Kaniya, seorang wanita muda yang berani, menolak perjodohan yang diatur oleh orang tuanya. Dia kabur dari rumah dan mencari perlindungan di perusahaan tempatnya bekerja. Di sana, dia bertemu dengan atasannya, Agashtya, yang juga kabur dari perjodohan orang tua. Mereka berdua bekerjasama untuk menjaga rahasia masing-masing, tapi suatu malam, mereka tak sengaja tidur bersama.
Beberapa bulan kemudian, mereka berdua terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang dijodohkan oleh orang tua mereka tak lain adalah mereka sendiri. Kaniya dan Agashtya harus menghadapi kenyataan bahwa mereka telah jatuh cinta, tapi adakah kesempatan bagi mereka untuk bersama? Dan apa yang terjadi ketika adik mereka, Bintang dan Shanaya, juga saling jatuh cinta satu sama lain?
Kaniya dan Agashtya duduk di ruang kantor, mencoba memahami situasi mereka.
"Apa bapak percaya ini?" tanya Kaniya, suaranya hampir tidak terdengar
Agashtya menggelakkan kepalanya. "Saya tidak tahu apa yang harus dikatakan. Aku tidak pernah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penerimaan Casting
Pagi itu, Agashtya bangun lebih awal dan memutuskan untuk melakukan joging di sekitar kompleks apartemen tempat ia tinggal. Udara pagi yang segar dan sinar matahari yang lembut menyambutnya di luar.
Saat ia mulai berlari, ia disambut oleh para penggemar yang sudah menunggu.
"Mas Agashtya!" Teriak mereka, sambil melambaikan tangan
Agashtya tersenyum dan melambaikan tangan kembali.
"Ya...ada yang bisa di bantu?" Tanya Agashtya, ramah
Dua orang gadis yang tengah joging juga mendekat kepadanya.
"Izin foto bareng dong..." Ucap mereka, sambil memegang smartphone
"Boleh..." Sahut Agashtya, ramah
Para penggemar lainnya mulai mendekat, meminta foto dan video bersama Agashtya. Ia dengan sabar memenuhi permintaan mereka, sambil terus berlari di tempat.
Tak lama kemudian, Bintang muncul di samping Agashtya.
"Bhaiya, kamu sudah selesai?" Tanyanya, sambil tersenyum
Agashtya mengangguk. "Sudah, Bintang. Aku sudah siap..."
Bintang tersenyum dan mulai berlari bersama Agashtya. Keduanya disambut oleh para penggemar yang semakin banyak, sambil berteriak "Mas Agashtya! Mas Bintang!"
Agashtya dan Bintang tersenyum dan melambaikan tangan, menikmati sorak-sorak para penggemar mereka.
Kegiatan di area apartemen tempat tinggal Agashtya memang setiap paginya masyarakat setempat melakukan joging bersama dan setelahnya berkumpul di lapangan atau taman khusus. Tak hanya Agashtya, bahkan Bintang juga sudah menyusul kakaknya itu.
"Wah ada mas Bintang juga..." Teriak para gadis di taman itu, sambil melomba-lomba mendekati Bintang
Semuanya menyerbu Bintang saat pemuda itu akan menghampiri kakaknya kembali. Walaupun mereka penggemar kedua pemuda itu, banyak pula yang tidak mengetahui apa hubungan antara Agashtya dan Bintang.
"Oh hai...semuanya..." Sapa Bintang, lebih supel daripada Agashtya
Agashtya menertawakan adiknya itu, disaat yang sama ia pun meninggalkan adiknya yang tengah dikerumuni oleh para penggemarnya.
Tak hanya para gadis, bahkan para bapak-bapak dan emak-emak pun juga tak ingin kalah.
Tentu mereka yang mengetahui profesi lain Bintang yang sebagai dokter, sehingga mereka tak hanya ingin berfoto bersama namun juga konsultasi mengenai kesehatan.
"Mas Bintang, saya mau konsul mengenai penyakit kolesterol saya dong mas..." Ucap seorang ibu-ibu bertubuh gempal yang mendekatinya
"Aduh ibu, saya gak bawa peralatan. Lebih baik jika ibu ada waktu luang langsung saja datang ke klinik saya. Ini kartu nama saya, alamatnya tertera disana..." Jawab Bintang, santun dan ramah
"Terimkasih banyak mas Bintang. Boleh foto bareng mas dokter ganteng?" Ucap Ibu bertubuh gempal itu
"Boleh boleh saja ibu. Semua juga boleh foto bareng saya hahaha..." Jawab Bintang, ramah
Begitulah Bintang yang berprofesi sebagai dokter sekaligus aktor pengganti, selain sifatnya yang dipandang sangat sopan dan juga berwibawa, dirinya juga sangat ramah pada siapa saja.
Agashtya yang sudah kabur duluan dari para penggemar kini sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Bahkan bik Astuti juga sudah menyiapkan beberapa macam hidangan untuk tuan mudanya itu.
Usai menikmati sarapan yang sudah disajikan oleh bi Astuti pagi ini, Agashtya pun turun ke parkiran mobil untuk bersiap menuju kantornya.
Sudah pukul 09.00 wib namun Bintang belum juga kembali sehingga ia pun memutuskan untuk berangkat duluan.
"Bi, Saya berangkat dulu ya!" Seru Agashtya kepada bik Astuti yang sedang sibuk membersihkan dapur
"Iya, hati-hati di jalan, Mas!" Jawab bik Astuti, sambil melambaikan tangan
Agashtya tersenyum dan melambaikan tangan kembali. Ia kemudian memasuki mobil Hyundai Creta Sunroof berwarna merah miliknya itu yang jarang sekali ia pakai baru hari ini ia memakainya.
Disaat itu pula lah Bintang baru kembali dari joging, sambil berteriak-teriak seperti orang gila.
"Bhaiyaaaa! Tunggu akuuuu!" Teriak Bintang, sambil berlari menuju parkiran
Tapi Agashtya sudah tidak ada lagi di sana, ia sudah pergi melajukan mobilnya. Bintang hanya bisa menggelakkan kepala dan tertawa.
"Hahaha, bhaiya emang gak sabaran nih!"
Kedua pemuda ini memang memiliki karakteristik yang unik yaitu memiliki selera candaan yang aneh-aneh. Kakak adik yang selalu absurd dalam segala hal.
...****************...
Agashtya memasuki area parkiran PT Wijaya's New Era Group dengan mobil Hyundai Creta sunroof berwarna merah miliknya.
Semua orang memandang ke arahnya, beberapa di antaranya mengenali mobil itu, tapi tidak semua tahu siapa yang ada di dalamnya.
Saat Agashtya keluar dari mobil, ia berjalan santai menuju ruang kerjanya. Namun, sebelum ia mencapai ruangannya, Alex memanggilnya.
"Boss...yuhhuu...come here..." Panggil Alex dengan kode yang familiar
Agashtya memahami kode itu dan segera menuju ruang casting.
"Ada apa?" Tanyanya, datar
Alex menunjukkan beberapa CV dan biodata para pendaftar casting hari ini.
"Ini bos, semuanya ada sekitar 30 orang. Masing-masing wanita 15 orang dan pria 15 orang juga..." Jawab Alex, sambil menyodorkan beberapa CV
Agashtya menerima CV itu dan meneliti secara mendetail. Setelah beberapa saat, ia menjawab.
"Baik, mulai saja proses castingnya. Saya akan melihatnya dari sini..."
"Ok. Soal ini kamu dan Dion yang urus. Bawa mereka semua ke ruang casting nanti jam 10an saya yang akan menilainya..." Jawab Agashtya yang tampak lebih serius daripada biasanya
"Ok siap boss..." Sahut Alex sembari mengangkat telapak tangannya sebagai simbol penghormatan
Agashtya pun berjalan menuju ruang casting lebih dulu sembari mengajak beberapa kru lainnya untuk menata segala properti yang diperlukan saat test casting.
Agashtya berjalan menuju ruang casting, diikuti oleh beberapa kru lainnya yang sibuk menata properti. Alex memperhatikan perubahan sikap atasannya dengan rasa penasaran.
"Tumben mode seriusnya keluar. Biasanya juga sok asik. Semalem juga gak balik kerumah. Ah...bodoamat penting gaji ngalir terus..." Gumam Alex, sambil menggelakkan kepala
Dion, salah satu karyawan, mendekati Alex dengan rasa penasaran.
"Kenapa tuh boss loe?"
Alex menjawab dengan gaya absurdnya, "Kagak tahu, salah makan kali soalnya semalem ikut pertemuan perjodohan keluarga mungkin cewek yang dijodohin burik kali makanya moodnya jadi kayak gitu jiahaha..."
Dion tertawa, "Oh gitu ok deh..."
Alex tiba-tiba sadar, "Eh...ntar gue baru sadar, apa loe bilang tadi bos gue? Bos loe juga kali itu..."
Dion terkekeh, "Wha...iya salah kalimat gue hahaha..."
Alex menepuk bahu Dion, "Ya udah gue cabut dulu, takut khodam singanya boss kita keluar bisa diterkem ntar kita kayak si Sherly kemarin rarwrrr..."
Dion tersenyum, "Ok ok aman hahaha..."
Agashtya sudah menunggu di ruang casting, bersama para kru, asisten artis, make up artis, dan penata ruangan.
Alex dengan wajah penuh semangat mempersilahkan para kontestan untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Mari silahkan masuk semuanya, duduk di kursi masing-masing sesuai dengan nomor urut kontestan ya..." Ucap Alex, sambil mempersilahkan para kontestan.
Agashtya duduk di kursi kebesarannya, bersama para dewan juri lainnya.
"Selamat pagi menjelang siang semuanya. Baik, dalam rangka pencarian minat dan bakat kita hari ini akan segera kita mulai sesuai dengan nomor peserta masing-masing ya. Yang dipanggil namanya silahkan maju ke podium. Sekian dari saya, acara saya kembalikan lagi pada pembawa acara kita hari ini, mas Dionisius Abraham..."
Dion mengangguk dan memulai acara.
"Baik, terimakasih pak Agashtya. Ok, kita mulai saja acaranya... Langsung saja kita panggil peserta pencarian bakat kita hari ini dengan nomor urut satu, yaitu mbak Salsabila Andestha Putri, silahkan mbak tunjukkan pesonamu..."
Salsabila, seorang gadis muda dengan tubuh semampai dan rambut curly, melangkahkan kakinya ke podium.
Dion memberikan instruksi, "Ok mbak Shalsabila, sekarang coba Anda ikuti bagian peran ketiga yang berada di script ya, tunjukkan ekspresi wajah dan emosi jiwa Anda tanpa ragu. Ok, kita mulai dalam hitungan mundur 3, 2, 1 ya!"
Salsabila memulai, "Apa yang kamu lakukan mas? Kenapa kamu gak pernah anggap aku selama ini? Apa kekurangan aku dimata kamu mas?"
Dion mengarahkan, "Ok, sekarang bagian selanjutnya, tetap yang peran ketiga ya..."
Salsabila membaca naskah dan berusaha mengekspresikan diri dengan dialog yang akan diperagakannya.
"Cukup mas! Aku gak butuh penjelasan apapun lagi dari kamu! Mulai saat ini, detik ini juga kita gak ada hubungan apapun lagi!" Ucap gadis itu dengan emosi yang memuncak, suaranya bergetar
Dion segera mengalihkan perhatian, "Ok, cukup. Sekarang, para dewan juri dipersilahkan bagaimana menurut penilaian kalian terhadap mbak Shalsabila Andestha Putri..."
Agashtya dan ketiga dewan juri pun tampak saling berdiskusi, beberapa di antaranya manggut-manggut dalam menilai.
Vania Ayu Dewi, dewan juri utama, memulai, "Ok Shalsabila...saya suka dengan penampilan kamu. Tubuh sudah ok, style juga masuk. Nah, untuk bakat acting lumayan, tapi ekspresi kamu agak sedikit kurang menjiwai ya, emosi kamu belum sepenuhnya dapat masih terlalu dibuat-buat kesannya lebay..."
Harris Adi Nugraha, pria disamping Vania, memegang microphone dan mulai berbicara.
"Hai mbak Shalsabila ya? Saya Harris Adi Nugraha. Menurut saya, penampilan kamu cukup ok. Hanya saja, perlu sedikit ditingkatkan lagi segi emosi jiwanya. Pembukaan yang bagus saya beri A+ untuk Anda..."
Kini beralih ke dewan juri satunya lagi yang tak lain adalah Avantikha Shanty Kurnia, ia memegang microphone dengan gaya elegannya dan mulai mengekspresikan pendapatnya.
Avantikha Shanty Kurnia memandang Shalsabila dengan senyum ramah, "Hai Shalsabila, kamu dari Blitar yah? Sama saya juga dari sana..."
Shalsabila tersenyum kembali, "Hai kak, iya kak saya asli Blitar..."
Avantikha tidak membuang waktu, "Ok salam kenal saja yah. Ok soal penampilan kamu hari ini keren banget, cuma ya setuju dengan pendapat kedua dewan juri sebelumnya, emosi jiwa kamu masih perlu ditingkatkan sedikit. Tapi gak papa, kamu sudah berani menunjukkan diri, itu sudah nilai A+ buat saya. Ok itu saja, sukses terus ya..."
Semua mata kini tertuju pada Agashtya Wira Wijaya, dewan juri terakhir dan pemilik PT Wijaya's New Era Group.
Agashtya memandang Shalsabila dengan mata yang tajam, namun tetap elegan. Pemuda satu ini menghela nafasnya panjang dan mulai berpendapat.
"Shalsabila, saya Agashtya Wira Wijaya. Saya harus mengatakan, penampilan kamu hari ini sangat luar biasa. Kamu memiliki bakat yang besar, tapi perlu lebih banyak kerja keras untuk mengasah emosi dan ekspresi. Saya ingin melihat kamu lebih berani dan lebih ekspresif di babak selanjutnya. Kamu punya potensi, jangan buang itu..."
Suara Agashtya yang dalam dan tegas membuat Shalsabila merasa sedikit tegang, tapi dia berusaha tersenyum.
"Terimakasih, pak Agashtya..." Ucapnya lirih
Agashtya memberikan kode pada Dion, dan Dion segera memanggil peserta berikutnya.
"Baik, terimakasih mbak Shalsabila. Sekarang, kita lanjutkan dengan peserta berikutnya, nomor urut 2, yaitu Bapak Riko Santoso. Silahkan, pak Riko, tunjukkan kemampuan Anda..."
Shalsabila mengembalikan microphonenya pada Dion dan berjalan turun podium, wajahnya masih sedikit tegang, tapi dia berusaha tersenyum. Dia disambut oleh beberapa orang yang memberikan dukungan dan semangat.
Acara pun berlanjut, satu per satu peserta dipanggil dan menampilkan kemampuan mereka. Waktu terus berjalan, dan akhirnya jam menunjukkan 12.00 wib.
Dion mengumumkan, "Baik, kita akan istirahat makan siang sekarang. Silahkan, semua peserta dan dewan juri untuk beristirahat dan makan siang. Acara akan dilanjutkan lagi pada pukul 13.30 wib. Terimakasih..."
Semua orang mulai berdiri dan beranjak pergi, beberapa di antaranya menuju ke kantin, sementara yang lain memilih untuk beristirahat di luar.
Agashtya berdiri dan berjalan keluar, diikuti oleh beberapa orang dari timnya. "Baik, kita makan siang dulu. Sore ini kita akan lanjutkan lagi," ucapnya singkat
Bersamboo dulu...
Visualnya Dionisius Abraham ya guys yah...
Visualnya Haris Adi Nugraha...
Visualnya Vania Ayu Dewi ya guys...
Visualnya Avantikha Shanty Kurnia...
Visualnya Shalsabila Andestha Putri...
Visualnya Armando Harahap ya guys yah...