NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis

Cinta Yang Kembali Di Hari Vonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dark Romance / Angst
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.

Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.

Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.

Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.

Kini, nasib Jessica berada di tangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Tatapan mereka bertemu.

Waktu seakan berhenti di antara keduanya.

Mata Jessica membesar perlahan. Napasnya tercekat di tenggorokan saat wajah pria itu terlihat jelas di hadapannya.

“Ka… Kakak Adrian…?” suaranya hampir tak terdengar.

Adrian tidak langsung menjawab.

Ia menatap gadis di depannya dengan sorot mata yang sulit ditebak. Wajahnya tetap tenang, namun ada getaran halus di dalam tatapannya.

Sepuluh tahun.

Dan kini mereka kembali bertemu dalam keadaan seperti ini.

Jessica berdiri kaku. Borgol di pergelangan tangannya terasa semakin berat.

“Hakim Li…” ucap Jessica berusaha tenang. Nada suaranya formal, berbeda dari dulu.

Adrian menangkap perubahan itu.

“Bagaimana denganmu?” tanyanya pelan namun serius. “Di dalam sana… apakah mereka mempersulitkanmu?”

Jessica menurunkan pandangannya sesaat sebelum menjawab.

“Narapidana sepertiku tidak pantas mendapatkan perlakuan istimewa,” katanya tenang, walau terselip kepahitan. “Jaksa Wu sudah memberitahuku. Bahkan… kasus ini sekarang Anda yang menanganinya.”

“‘Anda’?” Adrian mengulang pelan.

Satu kata itu terdengar asing di telinganya.

Jessica tampak menjaga jarak. Seolah tembok tak kasatmata berdiri di antara mereka.

Adrian menarik napas tipis lalu menunjuk kursi di depannya.

“Duduklah. Aku ada pertanyaan untukmu.”

Ia duduk lebih dulu. Jessica pun perlahan duduk di kursi seberangnya. Rantai borgolnya berbunyi pelan saat tangannya bergerak.

“Apakah hubunganmu dengan kedua kakakmu selama ini baik-baik saja?” tanya Adrian langsung.

Jessica mengangguk kecil.

“Iya. Hubungan kami baik. Mereka yang selalu menyayangiku dan memanjakanku…” Suaranya mulai melemah. “Tapi sekarang… mereka juga yang berharap aku cepat mati.”

Adrian menatapnya tajam, membaca setiap perubahan ekspresinya.

“Kasus ini akan ditinjau ulang,” ucapnya tegas. “Saat persidangan nanti, kau harus bersiap. Itu akan menentukan masa depanmu.”

Jessica mengangkat wajahnya perlahan.

“Baiklah. Aku sudah siap.” Ada keberanian di matanya, meski tipis. “Tapi… apakah ada kemungkinan tersangka sebenarnya akan ditemukan?”

Adrian tidak langsung menjawab.

“Aku butuh lebih banyak petunjuk,” katanya akhirnya. “Untuk saat ini aku hanya bisa menyimpulkan satu hal — pelakunya bukan orang luar. Melainkan orang dalam.”

Jessica terdiam.

“Jadi aku butuh semua keteranganmu tentang anggota keluargamu.”

“Sebelumnya aku sudah memberitahu Jaksa Wu,” jawab Jessica pelan.

“Aku ingin kau menjawabnya sekali lagi,” ujar Adrian, suaranya lebih dalam. “Keluarga dari pihak ibumu… apakah mereka tidak pernah kembali selama ini?”

Jessica menggeleng mantap.

“Mereka tinggal di luar negeri. Jika pembunuhan ini demi harta, mereka tidak mungkin terlibat. Hubungan mereka dengan mama tidak dekat. Bahkan hampir tidak pernah saling menghubungi. Tidak ada alasan mereka menginginkan harta keluarga Zhou.”

Adrian mengangguk pelan.

“Lalu bagaimana dengan kedua kakakmu dan pamanmu?”

Jessica tampak ragu sesaat.

“Aku juga sempat berpikir… tapi mereka tidak mungkin,” jawabnya lirih.

Adrian menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Hati manusia tidak bisa ditebak,” katanya pelan namun tajam. “Terutama keluarga sendiri. Manusia bisa dibutakan oleh kekuasaan.”

Tatapan Jessica mulai goyah.

“Persidangan sebelumnya sudah kulihat rekamannya,” lanjut Adrian. “Kedua kakakmu terang-terangan menginginkan kematianmu. Sementara pamanmu terlihat berusaha menyelamatkanmu.”

Jessica mengangkat wajahnya cepat.

“Hakim Li… apakah Anda mencurigai kedua kakakku pelakunya?”

“Pelakunya bisa saja kedua kakakmu,” jawab Adrian tenang. “Bisa juga pamanmu.”

Jessica terdiam, jantungnya berdegup tak teratur.

“Namun satu hal yang pasti,” lanjut Adrian perlahan, “mereka tidak bekerja sama.”

Jessica mengerutkan kening.

“Pamanku sangat baik pada papaku… apakah mungkin dia melakukan itu?”

Adrian menatapnya dalam.

“Putranya, JJ Zhou, koma seumur hidup. Biaya rumah sakit tidak murah,” ujarnya pelan. “Aku mendapat informasi bahwa Jeff Zhou menjual banyak aset demi biaya pengobatan. Dia tidak pernah menyerah. Bahkan terus berharap pada keajaiban.”

Jessica membeku.

“Maksudmu…” suaranya bergetar. “Demi biaya… pamanku tega membunuh orang tuaku dan menjebakku?”

“Aku tidak mengatakan itu,” Adrian menahan. “Bisa saja dia bukan pembunuh.”

Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Kasus ini tidak mudah. Pelaku merencanakannya sejak awal. Sangat rapi. Semua bukti mengarah padamu.”

Jessica mengepalkan tangannya.

“Itu berarti…” bisiknya.

“Itu berarti pelaku ingin kau yang menanggung semuanya,” lanjut Adrian dengan suara rendah.

Tatapan mereka bertemu.

“Apakah kau tidak penasaran,” tanya Adrian perlahan, "kenapa kau menjadi sasarannya?"

“Apakah karena pelakunya membenciku?” tanya Jessica pelan.

Adrian menggeleng tipis.

“Menurut pandanganku, bukan,” jawabnya tenang. Tatapannya tajam namun tetap terkendali. “Kebencian biasanya meninggalkan jejak. Emosi membuat orang ceroboh. Tapi kasus ini… terlalu rapi.”

Jessica terdiam, mencoba mencerna.

“Mungkin saja kedua orang tuamu lebih menyayangimu dibandingkan kedua kakakmu,” lanjut Adrian perlahan.

Jessica mengangkat wajahnya cepat. “Lalu apa hubungannya dengan pelakunya?” tanyanya.

Adrian menyilangkan jemarinya di atas meja.

“Dalam banyak keluarga besar, anak yang paling disayangi sering dianggap akan menerima bagian warisan lebih banyak,” jelasnya. “Jika seseorang merasa posisinya terancam… iri hati bisa berubah menjadi niat yang berbahaya.”

Ruangan itu mendadak terasa semakin sunyi.

“Dan jika pelaku ingin memastikan kau tersingkir,” lanjut Adrian, suaranya rendah namun jelas, “menjadikanmu tersangka adalah cara paling efektif.”

Jessica menarik napas dalam.

“Yang tahu bahwa aku anak kesayangan orang tuaku… hanya keluarga sendiri,” katanya perlahan. "Kedua kakakku dan pamanku yang tahu hal itu. Aku… tidak bisa menerima jika salah satu dari mereka pelakunya.”

Adrian menatapnya lama.

“Jessica Zhou,” ucapnya tegas.

Jessica mengangkat wajahnya.

“Mulai detik ini, sebelum kasus ini terpecahkan…” suara Adrian berubah lebih dalam, “jangan percaya pada siapa pun.”

1
Maria Mariati
hehhhhh
Raine
nah sesuai dugaan sebelumnya, kalau jj dalangnya dan cuman pura pura koma
erviana erastus
ya jj itu pura2 koma 🤭🤭🤭
Nadila Fathania Alfi
makin seru 😍😍
Melinda Cen
seruu lanjutkan lg
Nadila Fathania Alfi
min bikin cerita jangan pendek", panjang panjang aja 😄😄
erviana erastus
apakah dalangx JJ pura² koma🤔🤔🤔
Anonymous
Seru2…. Up yg bnyk Thor 💪💪💪
Melinda Cen
lanjut bykkan eps nya
Dian Fitriana
update
Melinda Cen
perbyk dong eps nya kk lg seru nih
Dian Fitriana
update
erviana erastus
selamat hakim chen kamu bakalan habis sama Adrian Li 🤭
Maria Mariati
kapokkk hadapin tuh hakin neraka ,main2 sama nyawa orang,siap2 hadapin hakim neraka
Dian Fitriana
update
erviana erastus
habis hidup mu chen ckckck keluar kadang harimau masuk ke kandang macan 🤣
Melinda Cen
lanjut kan kk, perbyk eps nya biar ga penasaran😄
Dian Fitriana
update
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
seru kayaknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!