Mau menyimpan bangkai serapat apa pun, pada akhirnya akan tercium juga.
Niat hati memberi kejutan untuk suami tercinta di tahun ke 2 pernikahan. Nyatanya aku, yang di beri kejutan yang menjadi awal runtuhnya kepercayaan dan hancurnya hati ku. Hingga perpisahan gak lagi bisa ku hindari. Dari pada hidup bersama pria yang sudah menghianati.
Di balik ruang kebesaran Joseph.
"Pelan pelan, sayang!"
"Gak bisa, mas! Aku udah gak sabar pengen piton kamu!"
"Kamu ini, selalu saja pandai memu4skan ku! Kamu agresif, inisiatif, aku suka itu!"
"Siapa dulu dong, Karin! Kekasih mu! Karena aku, kamu bisa berada di posisi ini! Ingat itu! Aku pahlawan mu, mas!"
"Dan sayangnya aku harus berkorban menikahi si Jenny. Wanita bodoh, manja, menyusahkan, dan gak bisa apa apa!" gerutu Joseph.
Ceklek.
"Je- Jenny, ka- kamu ngapain ke sini?"
Hingga aku di pertemukan kembali, dengan bocah yang mampu mengusik hidup ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
...🥀🥀🥀🥀...
Alan menatap cemas wajah Alena, tangannya gak bisa diam untuk menggenggam tangan sang ibu, wanita yang sudah melahirkannya. Kini terbaring di atas sofa panjang dengan mata terpejam.
Sementara Alan sendiri duduk di tepian sofa.
“Papa yakin, kita gak perlu bawa mama ke rumah sakit? Panggil dokter keluarga ke sini untuk memeriksakan kondisi mama mungkin?” cerocos Alan, menatap sang ayah penuh tanya.
“Gak perlu, Lan! Mama mu cuma syok! Bentar lagi palingan sadar.” timpal Ray, dengan secangkir teh hangat di tangannya. Melangkah kembali menghampiri ke dua nya.
Alan menatap Ray penuh selidik, “Gimana dengan perkataan papa? Apa mama benar menyimpan rahasia. Dan papa baru mengetahui nya setelah kelahiran Alan? Alan berhak tau, pah! Rahasia apa yang sebenar nya papa ketahui yang Alan gak ketahui?”
Ray menghembus kan nafas nya kasar, berusaha membuang sesak di dada.
‘Aku mana tega menyakiti hati Alan, dia putra ku. Meski darah ku tidak mengalir di tubuh nya. Tapi dia lah, bocah laki laki yang telah aku besar kan dengan cinta dan kasih sayang! Tapi aku menyayangi nya. Dan semoga hal serupa juga di lakukan Jaya terhadap Jenny.’ pikir Ray.
“Pah!” tegur Alan, sembari menerima secangkir teh hangat yang baru di beri kan Ray.
“Gak ada rahasia, Lan! Papa hanya menggertak mama mu. Tapi seperti nya memang ada yang mama mu sembunyi kan dari papa. Sayang nya papa gak tau itu!” dusta Ray.
“Sudah lah! Kalo papa gak mau kasih tau! Alan bisa mencari tau nya sendiri!” gerutu Alan.
“Yang perlu kamu cari tau, gimana cara nya bisa Jenny menerima keberadaan mu di sisinya, Lan! Jangan pikirkan hal lain!” serono Ray.
“Kalo itu mah udah pasti, pah! Ray pasti akan cari cara untuk bisa dekat dengan mbak cantik itu! Jadi nama nya Jenny?”
Ray menimpalin dengan asal, “Jenny ver lopez, Lan!”
Alan menatap malas Ray, “Serius, yah!”
“Papa 2 kali lebih serius dari mu, Lan!”
Alena mengerjap, membuat dua pria beda generasi itu kini kembali fokus pada nya.
Wanita paruh baya meski usia nya gak lagi muda, namun terlihat modis, definisi wanita karir, “Ugghhh!”
Alan menghembus kan nafas lega, “Syukur lah mama akhir nya sadar juga!”
Alan langsung membantu Alena beranjak duduk, dengan punggung sang ibu yang bersandar pada dada bidang nya.
Sementara Ray hanya berdiri dari depan meja, menatap Alena yang kini tengah di bantu minum oleh Alan. Dengan duduk bersandar pada sang putra.
‘Kenapa bukan papa yang membantu ku? Kenapa bukan papa tempat ku bersandar? Kenapa harus putra ku, Alan… maaf kan mama!’ jerit batin Alena, menenggak teh hangat yang seakan sulit untuk ia cerna.
“Apa mama pusing?” tanya Alan cemas.
Alena menggeleng, menyandar kan punggung nya pada sandaran sofa, mencari kenyamanan untuk tubuh nya.
“Gak, mama gak pusing dengan sisa kewarasan yang mama miliki.” beo Alena, netra nya menatap Ray penuh selidik.
“Maaf kalo pernyataan Alan buat mama syok!” beo Alan dengan rasa bersalah.
“Tadi mama salah dengar kan, pah? Putra kita ini, bukan seorang pria yang menggoda istri orang?” tanya Alena menatap Ray penuh harap.
Ray menggeleng, “Jodoh, rezeki, maut, semua itu gak ada yang bisa menerka akan adanya. Tapi jika memang jodoh putra kita ada pada Jenny, papa akan terima itu!
Dan kamu sudah berjanji untuk menerima nya, mah! Janji adalah hutang yang gak bisa kamu ingkari!”
“Ya Tuhan! Salah apa aku sampai putra ku jadi perebut bini orang!” Alena memijat kening nya yang terasa pening.
Ray menghembus kan nafas nya kasar, “Coba pikir, apa ada kesalahan mama di masa lalu terhadap seseorang? Mungkin ini balasan yang Tuhan beri, atas kesalahan mama itu! Menghukum mama lewat Alan!” celetuk Ray tanpa saringan.
Di tempat yang berbeda.
Jenny melenggang masuk ke dalam rumah minimalis, rumah yang sudah 2 tahun belakangan ia tempati bersama dengan Joseph.
Netra nya mengedar, mengingat momen indah yang ia lalui selama berada di rumah itu.
“Non, syukur lah Non udah pulang.” cerocos bi Yati, berjalan dengan tergesa menghampiri Jenny.
Jenny menaiki undukan tangga, menuju kamar yang ia tempati tepat berada di lantai 2. Dengan bi Yati yang kini mengikuti nya dari belakang.
“Kenapa memang nya, bi? Apa ada yang mencari saya? Bapak belum pulang kan, bi?”
“Tadi bapak udah pulang, Non! Tanyain Non udah kembali apa belum. Ya bibi bilang belum. Non Jen belum kembali, sejak pergi cari hadiah untuk Tuan.”
Jenny langsung menghenti kan langkah nya, berbalik badan. Menatap bi Yati penuh tanya.
“Berarti bapak ada di kamar, bi?” tanya Jenny, menunjuk kamar utama berada.
Bi Yati menggeleng, “Bapak pergi lagi setelah menerima telepon dari relasi bisnis nya. Kalo gak salah nama nya itu Kaaaaa, Ka apa ya?”
Bi Yati menggaruk kepala nya, mencoba mengingat nama yang sempat di sebut Joseph beberapa saat lalu di depan nya.
“Kasim? Kasna? Kamal?” tebak Jenny, seraya kembali melanjut kan langkah nya menuju kamar. Masih di ikuti dengan Bi yati yang mengekori nya dengan setia.
“Ihs bukan relasi pria, Non! Relasi bapak itu seorang perempuan. Nah bibi ingat. Nama nya itu Karin! Kata nya barang Nona Karin tertinggal di ruang rapat jadi Tuan di minta untuk mengembali kan nya.” cerocos bi Yati.
Jenny mengepal kan tangan nya kesal, “Wanita itu lagi! Dia bukan relasi bapak, bi!”
“Bukan relasi? Teman nya ya, Non?” tebak bi Yati.
Sampai di depan kamar, Jenny menyerah kan kunci mobil nya pada bi Yati.
“Bibi mending berkemas! Bawa barang keperluan bibi secukupnya! Langsung masukin ke dalam mobil! Ini kunci nya!” titah Jenny.
“Perayaan pernikahan Non dan bapak gak di rayaan di rumah? Ini bibi beneran ikut, Non?” tanya bi Yati memasti kan.
Jenny menghembus kan nafas nya kasar, “Gak usah banyak tanya, bi! Bibi ikutin aja apa kata saya! Tapi kalo bibi ingin tetap tinggal di rumah ini dengan bapak! Saya gak masalah! Itu pilihan bibi!”
“Bibi balik kamar, Non! Kemas kemas!” beo bi Yati, sebelum berlalu dari hadapan Jenny. Wanita paruh baya itu lari terbirit birit.
Jenny menatap kamar yang selama 2 tahun ini ia tempati bersama dengan Joseph. Sementara tangan nya sibuk memasuk kan barang dan surat berharga milik nya ke dalam koper.
“Gak akan ada lagi rengekan ku di rumah ini, mas! Kamu yang memaksa ku melepas kan ini semua! Dan aku menunggu melihat mu hancur di tangan gundik mu, mas!” gumam Jenny.
Bersambung