NovelToon NovelToon
Milik Sang Kapten

Milik Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Menyembunyikan Identitas / Romansa
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
​Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
​"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Tuduhan dan Solidaritas

Suasana kantin siang itu mendadak tegang. Karline sedang duduk di pojok bersama Sarah, mencoba menikmati bekalnya dengan membuka sedikit bagian bawah maskernya. Namun, ketenangannya terusik oleh suara tawa yang sangat ia kenali dari meja seberang.

​"Woi, Anak Aneh! Makan apa lo? Baut karatan ya? Makanya dandanannya kayak robot gitu," teriak Raka sambil terbahak-bahak.

​Rio ikut menimpali, "Eh, Anak Aneh, denger nggak sih? Jangan-jangan selain pakai masker, telinga lo juga disumbat kapas?"

​Karline menghentikan gerakannya. Panggilan "Anak Aneh" itu mulai terasa seperti duri yang menusuk telinganya. Ia sudah cukup bersabar sejak kemarin, tapi terus-menerus direndahkan di depan umum bukan gayanya. Di meja itu, Dean hanya duduk diam, menyesap minuman kalengnya sambil memperhatikan tanpa niat melerai.

​Karline meraih dua botol plastik kecil kosong bekas air mineral milik Sarah yang ada di meja. Tanpa menoleh, dengan perhitungan sudut yang presisi, ia menyentil kedua botol itu bergantian menggunakan punggung tangannya.

​Pltak! Pltak!

​Dua botol itu melayang cepat, berputar di udara, dan mendarat telak di tengah jidat Raka dan Rio secara bersamaan.

​"Aduh!" jerit mereka berdua sambil memegangi dahi yang mendadak merah.

​"Berani banget lo ya!" bentak Raka sambil berdiri, wajahnya merah padam karena malu.

​Namun, sebelum keributan makin memanas, suara langkah sepatu pantofel yang tegas menggema di pintu kantin. Clarissa datang, tapi kali ini ia tidak sendiri. Di belakangnya berdiri Arlan, Ketua OSIS yang terkenal galak dan dingin, didampingi sekretaris dan bendahara OSIS yang juga memiliki reputasi "killer".

​"Siapa yang berani bikin keributan di sini?" tanya Arlan dengan suara bariton yang menggelegar.

​Clarissa langsung menunjuk ke arah meja Karline dengan wajah penuh kemenangan. "Dia, Lan! Anak baru kelas sebelas ini. Tadi dia lempar botol ke Kak Raka, dan kemarin dia juga yang bikin pergelangan tangan gue biru-biru!"

​Arlan menatap tajam ke arah Karline. Gadis itu tetap duduk tenang, tidak ada raut takut sedikit pun di matanya. Ia hanya menatap balik Arlan dengan pandangan datar yang membuat Arlan merasa sedikit terintimidasi hal yang jarang ia rasakan.

​"Ikut saya ke lapangan. Sekarang!" perintah Arlan tegas. "Sekretaris, kumpulkan semua siswa kelas sebelas dan dua belas yang ada di sekitar sini. Kita selesaikan ini di depan umum supaya jadi pelajaran."

​Lima menit kemudian, lapangan tengah sudah dipenuhi oleh barisan siswa kelas 11 dan 12. Matahari sedang terik-teriknya. Karline berdiri di tengah-tengah, dikelilingi oleh jajaran pengurus OSIS yang tampak sangat berwibawa. Dean dan gengnya berdiri tak jauh dari sana, menjadi penonton yang paling diperhatikan.

​"Siapa namamu?" tanya Arlan sambil memegang buku sanksi.

​Karline tetap diam. Ia tidak merasa perlu menyebutkan namanya untuk sebuah tuduhan yang tidak benar.

​"Saya tanya sekali lagi, siapa namamu? Jangan jadi pengecut dengan bersembunyi di balik masker itu!" bentak Bendahara OSIS, seorang cowok berkacamata yang juga sepupu dekat Arlan.

​Clarissa tersenyum sinis di samping mereka. "Hukum aja, Lan. Dia ini anak baru tapi kurang ajar banget sama senior. Nggak punya sopan santun!"

​Dean hanya menatap dari kejauhan. Ia ingin tahu, sejauh mana gadis itu akan bertahan sendirian.

​Namun, di tengah tekanan itu, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari barisan kelas XI-IPA 2.

​"Woi, jangan asal hukum temen kita dong!" teriak salah satu siswa cowok kelas Karline.

​"Iya! Kita semua lihat tadi Kak Raka sama Kak Rio yang duluan ngejek Karline pakai sebutan nggak sopan!" sahut siswi lain.

​Sarah, yang tadinya ketakutan, ikut maju ke depan barisan. "Benar, Kak Arlan! Kak Clarissa juga bohong. Kemarin dia yang duluan mau jambak rambut Karline, Karline cuma bela diri! Jangan mentang-mentang Kak Clarissa itu sepupu Kak Arlan, Kakak jadi nggak objektif!"

​"Jangan fitnah teman kami!" seru siswa-siswa kelas sebelas serentak. Sorakan itu makin riuh, membuat barisan OSIS mulai goyah.

​Wajah Arlan yang tadinya merah karena marah, kini berubah menjadi merah karena malu. Ia menoleh ke arah Clarissa yang mulai tampak gugup. Sebagai Ketua OSIS, reputasi disiplinnya kini dipertanyakan karena ia terlihat membela sepupunya sendiri tanpa mencari kebenaran lebih dulu.

​"Benar begitu, Clarissa?" tanya Arlan dengan nada yang jauh lebih rendah, penuh keraguan.

​"Gue... gue cuma..." Clarissa gagap, tidak bisa membela diri di hadapan saksi mata yang begitu banyak.

​Karline melihat kerumunan teman sekelasnya. Ia tidak menyangka bahwa orang-orang yang awalnya menganggapnya aneh justru berdiri membelanya. Di balik maskernya, bibir Karline melengkung membentuk senyuman tipis sebuah senyum tulus yang membuat lesung pipi di pipi kanannya muncul sedikit di balik kain hitam itu. Matanya menyipit manis, menunjukkan binar terima kasih.

​"Terima kasih," ucap Karline pelan, namun cukup terdengar oleh teman-temannya di barisan depan.

​Ia kemudian membungkuk sopan ke arah teman-teman sekelasnya sebagai bentuk rasa syukur. Sikapnya yang santai namun anggun itu justru membuat para pengurus OSIS terlihat seperti sekumpulan orang dewasa yang kekanak-kanakan.

​"Maaf, Arlan. Sepertinya lo salah sasaran," celetuk Dean tiba-tiba dari pinggir lapangan. Suaranya yang berat membuat semua orang menoleh. "Jangan bikin malu nama OSIS cuma gara-gara urusan pribadi sepupu lo."

​Arlan menghela napas panjang, menutup buku sanksinya dengan keras. "Bubarkan barisan! Masuk ke kelas masing-masing."

​Saat barisan bubar, teman-teman Karline mengerumuninya, memberikan dukungan semangat. Karline tetap tidak banyak bicara, tapi ia tidak lagi menjauhkan diri seperti hari pertama.

​Dean yang masih berdiri di sana, melihat Karline dari kejauhan. Untuk pertama kalinya, ia melihat mata gadis itu tersenyum, meski tertutup masker.

​"Karline Dharmajaya, ya?" gumam Dean pelan. Ia baru saja mendengar nama itu disebut oleh salah satu temannya tadi. "Nama yang bagus."

​Raka yang masih memegangi jidatnya mendekati Dean. "De, lo denger nggak tadi dia bilang apa ke kita? Orang gila, terus sekarang nendang botol tepat sasaran. Dia itu sebenernya siapa sih?"

​Dean hanya menepuk bahu Raka. "Dia itu orang yang sebaiknya nggak lo ganggu kalau lo masih sayang sama jidat lo."

1
Anonymous
jgn gantung dong thor 😭
jajangmyeon
Suka banget sama ceritanya! Alurnya menarik dan karakternya juga bikin penasaran. Pokoknya recommended, yang lain wajib baca! 😆✨
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentarmu yang sangat positif 💞
total 1 replies
Anonymous
loh kok beda thor?
Anonymous: oke thorr, semangat selalu 💪😎
total 2 replies
jajangmyeon
wihhhhh seru nii
brawijaya Viloid
yey cerita baru 😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!