily terasa begitu dingin. Alderza dapat melihat Aily yang bergetar dan sangat ketakutan ketika buku diary pink itu dia ambil.
"Hei, lo kenapa?"
"Alderza, pulang!"
Alderza menghela napas panjang. Perlahan dia menganggukkan kepala dan keluar dari jendela kamar Aily.
Aily dapat melihat kepergian Alderza. Dia turun melalui pohon besar yang ada di samping kamarnya lalu memakai sepatunya di bawah sana.
Dengan motornya yang berada jauh dari rumah Aily, cowok itu pergi begitu saja.
Saat melihat kepergian Alderza, Aily langsung menutup jendelanya dan mengunci diary nya di dalam lemari.
Aily paling tidak suka jika siapa pun menyentuh buku sakral itu. Hanya dirinya dan Tuhan yang dapat mengetahui isinya. Napasnya mulai menggebu. Dia kemudian menarik napas dalam-dalam.
Bagaimanapun ini bukan salah Alderza, dia hanya salah paham.
Saat Aily mau ke tempat tidur, dia melihat secarik kertas di atas meja yang melipat seperti sebuah surat.
Aily membukanya. Dia melihat tulisan tangan Aldeeza. Dan, kertas itu hanya bertuliskan.
'Thank you, Aily.'
Tapi tetap saja, tubuhnya masih bergetar ketakutan saat melihat Alderza memegang diary nya. Mau diberi kata-kata apapun, Aily tetap takut. Ya, takut rahasianya akan terbongkar.
Thank you yang udah baca, kalo ada kesalahan kata, typo atau semacamnya, jangan lupa di koreksi ya. Love you all guys.