NovelToon NovelToon
SERABI LEMPIT

SERABI LEMPIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 16

Romano tidak ragu. Ia menyambar tabung pemadam api di dekatnya dan menghantamkannya ke pipa gas utama yang melintang di langit-langit gudang. Suara desis tajam memenuhi ruangan, menciptakan kabut putih yang mengaburkan pandangan pasukan laser tersebut.

"Sekarang!" teriak Romano.

Ia menarik Mira menuju celah sempit di balik rak arsip yang menuju ke saluran pembuangan limbah gedung. Di belakang mereka, suara tembakan beruntun menghantam beton, memicu percikan api yang langsung menyambar gas yang bocor. Sebuah ledakan kecil mengguncang fondasi, memberikan mereka waktu beberapa detik untuk menghilang ke dalam kegelapan lorong bawah tanah.

Di dalam saluran yang lembap dan bau, Mira berhenti sejenak. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding yang licin, napasnya memburu. Namun, bukan rasa takut yang menyelimuti wajahnya, melainkan amarah yang murni dan dingin.

"Semua ini bohong, Romano," ucap Mira, menatap telapak tangannya sendiri di bawah cahaya remang senter ponsel. "Kebaikan ibuku, perjuanganku untuk warga... semuanya bagian dari eksperimen mereka. Aku hanyalah produk yang sedang dipantau kinerjanya."

Romano mendekat, memegang wajah Mira dengan tangannya yang kotor terkena jelaga. "Kau bukan produk mereka, Mira. Kau adalah satu-satunya variabel yang tidak bisa mereka prediksi. Jika kau adalah 'Alpha', maka kau adalah kegagalan terbesar mereka karena kau memiliki nurani."

"Nurani itu sudah mati di atas sana," Mira menepis tangan Romano, matanya berkilat tajam. "Jika mereka ingin aku menjadi monster, aku akan menjadi monster yang paling efisien. Ayahmu ingin fase kedua? Mari kita berikan dia kiamat."

Mereka merayap keluar dari saluran pembuangan yang muncul di pinggiran kanal Sektor Tujuh. Di sana, suasana tampak tenang, namun Mira kini melihatnya dengan perspektif berbeda. Lampu-lampu jalan yang redup, wajah warga yang tampak lelah—semuanya kini terlihat seperti kandang laboratorium raksasa di matanya.

"Kita tidak bisa memercayai siapa pun, termasuk ayahku," ucap Mira saat mereka tiba di rumah lamanya.

Ia langsung menuju dapur, membongkar lantai ubin di bawah meja makan yang selama ini ia anggap sebagai tempat persembunyian tabungan darurat ayahnya. Di sana, terdapat sebuah koper hitam yang tidak pernah ia buka. Di dalamnya bukan uang, melainkan satu set vial berisi cairan biru jernih dan sebuah pemancar sinyal frekuensi rendah.

"Ini penawarnya?" tanya Romano, memeriksa vial tersebut.

"Atau pemicunya," balas Mira pendek. "Ibukku meninggalkan ini untukku. Bukan untuk menyelamatkan warga, tapi untuk 'mengaktifkan' mereka jika keadaan mendesak."

Mira menatap pemancar itu. Jika ia menekan tombolnya, seluruh warga Sektor Tujuh yang memiliki sisa genetik hasil eksperimen akan mengalami lonjakan adrenalin dan agresi yang tidak terkendali. Mereka akan menjadi pasukan yang tak kenal takut, namun mereka akan kehilangan kemanusiaan mereka dalam prosesnya.

"Mira, jangan," Romano menahan tangan Mira. "Jika kau melakukan ini, kau tidak ada bedanya dengan ayahku. Kau akan mengorbankan mereka semua demi dendammu."

"Mereka sudah dikorbankan sejak mereka lahir, Romano! Aku hanya memberikan mereka kesempatan untuk menggigit tangan yang memberi mereka makan!"

Tiba-tiba, suara helikopter menderu di atas rumah mereka. Lampu sorot raksasa menyapu kawasan Sektor Tujuh. Melalui pengeras suara, suara dingin Ayah Romano kembali terdengar, menggema di seluruh penjuru kampung.

"Mira... Romano... kalian punya waktu lima menit untuk menyerahkan sampel Alpha. Jika tidak, protokol sterilisasi akan dijalankan. Sektor Tujuh akan dihapuskan dari peta malam ini."

Mira menatap warga yang mulai keluar dari rumah dengan bingung dan ketakutan. Ia melihat ayahnya yang berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan pandangan yang penuh rahasia.

"Ayah... kau tahu segalanya, bukan?" tanya Mira lirih.

Ayahnya hanya mengangguk pelan. "Ibumu melakukan itu untuk melindungimu dari dunia yang lebih kejam, Mira. Tapi dia lupa bahwa dunia yang paling kejam adalah yang dia ciptakan sendiri. Pilihlah, Nak. Menjadi senjata, atau menjadi manusia yang hancur bersama mereka."

Mira memegang pemancar itu, jemarinya tepat di atas tombol merah. Di langit, helikopter tempur mulai mengarahkan moncong senjatanya ke arah pemukiman.

Mira melepaskan pemancar itu. Benda itu jatuh ke lantai tanah dengan bunyi tumpul yang tidak berarti. Ia tidak menekan tombolnya. Amarahnya yang tadi meluap mendadak membeku menjadi sesuatu yang lebih tajam dan terkendali.

"Aku tidak akan menjadi apa yang mereka inginkan," bisik Mira. Ia menoleh ke arah Romano, matanya berkilat dengan rencana yang jauh lebih gila. "Romano, mereka mengejar sampel 'Alpha'. Mereka pikir itu ada di dalam koper ini atau di dalam darahku. Mereka tidak akan menembak jika mereka pikir subjek berharganya akan hancur."

"Apa yang kau rencanakan?" Romano bertanya, waspada saat melihat Mira mulai membuka vial biru jernih itu.

"Kita akan memberikan mereka pertunjukan," Mira menyerahkan dua vial kepada Romano. "Vial ini bukan pemicu agresi, Romano. Ini adalah pelumpuh sistem saraf sementara yang dirancang ibuku untuk 'menidurkan' subjek jika mereka memberontak. Jika kita menyuntikkannya ke sistem air utama Sektor Tujuh sekarang, seluruh warga akan tampak mati dalam hitungan menit. Detak jantung mereka akan turun ke titik yang tidak terbaca oleh sensor termal helikopter itu."

Romano langsung menangkap arah pemikiran Mira. "Dan saat mereka turun untuk melakukan 'sterilisasi' pada apa yang mereka kira sebagai mayat, mereka akan lengah. Kita akan menyergap mereka di tanah mereka sendiri."

"Bukan kita," potong Mira. Ia menatap ayahnya yang masih berdiri mematung. "Ayah, bawa warga ke bunker bawah pasar. Gunakan sistem ventilasi manual. Romano, kau punya akses ke protokol keamanan helikopter itu dari tabletmu, bukan? Kita butuh pengalihan agar mereka mendarat di zona buta."

Romano mengangguk cepat, jemarinya menari di atas layar perangkatnya. "Aku bisa memalsukan kegagalan mesin pada helikopter utama. Mereka akan terpaksa mendarat di lapangan terbuka dekat pasar."

Mira menyuntikkan vial terakhir ke dalam tangki air darurat rumahnya yang terhubung ke saluran utama. "Lakukan sekarang."

Lima menit kemudian, Sektor Tujuh mendadak sunyi. Satu per satu lampu rumah padam. Warga yang tadinya panik kini tergeletak di mana saja mereka berada, dalam tidur dalam yang tampak seperti kematian. Helikopter di atas mulai berputar rendah, sensor termal mereka menunjukkan warna biru dingin—tanda tidak ada kehidupan.

"Target dinetralisir oleh anomali gas," suara pilot terdengar dari radio Romano yang berhasil diretas. "Mendarat untuk pengambilan sampel Alpha."

Helikopter itu mendarat di tengah lapangan pasar yang gelap. Pintu gesernya terbuka, dan pasukan elit turun dengan pakaian dekontaminasi lengkap. Di belakang mereka, kursi roda elektrik ayah Romano turun melalui tanjakan mekanis.

Pria tua itu melihat sekeliling, pada tubuh-tubuh yang tergeletak diam. "Sayang sekali. Rahayu selalu terlalu dramatis dengan tindakan pencegahannya. Cari Mira! Dia pasti ada di antara tumpukan daging ini!"

"Dia tidak ada di sana, Ayah," suara Mira muncul dari kegelapan di atas atap pasar.

Ayah Romano mendongak, namun terlambat. Romano sudah berada di belakang salah satu prajurit, melumpuhkannya dengan gerakan cepat dan merebut senjata otomatisnya. Mira melompat turun, mendarat dengan kelincahan yang tidak manusiawi—efek samping dari genetik 'Alpha' yang akhirnya ia terima, namun ia gunakan dengan caranya sendiri.

Mira berdiri tepat di depan kursi roda ayahnya Romano. Di tangannya, ia memegang pemantik api dan sebuah jerigen berisi bahan bakar yang ia ambil dari gudang pasar.

"Kau ingin fase kedua?" Mira menyiramkan cairan itu di sekeliling kursi roda tersebut, membentuk lingkaran pelindung yang mematikan. "Fase kedua dimulai dengan kehancuran penciptanya. Seluruh data di menara sudah diunggah Romano ke server publik dengan pemicu waktu. Jika aku mati, atau jika kau tidak menghentikan ini, seluruh dunia akan tahu bahwa Nusantara Group adalah laboratorium kejahatan perang."

Ayah Romano tertawa parau, meski ada secercah ketakutan di matanya. "Kau pikir kau bisa mengancamku dengan reputasi? Aku sudah mati bagi dunia!"

"Tapi kau belum mati bagi hukum rimba yang kau ciptakan sendiri," Mira mendekatkan pemantik itu. "Perintahkan mereka pergi, atau kita semua terbakar di sini bersama warisan busukmu."

Romano berdiri di samping Mira, senjatanya terarah tepat ke tangki oksigen di kursi roda itu. "Satu peluru, Ayah. Dan kau akan meledak menjadi kembang api tercantik di Sektor Tujuh."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!