NovelToon NovelToon
Milik Sang Kapten

Milik Sang Kapten

Status: tamat
Genre:Fantasi / Menyembunyikan Identitas / Romansa / Tamat
Popularitas:134.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Dulu ia bersembunyi di balik masker karena dihina, kini ia berdiri di puncak dunia karena luka."

​Karline Dharmawijaya memulai segalanya sebagai gadis SMA yang pemalu dan selalu menyembunyikan wajah di balik masker. Ia menjadi sasaran empuk keangkuhan Dean, cowok populer yang menghinanya sebagai "kasta terendah" sebelum akhirnya terobsesi saat melihat kecantikan asli Karline.
​Namun, cinta masa SMA itu hanyalah racun yang berujung pengkhianatan pahit.
​Kini, Karline bukan lagi gadis lemah itu. Ia melarikan diri ke Paris, bertransformasi menjadi calon chef profesional yang dingin dan tak tersentuh. Di Le Cordon Bleu, ia harus bertarung melawan sabotase rekan kampus dan ujian mematikan dari koki legendaris untuk membersihkan nama besar ayahnya. Di saat ia hampir mencapai mimpinya, Dean kembali muncul dengan sejuta penyesalan di tengah hidupnya yang mulai hancur.

​Akankah Karline kembali pada luka lamanya, atau terus melangkah menuju masa depan yang jauh lebih bersinar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Dominasi di Kantin

Sejak melepas "topengnya", Karline seolah terlahir kembali menjadi sosok yang berbeda. Ia tidak lagi menunduk saat berjalan di koridor. Sebaliknya, ia menjadi sosok yang tampak sedikit centil, ramah, dan sangat mudah bergaul. Senyum manisnya yang dihiasi lesung pipi kecil di sebelah kanan kini menjadi pemandangan harian yang dinanti-nanti para siswa. Karline benar-benar menjadi magnet sosial, setiap langkahnya diikuti oleh tawa dan obrolan seru dengan teman-teman barunya.

​Namun, pemandangan itu adalah racun bagi Clarissa dan gengnya. Mereka duduk di pojok koridor, memperhatikan Karline yang dikelilingi banyak orang dengan tatapan penuh kekaguman.

​"Lihat tuh, baru buka masker aja belagunya minta ampun," cibir Clarissa sambil melipat tangan di dada. "Sok asik banget jadi orang."

​Karline tidak peduli. Saat jam istirahat tiba, ia berjalan menuju kantin bersama rombongan kelas XI-IPA 2. Ia tampak bercanda dengan Bimo dan Sarah, sesekali menyibakkan rambutnya yang kini dibiarkan terurai indah.

​"Karl, meja langganan kita kayaknya penuh deh," ucap Bimo saat mereka sampai di area kantin yang sangat sesak.

​Karline melihat ke arah meja panjang di pojok kiri meja strategis yang biasanya dipakai anak-anak kelas sebelas. Di sana, Dean, Raka, Rio, dan beberapa anggota OSIS lainnya duduk dengan santai, menguasai tempat itu seolah milik nenek moyang mereka.

​"Biasa dikuasai sama rombongan Kak Dean dan OSIS, Karl. Mending kita cari tempat lain aja," bisik Sarah, mencoba menarik lengan Karline.

​Karline justru melepaskan pegangan Sarah. Ia menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti. "Kenapa harus cari tempat lain kalau itu tempat kita? Ayo."

​Dengan langkah mantap, Karline berjalan mendekati meja tersebut. Suasana kantin yang bising perlahan meredup saat menyadari sang primadona baru sedang berjalan menuju area kekuasaan sang kapten voli.

​"Permisi," suara Karline terdengar renyah namun tajam. "Meja ini tempat kelas kami. Silakan cari tempat lain."

​Raka dan Rio tersedak minuman mereka. Dean, yang sedang memainkan ponselnya, perlahan mendongak. Ia menatap Karline dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara kekaguman dan rasa bersalah yang masih membekas.

​"Meja ini kosong pas kami datangi. Jadi sekarang ini meja kami," sahut Rio mencoba terlihat berani, meski matanya menghindari tatapan Karline.

​Karline tidak mundur. Ia justru melangkah lebih dekat, mencondongkan tubuhnya rapat ke meja hingga jarak wajahnya dengan Dean hanya terpaut beberapa puluh senti. Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja, lalu mengetukkan jarinya dengan pelan namun berirama.

​Tak. Tak. Tak.

​Karline tersenyum intimidasi, menatap Dean tepat di matanya. "Saya tidak suka mengulang ucapan saya. Pergi sekarang, atau saya buat kalian malu lagi di depan semua orang yang sedang menonton ini?"

​Tekanan yang diberikan Karline begitu kuat. Aroma parfumnya yang lembut tercium oleh Dean, namun aura dingin yang dipancarkan gadis itu membuat siapa pun merinding. Dean bisa melihat kilatan amarah sekaligus kemenangan di mata lentik Karline.

​Seolah terhipnotis atau mungkin memang merasa tidak punya hak lagi, Raka dan Rio langsung berdiri serempak. Mereka tidak berani menatap Karline lebih lama.

​Dean perlahan berdiri, menjulang tinggi di depan Karline. Ia menatap Karline cukup lama, mengabaikan bisikan orang-orang di sekitar mereka. "Karline, kita perlu bicara. Secara pribadi," ucap Dean dengan nada yang jauh lebih rendah dan serius.

​Karline menegakkan tubuhnya, melipat tangan di dada sambil tertawa hambar. "Bicara? Untuk apa? Aku tidak ada waktu untuk bicara dengan pria bajingan seperti kau dan para temanmu ini."

​Kata 'kau' yang diucapkan Karline terdengar sangat merendahkan, menunjukkan bahwa ia benar-benar tidak lagi menghormati Dean sebagai senior.

​Dean mengepalkan tangannya di samping paha, menahan amarah yang bergejolak. Bukan marah karena diusir, tapi marah karena ia tidak tahu bagaimana cara memperbaiki kerusakan yang sudah ia buat. Tanpa berkata apa-apa lagi, Dean berbalik dan berjalan pergi meninggalkan kantin dengan langkah cepat.

​Raka yang masih berdiri di sana sempat menoleh ke arah Karline. Ia mencoba memberikan senyum gugup, entah sebagai tanda damai atau karena terpesona melihat wajah cantik Karline dari dekat.

​"Eh, anu... duluan ya, Karl," ucap Raka terbata-bata.

​Faras, salah satu teman sekelas Karline yang bertubuh cukup gempal, langsung maju dan menggertak Raka. "Woi! Mau ngapain lo masih di sini? Pergi!"

​Raka tersentak kaget dan langsung berlari menyusul Dean dan Rio seolah dikejar setan.

​Satu kantin meledak dalam tawa dan sorak-sorai. Teman-teman Karline segera menduduki meja tersebut dengan perasaan menang.

​"Gila, Karl! Lo bener-bener ratu sekolah sekarang!" seru Bimo sambil mengacungkan jempol.

​Karline duduk di tengah teman-temannya, kembali tersenyum ramah dan asyik memesan makanan. Ia tampak sangat bahagia, seolah interaksinya dengan Dean barusan hanyalah gangguan kecil yang tidak berarti. Namun, jauh di lubuk hatinya, Karline tahu bahwa perang dingin ini belum benar-benar berakhir. Selama Dean masih ada di sekolah itu, ia akan terus memastikan cowok itu merasakan dinginnya pengabaian yang ia berikan.

1
Zakia Ulfa
paling males udah konfliknya begini,ujungnya mau mau aja balikan sama dean lagi😡
Zakia Ulfa
udah fokus aja pada hidup masing masing karl,kamu berhak bahagia.g papa dingin ,tapi pastikan kamu tetep bahagia .
Sunny Kwok
ih jl cerita nya jd kok serem sih
Ariany Sudjana
sungguh beruntung karline memiliki suami yang bijak seperti David
Ariany Sudjana
kamu beruntung Dean punya sahabat sebaik karline dan David
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Raka and Teressa
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Raka dan Teresa 😄🙏
Ariany Sudjana
welcome back to jakarta Teresa 😄🙏
Ariany Sudjana
asli part ini 🤣🤣😂😂
brawijaya Viloid
ceritanya bagus dan menarik author kesayangan
brawijaya Viloid
mantap thorr😎
brawijaya Viloid
aku udh ktinggln bnyk cerita
Lucyana H
setuju kak Andhika .hukum aja mereka,biar kapok....jd ikut kesel
Lucyana H
Rio..Arlan sm Clarissa harus di hukum thor,keluarin dari sekolah,kasian karline,
Ariany Sudjana
semoga hubungan Raka dan Teresa semakin membaik
Ariany Sudjana
kamu bodoh Raka, kamu dulu ga tegas, percaya penuh dengan omongan si pelacur murahan itu, sampai kamu kehilangan Teresa
Sunny Kwok
Ceritanya bagus
Ra H Fadillah: Terima kasih sudah memberi ⭐⭐⭐⭐⭐! Dukungan kalian membuat saya semakin semangat untuk terus menulis. Semoga cerita ini bisa menghibur dan berkesan untuk kalian. 💕
total 1 replies
Ariany Sudjana
ah ga seru jadinya, Teresa dan Raka jadinya bersaing karena bergabung dalam firma hukum yang saling bersaing
Ariany Sudjana
bodoh kamu Raka, kamu pengacara hebat, tapi dengan bodohnya kamu percaya dengan omongan si pelacur murahan itu, dan mengakibatkan Teresa sakit hati
Ariany Sudjana
Amara Amara kamu ini istrinya konglomerat, tapi bodohnya kebangetan, dan kamu percaya begitu saja dengan pelacur murahan kesayangan kamu itu ? bodoh kamu, kamu kan punya anak buah, kenapa kamu bukannya cari kebenarannya dulu, sebelum menelan mentah-mentah omongan si pelacur murahan itu?
Ra H Fadillah: sabar y kak 😉
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!