NovelToon NovelToon
Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Maaf Itu Mati Bersama Kepergiannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: KRISTAL HITAM

Hening.

Soulrender di tangan Aldric bergetar—bukan karena takut, tapi karena marah. Pedang itu seolah bisa merasakan kehadiran Lilith, iblis keempat dari Four Horsemen, dan bereaksi dengan kebencian murni.

Lilith tersenyum, sabar menanti. Matanya yang merah menyala bergantian menatap Aldric dan Ren. Ia tidak terburu-buru. Ia tahu waktu berpihak padanya.

"Kau gila," desis Aldric. "Aku tidak akan pernah menyerahkan Ren."

Lilith menghela napas dramatis. "Sayang sekali. Aku sudah memberi tawaran yang sangat masuk akal." Ia melangkah maju satu langkah, dan udara di sekitarnya langsung berubah—menjadi hangat, memabukkan, seperti parfum bunga yang terlalu kuat. "Coba pikir, Aldric. Dengan Varyn bebas, kau punya kesempatan melawan Kael dan yang lain. Tanpa dia, kalian semua akan mati. Kau, istrimu yang cantik, ibu itu, dan tentu saja..." ia menatap Ren, "...anak istimewa itu."

Sera memeluk Ren erat-erat, tubuhnya gemetar. "Dia tidak akan pernah kau dapatkan!"

"Oh, aku bisa mengambilnya kapan saja," Lilith tertawa lembut. "Tapi aku lebih suka jika diberikan dengan sukarela. Lebih manis rasanya."

Elara meraih tangan Aldric. "Jangan dengar dia. Kita pasti ada cara lain."

Aldric berpikir cepat. Kekuatan Lilith—ia bisa merasakannya. Iblis ini berbeda dari Kael. Kael mengandalkan kekuatan fisik dan kegelapan, sementara Lilith... ia merayap ke dalam pikiran, memanipulasi keinginan.

Satu-satunya cara melawannya adalah dengan tidak membiarkan dirinya terpengaruh.

"Varyn," panggilnya dalam hati. "Varyn, kau dengar aku?"

Tidak ada jawaban. Ren masih pingsan, tidak ada tanda-tanda Varyn.

Lilith seolah membaca pikirannya. "Varyn tidak bisa membantumu sekarang. Kristal itu masih mengikatnya. Ia hanya bisa bicara lewat anak itu saat anak itu sadar. Dan lihat—" ia menunjuk Ren yang pucat, "—ia kelelahan. Mungkin butuh berjam-jam untuk sadar."

Sera menangis diam-diam, air matanya jatuh di wajah Ren.

Aldric mengepalkan tangan. "Apa kau benar-benar berpikir aku akan percaya padamu? Begitu kau mendapatkan Ren, kau akan membunuh kami semua."

"Aku tidak perlu membunuh kalian," Lilith tersenyum manis. "Aku hanya ingin anak itu. Sisanya... biar Kael dan yang lain yang urus."

"Untuk apa kau menginginkan Ren?"

"Itu urusanku."

Aldric mengangkat Soulrender, mengarahkannya ke Lilith. "Kalau begitu, kita tidak ada yang perlu dibicarakan."

Lilith tertawa—tawa merdu yang menggetarkan hati. "Kau mau bertarung denganku? Di sini, di bawah jurang, dengan mereka yang harus kau lindungi?" Ia melambaikan tangan, dan tiba-tiba bayangan-bayangan muncul di sekeliling mereka—puluhan Lilith, semuanya tersenyum sama. "Aku bisa mengelabui pikiranmu. Kau akan menebas Elara tanpa sadar."

Aldric ragu. Ia tahu itu bukan ancaman kosong.

Tapi Elara maju selangkah. "Kalau begitu, tutup matamu."

Aldric menoleh. "Apa?"

"Tutup matamu. Ingat Labirin Echo? Kita lewati itu dengan mata tertutup." Elara menatapnya mantap. "Kau percaya padaku?"

Aldric mengerti maksudnya. Ia memejamkan mata.

Lilith tertawa lagi. "Bodoh. Kau pikir itu bisa—"

Tapi Aldric sudah bergerak. Dengan mata tertutup, ia mengandalkan indra lain—pendengaran, penciuman, getaran udara. Soulrender di tangannya seperti memancarkan energi yang menuntunnya. Ia tahu persis di mana Lilith yang asli berada.

Tebasan pertama—tepat ke arah Lilith.

Lilith terkejut, mundur cepat. "Apa—"

Aldric tidak memberi kesempatan. Serangan demi serangan dilancarkan dengan mata terpejam. Lilith mencoba mengelabui dengan bayangan, tapi Aldric tidak tertipu. Ia mengikuti suara, getaran, dan yang paling penting—ikatan Soulrender dengan iblis.

"Cukup!" Lilith berteriak, suaranya berubah—tidak lagi merdu, tapi melengking marah. Ia mengeluarkan belatinya, menyerang balik.

Pertarungan sengit terjadi. Lilith cepat, tapi Aldric terlatih. Soulrender setiap kali mengenai tubuh Lilith, meninggalkan luka yang mengeluarkan asap hitam.

Elara, Sera, dan Ren berlindung di balik batu besar, jauh dari pertarungan.

Di tengah pertempuran, tiba-tiba Ren mengerang. Matanya terbuka—merah.

"Aldric!" suara Varyn. "Kristal! Hancurkan sekarang!"

Aldric membuka mata sekilas—ia melihat kristal hitam berputar di atas batu, hanya beberapa langkah dari tempatnya bertarung. Lilith juga melihatnya, dan matanya melebar.

"Jangan—!"

Tapi Aldric sudah melompat, Soulrender teracung. Dengan sekuat tenaga, ia menebas kristal itu.

CRAAAAK!

Kristal hitam pecah berhamburan, mengeluarkan cahaya putih menyilaukan. Gelombang kejut meledak, melemparkan semua orang—Aldric, Lilith, Elara, Sera, Ren—terpental ke berbagai arah.

Dunia berputar.

Saat Aldric sadar, ia terbaring di pecahan kristal. Tubuhnya terasa remuk, tapi regenerasi bekerja cepat. Ia mendongak.

Di atasnya, langit-langit gua retak, dan dari retakan itu, cahaya keemasan turun. Dan di tengah cahaya itu, sesosok bayangan besar turun perlahan.

Varyn the Silent.

Bukan avatar. Bukan ilusi. Tapi tubuh aslinya—iblis raksasa dengan sayap kelelawar, tanduk melingkar, mata merah menyala. Ia turun dengan anggun, mengepakkan sayap sekali, dan seluruh gua bergetar.

"Akhirnya... bebas..." Suaranya menggema, membuat dinding-dinding runtuh. Ia menatap Aldric dengan mata yang bersinar. "Kau benar-benar melakukannya, Nak."

Aldric tersenyum lemah. "Aku... berjanji..."

Varyn mendekat, mengulurkan tangan besarnya. Aldric meraihnya, dan iblis itu membantunya berdiri.

Dari sudut, Lilith bangkit dengan wajah marah. Tubuhnya terluka, berasap. "Varyn... kau..."

Varyn menoleh. Matanya menyipit. "Lilith. Masih saja suka main-main, ya?"

"Ini belum selesai!" Lilith berteriak, tubuhnya mulai memudar. "Kael akan mendengar tentang ini!"

"Sampaikan salamku padanya," Varyn tertawa. "Bilang aku rindu pertarungan dulu."

Lilith menghilang dalam kepulan asap hitam.

Varyn berbalik pada Aldric. "Kau hebat, Nak. Bertarung melawan Lilith dengan mata tertutup? Hanya orang gila yang bisa."

Aldric tertawa getir. "Aku belajar dari yang terbaik."

Varyn memandangi Elara, Sera, dan Ren yang mulai bangun. "Keluargamu?"

"Ya."

Varyn mengangguk. "Bagus. Mereka kuat." Ia menatap Ren. "Terutama yang kecil itu. Ia punya potensi besar."

Ren, yang baru sadar, mengucek mata dan melihat Varyn. Matanya membelalak. "Wah... gede banget..."

Varyn tertawa terbahak-bahak. "Anak ini... aku suka!"

Mereka berkumpul di dasar jurang, di tengah pecahan kristal. Varyn kini bebas, berdiri di samping mereka—meskipun ukurannya yang raksasa membuat mereka harus menjauh sedikit.

"Varyn," kata Aldric, "Kael, Malak, dan Abaddon sudah bangkit. Mereka menghancurkan dunia atas."

"Aku tahu. Aku bisa merasakannya." Varyn menghela napas—hembusan yang membuat rambut mereka terbang. "Perang besar akan segera dimulai."

"Kau bisa membantu kami?"

"Tentu. Itu sudah janji." Varyn tersenyum lebar. "Tapi kau harus tahu, Nak. Aku bukan tandingan mereka bertiga sendirian. Apalagi dengan Lilith yang juga berkeliaran."

"Lalu?"

"Kau butuh lebih banyak sekutu. Dunia bawah punya banyak makhluk kuat. Beberapa mungkin mau bergabung."

Aldric mengerutkan dahi. "Kau bisa memanggil mereka?"

"Bisa. Tapi tidak sekarang. Pertama, kita harus selamatkan dunia atas dari kekacauan. Kabut Kael dan Malak akan menyebar cepat. Jika sampai menyentuh jantung kerajaan, semua orang akan berubah menjadi monster."

Elara bertanya, "Apa yang bisa kita lakukan?"

Varyn berpikir sejenak. "Kita harus memotong sumber kabut. Kael pasti menanamkan kristal kegelapan di suatu tempat—mungkin di istana. Jika kita hancurkan, kabut akan berhenti menyebar."

"Aku tahu di mana." Aldric menatap ke atas. "Ruang tahta. Di bawah patung naga."

"Bagus. Kita ke sana."

Varyn mengepakkan sayapnya. "Naik. Aku akan membawa kalian terbang."

Mereka naik ke punggung Varyn—luas, bersisik, tapi cukup nyaman. Ren berseru gembira meskipun Sera ketakutan. Elara memeluk Aldric erat.

"Kau siap?" tanya Aldric.

Elara mengangguk. "Bersamamu, aku siap apa pun."

Varyn terbang.

Dunia bawah tertinggal di bawah mereka—kegelapan, jamur bercahaya, sungai lava, semua menyusut menjadi titik-titik kecil. Mereka menembus lapisan-lapisan gua, menuju permukaan.

Di atas, kabut hitam sudah menutupi sebagian besar langit. Tapi di kejauhan, di puncak istana, titik merah menyala—kristal kegelapan.

Target mereka.

Perang sesungguhnya akan segera dimulai.

Varyn terbang tinggi di atas Nivalen. Dari ketinggian, mereka bisa melihat kekacauan di bawah—orang-orang berlarian, kabut hitam merayap di jalan-jalan, monster-monster kecil mulai bermunculan. Istana berdiri megah di tengah, dengan puncak menara menyala merah.

Di puncak itu, Kael dan Malak berdiri, menanti.

"Mereka datang," kata Malak.

"Biarkan," jawab Kael. "Aku sudah lama menunggu ini."

Varyn mendarat di halaman istana, membuat tanah bergetar. Para penjaga yang tersisa lari ketakutan. Aldric turun, Soulrender di tangan. Elara, Sera, dan Ren mengikuti.

Dari pintu utama, Darius keluar—dengan senyum puas di wajahnya.

"Selamat datang di pestaku, Adik."

Aldric menatapnya dengan dingin.

"Ini bukan pestamu. Ini akhirmu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!